Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani aku minum
Arsen bersandar di dinding lorong rumah, menunggu Bima keluar dengan wajah cemas. Luka di wajah kakaknya masih jelas terlihat, darah mengering di sudut bibirnya, sementara sorot matanya yang biasanya hangat kini kosong dan dipenuhi kepahitan. Tanpa banyak bicara, Bima melangkah melewatinya.
"Temani aku minum," ucapnya singkat dengan suara serak.
Arsen mengernyit.
"Ini masih siang. Lukamu juga belum diobati. Sebaiknya kita pulang atau kupanggil dokter."
"Kumohon, Arsen," potong Bima lirih. "Jangan tanya apa-apa sekarang. Temani saja aku."
Melihat kehancuran kakaknya, Arsen akhirnya mengangguk. Mereka pergi ke sebuah bar kecil yang sepi, tempat yang dulu sering Arsen datangi saat patah hati karena kehilangan Zora. Di sudut ruangan yang remang, Arsen memesan sebotol minuman keras.
Begitu botol diletakkan di meja, Bima langsung memenuhi gelasnya lalu meneguk habis isinya. Sensasi panas yang membakar tenggorokan tak sebanding dengan rasa sakit yang mengoyak hatinya.
"Bim," ujar Arsen pelan.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Pria itu dan Dami..." Bima menatap kosong ke arah botol.
"Mereka tidur bersama," katanya lirih.
"Dami bersetubuh dengan Jeremy di atas ranjang kami." Suasana seketika membeku. Arsen kaget tentu saja.
"Aku pikir aku sudah memenangkan hatinya. Aku kira dia mulai menerimaku. Ternyata aku salah. Hatinya tetap milik Jeremy." Arsen terdiam. Selama ini ia tahu betapa besar cinta Bima kepada Dami.
"Lalu... pernikahan kalian?" Bima tersenyum pahit.
"Nikah kontrak." Arsen membelalak.
"Itu permintaan Dami. Dia merasa berutang budi pada keluarga kita. Aku menerimanya karena kupikir ini kesempatanku membuatnya mencintaiku. Kupikir ketulusanku bisa menggantikan Jeremy." Ia tertawa hambar.
"Ternyata aku hanya pelindung sementara. Hatinya tetap terkunci untuk pria itu."
"Jadi selama ini kalian membohongi kami semua?" tanya Arsen tak percaya.
"Aku juga tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini."
Bima kembali mengisi gelasnya.
"Semalam adalah malam paling membahagiakan dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku merasa dia benar-benar menerimaku sebagai suami. Aku yakin dia mulai membuka hatinya. Walau aku tahu belum seratus persen, tapi karena dia tidak menolakku, aku sangat senang, senang bisa memilikinya seutuhnya." Ia menggeleng pelan dengan wajah yang hancur.
"Tapi pagi ini semuanya hancur. Dia membiarkan Jeremy menyentuhnya. Mereka bercinta di kamar yang aku bangun untuk kita. Mungkin dia jijik telah bercinta denganku. Baginya, malam apa yang dia lakukan bersamaku hanyalah kewajiban. Sedangkan dengan Jeremy... itu karena cinta." Ia menghabiskan isi gelasnya sekali lagi.
"Kau pasti menganggap aku laki-laki paling bodoh di dunia."
Arsen tidak menjawab. Ia memahami rasa kehilangan itu. Dulu, saat Zora pergi meninggalkannya, ia juga merasa hidupnya runtuh. Bima menunduk dalam.
"Aku benci diriku sendiri. Aku ingin membencinya, tapi aku tidak bisa. Bahkan setelah semua yang dia lakukan, saat melihatnya menangis tadi, aku masih ingin memeluknya." Arsen menepuk bahu kakaknya.
"Tenangkan dirimu. Jangan sampai rasa sakit ini menghancurkanmu." Di dalam hati, Arsen juga dipenuhi kekecewaan. Jika Dami masih mencintai pria lain, mengapa menerima pernikahan itu? Menikah hanya karena rasa berutang budi bukanlah alasan untuk mempertaruhkan perasaan seseorang. Kini ia justru menyesal pernah mendukung pernikahan mereka. Yang paling menderita adalah Bima. Dan jika suatu hari orang tua mereka mengetahui kenyataan di balik pernikahan kontrak itu, Arsen yakin luka keluarga mereka akan menjadi jauh lebih besar.
😏😏
klu ketahuan kn seruu gimana intan yg mati2 an fbela mama nya kenny..d jambak2 sm mm kenny...
tuh istri yg galak, suamimu punya simpenan calon mantumu 🤣🤣🤣🤣🤣
gila bener mau ank. jg mau bpknya🤣🤣🤣🤣