Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pena Takdir
Cahaya fajar merayap malas melalui celah gorden beledu yang telah memudar warnanya dari merah anggur menjadi abu-abu kusam. Sinar itu menyentuh helai-helai rambut Aria, berkilau keemasan, tetapi terasa sangat kontras dengan sudut-sudut kamar yang dingin dan gelap. Di luar sana, ibu kota Kekaisaran Elgarth mungkin tengah berdenyut oleh kemegahan sihir dan derap kereta kuda berlapis emas milik para bangsawan agung. Namun, di dalam kediaman Baron Evander, waktu seolah berhenti berputar. Udara di ruangan ini hanya menyisakan bau apak kertas tua, kayu lapuk yang lembap, dan sisa-sisa kejayaan masa lalu yang perlahan-lahan digerogoti oleh rayap dan utang.
Aria mengangkat tangannya, menatap jemarinya sendiri di bawah temaram cahaya pagi. Tangan ini halus, milik seorang putri bangsawan yang seharusnya dimanjakan, tetapi kini dihiasi memar kebiruan dan kapalan tipis di dekat pangkal ibu jari—bekas dari kerja fisik yang tak semestinya ia sentuh. Di kehidupan sebelumnya, jemari ini terbiasa memegang pisau bedah dingin di bawah lampu operasi yang benderang, steril, dan penuh presisi. Kini, ia harus membiasakan diri dengan rasa dingin yang berbeda: dinginnya kemiskinan yang merayap dari lantai batu tanpa karpet tebal.
Ia mengembuskan napas panjang. Bau kayu cendana yang bercampur debu terhirup dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat berkejaran. Ia tahu betul, jika ia tetap diam mengikuti alur novel yang pernah dibacanya, tubuh ini akan berakhir di tiang gantungan sebagai tumbal politik yang tak berharga.
“Tuan Putri, apakah Anda benar-benar yakin dengan langkah ini? Ini... terlalu berisiko.”
Sebuah bisikan memecah keheningan sunyi kamar itu. Suara itu begitu tipis, mirip kepakan sayap ngengat yang menggesek udara malam. Dari balik bayang-bayang tumpukan buku tua di sudut meja, seberkas pendar keemasan meluncur lambat. Lumi menampakkan diri. Tubuh mungil roh pena itu melayang lembut, memantulkan bayangan samar di dinding kamar yang mengelupas kertas dindingnya. Sepasang matanya yang sewarna batu zamrud menatap Aria dengan kecemasan yang teramat sangat.
Aria tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk kurva tipis yang dingin. Itu adalah senyuman yang biasa ia tunjukkan saat menghadapi pasien darurat dengan peluang hidup tipis—tenang, tajam, dan tanpa keraguan.
“Lumi,” kata Aria, suaranya rendah tetapi mantap. “Di dunia yang kejam ini, kemiskinan adalah vonis mati yang sudah ditandatangani oleh para penguasa bahkan sebelum kita sempat membela diri. Jika kita hanya duduk diam menerima naskah yang mereka tulis, kita akan hancur. Keberanian untuk merombak naskah itu adalah satu-satunya instrumen bedah yang tersisa di tanganku. Aku tidak akan membiarkan nama Evander berakhir di ujung tali gantungan.”
Aria meraih pena bulu tua yang tergeletak di atas meja kayu yang retak. Pena itu adalah peninggalan mendiang kakeknya, salah satu dari sedikit barang berharga yang tidak disita oleh para penagih utang yang beringas. Saat jemarinya menyentuh batang pena, aliran hangat yang asing mendesir melalui pembuluh darahnya. Itu adalah mana kuno, energi magis tersembunyi yang berdenyut selaras dengan detak dadanya.
Dengan gerakan perlahan namun pasti, Aria membuka buku laporan keuangan keluarga yang tebal dan berdebu. Halaman-halaman itu dipenuhi angka-angka merah yang mengerikan, catatan utang yang seolah menjerat leher mereka semakin erat setiap harinya. Ia tidak hanya berniat merapikan angka-angka itu. Melalui kemampuan manipulasi narasi yang dialirkan oleh kekuatan Lumi, ia mulai menuliskan detail baru di sela-sela baris transaksi perdagangan gandum yang akan datang.
Ujung pena bulu itu menggores kertas dengan bunyi gesekan yang ritmis. Setiap huruf yang terbentuk seolah menyedot sedikit demi sedikit tenaganya, membuat peluh dingin mulai terbit di pelipisnya. Namun, Aria tidak berhenti. Ia mengubah klausul pengiriman, menambahkan catatan kaki kecil yang tampak tidak penting tentang perubahan rute pelabuhan akibat cuaca buruk. Tindakan sederhana ini, jika di dunia nyata, hanyalah coretan biasa. Namun di sini, di bawah pengaruh sihir pena takdir, coretan itu adalah perintah mutlak bagi realitas untuk bergeser. Ia sedang menambal lubang keuangan keluarganya dengan benang takdir yang ia renggut dari ketidaktahuan dunia.
Pintu kamar berderit pelan, memotong konsentrasi Aria. Ia segera menutup buku laporan itu dengan cepat dan memberi isyarat agar Lumi bersembunyi di balik lipatan lengan bajunya yang longgar.
Baron Edward Evander melangkah masuk tanpa suara. Bahunya yang dulu tegap kini tampak melengkung, seolah memikul seluruh beban langit yang runtuh. Mantel beludru hijau tua yang dikenakannya sudah kehilangan semua kancing emasnya, digantikan oleh jahitan benang kasar yang dikerjakan terburu-buru. Matanya yang cekung dan lelah menatap Aria dengan campuran kasih sayang dan rasa bersalah yang mendalam.
“Aria, Nak,” panggil sang Baron, suaranya serak bagai gesekan daun kering di musim gugur. “Istirahatlah. Mengapa kamu masih terjaga di depan tumpukan kertas itu? Ayah masih memiliki beberapa keping perak untuk membeli roti dan sup hangat hingga akhir musim dingin ini. Kamu tidak perlu memikirkan urusan orang dewasa.”
Aria bangkit dari kursinya yang reyot. Ia melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu sang ayah yang terasa semakin ringkih dari hari ke hari. Kehangatan tubuh ayahnya terasa begitu nyata, memicu rasa protektif yang membakar dadanya. Di kehidupan lampau, ia adalah seorang anak yatim piatu yang berjuang sendirian di dunia yang dingin tanpa pernah merasakan pelukan hangat orang tua. Kini, ia memiliki seorang ayah yang tulus mencintainya, meskipun dalam keadaan paling terpuruk sekalipun. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pria tua ini menderita.
“Ayah,” bisik Aria, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Edward. “Kehormatan keluarga kita tidak diukur dari berapa banyak keping emas yang tersisa di dalam peti, melainkan dari seberapa jauh kita berani melangkah untuk mengubah arah angin yang menentang kita. Percayalah pada Aria.”
Edward menghela napas panjang, mengusap rambut putrinya dengan tangan yang kasar dan gemetar. Ia tidak tahu dari mana putrinya mendapatkan keberanian sebesar itu, tetapi ada binar keras di mata Aria yang membuatnya merasa bahwa harapan belum sepenuhnya padam. Setelah memberikan kecupan lembut di dahi Aria, Baron tua itu berpamitan untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan keheningan yang kembali merayap ke dalam ruangan.
Setelah pintu tertutup rapat, Aria kembali ke mejanya. Pandangannya kini beralih pada sebuah amplop putih bersih yang tergeletak di sudut terjauh meja. Amplop itu terbuat dari kertas linen berkualitas tinggi, berbau harum bunga lavender yang pekat—sebuah aroma yang terlalu manis hingga terasa memuakkan bagi penciuman terlatih Aria. Di bagian belakangnya, terdapat segel lilin berwarna merah darah dengan lambang bunga mawar dari keluarga Roselia.
Itu adalah undangan pesta teh dari Evelyn Roselia.
Aria mengambil surat itu, meraba permukaan kertasnya yang halus dan mahal. Evelyn, sang protagonis wanita dalam novel asli yang seharusnya menjadi lambang kesucian dan kebaikan, ternyata menyimpan duri beracun di balik senyum manisnya. Undangan ini bukanlah sekadar ajakan ramah tamah antargadis bangsawan; ini adalah jebakan sosial yang dirancang khusus untuk mempermalukan keluarga Evander yang bangkrut di hadapan para bangsawan tinggi kekaisaran. Evelyn ingin memastikan bahwa Aria tetap berada di dasar lumpur, tidak pernah memiliki kesempatan untuk naik kembali ke lingkaran sosial atas.
“Gadis yang licik,” gumam Aria, matanya menyipit tajam menatap segel lilin merah itu. “Dia ingin menjadikanku badut pertunjukan untuk menghibur teman-teman bangsawannya.”
Lumi kembali melayang keluar dari balik lipatan baju, mendarat di atas bahu Aria. Cahaya keemasannya bergetar, seolah merespons kemarahan yang tertahan dari gadis itu. “Tuan Putri, apakah Anda akan mengabaikannya? Kita bisa berpura-pura sakit dan menolak undangan itu demi keselamatan Anda.”
“Menolak?” Aria terkekeh pelan, sebuah tawa dingin tanpa nada jenaka. “Tidak, Lumi. Jika aku melarikan diri sekarang, mereka akan terus memburu kita seperti serigala yang mencium bau darah domba yang terluka. Aku akan datang. Tetapi aku tidak akan datang sebagai korban yang pasrah.”
Ia membuka kembali buku naskahnya. Dengan bantuan Lumi, ia mulai merancang skenario baru untuk pesta teh tersebut. Setiap detail, mulai dari gaun usang yang akan ia kenakan hingga kata-kata yang akan ia ucapkan, ia susun bagaikan rencana operasi medis yang sangat rumit. Ia akan membalikkan keadaan. Kesombongan Evelyn akan menjadi senjata makan tuan yang akan menjatuhkan reputasi gadis itu sendiri di depan umum.
Saat ujung pena bulunya kembali menari di atas kertas, menuliskan skenario baru, sebuah penglihatan sekilas melintas di benak Aria—sebuah efek samping dari manipulasi narasi yang ia lakukan. Ia melihat bayangan seorang pria berambut gelap dengan mata merah menyala yang menatapnya penuh selidik dari balik kegelapan singgasana; Pangeran Kael. Di sudut lain, ia juga melihat senyum misterius dari Duke Lucien, sang penyihir agung yang tampak terhibur oleh riak-riak kecil yang mulai mengacaukan takdir asli dunia ini.
Aria menarik napas dalam-dalam, menenangkan gejolak di dadanya yang bergemuruh. Permainan catur politik ini baru saja dimulai, dan ia baru saja menggerakkan bidak pertamanya. Dunia ini mungkin adalah panggung sandiwara yang ditulis oleh orang lain, tetapi dialah penulis baru yang akan menentukan bagaimana babak akhir ini akan dimainkan.