Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paksaan
Langkah kaki Alden yang berat seketika berhenti tepat di belakang tubuh Aleta. Ketegangan dari ruang tamu di bawah, tekanan perjodohan dari orang tuanya, serta penolakan keras dari Felicia yang terus-menerus mengejarnya rupanya telah menumpuk menjadi bom waktu di dalam kepala Alden.
Ditambah lagi dengan pembangkangan Aleta yang terus mencoba kabur, pertahanan cowok itu akhirnya runtuh.
Posisi Alden saat ini benar-benar kacau. Tatapan matanya yang biasa dingin kini menyalang tajam, dipenuhi emosi dan rasa frustrasi yang memuncak.
Tanpa aba-aba atau peringatan apa pun, Alden mencengkeram pergelangan tangan Aleta dengan kasar. Tarikan tiba-tiba yang bertenaga besar itu membuat tubuh mungil Aleta tersentak dan kehilangan keseimbangan seketika.
"K-Kak Alden, lepas—!"
Kalimat Aleta terputus menjadi pekikan ngeri saat Alden setengah menyeretnya menjauh dari pintu, membawanya dengan paksa ke arah tempat tidur berukuran king size yang berada di tengah kamar. Sebelum Aleta sempat memikirkan cara untuk melepaskan diri, Alden dengan kasar melemparkan tubuh kecil gadis itu ke atas kasur empuknya yang didominasi warna hitam.
Bruk!
Tubuh Aleta membal di atas kasur yang luas itu. Tas ransel yang sejak tadi didekapnya terlepas begitu saja, terlempar ke sudut tempat tidur. Rasa syok dan ketakutan yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh saraf tubuh Aleta. Belum pernah ia melihat sisi Alden yang sebuas dan seberingas ini di sekolah.
Dengan napas yang terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang bagai mau copot, Aleta buru-buru membalikkan badannya. Ia merangkak mundur dengan cepat hingga punggungnya membentur headboard kasur, menatap Alden yang kini berdiri tegak di tepi ranjang dengan napas yang naik-turun tidak teratur, menatapnya tajam bak predator yang siap mengunci pergerakan mangsanya.
🌍🌍🌍
Alden mengembuskan napas panjang, mencoba meredam gejolak emosi yang masih bergemuruh di dadanya. Ia menatap Aleta yang kini meringkuk di sudut ranjang dengan mata berkaca-kaca, terlihat begitu ketakutan.
"leticia... diam," suara Alden terdengar lebih berat, namun kali ini ada nada frustrasi yang lebih dominan daripada amarah.
"Gue nggak bakal ngapa-ngapain, sialan. Lo tinggal di sini sebentar sampai mereka pergi, habis itu gue anterin lo balik. Gue janji."
bagi Aleta, ketakutan sudah membutakan akal sehatnya. Ia tidak lagi mendengar janji itu sebagai sebuah perlindungan, melainkan ancaman. Saat Alden lengah sedikit saja, Aleta dengan gerakan cepat mulai merangkak ke sisi lain kasur, berniat meluncur turun dan kembali menerjang pintu.
Ini kesempatan terakhir, pikir Aleta. Ia sudah membuka mulut lebar-lebar, bersiap mengeluarkan teriakan sekuat tenaga agar orang-orang di bawah—terutama orang tua Alden—bisa mendengar dan menolongnya.
Satu... dua...
Baru saja Aleta hendak menjerit, sebuah tangan kekar milik Alden bergerak lebih cepat dari kilat. Dengan mudah, cowok itu menangkap pinggang Aleta dan menariknya kembali ke tengah kasur.
"Nggak akan," desis Alden tertahan.
Aleta tidak menyerah. Gadis itu memberontak habis-habisan. Ia memukul bahu Alden, mencakar udara, dan mencoba menendang kakinya agar bisa lepas dari kungkungan tangan cowok itu.
"Lepasin! Tolong! Kak Alden, lepasin!" jerit Aleta akhirnya, suaranya melengking memenuhi kamar kedap suara itu.
Alden yang sudah berada di ambang batas kesabaran karena rencananya untuk menghindari perjodohan terancam berantakan oleh kepanikan Aleta, akhirnya menindih tubuh gadis itu—bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengunci gerakannya agar tidak terus-menerus berontak.
"Diem, !" bentak Alden, napas mereka kini beradu di jarak yang sangat dekat. Tatapan Alden menyalang, namun di baliknya, Aleta bisa melihat kilat keputusasaan seorang cowok yang merasa terpojok oleh keluarganya sendiri.
"Kalau kamu teriak, mereka bakal masuk ke sini, dan perjodohan itu bakal makin dipercepat karena mereka ngeliat kita berduaan di kamar. Lo mau itu terjadi?!"
Aleta menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan sisa tenaga yang ia miliki. Segala pertahanannya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tak terbendung, membasahi pipinya yang memerah karena panik dan lelah. Isak tangisnya mulai terdengar menyedihkan di tengah keheningan kamar yang mencekik itu.
Ia ingin berontak, tapi kenyataan pahit langsung menamparnya. Tubuh kecilnya sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding proporsi tubuh Alden yang tinggi besar. Ditambah lagi, kedua pergelangan tangan mungilnya kini telah dicengkeram kuat oleh Alden, ditarik ke atas kepala dan dikunci rapat di atas kasur.
Aleta benar-benar tidak bisa bergerak satu inci pun. Posisinya yang terkunci di bawah kungkungan tubuh Alden membuatnya merasa sangat tidak berdaya. Ia hanya bisa menangis sesenggukan, memalingkan wajahnya ke samping karena tidak sanggup menatap mata elang Alden yang berada begitu dekat di atasnya.
Melihat air mata Aleta yang mengalir deras dan merasakan tubuh gadis itu yang gemetar hebat di bawahnya, amarah Alden mendadak surut. Detak jantung Alden yang semula berdegup kencang karena emosi, kini berubah menjadi rasa bersalah yang teramat sangat.
Pandangan mata Alden yang tadinya menyalang perlahan melunak. Ia menatap lekat wajah Aleta yang dipenuhi air mata dengan perasaan campur aduk. Sadar bahwa tindakannya sudah melampaui batas dan benar-benar menakuti gadis yang tidak bersalah ini, perlahan-lahan cengkeraman tangan Alden pada pergelangan tangan Aleta mulai melonggar, meski ia belum sepenuhnya menjauhkan tubuhnya.
🌍🌍🌍
Alden tidak langsung bangkit. Ia tetap bertahan di posisinya, membiarkan tubuh tegapnya mengungkung Aleta yang masih gemetar hebat di bawahnya.
Suara tangis Aleta yang menyedihkan menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan kamar. Jarak yang teramat dekat ini membuat Alden bisa merasakan dengan sangat jelas embusan napas Aleta yang memburu dan tidak beraturan di permukaan kulitnya.
Kedua mata elang Alden perlahan turun, memperhatikan setiap jengkal wajah gadis di bawahnya dengan saksama. Ia melihat bagaimana bulu mata Aleta yang lentik kini basah oleh air mata, pipinya yang merona merah karena panik, serta bibir bawahnya yang digigit kuat-kuat untuk meredam suara tangis agar tidak semakin meledak.
Ada secercah penyesalan yang mendalam kilat di dalam manik mata Alden. Sepanjang hidupnya, ia selalu memegang kendali atas segala hal. Ia terbiasa dihormati, ditakuti, dan dipatuhi. Namun melihat kerapuhan Aleta yang murni tanpa kepura-puraan di depannya saat ini, ada sesuatu yang retak di dalam pertahanan kokoh seorang Alden.
Gadis ini tidak bersalah. Aleta hanyalah korban dari egoismenya yang menolak tunduk pada kemauan orang tuanya.
Perlahan, cengkeraman tangan Alden di pergelangan tangan Aleta benar-benar terlepas sepenuhnya. Namun, bukannya menjauh, tangan kekar Alden justru bergerak pelan, naik menyentuh sisi wajah Aleta.
Dengan ibu jarinya, Alden mengusap air mata yang membasahi pipi lembut gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah perlakuan yang berbanding terbalik dengan kekasarannya beberapa detik yang lalu.
Aleta yang merasakan sentuhan hangat di pipinya seketika menghentikan isak tangisnya. Ia mengerjap pelan, lalu memberanikan diri memutar kepalanya untuk menatap lurus ke dalam manik mata Alden yang kini menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Bukan lagi tatapan singa yang ingin menerkam, melainkan tatapan penuh rasa bersalah yang teramat dalam.
Plak!
Dengan sisa tenaga dan keberanian yang ia miliki, Aleta menghempaskan tangan Alden dari pipinya dengan kasar. Ia memalingkan wajah, menolak segala bentuk kelembutan yang coba cowok itu tunjukkan setelah memperlakukannya dengan semena-mena.
Di tengah detak jantungnya yang berpacu liar karena takut, suara hangat mamanya tiba-tiba terngiang begitu jelas di dalam kepala Aleta.
“Aleta, jaga diri kamu baik-baik di luar sana ya, Sayang. Kamu perempuan, harus tahu batasan.”
Wejangan-wejangan sang mama yang selalu mengingatkannya untuk menjaga kehormatan diri seketika menampar kesadaran Aleta. Posisi mereka saat ini sudah sangat keliru. Berduaan di dalam kamar yang terkunci, di atas kasur, dengan tubuh seorang cowok yang mengungkungnya dari atas—ini adalah batasan yang sudah dilewati. Pikirannya langsung dipenuhi skenario buruk yang membuatnya semakin merinding dan ketakutan setengah mati.
"Jangan sentuh aku!" cicit Aleta, suaranya bergetar hebat di antara sisa isak tangisnya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Alden sekuat tenaga, berusaha menciptakan jarak.
"Turun, Kak... Tolong turun," pinta Aleta dengan mata yang kembali berkaca-kaca, menatap Alden dengan pandangan memohon sekaligus waspada.
"Ini salah. Kita nggak boleh kayak gini. Kamar ini... posisi kita, ini salah banget. Tolong lepasin saya..."
Melihat penolakan keras dan ketakutan yang murni di mata Aleta, Alden seperti tersadar dari mantra. Dorongan tangan mungil Aleta di dadanya terasa seperti hantaman keras yang menyentak akal sehatnya kembali ke tempat semula.
Alden terpaku beberapa saat, menatap kedua tangan Aleta yang masih gemetar di dadanya, sebelum akhirnya ia perlahan memundurkan tubuhnya dan bangkit berdiri di sisi ranjang, membebaskan Aleta dari kungkungannya.
🌍🌍🌍
Begitu tubuh kekar Alden menjauh dan menjamin ruang geraknya kembali bebas, Aleta tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan gerakan cepat dan sedikit terhuyung, ia langsung meluncur turun dari atas kasur berukuran king size itu.
Aleta berdiri dengan lutut yang masih terasa lemas dan bergetar hebat. Kepalanya berdenyut karena sisa tangis dan syok, namun naluri pertahanan dirinya jauh lebih kuat. Jantungnya masih berdegup abnormal saat ia melangkah mundur dua langkah, menciptakan jarak sejauh mungkin dari ranjang dan dari Alden yang masih berdiri diam di sana.
Dengan napas yang masih terengah-engah, kedua tangan mungil Aleta bergerak cepat dan gemetar ke seluruh tubuhnya. Ia buru-buru menarik bagian bawah seragam olahraganya yang sempat tersingkap kaku, menepuk-nepuk kainnya yang kini tampak semakin kusut dan lecek akibat pergulatan singkat tadi. Ia membetulkan kerah bajunya yang berantakan, lalu menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
Aleta merasa sangat terhina sekaligus sangat rapuh dalam balutan seragam yang berantakan ini. Sembari terus merapikan pakaiannya, mata Aleta melirik ke sudut kasur tempat tas ranselnya terlempar.
Tanpa berani menatap wajah Alden lagi, Aleta melangkah cepat untuk menyambar tasnya, mendekap benda itu erat-erat di depan dadanya seperti sebuah perisai pelindung yang paling kokoh. Matanya kembali tertuju pada pintu kamar yang terkunci, bersiap untuk mencari celah terkecil sekalipun agar bisa keluar dari ruangan yang terasa menyesakkan ini.
🌍🌍🌍
Sambil mendekap tas ranselnya, tangan Aleta bergerak gemetar merogoh ke dalam kompartemen tas yang tadi sempat terlempar. Napasnya masih tersengal, dan air mata yang belum kering membuat pandangannya sedikit kabur saat ia mencari benda tipis itu.
Begitu jemarinya merasakan permukaan halus ponselnya, Aleta segera menariknya keluar dengan kasar. Ia tidak peduli lagi pada Alden yang masih berdiri tak jauh darinya. Pikirannya cuma satu: Mama. Hanya suara mamanya yang bisa menyelamatkannya dari situasi mencekam ini.
Jemari Aleta yang dingin dan berkeringat bergerak lincah di atas layar ponsel yang retak sedikit di bagian sudutnya. Ia membuka daftar kontak, mencari nama "Mama", dan segera menekan tombol panggil.
Satu kali dering.
Dua kali dering.
Aleta menggigit bibir bawahnya, jantungnya berpacu seiring dengan nada sambung yang terdengar di telinganya.
"Angkat, Ma... tolong angkat..." bisiknya lirih, suaranya hampir hilang ditelan isak yang tertahan.
tepat saat ia menunggu jawaban, Alden yang sejak tadi diam memerhatikan—setelah sadar sepenuhnya akan apa yang dilakukan Aleta—langsung bergerak cepat. Sebelum sambungan itu terhubung, Alden melangkah lebar dan dengan satu gerakan sigap, ia menyambar ponsel itu dari genggaman Aleta.
"Nggak," ucap Alden tegas. Ia mematikan panggilan itu tepat sebelum terhubung, lalu meletakkan ponsel Aleta tinggi-tinggi di atas lemari pajangan yang tidak bisa dijangkau oleh gadis itu.
"Jangan libatkan orang tua kamu dalam masalah kita , Aleta," desis Alden memanggil Aleta dengan sebutan namanya bukan nama asli Aleta lagi. Alden menatapnya dengan tatapan yang kini kembali dingin dan penuh otoritas.
Aleta mematung, menatap ponselnya yang kini berada di luar jangkauannya. Harapan terakhirnya untuk pulang dengan selamat tampak memudar. Ruangan itu kini terasa semakin sempit bagi Aleta.
🌍🌍🌍
tunggu selanjutnya yaaa👌🏻