Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Sah!
"Astaga, menantuku! Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang?" sapa Siska yang baru saja keluar dari lift dan menggandeng seorang pria paruh baya berbadan gemuk dan bermata liar.
Melihat Dominic berada di sana, Siska buru-buru melepaskan gandengannya dan memasang senyum paling manis yang ia punya. Senyum yang penuh dengan tipu muslihat.
Siska menghampiri Dominic dengan langkah terburu-buru, matanya jelalatan mencari sosok lain. "Apa kau datang bersama Clara? Dimana putriku? Harusnya kalian memberiku kabar lebih dulu supaya aku bisa menyiapkan penyambutan yang layak."
Dominic bahkan tidak melirik ibu mertuanya sama sekali. Ia tetap fokus pada cerutu di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam ponsel yang terus bergetar.
"Anda tidak perlu repot menyambut tuan Dominic, Nyonya Siska. Beliau datang seorang diri karena keinginannya sendiri. Kebetulan beliau sedang suntuk di rumah," potong Marco cepat sebelum Siska sempat menyentuh lengan kemeja bosnya.
Marco tahu betul betapa muak nya Dominic pada keluarga ini. Keluarga parasit yang hanya tahu cara memeras dan bersandiwara.
Dominic menatap layar ponselnya sesaat. Lima puluh panggilan tak terjawab dari Clara.
Biasanya, Dominic adalah orang pertama yang akan panik. Ia akan menelepon balik, mengirim bunga, atau membelikan tas mewah hanya agar Clara berhenti merajuk.
Tapi pagi ini, melihat deretan notifikasi itu hanya membuatnya merasa hambar.
Rasa bersalah yang biasanya menghantuinya seolah menguap bersama asap cerutunya.
"Tuan, aku sudah siap." langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga darurat.
Keyla muncul dengan wajah pucat, matanya sembab, dan pakaian yang tampak sedikit kusut meski sudah dirapikan sebisa mungkin.
Keyla langsung menghampiri Dominic, jemarinya yang gemetar reflek menyentuh ujung lengan kemejanya.
Melihat pemandangan itu, rahang Siska hampir jatuh. Detik berikutnya, wajahnya memerah padam.
Amarahnya pun meledak seketika.
"Hei, jala-ng kecil! Berani sekali kau bersikap tidak sopan pada menantuku?!" seru Siska.
Tanpa peringatan, ia maju dan menyambar rambut Keyla, menariknya dengan kekuatan penuh hingga kepala Keyla terdongak ke belakang.
"Aakh! Ampun, Ibu!" Keyla menjerit, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman kuku-kuku tajam Siska dari kulit kepalanya.
"Kau pikir kau siapa, hah?! Berani-beraninya kau mendekati Dominic! Kau itu sampah, Keyla! Tugasmu semalam sudah selesai, sekarang masuk ke kamarmu!" Siska berteriak kalap. Ia merasa kecolongan besar.
Selama ini ia sengaja menyembunyikan Keyla di rumah belakang agar tidak ada pria berkuasa yang melihat aset berharganya, terutama jangan sampai menantu kayanya ini tahu keberadaan gadis itu.
"Lepaskan calon istriku!" seru Dominic. Suaranya membuat Siska membeku di tempat.
Cengkeramannya pada rambut Keyla perlahan melonggar karena rasa syok yang luar biasa.
"Apa... apa kau bilang? Calon istri?" Siska menganga, matanya mengerjap tidak percaya. "Kau sedang bercanda, kan, Dom? Kau sudah punya Clara! Kau itu menantuku!"
Dominic mematikan cerutunya ke asbak di atas meja lobi dengan perlahan dan penuh penekanan.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu, Nyonya Siska. Mulai detik ini, urusan Keyla dengan keluargamu sudah berakhir. Aku akan membayar lunas semua hutang keluarganya!"
"Hah?" Siska semakin shock.
Sebenarnya apa yang sudah Keyla berikan untuk Dominic sampai pria itu rela melunasi hutang keluarganya yang menggunung?
Dominic menikmati ekspresi hancur di wajah Siska. Ini adalah bayaran kecil bagi wanita yang tega menjual anak tirinya sendiri.
Melihat Siska gemetar antara takut kehilangan pendonor dana dan amarah karena putrinya diduakan adalah hiburan pagi yang cukup menarik.
"Marco, siapkan mobil sekarang!" perintah Dominic.
"Baik, Tuan. Mobil siap meluncur!" Marco bergegas menuju parkiran, sembari diam-diam ia bersiul kecil. Drama pagi ini lebih seru daripada sinetron jam tayang utama, pikirnya.
Dominic merapikan kerah kemejanya, lalu berbalik menatap Keyla yang masih memegangi kepalanya yang berdenyut.
Dengan gerakan yang tak terduga, ia mengusap kepala gadis itu, merapikan helai rambut yang berantakan karena ulah Siska.
"Sakit?" tanyanya dengan nada yang sedikit melembut, meski wajahnya tetap kaku.
Keyla mendongak, menatap mata elang pria yang baru saja merenggut kesuciannya namun kini seolah menjadi satu-satunya pelindungnya.
Keyla memaksakan sebuah senyum tipis yang getir. "Tidak, Tuan. Aku... aku sudah terbiasa," jawabnya.
Dominic terdiam. Terbiasa, katanya?
Kata itu menyentil sesuatu di sudut hatinya yang paling dalam. Pandai sekali gadis ini berbohong di depan rasa sakitnya sendiri.
Tanpa bicara lagi, Dominic meraih tangan Keyla, menggenggamnya dengan erat, lalu membawanya keluar dari hotel itu tanpa menoleh lagi pada Siska yang masih berdiri mematung seperti orang bodoh di tengah lobi.
"Apa-apaan ini? Menantuku akan menikah lagi? Dengan Keyla?" Siska bergumam sendiri, napasnya memburu. "Apa Clara sudah tahu? Gila! Ini benar-benar gila!"
Dengan tangan gemetar, Siska meraih ponselnya. Ia harus segera menghubungi Clara.
Jika Dominic benar-benar membawa Keyla pergi, maka keran uang dari menantunya itu bisa tersumbat selamanya.
"Halo, Clara?! Kau di mana?! Cepat bangun, bodoh! Suamimu... suamimu baru saja membawa adik tirimu pergi untuk dijadikan istri kedua!"
*
*
Di dalam mobil yang mulai melaju, Marco yang sedang menyetir melirik dari spion tengah ke arah Dominic dan Keyla yang duduk di kursi belakang.
"Tuan," panggil Marco memecah kesunyian. "Hanya sekadar mengingatkan, setelah ini kita ke butik atau langsung ke kediaman utama? Saya perlu tahu durasi keamanan nyawa saya sebelum nona Clara melemparkan vas bunga ke kepala kita semua."
Dominic hanya menatap jalanan di depan dengan dingin. "Catatan sipil lalu butik. Dia tidak bisa bertemu ibuku dengan pakaian sampah seperti ini."
"Siap, Tuan. Saya akan siapkan mental saya untuk menjadi tameng hidup anda nanti siang," gumam Marco sambil menghela napas pasrah.
*
*
Gedung itu menjadi saksi sebuah ikatan yang lahir dari keterpaksaan. Di hadapan petugas dan Tuhan, janji suci diucapkan.
"Selamat, kalian resmi menjadi suami istri," ucap petugas itu seraya menutup berkas yang baru saja ditandatangani.
Keyla mendongak, menatap pria yang kini sah menjadi suaminya. Matanya yang sendu berkaca-kaca, memancarkan ketakutan akan masa depan yang gelap.
Baginya, pernikahan ini bukanlah perlindungan, melainkan penjara baru setelah kehormatannya direnggut semalam.
Dominic menatap balik dengan sepasang mata elang yang dingin, tanpa ada binar cinta sedikit pun. Namun, saat melihat air mata Keyla hampir jatuh, ia meraih tengkuk gadis itu, menariknya mendekat hingga kening mereka bersentuhan.
"Jangan menangis. Kau sudah berada di bawah kendaliku sekarang," bisik Dominic. "Aku akan bertanggung jawab penuh, terutama jika benihku mulai tumbuh di rahimmu. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu lagi, termasuk keluargamu yang bajingan itu."
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃