bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jika rencana ini gagal, bukan hanya warisan yang hilang, tapi nyawa mereka bisa
terancam.
"Aku tidak akan kembali ke ruang rapat itu sebagai pecundang," gumam Nadira,
meski suaranya tertelan oleh deru mesin mobil.
Ia merapikan kerah kemejanya di kaca spion, menatap pantulan wajah yang kini penuh determinasi.
Sesampainya di gedung auditor yang masih sepi, mereka segera masuk lewat pintu
belakang yang sudah diatur sebelumnya.
Ruangan itu dingin dan berbau kertas tua serta kopi instan yang sudah mengental. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal menyambut mereka di ruang tengah tanpa banyak basa-basi.
"Bukti apa yang kalian bawa? Saya tidak punya banyak waktu sebelum staf saya datang," tanya pria itu, suaranya
bergetar sedikit karena rasa cemas.
Nadira meletakkan amplop cokelat di atas meja kayu yang tergores.
"Ini laporan keuangan palsu dan bukti transfer ke rekening atas nama perusahaan cangkang. Kami butuh validasi resmi sebelum pukul sepuluh pagi."
Auditor tersebut mengangguk, langsung membuka komputernya dan memindai dokumen tersebut dengan cepat. Arga berdiri di dekat pintu, tangannya mengepal di saku celana, siap jika ada gangguan yang tidak terduga dari orang-orang Dinda.
Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar di sakunya. Nadira menoleh dengan kening berkerut,
melihat wajah Arga yang mendadak memucat setelah membaca sebuah pesan singkat.
"Ada apa?" tanya Nadira pelan, hatinya mulai berdegup kencang. Arga menutup layar
ponselnya dan menatap Nadira dengan ekspresi yang sulit diterka.
"Dinda tahu kita tidak ada di kamar. Dia sudah mengirim orang ke kantor auditor ini," bisik Arga, suaranya parau.
Napas Nadira sesaat tersengal, namun ia segera menguap rasa panik itu dengan
menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih.
"Kita harus selesai di sini dalam dua puluh
menit, atau semua usaha kita akan berakhir di tempat sampah."
Auditor itu mendongak, mengangguk tanda mengerti, jari-jarinya menari lebih cepat di atas keyboard laptopnya.
Suara printer mulai menderu di sudut ruangan, mengeluarkan lembaran kertas yang akan menjadi peluru mematikan bagi Dinda nantinya.
Matahari semakin meninggi, membawa harapan baru sekaligus ancaman yang kian
mendekat. Nadira menatap keluar jendela, melihat bayangan mobil gelap yang mulai
berhenti di depan gedung.
Waktunya telah habis, dan mereka harus segera pergi sebelum persembunyian mereka terbongkar sepenuhnya.
"Ambil dokumennya, kita pergi sekarang
juga," perintah Nadira, suaranya kini penuh otoritas yang tidak bisa ditawar lagi.
Cahaya pagi menyelinap lewat celah tirai kamar, menyinari debu yang menari di udara.
Aroma kopi yang baru diseduh tercium dari dapur, bercampur dengan wangi sabun cuci
piring yang menyengat.
Nadira menarik selimut tipis ke dagu, menatap langit-langit kamar
yang mulai memudar warnanya. Ia mendengar langkah kaki Arga di koridor, langkah yang berat dan teratur, berbeda dengan langkah pelan ibu mereka yang biasanya terdengar lebih awal.
"Kamu bangun?" suara Arga terdengar serak saat ia mendorong pintu kamar dengan bahu.
Nadira mengangguk, meski leher terasa kaku karena posisi tidur yang salah.
"Ibu sudah bangun?"
"Belum. Tapi kamu harus lihat ini." Arga meletakkan sebuah map usang di tepi ranjang.
Sampulnya berwarna cokelat pudar, terdapat bekas lembapan yang menggelap di sudut
kiri.
"Itu ada di dasar lemari kayu di gudang. Aku mau membuang kardus lama, tapi ini jatuh dan terbuka."
Nadira duduk, merapikan rambut yang acak di depan cermin kecil di dinding. Ia mengambil
map itu dengan hati-hati. Kertas di dalamnya terasa kasar dan rapuh.
"Apa isinya?"
"Rekening koran. Ada nama ayah, tapi alamatnya aneh. Bukan alamat rumah ini."
Arga menyandarkan tubuh di tiang ranjang, tangannya menyilang di dada.
"Ada cap dari kantor notaris juga. Capnya retak di tengah."
Nadira membuka lembaran pertama. Matanya menyipit membaca angka-angka yang ditulis
tangan di margin kertas. Angka itu sangat besar, jauh melebihi nilai aset yang selama ini diklaim oleh pihak keluarga besar.
"Ini bukan milik ayah," bisiknya, meski ia tahu Arga bisa mendengarnya.
"Ini milik kakek. Tapi kenapa ibu menyimpannya di gudang?"
"Mungkin dia tidak tahu ini ada di sana," jawab Arga datar.
"Atau dia tahu, dan dia sengaja
menyembunyikannya."
Nadira menutup map itu dengan cepat, seolah kertas tua itu bisa menggigit jarinya. "Kita tidak bisa bicara soal ini di sini. Tunggu sampai ibu pergi ke pasar."
"Dia sudah berangkat," kata Arga.
"Aku dengar dia bicara di telepon tadi malam. Dia pergi ke notaris, katanya ada masalah dengan sertifikat tanah."
Nadira menatap map usang di pangkuannya. Hatinya berdegup kencang, tapi ia berusaha
tetap tenang di depan Arga.
"Simpan ini lagi. Jangan biarkan ibu melihatnya."
"Terlalu berisiko," tolak Arga.
"Kalau dia kembali dan mencarinya, dia akan tahu kita sudah mengotak-atik barangnya."
"Dia tidak akan tahu kalau kita sudah membukanya. Tapi kita harus tahu apa yang
sebenarnya terjadi."
Nadira turun dari ranjang, menyembunyikan map itu di balik bantal.
"Hari ini, kita akan pergi ke notaris itu."
Cahaya redup dari lampu gantung kristal di ruang kerja itu nyaris tak menyentuh
sudut-sudut gelap ruangan. Namun, sorotan kuning redup itu cukup untuk menerangi meja kayu jati solid yang penuh sesak dengan tumpukan kertas tua.
Debu berterbangan tipis setiap kali nadira mengibas-ngibaskan tangannya, membawa bau apek kertas basah dan aroma parfum vanili yang masih tersisa di kursi empuk ini.
Dia duduk mematung, jemarinya mengusap permukaan dokumen berharga itu dengan
sangat hati-hati.
Setiap helai kertas bukan sekadar sampah hukum, melainkan bom waktu yang siap meledak. Dokumen-dokumen ini menyimpan rahasia kelam yang bisa menghancurkan reputasi keluarga bangsawan sekaligus membuka gerbang bagi Nadira untuk mengklaim warisan senilai dua ratus triliun rupiah.
Napasnya tertahan di tenggorokan saat fokusnya terpaku pada satu baris kalimat tertentu. Tinta hitam yang memudar di sudut kanan bawah halaman itu menunjukkan sebuah nama yang tidak pernah disebut dalam perjanjian keluarga resmi.
Nama itu tersembunyi di balik cap basah yang hampir tak terbaca, seolah sengaja disembunyikan oleh seseorang yang sangat berkuasa di masa lalu.
"Kenapa baru sekarang aku menemukannya?" bisiknya pelan, suaranya serak karena
terlalu lama menahan napas.
Jantungnya berdegup kencang, menuntut keberanian luar biasa untuk mengungkap kebenaran yang selama ini terkunci rapat oleh waktu dan kebohongan. Jika dia salah melangkah, nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya.
Tiba-tiba, suara denting pelan dari arah jam dinding membuatnya terlonjak kaget.
Kertas-kertas itu berserakan di lantai, dan Nadira buru-buru merapikannya kembali dengan tangan gemetar.
Dia menatap ke arah pintu kayu jati yang tertutup rapat, mendengarkan
suara langkah kaki pelan di koridor luar yang mulai terdengar mendekat.
Rasa takut mulai merayap di sekujur tubuhnya, namun matanya tetap tidak berkedip menatap nama di balik tinta hitam itu.
Ini adalah bukti nyata bahwa dia tidak sendirian dalam pertarungan memperebutkan harta warisan ini. Ada pengkhianat di antara mereka, dan dokumen ini adalah satu-satunya peluru yang dia miliki untuk melawan saudara tiri yang licik itu.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang tidak karuan. Kebenaran yang terkunci di dalam tumpukan kertas tua ini terlalu berharga untuk dibiarkan membusuk di ruang kerja yang pengap.
Nadira harus memutuskan, apakah dia akan
membakar bukti ini demi kedamaian semu, atau menggunakannya untuk menghancurkan musuhnya?