NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Tristan perlahan melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Ananda agar menghadap penuh ke arahnya. Ia mencengkeram kedua bahu wanita itu dengan lembut, menatap lekat-lekat bola mata Ananda yang mulai berkaca-kaca.

"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku, Itik?" tanya Tristan dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi.

Ananda membuang muka, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Tristan. "Saya bukan si itik yang Anda maksud, Tuan Tristan! Anda salah orang!"

Bukannya menjauh, Tristan justru menarik tubuh Ananda kembali ke dalam dekapan hangatnya. Kali ini, ia mendekap tubuh wanita itu dengan teramat erat, seolah menyalurkan seluruh rasa bersalah dan rindu yang membuncah selama enam tahun ini.

"Terus saja kau sangkal, Nanda... Silakan kau berbohong sesukamu. Tapi aku sudah tahu semuanya," bisik Tristan tepat di sekat telinga Ananda. "Dan Elvano... dia adalah putra kandungku, kan?"

Deg!

Ananda seketika bungkam, tubuhnya mendadak kaku dengan detak jantung yang bergemuruh hebat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, merasa dinding pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap.

Melihat pemandangan di depannya, Elvano melangkah mendekat dengan wajah polosnya yang kebingungan. Bocah kecil itu mengulurkan tangan, menarik-narik ujung jas mahal yang dikenakan oleh Tristan.

"Om Tampan, kenapa peluk Mamah terus? Kata Mamah, Ayah El sudah meninggal," ucap Elvano dengan suaranya yang cempreng khas anak-anak.

Mendengar ucapan polos sang anak, dada Tristan seketika mencelos bagai dihantam palu godam besar. Ia melepaskan pelukannya pada Ananda, lalu berlutut di hadapan Elvano agar tinggi mereka sejajar. Air mata Tristan kembali menggenang di sudut matanya.

"Tidak, El... Ayahmu belum meninggal. Aku... aku adalah Papah kandungmu, Nak," ucap Tristan dengan suara serak, mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh mungil Elvano.

Namun, belum sempat jemari Tristan menyentuh pakaian Elvano, Ananda dengan gerakan kilat menarik tubuh putranya menjauh. Ia langsung menggendong Elvano ke dalam pelukannya, menyembunyikan kepala bocah itu di ceruk lehernya. Tatapan mata Ananda berubah menjadi tajam dan penuh kewaspadaan, persis seperti seekor induk singa yang melindungi anaknya.

"Saya mohon, jangan pernah kau ganggu kehidupan saya dan juga putra saya lagi, Tuan Tristan!" sentak Ananda dengan napas memburu. "Kau... kau bukanlah ayahnya El! Ayah El adalah Mas Radit, mendiang suami saya!"

Tristan bangkit berdiri, menatap Ananda dengan pandangan terluka. "Nanda, mau sampai kapan kamu terus-menerus berbohong? Mau sampai kapan kau membohongi putra kita sendiri tentang siapa ayah kandungnya?!"

Ananda tidak sudi menjawabnya lagi. Air matanya kini menetes membasahi kedua pipinya. Ia membalikkan badan, berniat melangkah seribu meninggalkan area taman Suropati sambil mendekap erat Elvano di gendongannya.

Tentu saja Tristan tidak tinggal diam begitu saja. Dengan langkah lebar, ia langsung berlari kecil dan menghadang tepat di depan langkah kaki Ananda, membuat wanita itu terpaksa menghentikan langkahnya.

"Itik... maksudku Ananda! Tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu... tentang peristiwa terkutuk enam tahun yang lalu di hotel itu!" seru Tristan memohon.

"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi darimu!" bentak Ananda, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "Kumohon pergi dari kehidupanku, Tristan! Aku tidak mau menderita lagi karena mu, dan karena ulah bajingan teman-temanmu yang lainnya!"

Rasa bersalah kembali menusuk relung hati Tristan, namun egonya menolak untuk menyerah kali ini. Ia tetap merentangkan tangannya, kokoh menghalangi jalan Ananda.

"Nanda, aku mohon... beri aku satu kali saja kesempatan untuk menjelaskan semuanya secara jujur. Aku bahkan bisa menghubungi Andre dan juga Indra sekarang untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini di depanmu," ujar Tristan dengan suara yang melembut namun penuh penekanan.

"Malam itu... aku pun adalah korban yang sama sepertimu, Nanda! Aku dijebak oleh mereka!"

Deg!

Ananda seketika terdiam terpaku di tempatnya berdiri. Jeritan Elvano yang mulai bingung tak lagi terdengar di telinganya. Otak Ananda mendadak memproses untaian kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya Tristan.

‘Tristan... juga adalah korban? Korban yang sama seperti diriku malam itu?’ batin Ananda bertanya-tanya, menatap lekat-lekat sepasang mata Tristan yang kini memancarkan kejujuran dan kepedihan yang teramat sangat.

Ananda terdiam di tempatnya berdiri, mencerna setiap kata yang keluar dari bibirnya Tristan. Matanya menatap lekat sepasang bola mata pria di hadapannya, mencari kebohongan di sana. Namun, rasa trauma masa lalu kembali membisikkan keraguan di benaknya.

"Mana bisa aku percaya dengan ucapanmu dan komplotanmu sendiri, Tristan Bratadikara?" tanya Ananda, suaranya bergetar menahan sinisme sekaligus rasa perih yang mendalam.

Tristan memajukan tubuhnya, menatap Ananda dengan sorot mata memohon yang teramat tulus. "Kumohon kali ini saja, percaya padaku, Nanda! Dulu aku akui perilakuku memang begitu buruk dan kasar kepadamu di kampus. Tapi... tapi aku tidak sebrengsek dan sehina itu untuk melakukan hal menjijikkan di luar kendaliku! Aku ingin meluruskan semuanya, Nanda. Malam itu aku juga tidak sadar, dan pelakunya... otak di balik semua ini memang Andre dan juga Indra!"

Ananda kembali terbungkam. Di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mempercayai perkataan itu agar beban dendamnya sedikit berkurang, namun logikanya belum bisa menerima kenyataan pahit yang mendadak terbongkar ini dengan mudah.

Tanpa menunggu jawaban atau penolakan lebih lanjut dari Ananda, Tristan langsung merogoh ponsel di saku jasnya. Dengan cepat, ia menekan nomor Andre. Begitu panggilan tersambung, suara Tristan yang menggelegar tanpa memberi celah bantahan.

"Andre, ajak Indra dan datang ke kafe di dekat Taman Suropati sekarang juga! Kutunggu dalam waktu lima belas menit. Jika kalian tidak datang, aku bersumpah tidak akan membiarkan kalian berdua hidup dengan tenang di kota ini!" ancam Tristan mutlak, lalu langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Di tempat lain, Andre yang saat itu sedang sibuk memeriksa berkas di kantor cabang milik Wilmar World Group di Jakarta langsung menegang. Keringat dingin menetes di pelipisnya mendengar nada suara Tristan yang siap membunuh. Tanpa membuang waktu, Andre bergegas menyambar kunci mobilnya sambil menghubungi Indra via ponsel.

Kebetulan, Indra baru saja selesai menjalankan apel pagi bersama anggota polisi lainnya di markas. Begitu menerima telepon panik dari Andre yang mengabarkan amukan Tristan, Indra langsung meminta izin kepada atasannya dan bergegas memacu motornya menuju lokasi yang sudah ditentukan.

Tristan menoleh ke arah Ananda, tatapannya melembut. "Nanda, ayo kita ke kafe di seberang sana. Kita selesaikan semuanya di dalam agar El tidak kepanasan."

Ananda tidak menjawab, namun langkah kakinya akhirnya bergerak mengikuti Tristan menuju sebuah kafe bernuansa tenang di dekat taman yang saat jam-jam ini masih sangat sepi pengunjung. Selama berjalan dan hingga mereka duduk di salah satu sudut meja bundar, Ananda tetap mendekap erat Elvano di pangkuannya. Ia sama sekali tidak membiarkan putranya itu bergeser mendekat ke arah Tristan.

Merasa suasana di antara orang dewasa di sekitarnya begitu tegang, Elvano mendongak. Dengan suara yang sangat lirih, bocah kecil itu berbisik di telinga ibunya. "Mah... apakah benar Om Tampan itu adalah Papah kandung El?"

Mendengar pertanyaan polos itu, dada Ananda berdenyut nyeri. Ia mengusap punggung putranya dengan lembut seraya berbisik kembali, "Ssssttt... jangan bicara soal itu dulu sekarang ya, Nak. Nanti kalau sudah sampai di rumah, baru Mamah jelasin semuanya ke El."

Elvano mengangguk patuh, lalu menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.

Tak butuh waktu lama bagi Tristan, Ananda, dan El untuk menunggu. Suasana kafe yang hening itu seketika terpecah saat pintu kaca berdentang terbuka. Andre dan Indra melangkah masuk secara bersamaan dengan napas yang agak memburu. Pandangan mereka langsung tersapu ke sudut ruangan.

"Dre, itu Tristan sama si itik... wah, ada Elvano juga!" bisik Indra mendadak gugup setengah mati. Langkah kakinya terasa berat. Ia sangat yakin bahwa setelah ini, Ananda akan mengamuk dan memarahinya habis-habisan karena ia telah melanggar janji dan membeberkan identitas wanita itu sebagai si itik kepada Tristan semalam.

Sementara Andre yang berjalan di sampingnya melirik ke arah Tristan dan Ananda dengan raut wajah yang mendadak mengeras. Di dalam hatinya, sebuah pergolakan besar sedang terjadi.

‘Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menyimpan rahasia besar ini sendirian. Aku harus memberi tahu Tristan yang sebenarnya tentang malam itu. Bukan hanya kami berdua... orang itu juga harus ikut disalahkan atas hancurnya hidup si itik!’ batin Andre bertekad, bersiap membuka seluruh kotak rahasia yang selama enam tahun ini terkunci rapat.

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!