Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 29
Elsa meremas jemarinya kencang-kencang, mencoba mengusir sesak yang menggelayuti dadanya. "Aku kenapa, sih...? Masa iya cuma karena cinta satu malam aja, langsung menyimpan rasa?!" gumam Elsa frustrasi pada dirinya sendiri.
Tak ingin terus-menerus didera oleh perasaan aneh dan tidak nyaman ini, Elsa memutuskan untuk beranjak. Dia menyambar setelan baju panjangnya, lalu memakainya, membawa serta selembar selimut katun kecil dan ponsel miliknya.
Elsa membawa langkah kakinya berjalan menuju ke gazebo samping rumah, sebuah area santai yang langsung menghadap pada kolam renang biru yang disediakan di rumah megah sang Juragan. Elsa mendekati sebuah kursi bulat gantung yang ada di sana, lalu mendudukkan dirinya di situ. Perlahan, dia menaikkan kedua kakinya dan meringkuk nyaman di atas kursi gantung tersebut.
Angin malam mulai berembus lembut menerpa kulitnya, sedikit banyak membantu menenangkan badai tak nyaman di dalam hatinya. Elsa mendongak, matanya menatap lurus ke arah langit gelap yang bertaburan bintang-bintang malam itu.
"Elsa... kamu lihat aku, kan, dari atas sana?" ucapnya lirih, berbicara pada pemilik raga yang asli. "Kamu pasti senang banget ya... Maafin aku, waktu itu aku sudah memaki kamu. Ternyata hidup jadi kamu itu enggak enak. Hidup di posisi begini bener-bener enggak nyaman."
Perlahan, Elsa membuka ponselnya. Dia menyetel sebuah musik dari anak band yang sedang hit di zaman ini. Alunan lagu galau itu berputar, seolah-olah sedang menggambarkan dengan sempurna isi hatinya yang kini tengah merana. Tak butuh waktu lama, kantuk mulai menyerang dan kelopak matanya terasa kian memberat, hingga akhirnya Elsa pun tertidur lelap di atas kursi gantung tersebut.
Sementara itu di kamar utama, Tama sedang memeluk sayang tubuh Andini yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Dia mengecup pelan pelipis istri pertamanya itu, lalu dengan gerakan perlahan bangkit dari ranjang agar tidak mengganggu tidur Andini.
Tama membawa langkah kakinya menuju ke arah jendela kamar karena hendak menutupnya. Namun, saat tangannya ingin menarik tirai pembatas, Tama dikejutkan dengan pemandangan tak sedap tepat di depannya. Dari balik kaca samping, matanya menangkap keberadaan Ardana yang tengah terduduk di bawah, sembari memandang lurus ke arah kursi bulat gantung di gazebo. Entah apa yang sedang pria muda itu lihat di sana.
'Malam-malam begini, bukannya istirahat, malah duduk sendirian di situ,' batin Tama dengan dahi berkerut curiga.
Tama lantas menutup tirai jendela dengan cepat, lalu membawa langkah kakinya keluar dari kamar Andini. Langkah besarnya menuntun Tama menuju ke kamar belakang, tempat di mana Elsa berada. Namun, begitu matanya menyapu awas ke dalam ruangan, Tama tidak mendapati keberadaan Elsa di atas ranjang. Dengan perasaan gusar yang mulai merayap, pria itu mencari ke dalam kamar mandi, namun dia tetap tidak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan sang istri muda.
"Elsa... kamu ke mana?" panggil Tama pelan, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Tama kemudian melangkah keluar dari area kamar. Langkahnya bergerak mengelilingi seluruh penjuru rumah demi mencari keberadaan Elsa. Pencarian itu terus berlanjut sampai akhirnya dia tiba di area gazebo samping rumah.
Di sana, mata Tama menangkap sosok Ardana yang ternyata sedang duduk tepat di bawah kursi gantung tempat Elsa tertidur. Pria muda itu tampak sedang memainkan gitarnya dengan pelan, menyanyikan sebuah bait lagu yang berbarengan dengan alunan rekaman musik galau yang berputar dari ponsel milik Elsa.
"Memandangmu... setiap waktu... adalah kebahagiaan untukku... oh, Nona manisku... ku jatuh hati padamu..."
Suara nyanyian Ardana terdengar mengalun lembut di tengah sunyinya malam, berpadu mesra dengan rekaman musik dari ponsel Elsa yang masih terjaga.