NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Suasana kamar yang remang itu hanya diisi oleh suara napas yang teratur dan detak jantung yang terasa kian cepat. Amara duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan perasaan yang berkecamuk, mencoba menenangkan diri di tengah keheningan malam. Di pelukan kirinya, Kenzo—anak asuhnya—mulai terlelap dengan tenang. Kelopak mata bayi mungil itu sudah menutup sempurna, membawa kedamaian kecil di tengah ketegangan yang perlahan merayap di dalam ruangan.

Sementara itu, di sisi lain, kehadiran Arlan begitu mendominasi. Pria itu berada sangat dekat, memandang wajah Amara dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi penuh tekanan emosional saat Arlan menggeser duduknya, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.

"T-Tuan...?" Amara berbisik kaget, tubuhnya tersentak kecil saat merasakan kehadiran Arlan yang terlalu intim.

Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bergumam rendah, sebuah suara bariton yang menggetarkan dada Amara dan mengunci seluruh perhatian gadis itu. Dengan gerakan yang tenang namun penuh wewenang, Arlan mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Amara yang terasa dingin karena gugup, lalu menggenggamnya dengan erat.

Sentuhan itu tidak sekadar genggaman biasa; ada tuntutan dan emosi yang meluap di sana. Arlan perlahan mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Amara yang berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan debaran yang tak biasa.

"Jangan berisik, Amara. Lihat putraku, dia baru saja terlelap," bisik Arlan sejenak di dekat telinga Amara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Suara serak itu begitu dekat, mengikis seluruh batas profesionalisme yang selama ini mereka jaga.

Amara memutar matanya ke atas, mencoba mencari sisa-sisa akal sehatnya yang kian mengabur. Ia merasa terjebak dalam situasi paling membingungkan dalam hidupnya. Di satu sisi, ia harus tetap tenang agar Kenzo tidak terbangun, namun di sisi lain, intensitas kehadiran Arlan seolah sengaja ingin menguji sejauh mana ia bisa bertahan.

Arlan semakin mempererat genggamannya, sementara tangan satunya perlahan merayap ke belakang tengkuk Amara, menuntun gadis itu untuk terus menatapnya. Ketegangan di antara mereka semakin memuncak, dipenuhi oleh hasrat yang tak terucapkan namun terasa nyata di udara.

Amara hanya bisa meracau tanpa suara dalam hatinya. Kedekatan ini memberikan sensasi yang luar biasa membingungkan—sebuah campuran antara rasa bersalah sebagai seorang pengasuh dan debaran ruang privat yang mendalam sebagai seorang wanita. Ketika Arlan menariknya sedikit lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan, Amara merasakan pasang surut emosi yang membuatnya lemas tak berdaya.

Arlan perlahan mengubah posisi. Ia bergeser ke belakang tubuh Amara, memosisikan dirinya sebagai pelindung sekaligus penuntut, bersandar pada punggung Amara yang tegang. Kenzo masih berada di dalam dekapan depan Amara, napasnya yang teratur menjadi satu-satunya pembatas di antara riuhnya emosi kedua orang dewasa tersebut.

Amara bisa merasakan kehangatan tubuh Arlan yang menjalar dari punggungnya, menciptakan rasa aman yang semu namun memabukkan. Arlan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Amara, menghirup aroma menenangkan dari gadis itu yang bercampur dengan minyak telon bayi.

"A-ahh... Tuan... j-jangan seperti ini... hhh..." rintih Amara dengan suara yang hampir habis. Ia mencoba memberikan penolakan lemah, namun tubuhnya justru mengkhianati perintah otaknya sendiri dengan tetap bergeming di tempat.

Arlan tidak memedulikan protes kecil itu. Ia berbisik lirih, nyaris seperti sebuah pengakuan yang intim. "Kau tahu kau tidak bisa menolakku, Amara. Kehadiranmu di rumah ini sudah mengubah banyak hal."

Tanpa memberikan ruang untuk berdebat lagi, Arlan melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Amara, mengunci posisi mereka. Ia menyatukan jemari mereka kembali, menekan ketegangan itu hingga ke puncaknya. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Arlan begitu terukur, menuntut penyerahan diri sepenuhnya dari Amara.

Setiap kali Arlan mempererat pelukannya, Amara harus menahan napas dalam-dalam. Matanya terpejam rapat, menyadari bahwa benteng pertahanannya telah runtuh total. Ritme kebersamaan mereka malam itu terasa begitu lambat namun menghancurkan sisa-sisa keraguannya.

Di atas ranjang itu, di antara kesucian seorang bayi yang tertidur dan debaran kuat dari dua hati yang egois, Amara pasrah sepenuhnya. Ia membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan Arlan yang semakin lama semakin posesif dan mendalam.

Kontrol diri Arlan yang biasanya setangguh baja akhirnya runtuh melihat kepasrahan di mata Amara. Tatapan sendu dan napas Amara yang memburu memicu sesuatu yang primitif di dalam dirinya—keinginan untuk memiliki dan mendominasi seutuhnya.

Persetan dengan segala batasan kelas dan status. Yang Arlan tahu hanyalah ia tidak bisa lagi melepaskan wanita di pelukannya ini.

"Amara... kau benar-benar membuatku kehilangan akal," geram Arlan dengan suara parau yang sarat akan emosi.

Arlan mengubah posisinya, menatap Amara dari atas dengan intensitas yang kian meninggi. Tanpa membuang waktu lagi, ia menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh tuntutan. Ciuman itu tidak lagi lembut; itu adalah luapan dari segala penahanan diri yang selama ini ia pendam.

Ketegangan di dalam kamar itu kian pekat. Amara membalas ciuman itu dengan kepasrahan yang manis, tangannya yang bebas kini meremas ujung kemeja Arlan hingga kusut. Guncangan emosi yang luar biasa ini membuat ranjang kayu jati yang besar itu seolah ikut bergetar seiring dengan ritme napas mereka yang kian memburu.

"T-Tuan... pelan... Kenzo..." Amara berbisik di sela-sela tautan bibir mereka, suaranya pecah di antara debaran nikmat dan ketakutan akan ketahuan.

Ia melirik sekilas ke arah Kenzo yang berada tidak jauh dari mereka. Bayi itu tampak sedikit terusik oleh kasur yang bergerak kecil, tangannya yang mungil bergerak perlahan di udara. Namun, Amara tidak mampu menjauh sedikit pun. Setiap kali ia mencoba menarik diri demi menjaga jarak, Arlan justru mempererat pelukannya, membawa Amara kembali masuk ke dalam pusaran emosi yang intim.

"Jangan pikirkan hal lain selain aku sekarang, Amara," bisik Arlan penuh dominasi di bibir gadis itu. Ia seolah tidak peduli lagi dengan dunia luar; fokusnya terkunci sepenuhnya pada kehangatan tubuh Amara yang bergetar lembut dalam dekapannya.

Amara akhirnya menyerah sepenuhnya pada keadaan. Ia membiarkan kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada lengan kokoh Arlan sementara pria itu terus menghujaninya dengan kecupan-kecupan intens di sepanjang rahang dan lehernya.

"T-Tuan..." Amara mendesah lirih, merasakan gelombang kebahagiaan dan kelegaan yang aneh menyelimuti seluruh kesadarannya saat pelukan mereka mencapai titik paling erat.

Arlan mengerang rendah, mendekap tubuh Amara seolah ingin menyatukan eksistensi mereka berdua. Ia membenamkan wajahnya di rambut Amara, menikmati sisa-sisa ketegangan yang perlahan mencair menjadi sebuah kehangatan yang melegakan di antara mereka.

Di sebelah mereka, Kenzo akhirnya terbangun sedikit dan mulai merengek pelan karena suasana yang mendadak sunyi. Namun, kedua orang dewasa itu masih terengah-engah dalam dekapan yang erat, membutuhkan waktu beberapa saat hanya untuk sekadar mengumpulkan kembali kesadaran mereka yang sempat hilang.

1
Visitor6374
Cerita yang menarik 👍
Nur Aulia
dinikahin dong tuan,,jgn di jadiin pemuas nafsu saha,, kasian Amara yg msh polos
Mala Sari
yeeyy selesaii, congrot ya gaes, happy ever after. suka banget ceritanya, next time i'll visiting ur incredible another story again yaa, see ya thor, gudluc as always
Mala Sari
bagus, dah itu aja
mulia modeong
👍👍
Yayan Maryana
bagus kenz
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁
Erni Susanti
padahal gampang, tinggal cek asinya, setiap asi itu kan bagus, kalopun menurutnya gak bagus, ya di treat yg bener dong org yg menyusui anakny, dikasih makanan bergizi dll. gimana sih Arlan, kamu pimpinan perusahaan, hal sepele gitu aja gak bisa mikir. kasian loh Amara, udah syukur anak mu susuin. kalau aku jadi Amara, aku tinggal aja. ngeselin si Arlan ihhhh
Esterina Djawa
Ceritanya sungguh menarik....💖
Mala Sari
wow... adorable eps
Siti Sopiah
dr prolog yg ku baca takda typo nya semoga lancar sampai tamat.
Mala Sari
merinding baca bagian eps ini, eh ikut nyumbang tetes air mata ni aku😄,seneng bacanya
Mala Sari
wowww..., amazing arlan, go go arlan💪
Mala Sari
well done arlan.., at last
Mala Sari
cerita dewasa yg amat "dewasa", menurutku bagus. teruslah berkarya thor, gudjob
Maharani Rani
😭😭lanjuttt
Mala Sari
menikmati aja ceritanya😌,thnkz author for the story, moga makin sukses..
Mala Sari
authornya hebat, gudjob thor, its just a fiksi, nikmati aja alurnya.., healing after hard work ya gaes.., mangatt thorr💪😄
BLINK
woahhh
BLINK
😍😍
Pastri W-nie
mau dong di susuin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!