Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hitung apaan?
"Gila-gila whoaa! Kita udah kayak penyusup profesional. Mantep guys!" Seru Claire pelan walau nafasnya masih ngos-ngosan parah habis berlari. Padahal tidak ada yang kejar mereka. Mereka belum ketahuan sama sekali.
Kean, Lordan dan Kiara juga sama ngos-ngosannya. Mereka memang sering lakukan hal-hal yang aneh kalau sama Claire sejak jaman sekolah dulu. Tapi pengalaman ini, menyusup di kantor polisi adalah pengalaman pertama mereka. Jelas dong mereka takut-takut dengan mata terus waspada.
"Claire, kayaknya gak ada yang ikutin kita deh. Lanjut nggak biar cepet kelar misi kita? Gue kalo takut tubuh gue gemeteran semua, gua gak mau ke tangkep karena di kira teroris yang mau bom kantor polisi ya." Kiara angkat suara. Dia memang senang ikut-ikutan yang kayak gini, tapi dia bukan perempuan yang tidak ada takut-takutnya sama sekali seperti Claire.
"Udah, lo gemeteran doang. Lah gue kalo takut bisa berak di celana, lo milih yang mana? Gemeteran apa berak di celana?" balas Claire tanpa filter.
"Ya ela, ngapain jadi bahas berak sih? Yang bener aja Claire. Lo udah aneh banget dari lahir, minimal sopan dikit lah cara ngomongnya. Gak usah bawa-bawa tai dalam pembahasan ini." Kean angkat bicara dengan mimiknya yang lucu.
Claire malah tertawa.
"Ya namanya juga anak muda. Gak bisa jauh-jauh dari yang namanya khilaf pikiran dan mulut." katanya. Lordan yang jauh lebih tenang dari mereka semua hanya tersenyum tipis sambil menggeleng kepala. Ruangan ini gelap sekali, mereka hanya bisa saling melihat dari bayangan bulan malam di luar sana.
"Gak ada yang ikutin, ayo bergerak sekarang sebelum ada petugas yang sadar." ucap Lordan. Dia juga tidak mau lama-lama di tempat ini. Tapi seru saja melakukan hal gila begini dengan teman-temannya. Kapan lagi coba. Selama mereka tidak merugikan orang lain, hanya merugikan orang yang memang perlu di rugikan, kenapa tidak.
"Ya udah, gue paling depan karena cuma gue pemberani di antara lo semua. Biar gue jadi pemimpin." ucap Claire percaya diri. Kean memutar bola matanya malas, tapi tetap mendengar.
Clairy membuka pintu ruangan itu perlahan sekali, lalu berjalan dengan dengan cara mengendap-endap seperti tadi. Tubuh mereka menempel dinding seperti pertama kali mereka masuk tadi.
"Nih lorong kenapa bisa gelap banget sih? Miskin banget kantor polisi ini. Udah korup juga. Terangin kek biar kita jalannya gak perlu kayak bebek gini. Harus di catat, kita harus kasih bantuan biaya lampu besok-besok. Biar nanti kalo mau ke sini lagi, gak siksa karena gelap-gelapan." gerutu Claire sepanjang mereka berjalan menyusuri lorong panjang itu.
"Si Claire makin aneh gak sih? Masa ngendap-ngendap gini perlu lampu terang? Mau bikin kacau kantor polisi, tapi kenapa masih mau kasih bantuan biaya lampu? Makin ngadi-ngadi deh." ujar Kean yang jalan paling belakang. Di depannya, Lordan lagi-lagi hanya tertawa kecil.
Mereka semua berhenti saat Claire berhenti tiba-tiba.
"Ngapain berhenti? Ada tikus dua lagi kejar-kejaran?" tanya Kiara yang berada tepat di belakang Claire.
Gadis itu tidak menjawab. Dia menatap ke belakang lalu menghitung jumlah mereka.
"1, 2,3,4, 5." katanya. Claire mengucek matanya lalu menghitung lagi.
"1, 2, 3, 4, 5." tangannya menunjuk-nunjuk dari Kiara, Lordan, Kean, dan orang lain yang berada di belakang Kean.
"Lo hitung apaan sih Claire?"
Kiara bertanya.
"Kita sahabatan cuma empat orang kan?"
"Emang lo maunya berapa? Lima? Satunya hantu?" ucapan Kean itu membuat mereka semua terdiam, apalagi Claire terus menatap ke belakang dari tadi. Suasana di antara mereka menjadi tegang dan ... Bulu kuduk mereka semua mulai merinding.
Kiara, Lordan dan Kean bersamaan menatap ke belakang dan sama-sama melihat ada orang lain yang ikut mengendap-ngendap bersama mereka. Entah itu manusia atau hantu, tapi karena bajunya putih sekali, dan ketika orang itu tersenyum lebar, giginya juga putih sekali dan tampak seperti hantu, Claire cs langsung lari terbirit-birit.
"Kuntilanak woy! Kuntilanak! Sepupunya suster ngesot. Kabur-kabur cepettt!" Seru Claire dengan suara heboh namun pelan.
Mereka berempat terus berlari sampai memasuki ruangan kosong lain yang berada di sana. Sosok yang di belakang juga ikut berlari terbirit-birit. Larinya cepat sekali, ia bahkan ikut masuk dengan ke-empat sahabat itu ke ruangan gelap tersebut.
Semuanya ngos-ngosan seperti di kejar hantu. Sosok memakai baju putih itu juga ikut ngos-ngosan seperti di kejar hantu, tandanya dia bukan hantu, tapi manusia seperti mereka. Lordan yang pertama kali sadar wanita itu bukan hantu. Ia mencoba mendekat tapi Kiara segera menarik tangannya.
"Dan, kata Claire tadi dia sepupunya suster ngesot. Gimana kalo belakangnya bolong?"
"Sepupunya suster ngesot apaan! Orang cantik begini di bilang kuntilanak!" Perempuan itu tiba-tiba berbicara. Wajahnya mulai jelas karena ada cahaya malam dari luar yang masuk.
Suaranya terdengar kesal, tak menyeramkan sama sekali. Claire yang tadinya bersembunyi di balik punggung Lordan langsung mengintip.
"Lo ... Lo bukan hantu?" tanyanya ragu sambil menunjuk baju putih panjang yang dikenakan wanita itu.
"Mau bukti?" perempuan itu balas dengan suara setengah cempreng.
"Gue bisa buktiin sendiri." kata Claire. Dia pun maju, mengeluarkan tumbler mini dari dalam ranselnya, menyesap sedikit air ke mulut, lalu merapalkan mantra ngawur sekuat tenaga dengan wajah serius sekali.
"Cipirip cipirip wulun wulun! Srak sruk srak sruk! Wisik wisik wusss! Kilap kilap kerlap kerlip! Gledek gledek bum! Sio sio nio nio! Prit prit prat prut! Plak! Pluk! Plak!"
Ciprat!
Seketika air muncrat menyembur tepat kena wajah perempuan itu. Perempuan itu kaget setengah mati, matanya terbelalak lebar.
"Hah?!"
"Woi, ngapain nyemprot begitu?!" serunya marah sambil mengusap wajah basahnya.
Claire malah menepuk dadanya lega.
"Nggak lenyap. Berarti manusia." ucap Claire mengusap-usap dadanya.
Kean, Kiara dan Lordan sudah mati-matian menahan tawa karena aksi konyol Claire. Mereka tahu Claire suka nonton film yang ada dukun-dukunnya. Sekarang malah dipraktekin betul. Tapi, perempuan berbaju putih itu belum jelas asal-usulnya. Bisa jadi dia polisi wanita yang lagi nyamar kan? Mana mukanya belum benar-benar jelas lagi. Tapi sepertinya usia mereka tidak terlalu jauh.
"Maaf, boleh tahu kamu siapa? Kenapa ada di sini?"
Wanita itu masih kesal, terutama pada Claire. Tapi karena dari tadi dia menjadi saksi aksi mereka dan tertarik, tentu dia ingin melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya.
"Perkenalkan, aku Talia. Istri Damian Winslow, mantan mafia paling hebat di dunia. Aku di sini karena ... Rahasia." ucap perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Talia itu penuh percaya diri.