Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti batang pohon : 18
“Pertama kali aku sama dia pergi ke klinik kesehatan bisa dibilang rumah sakit kecil, terus periksa kesuburan sekaligus kesehatan. Dokter kandungan menganjurkan suntik stimulasi setiap awal periode datang bulan,” ungkapnya jujur.
“Pertama kali berati 2 tahun lalu?” Kinan benar-benar seperti seorang petugas berwajib melakukan sesi interogasi.
Helya mengangguk sampai rambut lurus, lembut, berayun pelan. “Iya. Cuma sekali itu saja ke dokter, selebihnya Alan yang belikan menggunakan resep obat sebelumnya.”
Kinan melongo, matanya memicing memandangi lekat wanita yatim piatu, berkepribadian introvert, sulit bersosialisasi.
“Seandainya obat itu bukan penyubur kandungan, tapi racun — kamu rela mati terus jadi arwah penasaran, Helya? Tunggu sebentar! Aku mau narik napas dulu biar gak ngumpat.”
“Entahlah. Bodoh banget aku ya? Enam tahun ku kira hidup dengan pria penuh cinta, aslinya ahli tipu daya.” Ia memalingkan wajah, air matanya menetes.
Kedua sahabat tersebut sama-sama menangis tak bersuara dan tidak saling memandang.
Setelah sekian menit berlalu dengan keterdiaman, Kinan memecah kesunyian.
“Buruan kamu hubungi laboratorium terdekat, pinta orang — eh jangan!” suaranya meninggi, seolah merasa terancam.
“Kamu dirumah sendirian, kan?” kala melihat anggukan Helyara, Kinan pun melarang keras. “Untuk jaga-jaga, antisipasi, lebih aman kamu yang pergi kesana, tapi jangan sendirian! Aku gak tau gimana dirimu melewati trauma, sudah pasti bukan hal mudah untuk dilalui.”
“Helya, hubungi segera salah satu pengacaramu. Minta tolong pendampingan. Buruan gih!” ia menyuruh dengan nada memohon.
Helyara menoleh, pipinya basah oleh air mata. “Iya. Aku matiin ponselnya, ya?”
“Jaga diri baik-baik, jangan mudah terprovokasi! Menghindar saja selagi pengacara sekaligus detektif itu bekerja keras nyari bukti. Sebenarnya aku takut kamu kenapa-kenapa, tapi kalau gak gini mau sampai kapan dirimu dibodohi, dibohongi?” ia berkeluh kesah, benar-benar cemas luar biasa.
“Iya. Demi orang tuaku, Tomi, dan diri sendiri, aku bertekad untuk melawan, gak lagi tinggal diam ditipu mentah-mentah. Terima kasih, Kinan.” Helya menutup sambungan ponsel.
Kali ini rasanya dia lebih bersemangat efek dorongan emosional. “Aku harus bisa. Memang melelahkan berhadapan dengan orang asing, berbaur sama mereka, tapi itu lebih bagus daripada hidup dalam kebohongan, diperlakukan bak idiot!”
Helya mengetik pesan ke nomor Yudistra, bertanya apakah pria berpenampilan rapi, pembawaan tenang, tutur kata santai, raut wajah ramah itu bisa menemaninya ke laboratorium.
Tak perlu waktu lama, beberapa menit setelahnya balasan pun masuk ke ponsel Helyara.
Yudis mengatakan bisa, akan tiba kurang lebih satu jam lagi.
Helyara memanfaatkan waktu sebaik mungkin, ia mandi dan berganti pakaian. Meskipun penampilan keseharian sangat sederhana, tapi dirinya selalu terlihat rapi, tercium aroma wangi lembut dari parfum berharga satu gram emas tua.
Wanita memakai kaos bahan katun longgar, celana kulot, mendengar suara bel, bergegas dia sampirkan tas pada pundak.
Helya menyalakan lampu ruang tamu, baru setelahnya keluar dan mengunci pintu.
Dari halaman rumah belum tampak sang pengendara, dikarenakan pembatas pagar tinggi tertutup besi. Helya tidak menekan tombol remote control, tapi membuka pintu khusus untuk keluar masuk pejalan kaki.
Sesaat dia mematung, bukan Yudis yang datang melainkan sang rekan.
“Yudistra sedang berada diluar daerah, dia meminta saya menemani Anda.” Pria memakai helm full face hitam, menyodorkan helm putih.
“Kita naik motor ini?” seolah tidak mendengar penjelasan Sakta, Helya sangat fokus memandangi jok belakang lebar, tinggi.
“Anda keberatan kalau naik motor? Saya punyanya cuma ini,” tanya dibalas pertanyaan.
“Bukan itu masalahnya, tapi gimana cara naiknya? Saya takut terjungkal,” suaranya terdengar seperti seseorang mengkhawatirkan keselamatannya.
Dibalik helm, bibir si pria tertarik tercipta senyum tipis. “Anda tidak pernah naik motor?”
“Pernah!” jawabnya sangat cepat. “Waktu sekolah dasar kalau gak salah ingat.”
Sakta berpaling ke depan, baru setelahnya kembali menoleh memandangi wanita yang bahkan mungkin tidak tau caranya memakai helm.
“Sepertinya ini gak muat di kepala saya.” Ia intip dalam helm beraroma matahari.
“Coba saja dulu!”
Benar dugaan Helyara, pipinya tertekan sampai mulut mengerucut.
“Naiklah! Setiap detiknya adalah waktu berharga.” Sakta menunduk, menurunkan foot peg agar mempermudah Helyara. “Injak ini.”
Kaki kirinya menginjak pijakan, sementara tangan kebingungan mau berpegangan kemana.
Tak ada cara lain, Helya menarik kemeja Sakta dibagian pundak. Dia seperti naik tangga sembari berpegangan pada sebatang pohon.
Abi Sakta Haujan tetap duduk tegak, sesekali telinganya mendengar sang klien yang kesusahan naik ke atas jok. Sepasang matanya melihat aksi lucu lewat kaca spion.
“Syukurlah aku gak terguling.” Helya melihat ke bawah, kakinya hampir tidak menyentuh pijakan motor.
“Sudah siap, kita jalan ya sekarang?” Dinaikan standar, lalu bersiap memutar gas tangan.
“Iya.” Helya menarik sisi samping kemeja butter yellow, dia takut tiba-tiba jatuh.
Motor pun melaju menyusuri jalanan luas komplek perumahan memiliki sistem keamanan lumayan ketat.
Setiap kali melewati gundukan alat pembatas kecepatan portabel atau sering juga disebut polisi tidur karet, maka tarikan di baju Sakta menguat.
‘Tolong jangan malu-maluin. Gak lucu kalau aku sampai melompat tinggi terus jatuhnya gak di jok, tapi terguling-guling di jalanan,’ batinnya berbisik, sementara degup jantung tak terkendali.
Sang pengendara tetap tenang, membiarkan bajunya ditarik sampai kancing kerah terasa mencekik leher.
“Ini lewat mana, kok bukan jalan besar?” suaranya meninggi agar didengar.
Wajah Sakta sedikit menyamping. “Jalan pintas, menghindari melewati rumah sakit yang kemungkinan besar ada suara sirine ambulans.”
“Terima kasih,” gumamnya pelan.
Sisa perjalanan, Helya seperti anak kecil yang baru pertama kali di ajak jalan. Sejenak beban pikiran terasa ringan, ia menaikkan kaca helm, membiarkan angin menerpa kulit wajah.
Wanita menebar senyum tulus itu tidak sadar kalau ada sepasang mata memandangi lewat kaca spion.
Dua puluh lima menit kemudian, motor Sakta sudah berhenti di depan bangunan laboratorium.
Sebuah siku mundur ke belakang, tanpa kata memberikan kemudahan bagi wanita yang ragu untuk turun.
Helya berpegangan pada siku lengan kiri pengacaranya, begitu berhasil turun, senangnya bukan main.
“Terima kasih, Pak.” Ia mengangguk sopan.
“Iya,” jawabnya singkat.
Dengan ditemani Sakta, Helyara mendaftarkan diri, lalu diarahkan ke salah satu ruangan.
Tiba-tiba dia liputi ketakutan, sedikit gugup dan kedua telapak tangan berkeringat.
Rumah sakit, maupun klinik kesehatan, apapun yang berhubungan dengan dunia medis menurutnya sangat menakutkan semenjak kepergian para orang tersayang.
“Jangan khawatir,” ucap sebuah suara.
Helyara melihat ke belakang, ternyata Abi Sakta ikut masuk menemani.
Lalu seorang petugas laboratorium masuk dengan membawa alat medis untuk pengambilan darah.
“Pak, apa disini bisa memeriksa kandungan obat di dalam spuit kosong?” Telapak tangan tergenggam, terbuka dan suntikan bekas pakai lima hari lalu diperlihatkan. “Ini masih ada sedikit cairan tersisa dari obat yang ingin saya ketahui kandungannya apa saja.”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭