Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Istri Pertama Vs Istri Kedua
"Sayang, aku mengatakan itu semalam hanya karena sedang terbawa emosi! Maafkan aku!"
Clara menghampiri Dominic, wajahnya yang tadi garang mendadak berubah jadi sendu.
Dengan kasar, Clara mendorong bahu Keyla hingga gadis itu terhuyung ke samping, menjauh dari jangkauan suaminya.
Lalu, merangkul lengannya dan menariknya duduk di sofa, memunggungi Keyla seolah gadis itu hanyalah angin lalu.
"Kau tahu bagaimana aku, kan? Lima tahun menikah, bukankah kau sudah sangat mengenal watakku? Aku hanya menggertak, Dom. Aku tidak sungguh-sungguh menyuruhmu mencari wanita lain," rengek Clara dengan manja, jemarinya mengusap dada bidang Dominic, mencoba mencari kembali percikan pesona yang biasanya selalu membuat pria itu luluh.
Di dalam hati, Clara mengumpat. Ia tidak sudi kulit Keyla yang dianggapnya kotor menyentuh kain kemeja mahal suaminya.
Dominic hanya memutar bola mata malas. Tetap duduk tegak, membiarkan Clara bergelayut di lengannya tanpa membalas pelukan itu.
Dominic memang tahu watak istrinya, egois, keras kepala, dan haus perhatian. Namun, kali ini Clara sudah melewati batas. Menghina ibunya soal keinginan memiliki cucu adalah titik di mana Dominic kehilangan rasa hormatnya.
"Dom, bicaralah. Jangan mendiamkan aku seperti ini, sayang! Aku akan melakukan apa pun agar kau memuaskan amarahmu dan segera menceraikan dia!" Clara menunjuk Keyla dengan dagunya, matanya berkilat jijik pada adik tirinya yang masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk.
"Aku tidak akan bercerai darinya," ucap Dominic dingin, datar dan tanpa keraguan sedikit pun.
Clara tersentak, tangannya yang mengelus dada Dominic membeku. "K–kenapa kau tidak mau menceraikannya?! Apa dia merayumu semalam? Apa dia berbohong kalau dia sedang hamil anakmu? Tidak, aku tidak terima, Dom! Aku tidak mau diduakan, apalagi oleh jala-ng kecil ini!" serunya dengan nada tinggi.
"Kak, sebenarnya—"
"Diam kau, jala-ng! Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!" maki Clara seraya berdiri dan berbalik menghadap Keyla dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. "Harusnya kau sadar diri! Kau itu pembawa sial, kau sampah di rumahku, dan sekarang kau berani merangkak ke ranjang suami kakakmu sendiri? Apa kau sudah tidak punya urat malu, hah?!"
"Cukup!" Elise yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. Membuat Clara menghentikan makiannya. "Dom, ikut Mama sebentar. Mama ingin bicara berdua denganmu."
Tanpa menunggu jawaban, Elise melangkah menuju ruang kerja suaminya.
Dominic mengangguk sembari ia melirik Keyla sekilas. Sebuah tatapan yang seolah memberi perintah agar gadis itu tetap disana, lalu mengikuti ibunya dari belakang.
Kini, di ruang keluarga yang luas itu, hanya tersisa Clara dan Keyla.
Sayangnya, kesunyian itu tidak bertahan lama.
Plak!
Tanpa aba-aba, Clara melayangkan tamparan keras ke pipi Keyla. "Dasar murahan! Kau pikir dengan menjual diri pada suamiku kau bisa naik kasta menjadi nyonya di rumah ini?"
Keyla memegangi pipinya yang terasa panas dan kebas. Matanya panas menahan air mata, namun alih-alih menangis seperti biasanya, ia malah teringat kata-kata Dominic di mobil tadi.
"Jangan jadi wanita lemah. Jika kau benar, jangan biarkan dirimu ditindas oleh siapapun. Mengerti gadis kecil?"
Keyla pun mendongak dan membalas tamparan itu dengan kekuatan yang sama besarnya, hingga tubuh ramping Clara terhuyung dan hampir jatuh ke sofa.
"Kau! Berani sekali kau membalasku?!" teriak Clara histeris sembari memegangi pipinya yang mulai memerah.
Clara tidak percaya Keyla yang selama ini selalu menunduk dan menerima segala siksaan kini berani mengangkat tangan.
"Aku sudah bilang, dengarkan penjelaskanku dulu! Kenapa kakak tidak mau mendengar?" ucap Keyla dengan bibir bergetar. "Dan untuk tamparan itu, aku membalasnya karena kakak sudah berani menyakitiku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi! Aku bukan jala-ng yang menawarkan diri, kakak sendiri pasti tahu siapa yang menjebakku!"
Clara terdiam. Ia memang tahu kalau semua ini adalah perbuatan ibunya. Tapi bodohnya, sang ibu teledor dan malah menjadikan Keyla umpan untuk merayu Dominic.
*
*
Elise memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia tak tampak marah, hanya terlihat sangat lelah.
"Sekarang jelaskan pada Mama. Apa yang sebenarnya terjadi."
Dominic berdiri di depan ibunya, tangannya masuk ke dalam saku celana. "Aku menidurinya, mengambil kepera-wanannya, dan aku memutuskan untuk menikahinya secara sah. Apa aku salah?"
Elise tersentak, matanya membulat sempurna menatap kejujuran putra bungsunya. "Apa kau bilang?! Kau mengambil kepera-wanannya?"
"Aku tidak mau dia luntang-lantung di luar sana membawa benihku tanpa status yang jelas. Aku siap menerima hukuman jika Mama menganggap ini salah, tapi aku merasa sudah mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan pewarisku."
Elise menghela napas panjang. Ia merasa bersalah. Desakannya selama ini agar Dominic segera memberi cucu ternyata membuat putranya mengambil langkah senekat ini. "Kau takut dia hamil?"
"Itu salah satunya. Semalam kami melakukannya berkali-kali," jawabnya dengan santai bahkan hampir membuat Elise tersedak air liurnya sendiri.
"Lalu Clara?"
"Dia masih menolak memberiku keturunan sementara Mama terus mendesak. Aku tidak punya pilihan lain selain mencari rahim yang bersedia menampung benih superku."
Mendengar itu Elise hanya geleng-geleng kepala. Entah sikap dingin dan tegasnya ini menururn dari siapa.
Tok! Tok! Tok!
"Nyonya! Tuan Muda! Gawat!" teriak seorang pelayan dari balik pintu dengan nada panik.
"Ada apa lagi?!" Elise berseru, ia segera membuka pintu.
"Nona Clara dan Nona Keyla... mereka bertengkar hebat di bawah! Kami sudah berusaha melerai, tapi Nona Clara mencoba melempar vas bunga!"
"Astaga! Dom, pisahkan mereka sekarang!" perintah Elise.
Dominic langsung berlari menuju ruang keluarga. Di sana, pemandangan kacau tersaji.
Clara sedang berteriak histeris sementara Keyla berdiri tegak memegang sebuah bantal sofa sebagai tameng, wajahnya menunjukkan perlawanan yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Kalian hentikan!" seru Dominic.
"Lihat Dom! Lihat jala-ng ini! Dia berani memukulku!" Clara langsung berhambur ke arah Dominic saat pria itu muncul, mencoba kembali menggunakan taktik manipulatifnya. "Usir dia, Dom! Dia berbahaya! Dia hanya berpura-pura polos di depanmu!"
Dominic tidak melihat ke arah Clara. Ia justru tertuju pada Keyla yang napasnya sedang memburu.
"Marco!" panggil Dominic lantang. Marco yang sejak tadi berjaga di pintu masuk segera menghampiri. "Bawa Keyla ke kamar atas. Kunci pintunya. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk Clara."
"Apa?! Kau membela dia?!" pekik Clara tak terima.
"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya menyelamatkan rumah ini agar tidak hancur karena kegilaanmu," ucap Dominic dingin.
"Sama saja, kau berpihak padanya!" teriak Clara.
"Bersikaplah dewasa! Jangan bertingkah seperti anak kecil, Clara!" balas Dominic lalu beralih menghampiri Keyla, mengusap pipi gadis itu penuh dengan kelembutan. "Masuk ke kamar sekarang. Aku akan menemuimu nanti."
Keyla menurut, ia melangkah mengikuti Marco tanpa menoleh lagi pada Clara yang terus menjerit dan memakinya.
"Kau tidak adil padaku Dom! Tidak adil!" Clara mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃