Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Abian mendorong punggung Devina hingga menempel pada dinding pinggir kolam. Dia semakin liar melu-mat bibir gadis itu, membuat Devina benar-benar kewalahan dan sulit bernapas.
Ciumannya turun ke leher Devina, dia memberi kecupan serta gigitan kecil pada leher gadis itu, dan menciptakan tanda kepemilikan disana.
Devina masih mencoba untuk berpikir waras. Ini semua tidak boleh terjadi. Apalagi, saat ini dia berencana untuk mencari investor baru untuk perusahaan Buana, agar bisa lepas dari pria itu. Karena itu, dia harus mempertahankan kesuciannya.
Ketika, Abian kembali mencium bibirnya, Devina mengigit bibir bawah pria itu dengan keras.
Seketika, Abian melepaskan ciuman, dia meringis memegang bibirnya yang berdarah. "Shh..."
"Kamu mau apa? Meskipun kita sudah menikah, tapi kamu tidak bisa berbuat seenaknya padaku," ucap Devina.
Abian menatap tajam, dia berkata dengan suaranya yang berat. "Aku sudah bilang, aku tidak akan melepaskanmu malam ini."
Perkataan Abian membuat Devina merinding. Saat Abian ingin mencium bibirnya kembali, Devina segera menghalangi bibir mereka dengan jemarinya.
"Bagaimana jika kita buat taruhan?" usul Devina, mencoba untuk mengulur waktu.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main," ucap Abian dengan nafasnya yang memburu, pria itu terlihat sangat bernafsu sekali.
"Tapi kamu harus tahu melakukan hubungan in-tim dengan cara paksa itu rasanya pasti hambar. Karena itu, jika aku kalah, aku akan dengan suka hati menyerahkan diri padamu. Tapi, jika aku menang, jangan memaksaku untuk bercinta denganmu. Dan giliran kamu harus mengikuti apapun yang aku suruh."
Abian merasa tertantang. "Oke. Siapa takut."
...****************...
Devina dan Abian telah berganti pakaian. Devina dari dulu jago bermain billiard, karena itu dia menantang Abian untuk bermain billiard dengannya. Dia sangat yakin pasti bisa menang.
Pertandingan pun dimulai.
Dengan hati-hati, Devina membidik bola nomor 2 berwarna biru yang posisinya terbuka lebar.
Dia menarik napas, memfokuskan pandangannya, pokoknya dia harus berjuang agar tidak bercinta dengan Abian malam ini.
Lalu, dia mengayunkan tongkatnya dengan pelan namun pasti.
TUK!
Bola biru itu meluncur, masuk ke lubang samping.
Devina pun tersenyum puas. Dia kembali membidik. Kali ini bola nomor 5. Sekali pukul, masuk lagi.
Posisi bola putih pun berhenti tepat di tempat yang menguntungkan untuk sasaran berikutnya.
Pukulan demi pukulan dia lakukan dengan tenang dan akurat.
Kini, giliran Abian. Entah dia sengaja mengalah atau memang tidak bisa bermain billiard. Dia beberapa kali gagal. Hingga kini Devina unggul untuk sementara. Tinggal tersisa tiga bila berwarna dan bola hitam nomor 8.
"Apa kamu mau menyerah?" ledek Devina sambil tersenyum penuh kemenangan.
Abian hanya tersenyum dingin.
Giliran Devina kembali. Dia membidik bola nomor 7. Dia memukul dengan kekuatan yang pas.
Bola itu berguling pelan... mendekati lubang... tapi sayang, di bibir lubang bola itu berputar sedikit lalu berhenti, nyangkut tepat di pinggirannya.
Hal tersebut membuat Devina mendesis kesal.
Kini, giliran Abian lagi. Kali ini dia benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Satu per satu bola tersisa dimasukkan dengan sangat presisi, membuat Devina melongo.
Devina pun mengigit bibir bawahnya. Dia berkata di dalam hati. "Ternyata, dia jago juga."
Sekarang hanya tinggal bola hitam nomor 8. Devina menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Dia sangat berharap agar pukulan Abian meleset.
"Jika bola ini masuk, kamu harus bersiap-siap!" tantang Abian.
Devina pura-pura bersikap tenang. "Jangan percaya diri dulu. Aku yakin kamu akan kalah."
Abian begitu tenang, membidik bola hitam yang posisinya sulit di pinggir meja.
Devina sangat merasa gelisah. Dia berkata di dalam hati. "Tolong jangan masuk! Jangan masuk!"
Tapi harapan Devina tak terkabul. Bola putih menghantam bola hitam tepat sasaran, meluncur deras ke dalam lubang.
Bola itu masuk sempurna.
Devina telah kalah. Jantungnya berdebar kencang.
Itu artinya... malam ini dia harus dengan sesuka hati menyerahkan dirinya pada pria menyebalkan itu.
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡