NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

James Harrington

Sebastian berjalan cepat menyusuri koridor rumah besar keluarga Harrington.

Para pelayan dan pengawal yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala.

"Tuan Muda."

"Tuan Muda."

Sebastian hanya mengangguk singkat, pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu orang yaitu Papa nya

Tak lama kemudian ia sampai di depan sebuah kamar besar di lantai dua.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Begitu masuk, Sebastian langsung melihat sosok pria tua yang duduk di kursi roda di dekat jendela.

Rambut James Harrington sudah memutih dan wajahnya tampak lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu namun sorot matanya masih tajam.

Sebastian langsung menghampiri.

"Papa."

James perlahan menoleh wajahnya langsung berubah bahagia.

"Anakku Sebastian. Akhirnya kamu datang juga."

Sebastian berlutut di depan kursi roda ayahnya.

"Papa baik-baik saja?"

James tersenyum tipis namun senyum itu tidak bisa menyembunyikan kondisinya yang semakin lemah.

"Kondisi Papa semakin menurun, Nak." Ucapnya

Sebastian langsung diam.

James melanjutkan.

"Sudah saatnya kamu meneruskan semua ini."

"Tapi Pah..."

Sebastian belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

James langsung mengangkat tangan.

"Tidak ada tapi-tapian."

Suasana kamar langsung hening.

James menatap anak tunggalnya dengan serius.

"Mulai hari ini Papa akan mengumumkan bahwa kamu yang akan menggantikan Papa memimpin Crown Empire Group."

Sebastian menghela napas panjang, ia sudah tahu pembicaraan ini pasti akan datang namun ia tidak menyangka secepat ini.

"Papa... Saya belum siap." Tolak Sebastian

James tersenyum kecil.

"Dulu waktu Papa seusiamu Papa juga merasa belum siap."

"Tapi keadaan tidak pernah menunggu." Lanjut James

Sebastian terdiam.

James melanjutkan.

"Selama bertahun-tahun Papa memberi kebebasan untukmu, kamu ingin hidup sederhana, Papa biarkan."

"Kamu ingin menjauh dari perusahaan Papa juga biarkan tapi sekarang..." ucapannya tertahan

Lalu James menarik napas panjang.

"Papa sudah tidak punya banyak waktu."

Kalimat itu membuat Sebastian menundukkan kepala dan ia merasa tidak sanggup membantah.

James menepuk pelan bahu putranya.

"Ayo, kita berangkat ke perusahaan."

"Tunggu, Pa," ucap Sebastian menghentikan langkah ayahnya.

James menoleh.

"Ada apa lagi, Nak?"

Sebastian menghela napas panjang sebelum berkata dengan tenang,

"Tian bersedia menggantikan Papa memimpin perusahaan tapi Tian punya satu syarat."

"Syarat?" James mengernyit.

"Apa maksudmu?" Tanya James

"Untuk sementara, Tian tidak ingin ada siapa pun yang mengetahui bahwa Tian adalah pewaris yang akan menggantikan Papa biarkan Tian bekerja dari balik layar, semua keputusan tetap akan Tian ambil"

James terdiam beberapa saat, ia menatap wajah putranya lekat-lekat, berusaha memahami alasan di balik permintaan itu.

"Lalu siapa yang akan mengurus perusahaan kalau kamu bersembunyi dari publik seperti itu?" Tanya James lagi

Sebastian tersenyum tipis.

"Arman Castello"

James mengangguk perlahan karena Arman adalah orang kepercayaan Sebastian dan ia juga sudah lama mengabdi di perusahaannya

"Baik, papa setuju" ucap James

"Ternyata kamu sudah memikirkan semuanya dengan matang, ya?" Lanjut James

Sebastian mengangguk mantap dan wajah Sebastian akhirnya sedikit lega.

"Terima kasih, Pa. Saat waktunya tiba, Tian akan muncul sendiri di hadapan semua orang tapi untuk sekarang Tian akan bekerja dibelakang layar saja" ucap Sebastian

James tersenyum bangga lalu menepuk bahu putranya sekali lagi.

"Papa percaya padamu, lambat laun dunia akan mengenal siapa penerus James Harrington yang sebenarnya."

Sebastian mengangguk mantap.

"Baik, Pa."

"Ayo kamu ikut Papa ke perusahaan kita" ucap James mantap

"Tunggu Pah, Tian bersiap dulu" ucap Sebastian

Sebastian pergi ke kamarnya mengambil jaket dan kacamata hitam

James yang melihat pakaian yang di kenakan Sebastian hanya gelengkan kepala

"Kamu sudah siap untuk berangkat?" Tanya James

"Ya pah" jawab Sebastian

Keduanya pun melangkah keluar rumah menuju mobil

***

Satu jam kemudian...

Beberapa mobil mewah memasuki halaman kantor pusat Crown Empire Group.

Gedung pencakar langit itu menjulang megah di pusat kota, menjadi simbol kekuatan salah satu perusahaan terbesar di negara itu.

Saat mobil milik James Harrington berhenti, seluruh jajaran direksi dan para petinggi perusahaan yang telah menunggu di depan langsung mengalihkan pandangan mereka.

Pintu mobil terbuka.

James Harrington turun lebih dulu dengan bantuan tongkatnya.

Wajahnya masih memancarkan wibawa yang membuat semua orang spontan menundukkan kepala.

"Selamat pagi, Tuan James."

"Selamat pagi, Pak."

Sapaan hormat terdengar bersahutan namun, perhatian mereka segera beralih kepada sosok lain yang turun dari mobil yang sama.

Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan hoodie hitam, masker, dan kacamata hitam. Seluruh wajahnya tertutup rapat sehingga tidak seorang pun dapat mengenalinya.

Bisik-bisik pun mulai terdengar.

"Siapa pria itu?"

"Apakah dia anak Pak James?"

"Aku dengar Pak James akan segera pensiun."

"Iya... katanya perusahaan akan dipimpin Tuan Muda Harrington."

"Tapi bukankah belum pernah ada yang melihat wajahnya?"

Semakin banyak orang saling berbisik penuh rasa penasaran.

Namun semua suara itu langsung menghilang ketika James mulai melangkah memasuki gedung.

Sebastian berjalan beberapa langkah di belakang ayahnya, tetap diam tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi.

Tak lama kemudian...

Seluruh jajaran direksi dan pimpinan divisi dikumpulkan dalam rapat mendadak.

Ruang utama yang biasanya dipenuhi suasana formal kini terasa jauh lebih tegang

Tak seorang pun berani berbicaranJames duduk di kursi utama.

Sementara Sebastian tetap berdiri di sampingnya dengan kedua tangan di dalam saku hoodie.

Tatapan para direksi berkali-kali mengarah kepadanya.

Mereka ingin mengetahui siapa sebenarnya pria misterius itu.

James kemudian berdiri perlahan.

Seketika seluruh ruangan menjadi sunyi.

"Hari ini saya mengumpulkan kalian karena ada pengumuman yang sangat penting." Ucap James

Suara James terdengar tegas meski usianya tak lagi muda.

Semua orang memasang wajah serius.

James menarik napas sebelum kembali berbicara.

"Kesehatan saya sudah tidak sebaik dulu."

Kalimat sederhana itu membuat beberapa direksi saling berpandangan.

Mereka memang telah mendengar kabar mengenai kondisi kesehatan James.

Namun mendengarnya langsung dari sang pendiri perusahaan tetap membuat hati mereka bergetar.

Selama puluhan tahun, James Harrington dikenal sebagai sosok yang tak tergantikan.

Ia kembali melanjutkan.

"Karena itu... saya memutuskan mulai hari ini putra saya yang akan menjadi penerus Crown Empire Group."

Ruangan langsung dipenuhi ekspresi terkejut.

"Sebastian Harrington akan menjadi pemimpin baru Crown Empire Group."

James berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Akan tetapi, putra saya tidak bisa hadir pada hari ini."

Ucapan itu membuat seluruh direksi saling memandang dengan bingung.

Padahal sejak tadi ada seorang pria misterius berdiri di samping James.

Salah satu direktur akhirnya mengangkat tangan.

"Maaf, Pak James. Kalau boleh bertanya... mengapa Pak Sebastian tidak bisa hadir?"

James tersenyum tipis.

"Untuk sementara putra saya masih berada di luar negeri dan sedang menyelesaikan beberapa urusan penting."

"Selama beliau belum kembali, seluruh operasional perusahaan akan ditangani oleh Arman, orang kepercayaan saya sekaligus orang kepercayaan putra saya." Lanjut James

"Namun saya tegaskan... Semua keputusan strategis perusahaan tetap harus mendapat persetujuan langsung dari putra saya Sebastian Harrington."

Mendengar namanya disebut, Arman tampak terkejut.

Ia tanpa sadar melirik ke arah Sebastian yang berdiri di samping James.

Sebastian hanya membalas dengan anggukan kecil, seolah mengatakan agar Arman mengikuti rencana yang telah mereka sepakati dan Arman langsung memahami maksud itu.

James kembali berbicara.

"Mulai hari ini seluruh Crown Empire Group berada di bawah kepemimpinan putra saya."

"Saya berharap kalian semua dapat menghormati keputusan ini." Lanjutnya

Setelah selesai berbicara, James kembali duduk dan suasana menjadi hening selama beberapa detik.

Tak lama kemudian Arman berdiri dari kursinya.

"Saya ingin mengatakan sesuatu."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Saya percaya sepenuhnya kepada kemampuan Pak Sebastian dan saya sudah mengenal beliau sejak lama."

"Bahkan kami memiliki hubungan kerja yang sangat dekat." Ucap Arman

Arman berbicara dengan penuh keyakinan.

"Karena itu saya berharap kita semua bisa mendukung kepemimpinan beliau."

"Kerja sama yang telah kita bangun selama ini harus tetap berjalan dengan baik."

Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum tipis.

"Dan satu hal lagi... Pak Sebastian tidak seperti rumor yang selama ini beredar, beliau jauh lebih luar biasa daripada yang kalian bayangkan."

Ucapan Arman membuat seluruh ruangan kembali hening.

Beberapa detik kemudian...

Tepuk tangan mulai terdengar, satu per satu para direksi ikut berdiri.

"Kami mendukung keputusan Tuan James."

"Kami siap bekerja di bawah kepemimpinan Tuan Muda Harrington."

"Kami akan memberikan dukungan penuh."

Sebastian tetap berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di balik masker dan kacamata hitamnya, matanya menyapu seluruh ruangan, mengamati setiap wajah yang hadir.

Dalam hati ia mengingat satu per satu nama mereka.

Karena mulai hari ini....

Dia lah yang akan melanjutkan kepemimpinan papanya di Crown Empire Group

Dan tidak seorang pun menyadari bahwa calon pemimpin yang mereka bicarakan sejak tadi sebenarnya telah berdiri tepat di hadapan mereka.

***

Setelah rapat selesai.

James dan Sebastian masuk keruang presiden direktur.

Ruangan terbesar di gedung itu.

Begitu masuk, James langsung duduk di kursi kerjanya.

Sedangkan Sebastian berdiri di dekat jendela.

"Kamu marah sama Papa?" tanya James tiba-tiba.

Sebastian menggeleng.

"Tidak."

"Kalau tidak marah kenapa dari tadi hanya diam saja?" Tanya James

Sebastian tersenyum tipis.

"Saya tidak mau ada yang curiga saja"

James tertawa kecil.

"Kamu ini dari dulu tidak pernah berubah"

Suasana kembali hening.

Lalu James menatap putranya dengan serius.

"Sebastian."

"Iya Pah." Jawab Sebastian

"Ada satu hal lagi." Ucap James

Sebastian langsung merasa firasat buruk dan benar saja.

James berkata tegas.

"Kamu harus menikah."

Sebastian langsung menghela napas.

"Papa"

"Tidak ada bantahan." Bentak sang papa

James memotong.

"Kamu sudah cukup umur, kamu juga pewaris perusahaan dan kamu harus segera menikah."

Sebastian berjalan mendekat.

"Papa tahu saya tidak suka dijodohkan."

James mengangguk.

"Papa tahu, makanya Papa tidak menjodohkanmu."

Sebastian mengernyit.

"Lalu?"

"Kamu harus cari sendiri calon istri"

Sebastian terdiam.

James melanjutkan.

"Papa tidak peduli siapa wanita itu asalkan dia wanita baik."

Sebastian duduk di kursi depan meja ayahnya.

"Baik, saya akan mencarinya sendiri."

James tersenyum.

"Itu yang ingin Papa dengar."

Lalu tiba-tiba wajah James berubah penasaran.

"Kamu sudah menemukan wanita yang selama ini kamu cari?"

Pertanyaan itu membuat Sebastian diam dan merasa sedih

James masih ingat.

Bertahun-tahun lalu.

Ada sebuah insiden yang membuat Sebastian terjebak semalaman dengan seorang wanita asing di kamar hotel.

Sejak saat itu Sebastian diam-diam berusaha mencari wanita tersebut namun tidak pernah berhasil.

James tahu hal itu karena pengakuan Sebastian sendiri

"Papa dengar dari Anton, kamu sedang dekat dengan seorang wanita? Apakah wanita itu wanita yang sama?" tanya James lagi.

Sebastian perlahan menggeleng.

"Bukan."

James terlihat terkejut.

"Bukan?"

Sebastian mengangguk.

"Sudah lama saya berhenti mencarinya."

James tersenyum kecil.

"Bagus. Lalu?"

Sebastian menatap keluar jendela.

"Ada wanita lain."

James langsung tertarik.

"Siapa?"

Sebastian diam beberapa detik dan bayangan Fisya muncul di pikirannya, wanita yang kuat, cerdas dan tetap berdiri meski sedang dikhianati.

Tanpa sadar sudut bibir Sebastian sedikit terangkat.

"Seseorang."

James langsung tertawa.

"Papa belum pernah lihat wajahmu seperti itu."

Sebastian tidak menjawab.

James semakin penasaran.

"Kamu mencintainya?"

Kali ini Sebastian tidak langsung menjawab namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

James tersenyum lebar.

"Jadi benar."

Sebastian akhirnya berkata pelan.

"Saya menyukainya."

James terlihat sangat bahagia.

"Siapa dia?"

Sebastian menggeleng.

"Belum saatnya."

"Kenalkan dia pada Papa secepatnya" ucap James sangat berantusias

Sebastian terdiam.

James kembali berbicara.

"Sebelum Papa tiada."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Sebastian menatap ayahnya lama untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan di mata pria yang selama ini dianggap tidak pernah takut apa pun.

James hanya ingin melihat putranya bahagia.

Hanya itu.

Akhirnya Sebastian mengangguk pelan.

"Saya akan berusaha secepatnya membawanya untuk bertemu papa"

James tersenyum puas.

Namun Sebastian tahu, permintaan itu hampir mustahil untuk diwujudkan dalam waktu dekat karena wanita yang ada di hatinya sekarang adalah Fisya.

Seorang wanita yang masih berstatus istri orang lain dan Sebastian hanya bisa menarik napas panjang

"Tian akan berusaha mewujudkan keinginan papa nanti" batin Sebastian

__Bersambung__

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!