"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Singa
Badai di Uluwatu akhirnya reda, menyisakan langit pagi Bali yang bersih dan hamparan laut yang kembali tenang. Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menular pada atmosfer di dalam jet pribadi Grup Arkananta yang sedang terbang kembali menuju Jakarta.
Elena duduk di kursinya, menatap kosong ke luar jendela kabin. Pikirannya carut-marut. Pelukan hangat Arthur semalam, air mata penyesalan pria itu, dan pengakuannya tentang konspirasi sang ibu tiri telah berhasil mengguncang dinding pertahanan es yang dibangunnya selama lima tahun. Di seberangnya, Arthur duduk dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Elena. Tidak ada lagi keangkuhan seorang CEO di matanya, yang ada hanyalah sorot mata seorang pria yang siap melakukan apa saja demi mendapatkan kembali keluarganya.
"Begitu tiba di Jakarta, aku akan ikut ke apartemenmu," ucap Arthur memecah keheningan. Suaranya rendah, tidak lagi berupa perintah mutlak, melainkan sebuah permohonan yang tulus. "Aku ingin bertemu putra kita, Elena. Secara resmi."
Elena memutar kepalanya, menatap Arthur dengan sisa-sisa kewaspadaan. "Leon tidak seperti anak-anak lain, Arthur. Dia sangat cerdas, dan dia tahu apa yang kamu lakukan di masa lalu. Jangan harap dia akan langsung memanggilmu 'Papa'."
Arthur tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepedihan sekaligus tekad. "Aku tahu. Aku tidak meminta keajaiban instan. Aku hanya ingin melihatnya."
Dua jam kemudian, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti di depan lobi apartemen eksklusif tempat Elena tinggal. Elena melangkah keluar, diikuti oleh Arthur yang berjalan di sampingnya dengan langkah tegap namun menyiratkan ketegangan yang langka bagi seorang CEO raksasa bisnis.
Ketika Elena membuka pintu unit apartemennya, kehangatan langsung menyambut mereka. Di ruang tengah, Lia yang mengenakan kaus santai langsung berlari kencang dan menghambur ke pelukan Elena.
"Mama! Mama sudah pulang!" seru Lia dengan riang, menggelayut manja di leher Elena. Namun, sedetik kemudian, mata bulat Lia melebar saat melihat sosok tinggi yang berdiri di belakang ibunya. "Papa...?"
Arthur berlutut, merentangkan kedua tangannya dengan senyuman lebar. "Kemari, Putri kecil Papa."
Lia melepaskan pelukannya dari Elena dan beralih memeluk leher Arthur dengan erat. Arthur memejamkan mata, mengecup puncak kepala putrinya dengan rasa syukur yang membuncah. Selama lima tahun dia membesarkan Lia dalam kebohongan, dan hari ini, di bawah atap ini, kebenaran itu akhirnya mulai bersatu.
Namun, atmosfer hangat itu mendadak mendingin ketika sebuah langkah kaki kecil terdengar dari arah lorong kamar.
Sosok bocah laki-laki berusia empat tahun melangkah keluar dengan santai. Dia mengenakan kaos hitam bergambar logo sistem operasi Linux, celana pendek, dan sebuah topi hitam yang bertengger manis di kepalanya. Di kedua tangannya, sebuah tablet pintar berlayar gelap berada dalam genggamannya.
Bocah itu berhenti tepat tiga langkah di depan Arthur. Dia melipat kedua tangan mungilnya di depan dada, mendongak, dan menatap Arthur lurus-lurus.
Arthur perlahan melepaskan pelukan Lia, lalu bangkit berdiri secara bertahap. Matanya melebar sempurna saat menatap bocah laki-laki di hadapannya. Laporan tertulis dari asistennya atau rekaman CCTV tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat anak ini secara langsung. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, hingga sorot mata elangnya yang angkuh dan dingin... bocah ini adalah replika sempurna dari dirinya sendiri dalam versi mini.
Dua singa satu besar dan satu kecil kini saling mengunci tatapan di tengah ruang tamu yang mendadak sunyi senyap.
"Jadi, Anda adalah pria tua brengsek yang sudah membuat Mamaku menangis selama lima tahun?" suara Leon terdengar renyah, namun nadanya begitu datar, dingin, dan sarat akan intimidasi yang luar biasa untuk anak seusianya.
Arthur tersentak kecil. Alih-alih marah karena dihina oleh anak kecil, jantung Arthur justru berdegup kencang karena rasa bangga yang luar biasa. Pria itu perlahan kembali berlutut, menyamakan tingginya dengan Leon.
"Ya, ini aku. Ayahmu," ucap Arthur, suaranya serak menahan emosi yang menggelegak di dadanya. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba menyentuh kepala Leon. "Maafkan Papa, Leon. Papa terlambat menemukanmu."
Plak.
Dengan gerakan cepat dan tak acuh, Leon menepis tangan kekar Arthur menggunakan ujung tabletnya. Tatapannya sama sekali tidak goyah, tetap sedingin es.
"Jangan menyentuhku, Tuan Arkananta. Aku belum mengizinkan Anda menjadi ayahku," balas Leon dengan ketus. Dia mengutak-atik layar tabletnya selama dua detik, lalu mengarahkannya tepat ke depan wajah Arthur. "Semalam, saat aku berada di rumah mewah Anda, aku menanam sebuah virus mikro di server utama perusahaan Anda. Jika Anda mencoba memaksa Mama atau merebut Kak Lia lagi dari kami, seluruh sistem operasional Grup Arkananta di tiga benua akan lumpuh dalam waktu satu menit."
Elena yang berdiri di dekat sofa menepuk dahinya pelan, sementara Arthur terpaku menatap layar tablet Leon yang menampilkan grafik penurunan enkripsi keamanan perusahaannya secara real-time.
Arthur menatap barisan kode itu, lalu kembali menatap wajah putranya. Sedetik, dua detik, hingga akhirnya sebuah tawa bariton yang renyah dan keras pecah dari bibir Arthur. Pria yang terkenal tidak pernah tersenyum di depan publik itu kini tertawa lepas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Luar biasa..." gumam Arthur di sela tawanya, menatap Leon dengan binar mata yang penuh dengan rasa kagum dan kepemilikan yang mutlak. "Kamu benar-benar anakku. Kemampuan meretasmu bahkan jauh lebih hebat daripada tim IT terbaik yang aku bayar miliaran rupiah per bulan."
Leon mengernyitkan dahi, sedikit terkejut karena ancamannya justru ditanggapi dengan tawa dan pujian. Dia menurunkan tabletnya, mendengus pelan untuk menyembunyikan rasa canggungnya. "Pujian Anda tidak akan mengubah fakta bahwa Anda harus melewati ujianku jika ingin mendekati Mama lagi."
Arthur tersenyum penuh kemenangan, binar matanya kembali berbahaya dan penuh tekad berburu. Dia berdiri tegap, menatap Leon lalu beralih menatap Elena yang sedang membuang muka.
"Aku terima ujianmu, Leon," ucap Arthur dengan nada tegas yang tidak menerima kekalahan. "Aku akan membuktikan pada kalian bertiga, bahwa tempat terbaik bagi kalian bukan di apartemen sempit ini, melainkan di sisiku. Di rumah kita yang sesungguhnya."
Elena melangkah maju, menarik Leon ke belakang tubuhnya seolah melindungi putranya dari jangkauan Arthur. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Arkananta. Perjalanan Anda masih sangat jauh. Sekarang, silakan keluar dari apartemen saya. Urusan bisnis kita di Bali sudah selesai, dan saya butuh istirahat."
Arthur tidak membantah. Dia merapikan jasnya, membungkuk kecil di depan kedua anak kembarnya, lalu memberikan tatapan dalam yang penuh arti kepada Elena. "Aku pergi sekarang. Sampai jumpa besok pagi di kantor, Nona Eleanor Vance."
Saat pintu apartemen tertutup rapat di belakang punggung Arthur, Elena menghela napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Permainan taktik dan emosi ini semakin hari semakin berbahaya, dan benteng pertahanannya kini harus menghadapi serangan dari dua arah: penyesalan Arthur yang agresif, dan kelucuan anak kembar mereka yang mulai menyatukan kembali kepingan masa lalu.