Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepikiran
Max menatap punggung Cassia yang berjalan pergi. Wanita itu kembali ke meja kerjanya di balik sekat kaca, duduk dengan rapi, dan mulai mengetik keyboard seolah tidak ada yang terjadi.
Max menggenggam cangkir kopinya, menghirup aroma pahit yang biasanya bisa menenangkannya. Hari ini tidak berhasil. Pikirannya masih tertambat pada percakapannya dengan Cassia barusan.
‘Dia hanya bilang ... dia suka padaku.’
Kalimat itu masih diingatnya sampai sekarang. Bryan. Pria iti tiba-tiba mengaku suka pada Cassia? Cassia? Sekretaris yang pendiam, yang selalu datang tepat waktu, yang jarang berbicara lebih dari yang diperlukan?
Tidak. Ada yang tidak beres. Max meletakkan cangkirnya terlalu keras hingga sedikit kopi tumpah ke meja.
Dia mengumpat pelan, mengambil tisu, dan membersihkannya dengan gerakan kasar.
‘Bukan urusanmu,’ bisik suara rasional di kepalanya. ‘Dia hanya sekretarismu. Bukan kekasihmu. Bukan milikmu.’
Tapi kenapa dia merasa terganggu dengan hal itu? Apakah dia takut jika Bryan berniat mempermainkan Cassia? Bagi Max, Cassia begitu polos dan lugu, yang tetap harus dilindunginya karena dia adalah bosnya. Max tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Cassia.
‘Sialan. Aku harus memeriksa ini. Aku ingin tahu motif Bryan sebenarnya meskipun aku mengenal baik ayahnya.”
Lalu Max mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada anak buahnya. [Cari tahu apa yang terjadi di pesta bisnis kemarin lusa. Fokuskan pada Bryan dan Cassia.]
Max menutup ponselnya lagi. Dia merasa seperti orang bodoh. Mengapa dia melakukan ini? Mengapa dia peduli?
Pertanyaan itu tidak terjawab ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Julian datang.
"Malam ini aku berpesta lagi, Max. Datanglah ke penthouse ku. Ini pesta Jenni. Dia baru saja membuka butik baru.]
Max ingin membalas dengan tidak. Tapi jarinya mengetik sebaliknya. [Oke, aku datang.]
Mengapa dia setuju? Karena dia butuh gangguan. Karena jika dia sendirian malam ini, dia akan terus memikirkan Cassia dan Bryan. Dan itu sangat tidak masuk akal.
*
*
Sore harinya, Max keluar dari ruangan lebih awal. Dia berjalan melewati meja Cassia tanpa menatapnya.
"Sampai besok, Tuan," suara Cassia dari belakang.
Dia hanya mengangguk. Di lift, Max menatap bayangannya sendiri di dinding cermin ruang lift. Ekspresinya tampak kusam. Dia menghela napas panjang.
Mobilnya melaju keluar dari gedung parkir. Tepat saat dia akan berbelok ke kanan, dia melihat Cassia.
Berjalan sendirian. Membawa tas kerja kecilnya. Menunggu mungkin taksi atau bus. Max seharusnya terus melaju. Tapi entah bagaimana kakinya menginjak rem.
Dia menurunkan kaca jendela.
"Cass."
Wanita itu menoleh, terkejut. "Tuan? Ada yang perlu disiapkan untuk besok?"
"Tidak. Naiklah. Aku antar."
Cassia terdiam beberapa detik, bibirnya sedikit terbuka masih terkejut. Tapi mungkin karena lelah atau karena dia tahu Max tidak akan menerima penolakan, dia akhirnya mengangguk dan membuka pintu mobil.
Mereka melaju dalam keheningan. Max tidak bertanya di mana rumahnya—dia tahu alamatnya, tentu saja.
“Bukan di jalan ini, Tuan. Tapi ke kanan,” kata Cassia tiba-tiba ketika Max berbelok ke kiri.
Max mengernyit dan meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. “Aku tahu alamat rumahmu, Cass. Aku melihatnya di CV mu.”
“Itu rumah ayahku. Aku tak tinggal di sana lagi.” Cassia kemudian menunduk.
“Owh. Oke.” Lalu Max memutar kemudinya ke kanan. “Pandu aku jikau mau berbelok atau menunjukkan arah rumahmu.”
“Ya.” Cassia mengangguk.
"Hari ini berat?"
Cassia menoleh ke samping, agak terkejut karena bosnya bertanya seperti itu. "Biasa saja, Tuan. Tidak ada kendala."
"Bukan tentang pekerjaan. Aku bertanya tentang ... Bryan. Apa dia mengganggumu?"
Cassia tersenyum tipis. "Dia tidak mengganggu, Tuan. Bryan benar-benar baik. Dia humoris dan—"
"Semua pria bilang begitu di awal. Berhati-hatilah.”
"Bryan berbeda. Saat bersamanya, aku merasa ... dia benar-benar melihatku dan memperhatikanku. Tapi … kau benar, aku tetap harus waspada. Terima kasih, Tuan."
Apakah Cassia merasa tidak pernah dilihat dan diperhatikan? Ah ya, Max sadar bahwa dia hanya memperhatikan wanita cantik dan menarik saja selama ini.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭