"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Tawaran dari Jakarta
Bu Wati benar-benar tidak melihat apa-apa.
Itu yang dia katakan kepada semua orang.
Masalahnya, cara dia mengatakan "tidak melihat apa-apa" membuat satu kompleks yakin ada sesuatu yang sangat layak dilihat.
Keesokan paginya, Bu Niken datang ke pos kesehatan dengan wajah terlalu cerah.
"Dokter tidur nyenyak?"
Alya tidak mengangkat kepala dari laporan pasien.
"Lumayan."
"Sendiri?"
Pena Alya berhenti.
Rina langsung menutup mulut dengan map.
Joko pura-pura menghitung kapas, padahal kapasnya hanya satu bungkus.
Alya menatap Bu Niken.
"Bu."
"Apa? Saya hanya bertanya kualitas tidur."
"Kualitas tidur saya tidak ada hubungannya dengan kesehatan masyarakat."
"Ada. Dokter yang bahagia lebih sehat."
Rina menyerah dan tertawa.
Alya ingin menegur, tapi ponselnya berbunyi. Nomor dari Jakarta. Kepala Instalasi Bedah RSUD.
Dia langsung mengangkat.
"Selamat pagi, Dok."
"Alya, kamu bisa bicara?"
Nada dokter senior itu membuat Alya berdiri.
"Bisa. Ada apa?"
"Namamu masuk rekomendasi untuk Tim Medis Kemanusiaan Nusantara-Global. Program gabungan Kemenkes, PMI, dan beberapa organisasi medis. Mereka butuh dokter dengan pengalaman bencana, IGD, dan lapangan. Setelah laporan dari NTT, namamu naik."
Alya terdiam.
Bu Niken yang tadinya menggoda langsung berhenti tersenyum.
"Penugasan ke mana, Dok?"
"Masih tahap seleksi. Lokasinya wilayah konflik dan kamp pengungsi di luar negeri. Enam bulan, bisa diperpanjang. Berisiko tinggi, tapi ini kesempatan besar. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku harus memberi tahu sebelum daftar ditutup."
Jantung Alya berdetak keras.
Misi kemanusiaan.
Luar negeri.
Enam bulan.
Itu jenis kesempatan yang dulu hanya dia baca di buletin rumah sakit. Dokter lapangan yang bekerja di tempat paling sulit, membawa pelayanan medis ke orang-orang yang tidak punya akses.
"Kapan batas konfirmasi?"
"Tiga hari. Kalau kamu berminat, aku kirim berkas seleksi dan surat rekomendasi."
Alya menatap dinding pos kesehatan yang penuh jadwal vaksinasi dan daftar pasien pascagempa.
"Kirim, Dok. Saya pelajari dulu."
"Baik. Alya?"
"Ya?"
"Pikirkan matang-matang. Ini bukan penugasan biasa."
"Saya tahu."
Telepon ditutup.
Rina menatapnya.
"Dok?"
Alya menurunkan ponsel pelan.
"Ada tawaran seleksi tim medis kemanusiaan."
Joko bersiul. "Wah. Luar negeri?"
Bu Niken langsung cemas.
"Dokter mau pergi?"
"Belum tahu. Baru tawaran seleksi."
Tapi di dadanya, sesuatu sudah bergerak.
Keinginan lama.
Panggilan yang selama ini dia tekan karena pernikahan, keluarga, dan tugas yang tidak pernah selesai.
Sore itu, email berisi dokumen datang. Alya membukanya di meja pos kesehatan setelah pasien terakhir pulang. Persyaratan, durasi, risiko, pelatihan, persetujuan keluarga, pemeriksaan kesehatan, wawancara.
Dia membaca satu per satu.
Setiap kalimat membuatnya takut.
Setiap kalimat juga membuatnya hidup.
Damar datang saat matahari turun. Dia membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti, kebiasaan yang sekarang tidak lagi dia sembunyikan.
"Kamu belum makan."
Alya tidak membantah.
Damar meletakkan roti di meja, lalu melihat layar laptopnya.
"Apa itu?"
Alya sempat ingin menutup.
Dia tidak jadi.
"Tawaran seleksi tim medis kemanusiaan."
Damar membaca judul dokumen.
Wajahnya berubah sedikit.
"Luar negeri?"
"Kemungkinan."
"Wilayah konflik?"
"Iya."
Ruangan menjadi hening.
Alya menunggu reaksi lama yang dia kenal: larangan, dinding, suara dingin yang mengatakan jangan cari masalah.
Damar tidak langsung bicara.
Dia duduk di seberangnya.
"Kamu ingin ikut?"
Pertanyaan itu membuat Alya lebih gugup daripada larangan.
"Saya belum tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Saya ingin mempelajarinya."
"Alya."
Dia menatap Damar.
"Saya ingin ikut seleksi," katanya akhirnya.
Damar menarik napas pelan.
"Lokasinya berbahaya."
"Saya tahu."
"Enam bulan bukan waktu sebentar."
"Saya tahu."
"Kamu baru pulih dari luka. Baru selesai posko bencana."
"Saya tahu, Damar."
Nada Alya mulai naik.
Damar berhenti.
Dia mengingat janji di mobil, janji untuk tidak mengambil keputusan untuknya.
Tapi rasa takut di dadanya bergerak cepat, lebih cepat dari akal sehat.
"Aku tidak melarang," katanya.
Alya menatapnya, curiga.
"Tapi?"
"Tapi aku ingin kamu melihat semua risiko."
"Saya dokter. Saya bisa membaca risiko."
"Risiko di kertas berbeda dengan risiko di lapangan."
"Anda pikir saya tidak tahu lapangan?"
"Aku pikir kamu selalu menganggap nyawamu bisa dinegosiasikan kalau ada pasien di depanmu."
Kalimat itu membuat Alya diam.
Damar melanjutkan, lebih pelan.
"Dan itu yang membuatku takut."
Takut.
Dulu Damar menyembunyikan kata itu di balik amarah. Sekarang dia mengatakannya langsung. Anehnya, itu tidak membuat Alya lebih mudah menjawab.
"Kalau saya menolak hanya karena takut, saya akan membenci diri sendiri," katanya.
"Aku tidak ingin kamu menolak karena takut."
"Lalu?"
"Aku ingin kamu memilih dengan seluruh informasi. Bukan karena merasa harus membuktikan sesuatu."
Alya menutup laptop.
"Anda masih berpikir saya melakukan hal-hal ini untuk membuktikan diri?"
"Kadang."
Jawaban itu jujur.
Dan menyakitkan.
"Mungkin karena selama ini saya memang harus membuktikan diri," kata Alya. "Kepada keluarga Anda. Kepada kompleks. Kepada Anda."
Damar tidak membela diri.
"Aku tahu."
"Tidak, Anda tidak tahu." Suara Alya lebih rendah. "Setiap kali saya melakukan pekerjaan saya, selalu ada orang yang bertanya apakah saya mencari perhatian. Saat saya diam, saya disebut tidak pantas. Saat saya maju, saya disebut nekat. Sekarang ada kesempatan yang memang sesuai dengan kemampuan saya, dan Anda bertanya apakah saya hanya ingin membuktikan sesuatu."
Damar menatapnya dengan wajah yang makin berat.
"Aku salah mengatakannya."
"Tapi Anda memikirkannya."
"Karena aku takut kehilanganmu."
Kalimat itu berhenti di antara mereka.
Alya merasa marahnya goyah.
Dia tidak mau goyah.
"Takut tidak boleh berubah jadi pagar," katanya.
"Aku sedang berusaha agar tidak begitu."
"Kalau saya ikut seleksi?"
Damar mengatupkan rahang.
"Aku akan mendukung prosesmu."
"Kalau saya lolos?"
Diam.
Lebih lama.
"Damar."
"Aku akan belajar mendukung keputusanmu."
Itu bukan jawaban sempurna.
Tapi itu bukan larangan.
Alya membuka laptop lagi, menatap dokumen seleksi.
"Saya butuh surat keterangan dari atasan lapangan."
Damar melihatnya.
"Aku tanda tangani kalau laporan medismu lengkap."
"Anda sedang menawar?"
"Aku sedang memastikan kamu tidak mengirim berkas sambil lupa makan."
Alya hampir tersenyum, tapi menahan.
"Baik. Saya selesaikan laporan."
Damar menyodorkan roti.
"Sambil makan."
Dia mengambil roti itu.
Malam turun di luar pos kesehatan. Di dalam, mereka duduk berhadapan dengan laptop, laporan pasien, dan ketakutan yang belum selesai.
Alya membaca formulir seleksi.
Damar membaca peta distribusi bantuan.
Tidak ada yang bicara.
Tapi untuk saat itu, Damar tidak menutup pintu.
Dan Alya mencoba percaya bahwa itu berarti sesuatu.
Besok paginya, berita tentang seleksi itu sudah sampai ke telinga orang-orang yang tidak pernah membaca pengumuman resmi. Di kantin RSUD, dua perawat berbisik ketika Alya mengambil kopi.
"Enak ya, punya suami komandan. Rekomendasi pasti lancar."
"Tapi kalau diterima, kasihan suaminya. Baru juga kelihatan akur."
Alya berpura-pura tidak mendengar. Ia membayar kopi, keluar, lalu berhenti di koridor karena Suster Maya menyusulnya.
"Dok, jangan pikirkan mereka."
"Aku tidak."
"Wajah Dokter bilang sebaliknya."
Alya tersenyum tipis. "Aku cuma lelah."
Namun ketika ia kembali ke ruang kecilnya, formulir itu terasa lebih berat daripada semalam. Bukan karena seleksinya. Ia sudah pernah ditolak, diremehkan, disuruh menunggu giliran yang tidak pernah datang. Yang membuatnya gelisah adalah kemungkinan bahwa setiap langkahnya akan dibaca sebagai pemberontakan terhadap rumah tangga.
Damar datang menjelang siang membawa map cokelat. Alya mengira ia akan meminta bicara lagi. Ternyata pria itu hanya meletakkan map di meja.
"Surat rekomendasi dari batalyon. Sudah distempel."
Alya membuka map itu. Kalimatnya singkat, resmi, dan bersih dari drama.
Tidak ada keberatan administratif.
Tidak ada catatan tentang status istri.
Tidak ada permintaan agar penempatan dipertimbangkan demi keluarga.
Alya membaca sampai akhir. "Kau tidak menambahkan syarat?"
"Aku sempat ingin."
"Lalu?"
"Aku malu pada diriku sendiri."
Jawaban itu lebih jujur daripada permintaan maaf panjang. Alya menutup map perlahan.
"Terima kasih."
Damar mengangguk, lalu mundur ke pintu. "Aku masih belajar, Alya."
"Aku tahu."
"Kalau aku salah lagi..."
"Aku akan marah."
Ia hampir tersenyum. "Itu cukup adil."
Alya menyimpan map itu di laci paling atas. Bukan untuk disembunyikan, melainkan supaya ia ingat bahwa pintu yang terbuka juga bisa membuat orang gemetar.