Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - Kehilangan dan Kebangkitan Iblis
Desau angin malam bertiup kencang, membelai dingin wajah pemuda yang terduduk lemas di atas atap genteng tanah liat sebuah paviliun tua yang sudah reyot. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah hamparan langit malam yang dihiasi ribuan bintang berkilauan, yang seolah-olah sengaja hadir hanya untuk mengejek seluruh kemalangan dalam hidupnya. Pemuda itu bernama Han Yu. Rambut hitamnya yang pendek tampak acak-acak tidak terurus, membingkai sepasang mata biru jernih yang biasanya memancarkan keteguhan, namun kini telah kehilangan seluruh cahayanya, menyisakan redup kehampaan yang mendalam. Wajah Han Yu sebenarnya memiliki struktur yang rupawan dengan garis rahang yang tegas, namun gurat keletihan batin yang luar biasa membuat parasnya tampak kusam, lelah, dan tidak lagi menarik bagi siapa pun yang melihatnya.
Kedua telapak tangan Han Yu dipenuhi dengan kapalan tebal serta bekas-bekas luka lama yang mengering dan mengeras. Tubuhnya yang kurus namun tegap itu sudah terlalu sering dihantam rasa sakit akibat pekerjaan kasar yang tidak manusiawi sebagai buruh angkut batu hitam di area pertambangan sekte bawah, namun semua rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kehancuran yang saat ini berkecamuk hebat di dalam lubuk jiwanya.
"Sekarang, tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di dunia yang terkutuk ini," desah Han Yu dengan suara serak, hampir menyerupai bisikan angin malam yang menyedihkan.
Bayangan wajah seorang gadis muda berusia lima belas tahun mendadak terlintas dengan sangat jelas di pelupuk matanya. Wajah itu begitu manis, polos, dan selalu menampakkan senyuman lembut yang menenangkan untuk menyambut Han Yu setiap kali dia pulang membawa sekantong kecil beras sisa. Gadis kecil itu adalah Han Li, adik kandungnya yang berharga, satu-satunya darah daging serta belahan jiwa yang masih tersisa bagi Han Yu di dunia yang sangat kejam ini. Namun, takdir berkata lain. Tepat lima jam yang lalu, Han Li mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang jerami setelah tubuh rapuhnya kalah bertarung melawan penyakit paru-paru akut yang menggerogoti tubuhnya akibat hawa dingin ekstrem musim salju, tanpa ada satu pun tabib sekte yang sudi menolong mereka karena mereka tidak memiliki batu spiritual untuk membayar. Kepergian Han Li telah merenggut seluruh sisa kewarasan dan semangat hidup yang dimiliki oleh Han Yu.
Rasa bersalah yang teramat sangat dan kesepian yang membara kini memenuhi kepalanya hingga terasa mau pecah. Han Yu meraih sebuah guci tanah liat berisi arak murah dengan kualitas rendah di samping kakinya, membuka sumbat kainnya dengan satu sentakan tangan yang gemetar hebat, lalu meneguk cairan keras itu dengan sangat rakus seolah ingin menenggelamkan seluruh kesedihannya. Cairan tajam yang membakar tenggorokan itu mengalir deras, bersatu dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya yang kurus. Satu jam, dua jam, hingga lima jam berlalu dalam keheningan malam yang pekat tanpa ada yang peduli. Han Yu terus menenggak arak tersebut hingga kesadarannya benar-benar runtuh dan matanya menjadi sangat beralih. Ketika rasa kantuk yang luar biasa berat datang menerjang pertahanannya, dia membiarkan matanya terpejam sepenuhnya, pasrah dan berharap jika esok hari dia tidak perlu terbangun lagi untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
Rasa sakit yang menyengat dan dingin yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh tubuh Han Yu ketika seseorang menyiramkan seember air sedingin es tepat ke wajah dan dadanya. Hawa dingin yang menusuk tulang itu langsung memutus rasa mabuk berat yang dialaminya. Han Yu tersedak hebat, terbatuk-batuk kecil sambil berusaha sekuat tenaga membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat seolah direkatkan oleh lem. Kesadarannya masih sangat samar dan berputar, namun indra pendengarannya yang mulai pulih segera menangkap suara teriakan melengking dari beberapa wanita yang dipenuhi oleh nada ketakutan dan kebencian yang mendalam.
"Iblis! Dia adalah bajingan dari Sekte Iblis!"
"Cepat perkuat segel formasi di sekelilingnya! Jangan biarkan kutukan energi kegelapan yang menjijikkan itu terlepas ke tanah suci kita!"
Pandangan Han Yu perlahan-lahan menjadi jernih dari kabur. Namun, begitu matanya bisa melihat dengan jelas, dia langsung terpaku dan membeku di tempatnya berbaring. Di hadapannya kini berdiri lima orang gadis muda dengan kecantikan yang sangat memikat dan tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa. Mereka memiliki sepasang mata hijau jernih layaknya batu giok murni, rambut panjang berwarna pirang keemasan yang berkilau indah memantulkan cahaya sekitarnya, serta kulit seputih pualam yang sangat mulus. Namun, yang membuat jantung Han Yu mencelos adalah bentuk fisik mereka yang aneh, di mana telinga mereka berukuran lebih panjang dan memiliki ujung yang lancip. Mereka adalah para kultivator wanita dari ras manusia suci kuno yang mendiami lembah tersembunyi.
Aroma harum bunga ceri yang sangat manis dan pekat menguar dari tubuh kelima gadis itu, membuat kepala Han Yu yang masih terpengaruh sisa arak menjadi sedikit pusing. Namun, ketika Han Yu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, dia baru menyadari situasi mengerikan yang sedang dialaminya. Kedua pergelangan tangan dan kedua kakinya telah terikat erat oleh rantai besi prasasti kuno yang berpendar keemasan, menempel pada sebuah pilar batu besar. Lebih mengejutkan dan mengerikan lagi, Han Yu merasakan ada sebuah beban asing yang sangat besar, lebar, dan berat menempel di punggungnya.
"Siapa kalian? Di mana aku sebenarnya?" Han Yu bertanya dengan suara yang sangat parau, berusaha keras mencerna kegilaan yang sedang terjadi pada dirinya.
"Iblis jahat, tutup mulutmu yang kotor itu!" salah satu gadis berambut pirang yang berdiri paling depan berteriak dengan galak, sambil mengacungkan sebilah pedang tipis berenergi hijau tepat ke arah tenggorokan Han Yu.
Han Yu sama sekali tidak memedulikan gertakan pedang itu. Fokus pikirannya saat ini teralih sepenuhnya pada sensasi aneh di punggungnya sendiri. Ketika dia mencoba menggerakkan otot-otot di bagian belikatnya secara tidak sengaja, sepasang sayap raksasa berwarna hitam pekat, berselaput tebal seperti sayap kelelawar purba, mengepak pelan dengan lebar. Gerakan sayap itu langsung mengibas debu-debu di lantai batu dengan keras dan memicu rasa ngeri yang luar biasa di dalam dada Han Yu sendiri. Bagaimana mungkin tubuh manusianya tiba-tiba berubah memiliki sayap mengerikan seperti ini?
"Iblis, menyerahlah! Cepat katakan kepada kami dengan jujur, mengapa makhluk rendahan dari Sekte Iblis sepertimu bisa menerobos masuk dan mengotori wilayah suci Lembah Lingshu ini?" Gadis yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu melangkah maju satu pukulan, tatapan matanya menghunus tajam penuh dengan intimidasi.
Han Yu hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Lidahnya mendadak terasa kelu dan kaku. Dia benar-benar tidak tahu harus memberikan jawaban apa karena dia sendiri tidak memahami bagaimana kronologi dirinya bisa berpindah dari balkon paviliunnya yang kumuh di pemukiman buruh, tiba-tiba langsung berada di tempat asing yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik bersenjata ini.
Ketidaktahuan dan keterdiaman Han Yu dianggap sebagai bentuk pembangkangan serta penghinaan besar oleh para gadis tersebut. Gadis pemimpin itu mengerutkan keningnya dengan sangat dalam. Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, dia mengibaskan lengan baju putihnya dengan cepat. Hembusan angin kencang yang membawa bilah energi tajam kasat mata melesat dengan cepat, menggores pipi kiri Han Yu hingga menyisakan luka robek yang mengalirkan rasa sakit yang sangat menusuk.
Rasa sakit yang parah itu mendadak memicu sesuatu yang tertidur jauh di dalam darah dan meridian tubuh Han Yu. Secara refleks, sebuah gelombang energi hitam pekat yang sangat pekat dan dingin meledak hebat dari dalam tubuhnya, menghancurkan seluruh rantai besi prasasti yang mengikatnya hingga berkeping-keping menjadi debu logam. Han Yu menyentuh pipinya yang terluka, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan terkejut. Bukan darah merah segar yang keluar dari lukanya, melainkan cairan kental berwarna hitam pekat yang memancarkan aura kematian yang sangat pekat.
Melihat cairan hitam tersebut, sebuah pengetahuan kuno dan insting bertarung yang gelap mendadak terukir dengan paksa di dalam otaknya. Tanpa sadar, Han Yu mengacungkan telapak tangan kanannya ke udara terbuka dan menggumamkan sebuah nama mantra supranatural yang keluar begitu saja dari bibirnya.
"Domain Kegelapan Absolut."
Seketika itu juga, sebuah gelombang kegelapan yang sangat masif bergulir keluar dari tubuhnya dan menelan seluruh ruangan batu tersebut dalam sekejap mata. Semua cahaya obor, batu lampu spiritual, dan formasi pelindung keemasan milik para gadis langsung padam total. Ruangan itu berubah menjadi gelap gulita tanpa ada seberkas cahaya pun yang tersisa, namun anehnya, pandangan mata Han Yu justru menjadi sangat terang, jelas, dan tajam seolah-olah hari masih siang bolong. Menggunakan kesempatan dalam kesempitan itu, Han Yu melompat tinggi melintasi jeruji besi yang telah hancur, mengabaikan seluruh teriakan histeris dan kepanikan dari kelima gadis di belakangnya. Dia berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar bangunan gua tersebut, melewati lorong-lorong batu, dan langsung menghilang ke dalam kelebatan hutan malam yang sangat lebat.