NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

"LUCY! LUCY! BANGUN!"

Suara itu memecah keheningan malam. Bukan suara halus atau bisikan—ini teriakan. Tepat di telinganya.

Lucy mengerang, satu tangannya menepuk-nepuk asal ke arah sumber suara. "Lili... ini jam berapa..."

"BANGUN! INI PENTING!"

Mata biru Lucy terbuka. Bukan mata hitam yang disembunyikan softlens—ini mata aslinya, berkilau dalam gelap seperti dua safir yang berpendar. Dia menatap jam dinding. Jarum pendek menunjuk ke angka dua belas. Jarum panjang di angka dua belas. Tengah malam.

"Ini jam dua belas malam, Lili." Suara Lucy rendah dan berbahaya. "Ada apa?"

Lili berdiri di atas dadanya—kucing putih kecil itu benar-benar menginjak-injak tubuhnya sekarang. Ekornya mengibas-ngibas, bulunya sedikit mengembang. "Protagonis wanita. Dia mengalami perubahan."

"Maksudmu Hana?" Lucy masih setengah sadar. "Perubahan apa?"

"Aku belum bisa mendeteksi detailnya. Tapi..." Lili melompat turun dari dada Lucy, duduk di pinggir kasur dengan postur tegang. "Sepertinya dia terlibat dalam pembunuhan keluarga dari Lucy—pemilik tubuh yang kau tempati ini."

Kantuk Lucy menguap seketika. Dia mendorong tubuhnya untuk duduk, menyandarkan punggung ke dinding. "Apa maksudmu terlibat? Hana Himura? Protagonis wanita yang polos dan baik hati itu?"

"Aku tidak tahu detailnya. Data dunia ini... sedikit kacau sekarang. Sepertinya dewa yang meminta bantuanmu sedang mengalami kesulitan dengan protagonis wanita ini."

"Kesulitan bagaimana?"

"Hana Himura terlibat dengan sesuatu. Sesuatu yang gelap. Dan itu di luar alur cerita aslinya."

Lucy mengerutkan kening. "Jadi Hana yang seharusnya menjadi gadis baik yang tersakiti, sekarang terlibat dalam pembunuhan? Pembunuhan keluarga pemilik tubuhku?"

"Kemungkinan."

"Dan itu kenapa baru ketahuan sekarang?"

"Karena..." Lili terdiam, telinganya bergerak-gerak. "Karena aku baru bisa mendeteksinya sekarang. Seseorang—atau sesuatu—menutupi jejak ini sebelumnya. Seperti kabut yang tiba-tiba terangkat."

Lucy menyilangkan tangannya. "Jadi dewa dari dunia ini minta tolong padaku untuk membereskan antagonis pria dan wanita... tapi ternyata protagonis wanitanya sendiri terlibat masalah?"

"Sepertinya begitu."

"Huh." Lucy mendengus. "Menarik."

"Itu saja reaksimu? 'Menarik'?"

"Lili, aku tidak peduli dengan alasan apa pun." Lucy menguap. "Aku di sini untuk bersenang-senang. Mengumpulkan nilai suka. Menurunkan nilai kejahatan. Kalau protagonis wanitanya ternyata punya sisi gelap... itu malah lebih seru."

"Tapi ini bisa mempengaruhi seluruh alur cerita."

"Bagus. Alur cerita yang bisa ditebak itu membosankan."

Lili menghela napas panjang. "Ada satu hal lagi. Kedatangan Hana Himura tertunda. Tiga hari."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa mendeteksi alasannya. Tapi sepertinya terkait dengan... keterlibatannya dalam sisi gelap itu."

Lucy mengangguk pelan. "Jadi aku punya tiga hari ekstra sebelum protagonis wanita muncul."

"Ya."

"Dan Akane?"

"Masih sesuai jadwal. Dia akan kembali satu minggu setelah Hana masuk."

"Baiklah." Lucy menjatuhkan dirinya kembali ke kasur, menatap langit-langit. "Sekarang, biarkan aku tidur—"

Dia memejamkan mata.

Dua detik kemudian, dia membukanya lagi.

"Aku tidak bisa tidur."

"Aku tahu."

"Kau membangunkanku dan sekarang aku tidak bisa tidur lagi."

"Aku minta maaf?"

Lucy mendengus dan bangkit. "Sudah. Aku lapar. Aku akan pergi ke supermarket."

"Jam dua belas malam?"

"Supermarket dekat apartemen buka dua puluh empat jam. Aku sudah memeriksanya."

Dia berjalan ke lemarinya, mengeluarkan kaos biru tipis dan celana pendek hitam. Pakaian santai. Tidak ada yang akan melihatnya tengah malam, jadi tidak perlu berdandan. Dia mengambil softlens hitamnya dari meja—lalu meletakkannya lagi.

"Malas," gumamnya. "Lagipula ini tengah malam. Siapa yang akan lihat?"

Lili memiringkan kepalanya. "Mata aslimu?"

"Akan kubiarkan begitu saja untuk malam ini. Rambutku masih hitam—itu cukup."

Dia mengikat rambut sebahu ke belakang dengan karet gelang sederhana. Lalu meraih dompet dan kunci, dan melangkah keluar.

 

Angin malam menyambutnya begitu pintu apartemen terbuka. Dingin. Cukup dingin untuk membuat manusia normal menggigil. Tapi Lucy bukan manusia normal. Kekuatan ilahinya mengalir hangat di bawah kulit, melindunginya dari hawa dingin yang mencoba menyusup melalui kaos tipisnya.

"Kau akan masuk angin," komentar Lili yang berjalan di sampingnya—kucing putih kecil yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

"Aku Dewi. Kami tidak masuk angin."

"Tapi tubuhmu ini manusia."

"Setengah manusia. Dan aku sudah memodifikasinya cukup untuk tidak sakit hanya karena angin malam."

Mereka berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Distrik Higashi memang tenang—tidak banyak orang berkeliaran di jam seperti ini. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya oranye yang menciptakan bayangan panjang di aspal.

Supermarket itu terang benderang, kontras dengan kegelapan di sekitarnya. Lucy masuk dan mulai mengambil apa pun yang menarik perhatiannya. Ayam goreng instan. Mie kuah. Udang keju. Cokelat. Keripik. Anggur—bukan dari kastilnya, tapi anggur manusia biasa yang rasanya tidak seberapa. Tapi malam ini dia ingin mencoba.

Saat dia keluar dari supermarket dengan dua kantong belanjaan, suara itu terdengar.

Bunyi pukulan. Bentakan. Suara tubuh yang membentur dinding.

Lucy berhenti. Di ujung jalan, di gang sempit antara supermarket dan gedung tua, dia melihat gerakan. Lima—mungkin enam—bayangan. Mereka mengerumuni satu orang yang sudah terjatuh.

"Jangan terlibat," kata Lili di kepalanya. "Ini bukan urusanmu."

"Aku tahu." Lucy melanjutkan langkahnya. "Aku hanya lewat."

Tapi saat dia mendekat—karena apartemennya memang melewati gang itu—dia bisa melihat lebih jelas. Lima remaja laki-laki, mungkin seumuran SMA atau sedikit lebih tua, memukuli satu orang yang sudah tersungkur. Korban itu tidak bergerak banyak. Hanya melindungi kepalanya dengan tangan.

Mereka menghalangi jalanku, pikir Lucy malas. Dan aku tidak ingin berputar.

Dia menghela napas. Lalu, dengan satu jentikan jari yang tersembunyi di balik kantong belanjaan, suara sirine polisi memekik keras—seolah-olah datang dari ujung jalan.

"POLISI! LARI!"

Kelima remaja itu langsung panik. Mereka berhamburan ke arah yang berlawanan, menghilang dalam hitungan detik. Sirine itu berhenti. Suasana kembali sunyi.

Tinggal satu orang di tanah.

Lucy berjalan melewatinya. Dia benar-benar berniat untuk terus berjalan—sampai matanya menangkap sesuatu yang familiar. Jaket tim basket SMA Seiran. Rambut pirang gelap. Tangan yang memegangi perut, di mana ada noda merah yang mulai merembes.

Oh.

"Lili," bisiknya. "Itu Kaito."

"Aku tahu."

Lucy berdiri di sana, menatap pemuda yang hampir pingsan di depannya. Kaito Fujiwara. Antagonis pria. Orang yang seharusnya dia dekati perlahan-lahan, dengan rencana yang matang, bukan ditemukan tergeletak di gang gelap jam setengah satu malam.

Ini di luar rencana, pikirnya.

Tapi tidak apa-apa. Dia bisa improvisasi.

Lucy berjongkok, meletakkan kantong belanjaannya di samping. "Hei. Kau baik-baik saja?"

"Tentu saja dia tidak baik-baik saja! Lihat perutnya!" suara Lili di kepalanya hampir seperti bentakan. "Kenapa kau tanya dia baik-baik saja?! Itu jelas-jelas tidak!"

"Diam, Lili."

Kaito mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya babak belur—bibir pecah, alis berdarah, pipi memar. Tapi matanya—mata cokelat gelap itu—menatap Lucy dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Dan dia diam.

Hanya menatap.

Lucy menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada jawaban.

"Baiklah," katanya akhirnya, mulai berdiri. "Kalau kau tidak mau bicara, aku pergi—"

"Tolong."

Suara itu pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup untuk membuat Lucy berhenti.

Dia menatap Kaito lagi. Pemuda itu masih memegangi perutnya, darah merembes di sela-sela jarinya. Wajahnya pucat, tapi matanya—matanya menatap Lucy dengan sesuatu yang putus asa.

Lucy mendesah. "Kenapa kau ada di sini dalam kondisi seperti ini?"

Tidak ada jawaban.

"Baik. Tidak perlu cerita." Dia duduk di samping Kaito, menyilangkan kakinya di aspal dingin. Tangannya merogoh kantong belanjaannya—pura-pura mencari sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?!" Lili panik. "Kau tidak beli obat!"

"Aku tahu. Makanya aku ambil dari kastil."

"TAPI DIA AKAN CURIGA—"

"Dia hampir pingsan, Lili. Dia tidak akan memperhatikan detail."

Dan benar saja—dengan gerakan cepat, Lucy mengambil ramuan dari kastilnya melalui cincin penyimpanannya, menyembunyikannya di balik kantong belanjaan. Sebotol kecil bubuk herbal yang manjur untuk luka manusia. Dan perban bersih. Dia mengeluarkannya seolah-olah dari dalam kantong.

"Angkat pakaianmu," katanya datar.

Kaito tidak bergerak. Mungkin terlalu sakit. Mungkin terlalu bingung.

Lucy tidak menunggu. Dia menarik tangan Kaito dari perutnya—tangannya sendiri kecil dibandingkan tangan Kaito yang kasar dan besar—lalu mengangkat jaket dan kaosnya ke atas.

Luka di perutnya lumayan dalam. Bukan luka tusuk, lebih seperti sobekan akibat benda tumpul. Mungkin pipa besi. Mungkin tongkat baseball. Darah masih mengalir, tapi tidak terlalu deras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!