NovelToon NovelToon
Brother In Love

Brother In Love

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Tamat
Popularitas:462.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Bertahun-tahun Ivy membenci kakaknya, Adam. Adam sempurna dalam segala hal, kedua orang tuanya mencurahkan perhatian lebih besar padanya, segala yang yang diungkapkan Adam dianggap serius oleh orang-orang sekitarnya, Adam begitu populer, dan semua suka padanya.
Kecuali Ivy.
Entah sejak kapan ia merasa kalau Adam adalah saingannya dalam segala kehidupan.
Sampai Ivy tahu kalau semua hal yang dilakukan Adam sebenarnya adalah untuk kebaikan Ivy.
Juga sebuah rahasia yang selama ini disimpan Adam rapat-rapat, membuat pandangan Ivy ke Kakak angkatnya itu berubah seratus delapan puluh derajat.

Ivy yang tadinya sangat benci kepada Adam, menjadi bersemangat...

Bersemangat untuk menggoda cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secret Admirer atau Psikopat?

"Hai, Ivy. Namaku Cassandra," dengan lembut wanita cantik di depan Ivy menyapa dan mengulurkan tangan ke arah gadis itu.

Ivy sambil tetap cemberut, karena urusan sopan santun dan kebutuhan, menyambut tangan Cassandra tapi dia kembali menarik tangannya dengan cepat.

Cassandra melirik Adam, Adam hanya menaikkan bahunya sekilas. Suatu hal yang dimaklumi oleh Cassandra saat seorang anak kandung akhirnya bertemu dengan 'pacar' ayahnya. Sudah pasti hal yang sulit dilakukan, tapi Ivy tetap mau datang.

Sebelumnya Adam sudah menceritakan segala hal mengenai Cassandra ke Ivy, termasuk kenyataan bahwa bukan Cassandra penyebab dari perceraian orang tua Ivy, tapi memang tabiat Papa yang suka gonta-ganti pasangan.

Cassandra pun menyadari hal itu, makanya ia merasa harus memiliki tabungan sendiri dan tidak bergantung pada Bebe-nya. Sebelum Cassandra, sudah banyak wanita lain dalam kehidupan Papa.

Tapi tetap saja, keberanian Ivy dan cara pandangnya yang luas, membuat Cassandra salut.

"Ini semua, tas dari mantan Daddy-ku. Kalau yang ada di lemari, tas dari Mi Amor," Cassandra menunjukkan gunungan kardus di depannya, juga lemari kaca dengan tampilan lebih rapi. Di dalam lemari itu hanya ada beberapa tas.

Ivy menyadari, kalau koleksi Cassandra bagus-bagus. Wanita ini memiliki selera yang glamor dengan warna warni ceria dan style lebih berani. Sedangkan Ivy lebih memilih warna pastel Dan gaya sederhana. Jadi selera mereka dalam hal fashion jelas berbeda.

Semua tas yang ada di dalam lemari Cassandra, sudah Ivy miliki semua. Dan herannya, bukan Papa yang membelikannya.

Tapi Adam.

Ivy tinggal pilih tas mana yang ia inginkan, sepatu yang mana, baju yang mana, dari toko yang mana, besoknya Adam sudah bawakan.

Uang dari Papa selama ini digunakan untuk kebutuhan rumah. Untuk jajan dan foya-foya, Ivy diberi bulanan oleh Adam.

Jadi,

Ivy tidak merasa iri dengan Cassandra.

Ia hanya merasa sesak di dada dan perasaan jijik yang menyerang hatinya karena menyadari kenyataan kalau wanita ini 'tidur' dengan Papanya.

"Saya cek dulu ya, Tante. Target kita sehari 20 tas, mudah-mudahan bisa lebih. Jadi saya tahu kalimat apa yang harus disematkan dalam spesifikasi,"

Tante…

Ivy terang-terangan memanggilnya Tante.

Sebuah kode untuk menyindir Cassandra.

Padahal mereka hanya berbeda 2 tahun.

Cassandra hanya mengernyit. Tapi ya dia merasa pantas sih dapat panggilan itu. Toh memang itu pekerjaannya.

"Jadi gini, Mbak Ivy," dengan nada mendayu khas Cassandra, Ivy teringat kalau suara ini pernah ia dengar mengangkat telepon Adam Serak dan rendah, memang suara yang cantik menggambarkan sosok aslinya.

"Ada beberapa kekurangan di masing-masing tas, aku ingin juga itu ditampilkan. Agar lebih fair kalau dilihat pembeli, Oke?"

Itu berarti pekerjaan lebih untuk Ivy. Kalau hanya sekedar memastikan keasliannya jauh lebih mudah daripada melihat kerusakan masing-masing benda.

"Kalo yang begitu ada feenya sendiri, Mbak," desis Adam. Cowok itu menambahkan klausula karena menyadari raut wajah Ivy yang berubah sebal.

"Ah itu sih gampaaaaang!" Cassandra mengibaskan tangan dengan ceria. "Kamu minta fee berapa, bentuknya apa, aku kasih!" desisnya sambil mengerling ke Adam.

Bentuknya apa? Pikir Ivy.

Jadi fee yang diberikan bukan hanya uang, bisa macam-macam? Gadis itu menaikkan alisnya sambil berpikir.

Dan saat itu Ivy menatap ke dalam lemari pakaian Cassandra.

Di depannya, ada piyama cantik berenda. Keluaran La Perla terbaru.

Wah, Seksi! Wajah Ivy berbinar melihat piyama transparat itu.

Entah sejak kapan ia suka melihat dirinya sendiri dalam balutan pakaian terbuka. Hal itu meningkatkan kepercayaan dirinya.

Karena ia di cap tidak menarik dan terlalu 'flat' oleh teman-temannya, saat menatap tubuhnya di kaca memakai piyama dengan tali tipis membuatnya merasa 'cantik'.

Tapi ya itu…

Semua koleksinya disita Adam.

"Saya ngopi di lobby bawah, kalau ada perlu telepon Alka aja," kata Adam.

"Kenapa Mas Alka? Kenapa kamu nggak langsung aja share nomor telepon kamu?" tanya Cassandra

"Pamali, soalnya," jawab Adam asal-asalan. "Vy, aku tinggal ya?"

"Ya Kak," Ivy mulai naik ke tangga dan mengambil kotak paling atas.

**

Setelah beberapa saat berkutat dengan tas-tas desainer mahal, nyatanya Cassandra adalah teman bicara yang menyenangkan.

"Nah itu tuh! Nggak sengaja kebaret di pagar! Nyesel banget aku pukul pake tas ini aduuuh, tau gitu kan aku lempar gelas ajaaa!"

"Ahahahahaha! Aduh lucu banget!"

"Iya kalau sekarang dipikir-pikir kejadian itu memang lucu sih! Tapi waktu itu aku keseeeel banget! Kok bisa-bisanya dia minta aku bayarin semua makan?! Daddynya-sapaaa Babynya sapa! Hiiih!!" seru Cassandra dengan gaya bicara yang centil.

"Baretnya nggak keliatan kok Tante, karena kan ada di bawah," Ivy mengamati goresan tipis di tas warna pink itu.

"Iya tapi kenangannya menyakitkan," desis Cassandra.

"Saya hitung-hitung harga yang pantas dulu ya, karena gantungan kuncinya termasuk langka,"

"Ohya kamu benar itu, Diamond di mata teddybearnya ada sertifikasinya. Mata kamu jeli juga ya! Kamu pasti pernah punya tas yang sejenis ya?!"

Ivy mengangguk. "Dulu dibeliin Kak Adam, tapi yang edisi Gothic,"

Dan Ivy ingat kalau tas itu hilang di sekolah.

Dulu Ivy sama sekali tak mengira kalau itu tas desainer karena modelnya yang manis. Jadi dengan polosnya ia pakai ke sekolah. Saat ia dikerjai oleh geng anak populer, mereka mengambil tas Ivy dan entahlah berada dimana tas itu sekarang.

Adam akhirnya memperkarakan pembully-an itu langsung ke polisi. Setelahnya Ivy pindah sekolah.

Dipikir sekarang, jangan-jangan kasus pembullyan itu sebenarnya upaya mereka untuk merampas tas Ivy.

Kini setelah tahu harga satu piecenya seharga motor matic type terbaru, ya wajar saja kalau ia dibully waktu itu.

"Hm…" Cassandra memiringkan kepalanya, "Kakak kamu, dingin sama cewek lain, tapi leeembuuuut sekali sama adiknya,"

"Bukannya semua saudara begitu?"

"Heh?! Ya sikapnya yang mengutamakan kamu di atas segalanya itu sedikit tak wajar sih," kekeh Cassandra.

"Ohya?!"

"Kalian ini… saudara Kandung atau angkat?"

"Apa ada hubungannya dengan hal itu?"

"Berdasarkan pengalamanku sih biasanya ada. Atau kalau anak kembar sepasang, biasa ikatan batinnya lebih kuat satu sama lain, makanya sering dipisahkan sejak kecil agar cari pasangan masing-masing,"

"Oooh," Ivy hanya bergumam. "Nah sekarang tas yang sequin," Ia berusaha mengalihkan perhatian Cassandra.

"Oh! Kalau yang tas itu ceritanya…"

Dan akhirnya mereka kembali mengobrol mengenai hal-hal absurd.

**

Karena bosan menunggu, Adam memutuskan untuk pulang sebentar ke rumah.

Niatnya membereskan rumah karena tadi malam tidak sempat bersih-bersih.

"Jorok…" gerutu Adam sambil memasukkan kardus pizza ke plastik besar.

"Kenapa sih cewek suka buang-buang tissue?!" omelnya lagi. Sambil satu persatu ia punguti sampah yang berserakan. Plastik snack dan remahan dimana-mana.

Sebenarnya tadi malam Ivy mau membereskan tapi Adam mencegahnya karena takut gadis itu kecapekan.

Masalahnya tas yang harus diperiksa oleh Ivy jumlahnya bisa ratusan piece.

Juga…

Sebenarnya kemarin malam itu, Adam masih banyak pekerjaan dan tidak berencana pulang cepat. Tapi saat ia meeting tiba-tiba ada pesan singkat dari Ivy.

Tulisannya singkat saja,

"Kakak pulang jam berapa?"

Tapi justru kalimat yang semacam itu membuat ia khawatir. Karena ada semacam permohonan dan permintaan tolong yang tersirat.

Dan benar saja, dari luar ia sempat mendengarkan beberapa kalimat tak pantas yang keluar dari mulut 'teman-teman Ivy.

Ia sebenarnya dongkol dan juga geregetan karena Ivy bahkan tidak membalas semua hujatan dan cacian yang datang.

Kalau saja bisa ia hardik semuanya sampai kocar-kacir. Untung saja Adam teringat kalau Ivy butuh teman-teman di dunia realita.

Heran juga.

Sekian banyak manusia di Bumi ini.

Kenapa Ivy selalu dikelilingi teman-teman yang manipulatif?

Apa karena pembawaannya yang naif dan selalu berprasangka baik?

Ini Jakarta, Kota Metropolitan, semua suku bangsa tumpah di sini dengan berbagai persoalan yang keras dan rumit. Tapi masih ada saja gadis polos yang ceroboh semacam Ivy.

Perlahan senyum terukir di bibir Adam saat membayangkan tingkah Ivy yang suka tidak jelas.

"Beres!" Adam menghela nafas lega setelah mengepel lantai. Ia mengamati ruangan, dan puas. Sekalian ia lap semua kain sofa dengan desinfektan agar tidak ada bau parfum murahan yang menempel.

Lalu Adam menuju kamarnya.

Menekan tombol pasword di smarlock.

Masuk ke dalam,

Lalu berjalan ke arah lemari besar di ujung kamar, ia buka pintu lemari dan ia geser hanger yang tergantung.

Ada smartlock lain di dalam sana.

Ia tekan kode, dan ia pun masuk ke dalam sana.

Di sanalah rahasianya tersimpan bertahun-tahun.

Ruangan seluas 3x4, yang setiap dindingnya tertempel foto Ivy. Dari mulai dia memakai seragam sekolah merah putih, foto saat pulang ospek dalam keadaan lumpur dimana-mana, foto ulang tahun, foto saat tersenyum, foto saat menangis terisak di sudut, foto saat mengernyit… Dan kesamaan semua foto itu adalah pandangan Ivy tidak fokus ke arah kamera, seakan foto itu ditangkap diam-diam.

Lalu…

Tas hitam dengan gantungan kunci teddybear, yang modelnya mirip dengan milik Cassandra, tertata rapi di dalam lemari kaca.

Juga…

Koleksi Lingerie yang dipakaikan ke boneka dari silikon, berderet didudukan di konter dinding. Salah satunya ada piece yang kemarin dirobek Adam dan dibilang 'sudah dibakar'.

Boneka yang duduk berderet ukurannya 1:1 dengan manusia. Dan wajah mereka dibuat mirip dengan Ivy.

Adam memprint pesan singkat "Kakak pulang jam berapa?" dari Ivy. Lalu hasil print dia masukan ke map plastik.

Setelahnya ia mengamati cctv di dalam kamar Ivy, gambarnya jernih, lalu di dalam kamar mandi Ivy, di ruang makan, di ruang keluarga, semua jernih dan tanpa gangguan.

"Oke," gumamnya.

Tinggal kembali ke hotel untuk menjemput 'adik kesayangannya' itu.

1
sukensri hardiati
he..he...he...tulll...
Mia Mustofa
kereen as always lah, udh no word word karya Tante mah
Sha_riesha
bagus
ayu irfan
🥰🥰🥰
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
astaga si adam ye, dia lagi hamil loh hyper banget dah
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah udah diperingati malah ngeyel, ambruk kan lu Rick
ahjuma80
tapi g jg gitu sih klo soal usaha, mending pedes drpd ngalor ngidul ga puguh
another Aquarian
dia emang bukan manusia 😅
another Aquarian
pak dokter apal banget dehhh, tukang reparasi korban adam bertahun-tahun ya dok 🤣🤣🤣
another Aquarian
the real psycho, habis dirusak dibetulin 🤣🤣🤣🤣🤣
another Aquarian
merangkap koki, tukang pel, tukang bersih2, kang angkat galon, kang sopir, kang satpam, pak RT RW Lurah Camat sekalian, borong semua noohhhhh Daaammmmm
another Aquarian
fakboi ketemu fakman 🤣🤣🤣
another Aquarian
kebanyakan cerita anak kok miris latar belakangnya ya..
another Aquarian
ivy masih polos, vs konspirasi 3 orang dewasa di rumahnya 🤣🤣🤣
another Aquarian
yokk gasss yookkkk... 🤣🤣🤣
another Aquarian
astagah papa sesomplak ini ternyata 🤣🤣🤣
another Aquarian
hafal si mama 🤣🤣🤣
another Aquarian
papa cosplay kompor nieh 🤣🤣🤣
another Aquarian
yang 2 cedera karena KDRT 🤣🤣🤣
another Aquarian
adam makin gendeng 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!