BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Musuhan
Suara bel tanda istirahat pertama berdentang nyaring ke seluruh penjuru SMA Mahardika High School, memicu helaan napas lega dari ratusan siswa yang sejak pagi tadi harus menahan kantuk di dalam kelas. Dalam sekejap, koridor sekolah kembali dipenuhi oleh hiruk-pikuk langkah kaki yang bergegas menuju satu area yang sama: kantin utama.
Namun, meski kantin pagi itu sangat ramai, ada satu area yang seolah memiliki zona pembatas tak kasat mata. Ke mana pun Rayyan melangkah, para siswa secara refleks akan bergeser beberapa senti, memberikan ruang yang lebih dari cukup seolah-olah takut menyenggol sosok yang baru kembali itu.
Rayyan sendiri mencoba mengabaikan tatapan-tatapan canggung tersebut. Ia melangkah mendekati lemari pendingin besar di sudut kantin, berniat membeli sebotol minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering setelah dua jam pelajaran matematika yang melelahkan. Ia membuka pintu kaca lemari es, mengambil sebotol teh melati dingin, dan menutupnya kembali dengan bunyi berdebum pelan.
Saat ia berbalik untuk berjalan menuju kasir, langkah kakinya mendadak terkunci.
Sesosok tubuh jangkung tegap kini telah berdiri kokoh tepat di depannya, menghalangi jalan keluar dari sudut sempit di antara lemari pendingin dan pilar beton kantin.
Itu Revan.
Berbeda dengan penampilannya yang hancur, berantakan, dan telanjang kaki di ruang tamu rumah Mahendra tiga hari lalu, kini Revan telah kembali ke wujud aslinya. Seragam sekolahnya terpasang rapi meski kancing paling atas sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan aura pemberontak yang biasa ia miliki. Rambut hitamnya sudah tertata rapi, dan wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi. Namun, jika ada satu hal yang berbeda, itu adalah sepasang matanya. Mata gelap itu tidak lagi memancarkan kebencian murni yang biasa Rayyan lihat setiap kali mereka berpapasan. Ada kilatan emosi yang jauh lebih rumit di dalam sana.
"Ngobrol," ucap Revan. Suaranya terdengar sangat rendah, hampir tenggelam di antara bisingnya suara mangkuk bakso dan obrolan siswa lain di kantin.
Rayyan menatap musuh bebuyutannya itu dengan dahi yang berkerut dalam. Ia langsung mendengus kasar, memutar bola matanya dengan ekspresi malas yang tidak ditutup-tutupi.
"Ogah," sahut Rayyan ketus. Ia mencoba menggeser tubuhnya ke arah kanan untuk melewati Revan, namun cowok jangkung itu dengan cepat menggeser kakinya, kembali menutup celah jalan Rayyan.
"Lima menit doang," tekan Revan, suaranya naik satu oktav, menuntut kepatuhan yang biasanya selalu ia dapatkan dari siapa pun di sekolah ini.
"Males," balas Rayyan, tidak kalah tajam. "Gue mau minum, gue mau balik ke kelas. Minggir lu."
Rayyan berusaha keras untuk pergi, mendorong bahu kiri Revan dengan lengannya agar bisa meloloskan diri. Namun, melihat Rayyan yang kembali bersikap keras kepala dan menolak untuk mendengarkannya, sebuah refleks yang lahir dari kebiasaan lama mendadak mengambil alih tubuh Revan.
Tangan kanan Revan bergerak cepat ke depan.
Sret!
Ia menarik tali tas ransel abu-abu yang tersampir di bahu kanan Rayyan dengan tarikan yang cukup kuat, memaksa langkah kaki Rayyan terhenti di tempat dan tubuhnya sedikit tertarik ke belakang.
Sentakan kasar itu seketika memicu kemarahan yang sejak pagi tadi coba ditekan oleh Rayyan. Tubuh Rayyan langsung berbalik dengan cepat, mengibaskan bahunya untuk melepaskan cengkeraman tersebut. Matanya menyalang tajam, menatap lurus ke dalam manik mata Revan dengan kobaran emosi yang menyala-nyala.
"Lepas!" bentak Rayyan, suaranya yang cukup keras membuat beberapa siswa yang sedang mengantre siomay di dekat mereka langsung menoleh dengan wajah tegang.
Revan tidak melepaskan genggamannya begitu saja. Ia menatap tangan Rayyan yang kini mencengkeram pergelangan tangannya sendiri untuk memaksa pelepasan. "Dulu," ujar Revan pendek, menuntut Rayyan untuk berjanji tidak akan kabur sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"Lu tuh kenapa sih?!" tanya Rayyan dengan nada frustrasi yang luar biasa. Ia mengabaikan tuntutan Revan dan memilih untuk menatap cowok di depannya dengan pandangan tidak mengerti. "Gue tanya sama lu, Revan Sanjaya. Lu tuh maunya apa dari gue?!"
Revan melepas genggamannya dari tali tas Rayyan perlahan, namun ia tetap berdiri kokoh menghalangi jalan. "Gue cuma mau ngomong."
Rayyan tertawa sinis, sebuah tawa pahit yang terdengar sangat tidak bersahabat. "Mau ngomong? Lu sadar gak sih sama apa yang lu omongin?"
Rayyan maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter.
"Dari dulu tiap ketemu gue, isi kepala lu tuh cuma ngajak ribut. Lu rundung gue di koridor, lu cari perkara sama gue di lapangan basket, lu tantang gue berantem di gang belakang sekolah sampai kita berdua babak belur. Dan sekarang... setelah semua hal gila yang terjadi seminggu ini..." Rayyan menjeda kalimatnya, napasnya memburu cepat karena emosi. "Sekarang lu tiba-tiba datang ke depan muka gue dengan tampang sok serius, terus nyuruh gue ngobrol? Lucu banget lu."
Sentakan emosi dari Rayyan membuat Revan tertegun sejenak. Kata-kata itu menghantam dadanya dengan telak, mengingatkannya pada semua perlakuan buruk yang telah ia lakukan pada Rayyan sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Rasa bersalah yang sempat mereda saat melihat Rayyan bernapas kembali, kini mendadak mencuat lagi, terasa begitu perih dan menyesakkan di dalam dadanya.
Sementara itu, atmosfer di dalam kantin utama SMA Mahardika mendadak berubah drastis.
Ratusan siswa yang tadinya sibuk menyantap makanan mereka kini menghentikan aktivitasnya. Beberapa siswa yang sedang memegang garpu dan sendok mematung di udara, mata mereka melekat erat pada perseteruan dua musuh bebuyutan yang kini kembali berhadapan di sudut kantin.
"Eh, liat deh... itu Revan sama Rayyan."
"Mereka mau berantem lagi?"
"Gila, Rayyan baru masuk hari pertama udah mau dihajar lagi sama Revan?"
"Tapi mukanya Revan kok aneh banget ya? Gak kayak biasanya yang keliatan emosi pengen mukul."
Bisik-bisik dari para siswa mulai merayap di sela-sela meja kantin. Kelvin dan Naomi yang baru saja masuk ke kantin segera mempercepat langkah mereka saat melihat situasi tegang tersebut. Di sudut lain, Dion yang sedang duduk santai sambil memegang segelas jus jeruk menatap kejadian itu dengan mata yang menyipit tajam, menganalisis setiap detail interaksi di antara kedua cowok itu dengan saksama.
Revan bisa merasakan ratusan pasang mata yang kini sedang mengawasi mereka, menanti dengan penuh antisipasi apakah baku hantam yang biasa terjadi di antara mereka akan kembali meledak pagi ini. Biasanya, Revan tidak akan peduli. Ia akan dengan senang hati melayangkan kepalan tangannya kepada siapa saja yang berani menentangnya di depan umum.
Namun, hari ini berbeda. Hari ini, di depan sosok yang seminggu lalu ia tangisi di atas gundukan tanah merah yang basah, Revan tidak merasakan keinginan sedikit pun untuk mengepalkan tangannya.
Ia hanya ingin berbicara. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa keajaiban yang ada di depannya ini nyata, dan bahwa ada sebuah penjelasan yang bisa meredakan badai kebingungan di dalam kepalanya.
Revan menarik napas panjang, lalu menurunkan bahunya yang tegang. Gerakan tubuhnya yang perlahan melunak membuat Rayyan yang sudah bersiap mengambil posisi bertahan menjadi sedikit bingung.
"Gue gak mau ribut, Rayyan," ucap Revan dengan nada suara yang teramat sangat tenang sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di sekolah ini dari mulut seorang Revan Sanjaya. "Gue beneran cuma mau ngobrol. Lima menit. Di taman belakang."
Rayyan menatap Revan dengan pandangan menyelidik. Ia mencari-cari tanda-tanda jebakan atau niat licik di dalam mata gelap cowok di depannya, namun ia tidak menemukan apa pun selain ketulusan yang terasa sangat asing dan canggung.
"Nanti," sahut Rayyan akhirnya, suaranya sedikit melunak meskipun masih terdengar ketus. "Bukan sekarang. Gue mau minum teh gue dulu sebelum bel masuk."
Rayyan kembali menggeser tubuhnya ke arah samping, dan kali ini, Revan tidak lagi menggerakkan kakinya untuk menghalangi. Ia membiarkan Rayyan berjalan melewatinya begitu saja.
Anehnya... hari itu mereka tidak jadi berkelahi.
Bagi seluruh siswa yang menyaksikan kejadian di kantin itu, penolakan Revan untuk memicu keributan fisik adalah sebuah anomali terbesar kedua yang terjadi minggu ini setelah kembalinya Rayyan dari kematian. Sang preman sekolah yang biasanya meledak-ledak seperti bom waktu mendadak berubah menjadi sosok yang penuh kompromi, sementara sang korban yang baru kembali tampak tidak gentar sedikit pun menghadapi ancaman yang biasa membuatnya terpojok.
Di bawah kepungan keheningan kantin yang perlahan-lahan kembali mencair diiringi bisik-bisik baru yang kian liar, Revan hanya bisa berdiri diam menatap punggung Rayyan yang perlahan berjalan menuju kasir. Pertemuan pertama mereka di sekolah setelah kepulangan ganjil itu memang masih menyisakan dinding permusuhan yang tebal, namun di balik dinding yang kokoh itu, sebuah retakan kecil yang tidak kasat mata kini telah mulai terbentuk retakan yang perlahan-lahan akan mengubah alur hubungan mereka berdua untuk selamanya.