NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Sejuta

"Naik. Sekarang."

Seraphina tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di bawah kanopi restoran, ponsel masih di tangan, sementara hujan sisa malam menetes dari ujung atap. Di belakangnya, lift bisa terbuka kapan saja. Kevin bisa turun dengan wajah terluka yang berubah menjadi amarah. Hendrawan bisa menyuruh sopir datang dan memaksanya kembali ke meja makan.

Di depannya, Reynard menunggu di dalam mobil dengan mata dingin.

"Aku tidak suka diperintah," ucap Seraphina.

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Malam ini aku tidak sedang meminta hal yang kusuka."

Kaca mobil masih terbuka. Udara dingin dari dalam kabin bercampur bau kulit mahal dan cologne Reynard. Seraphina menatap wajahnya, mencari kepanikan, cemburu murahan, atau rasa ingin menang yang biasa dimiliki laki-laki ketika merasa harus menyelamatkan perempuan.

Tidak ada.

Yang ada hanya kemarahan yang ditahan rapi.

"Kevin akan turun," kata Reynard. "Kalau kau ingin menghadapi dia lagi malam ini, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi kalau kau naik, aku akan membawamu pergi sebelum dia punya kesempatan menyentuh bayanganmu sekalipun."

Kalimat itu membuat sesuatu di dada Seraphina mengendur.

Ia membuka pintu mobil.

Begitu ia duduk, kaca naik dan dunia luar tertutup. Rolls-Royce melaju pelan meninggalkan restoran. Dari kaca spion, Seraphina sempat melihat sosok Kevin muncul di bawah kanopi, terlalu terlambat beberapa detik. Wajahnya gelap ketika mobil hitam itu menjauh.

Reynard tidak menoleh. "Dia mengatakan apa?"

"Banyak hal bodoh."

"Yang paling bodoh."

Seraphina menyandarkan kepala sebentar ke jok. "Dia bilang perempuan cerdas lebih seru dijinakkan."

Suhu di mobil seperti turun.

Sopir di depan menatap lurus, tidak berani bernapas terlalu keras.

Reynard akhirnya menoleh kepada Seraphina. "Dia menyentuhmu?"

"Tidak."

"Mencondongkan badan terlalu dekat?"

"Rey."

Nama itu keluar begitu saja. Mereka sama-sama diam setelahnya.

Seraphina baru sadar ia tidak lagi memanggilnya Tuan Muda Hartono.

Reynard menatapnya beberapa detik, lalu suaranya sedikit lebih rendah. "Aku butuh tahu batas mana yang sudah dia langgar."

"Semua batas kesopanan. Belum batas hukum."

"Sayang sekali."

"Apa?"

"Batas hukum lebih mudah dihancurkan."

Seraphina menoleh cepat. Reynard tampak serius. Terlalu serius. Anehnya, bukan takut yang ia rasakan, melainkan hangat yang berbahaya, seolah ada seseorang yang akhirnya marah untuknya tanpa meminta ia menjelaskan mengapa ia pantas dibela.

"Kau mau membawaku ke mana?" tanyanya.

"Rumah."

"Apartemenku bukan ke arah sini."

"Aku tahu."

"Reynard."

"Kau belum makan dengan benar. Di restoran tadi kau hanya menyentuh sup."

Seraphina terdiam. Lagi-lagi, ia memperhatikan hal kecil yang orang lain lewati.

Mobil memasuki kawasan Teluk Mutiara hampir empat puluh menit kemudian. Jalanan lebih sepi, pepohonan rapi, lampu taman rendah, dan pos keamanan berlapis. Di ujung jalan privat, sebuah vila modern tiga lantai berdiri di atas lahan luas. Dinding batu gelap, kaca tinggi, garis arsitektur tegas. Tidak ada kemewahan yang berteriak, tetapi setiap detailnya mengatakan bahwa rumah itu tidak perlu membuktikan apa pun.

Begitu mobil berhenti, pintu utama terbuka dari dalam.

Sebelum Seraphina sempat bertanya, sesuatu yang besar melesat keluar.

Seekor anjing sebesar serigala berlari menuruni tangga.

Seraphina otomatis mundur setengah langkah. Bulu abu-abu keperakan, tubuh tinggi, mata tajam, rahang kuat. Kalau hewan itu berdiri diam di tengah hutan, siapa pun akan percaya ia benar-benar serigala.

"Sejuta," suara Reynard terdengar memperingatkan.

Anjing itu berhenti tepat di depan Seraphina.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ekornya bergerak.

Sangat cepat.

Seraphina berkedip. "Dia... menggoyangkan ekor?"

Sejuta menundukkan kepala, mengendus ujung sepatu Seraphina, lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai teras dan berguling, memperlihatkan perutnya.

Reynard diam.

Seraphina menatap anjing besar yang kini berbaring manja di depannya. "Apa dia rusak?"

Sopir yang berdiri di dekat mobil hampir tersedak menahan tawa.

Reynard menatap Sejuta dengan wajah yang sulit dibaca. "Dia tidak pernah seperti ini pada orang asing."

"Mungkin dia punya selera lebih baik daripada beberapa manusia."

Sejuta mengeluarkan suara pelan, seperti setuju.

Seraphina perlahan berjongkok. "Boleh?"

"Kalau dia sudah menunjukkan perut, itu berarti dia yang meminta."

Seraphina menyentuh bulu Sejuta. Hangat, tebal, dan lebih lembut daripada yang terlihat. Anjing itu langsung memejamkan mata, kakinya menendang kecil karena senang.

Untuk pertama kalinya sejak makan malam Wijaya, Seraphina tertawa.

Reynard menatapnya.

Tawa itu pendek, tidak bebas sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat matanya berubah. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya berdiri di sana, membiarkan Sejuta mencuri perhatian perempuan yang baru saja ia bawa pulang.

Di dalam, rumah Reynard terasa hidup dengan cara yang tidak diduga. Ruang tamunya luas, tetapi tidak dingin. Ada rak buku tinggi, lukisan abstrak, aroma kayu hangat, dan selimut abu-abu yang terlipat rapi di sofa. Sejuta mengikuti Seraphina seperti pengawal yang sudah memutuskan majikan baru.

"Duduk," kata Reynard.

"Aku bukan Sejuta."

"Aku bicara pada kalian berdua."

Sejuta langsung duduk.

Seraphina menatap anjing itu. "Pengkhianat."

Reynard berbalik ke dapur terbuka. "Kau alergi sesuatu?"

"Tidak."

"Pedas?"

"Sedang."

"Mie atau nasi?"

Seraphina bersandar di meja dapur, memperhatikan Reynard membuka kulkas. "Kau benar-benar akan memasak?"

"Aku bilang kau belum makan."

"Orang sekaya kamu biasanya punya chef."

"Aku punya. Tapi malam ini aku yang memasak."

Ia menggulung lengan kemeja, mencuci tangan, lalu mulai mengiris bawang putih dan jahe. Gerakannya tidak seperti orang yang hanya belajar demi gaya. Ia tahu letak semua pisau, tahu panas kompor, tahu kapan memasukkan minyak wijen, kapan menurunkan api.

Aroma bakmi sapi perlahan memenuhi dapur.

Seraphina melihat punggungnya, bahu lebar di bawah kemeja putih, tangan yang beberapa hari lalu meninggalkan kunci di bantalnya, sekarang memotong daun bawang dengan tenang.

"Kenapa?" tanya Reynard tanpa menoleh.

"Aku hanya sedang menyesuaikan citra Tuan Muda Hartono dengan laki-laki yang membuat bakmi."

"Hasilnya?"

"Belum kuputuskan."

"Kalau begitu makan dulu."

Sepuluh menit kemudian, semangkuk bakmi sapi panas diletakkan di depan Seraphina. Kuahnya bening dengan aroma kaldu yang dalam, potongan sapi empuk, sayur hijau, dan taburan bawang goreng. Di sampingnya ada teh oolong hangat.

Sejuta berbaring di dekat kaki Seraphina, dagu menempel di lantai, mata mengawasi mangkuk seperti sedang ikut menilai.

Seraphina mencicipi satu suap.

Ia tidak ingin memuji terlalu cepat.

Sayangnya, rasanya enak.

Reynard duduk di seberangnya. "Jangan terlihat begitu tersinggung."

"Aku tidak tersinggung."

"Kau marah karena aku bisa memasak."

"Aku marah karena kau bisa memasak dengan baik."

Reynard akhirnya tersenyum tipis.

Mereka makan dalam hening yang anehnya tidak canggung. Di luar, sisa hujan menetes dari daun. Di dalam, Sejuta mendesah puas di bawah meja, seolah malam ini semua masalah bisa diselesaikan dengan bakmi dan perut yang dielus.

Seraphina menaruh sumpit setelah setengah mangkuk habis. "Kau selalu memperhatikan orang seperti ini?"

"Tidak."

"Lalu kenapa aku?"

Reynard mengangkat mata.

Wajahnya kembali tenang. Suaranya datar, tetapi kata-katanya jatuh satu per satu seperti ia sudah menyimpannya terlalu lama.

"Empat tahun lalu, kau memakai gaun biru muda. Rambutmu tergerai. Kau berdiri di teras sendirian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!