Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SALAH SASARAN
Angin malam berembus pelan, membawa aroma aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari.
Pemimpin kelompok bertopeng tidak lagi gegabah mengeluarkan perintah menyerang. Tatapannya terus tertuju pada pria berjaket kulit yang berdiri tenang beberapa meter di depannya.
Suasana berubah.
Yang semula dipenuhi amarah, kini berganti menjadi saling mengukur kemampuan.
Tidak ada seorang pun yang bergerak lebih dulu.
Pemimpin kelompok mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar kedua anak buahnya tetap di tempat.
Sorot matanya kemudian beralih kepada Rangga yang masih terduduk lemah di tepi jalan.
Napas Rangga terdengar berat. Darah tipis masih mengalir dari sudut bibirnya, sementara pelipis kirinya mulai membengkak akibat pukulan yang diterimanya.
Lampu jalan yang redup menerangi wajah pemuda itu dengan lebih jelas.
Pemimpin kelompok menyipitkan mata.
Seolah sedang mengingat sesuatu.
Pandangannya bergeser ke arah sepeda motor yang tergeletak tidak jauh dari Rangga.
Kemudian kembali lagi ke wajah pemuda itu.
Keningnya perlahan berkerut.
"Tunggu..."
Suaranya terdengar pelan.
Namun cukup membuat kedua anak buahnya menghentikan kewaspadaan mereka.
Pria itu melangkah beberapa langkah mendekati Rangga.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan untuk memastikan sesuatu.
Ia memperhatikan wajah Rangga beberapa detik.
Lalu menoleh ke arah pelat nomor sepeda motor yang masih terpasang.
Tatapannya berubah.
Nada dinginnya mulai menghilang, berganti kebingungan.
"Sial..."
umpatnya lirih.
Ia kembali menatap Rangga, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah telepon genggam.
Beberapa kali ia membandingkan layar ponselnya dengan wajah Rangga.
Semakin lama diperhatikan...
Semakin jelas keraguan di matanya.
Anak buahnya saling berpandangan.
"Ada apa, Bos?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia kembali melihat foto di layar ponselnya.
Kemudian memandang Rangga sekali lagi.
Napasnya terdengar panjang.
Wajah yang mereka incar...
Bukan wajah pemuda yang kini babak belur di hadapan mereka.
"Tahan."
Kali ini suaranya lebih tegas.
"Tidak ada yang menyerang."
Kedua anak buahnya tampak kebingungan.
"Kenapa?"
Pemimpin kelompok menurunkan ponselnya perlahan.
Sorot matanya dipenuhi rasa kesal terhadap dirinya sendiri.
"Kita..."
"...sudah salah sasaran."
Kalimat itu menggantung di udara malam.
Bahkan Rangga yang masih menahan nyeri ikut mengangkat kepalanya perlahan.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Namun satu hal mulai ia pahami...
Orang-orang ini memang datang untuk memburu seseorang.
Dan orang itu...
Bukan dirinya.
Ucapan sang pemimpin membuat suasana mendadak berubah.
Dua anak buahnya saling berpandangan dengan raut tidak percaya.
"Salah sasaran?" ulang salah seorang di antara mereka.
"Bos, bukankah motor ini yang dilaporkan orang lapangan?"
Pemimpin kelompok menggeleng pelan sambil menggertakkan rahangnya.
"Motornya memang mirip."
Ia kembali melirik pelat nomor yang terpasang di belakang sepeda motor Rangga.
"Tapi pelat nomornya berbeda."
Tatapannya beralih ke wajah Rangga yang masih terduduk lemah.
"Dan wajahnya juga bukan orang yang kita cari."
Nada suaranya terdengar penuh penyesalan, bercampur kesal terhadap informasi yang mereka terima.
"Sial..."
Anak buah yang bertubuh paling besar menendang kerikil di dekat kakinya hingga memantul ke tengah jalan.
"Berarti sejak awal kita menghajar orang yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ini."
Pemimpin kelompok menarik napas panjang.
"Informasi dari orang lapangan keliru."
Ia menatap Rangga beberapa saat, lalu menggeleng pelan.
"Kita sudah membuang waktu."
Di sisi lain, Rangga hanya mampu memandang mereka dengan napas masih memburu.
Dadanya naik turun menahan nyeri.
Ia benar-benar tidak mengerti.
Sejak awal ia sama sekali tidak mengenal orang-orang bertopeng itu.
Lalu mengapa mereka bisa begitu yakin mengejarnya?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.
Namun kondisinya belum memungkinkan untuk meminta penjelasan.
Pemimpin kelompok akhirnya mengalihkan pandangannya kepada pria berjaket kulit yang sejak tadi berdiri tanpa sepatah kata.
Keduanya saling bertatapan beberapa detik.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada pula rasa takut.
Hanya dua orang yang sama-sama sedang mengukur situasi.
Akhirnya sang pemimpin mengembuskan napas pelan.
"Urusan kami bukan dengan kalian."
Ia menatap Rangga sekali lagi.
"Anggap saja malam ini keberuntungan masih berpihak kepadamu."
Kalimat itu terdengar datar, tetapi cukup menunjukkan bahwa mereka tidak lagi berniat melanjutkan pertarungan.
Pemimpin kelompok mengangkat tangan kanannya memberi isyarat.
"Mundur."
Tanpa banyak bertanya, kedua anak buahnya segera bergerak.
Mereka berjalan cepat menuju minibus hitam yang masih menyala di tepi jalan.
Pintu samping kendaraan itu dibuka kasar.
Satu per satu mereka masuk ke dalam.
Beberapa detik kemudian...
Deru mesin kembali meraung memecah kesunyian.
Minibus hitam itu melaju meninggalkan lokasi, lalu perlahan menghilang di balik tikungan jalan bersama berbagai pertanyaan yang belum sempat terjawab.
Yang tersisa kini hanyalah Rangga...
Dan pria misterius berjaket kulit yang masih berdiri membelakanginya.
Suara deru mesin minibus itu perlahan menghilang, ditelan sunyinya malam Jakarta.
Keheningan kembali menyelimuti jalanan bypass yang lengang.
Rangga mengembuskan napas panjang. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Setiap kali mencoba menggerakkan lengan atau menopang tubuhnya, rasa nyeri seolah menjalar hingga ke tulang.
Ia mencoba berdiri.
Namun baru setengah bangkit, lututnya kembali lemas.
Tubuhnya nyaris ambruk jika saja seseorang tidak segera menangkap bahunya.
"Bisa berdiri?"
Suara berat itu terdengar tenang.
Rangga mendongak.
Pria berjaket kulit itu kini berdiri tepat di sampingnya.
"Aku... masih bisa."
Meski berkata demikian, Rangga tetap kesulitan menjaga keseimbangannya.
Tanpa banyak bicara, pria misterius itu meraih lengan Rangga dan membantunya bersandar pada dinding ruko yang sudah tutup.
Pria itu kemudian merogoh saku jaketnya.
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak gosok berwarna kecokelatan.
"Tanganmu."
Rangga menurut.
Dengan gerakan yang terlatih, pria itu mengoleskan minyak pada pergelangan tangan dan bahu Rangga yang mulai membiru akibat benturan.
Sentuhannya tidak kasar.
Namun cukup tegas hingga membuat otot-otot yang tegang perlahan mengendur.
Rangga memperhatikan setiap gerakannya.
Entah mengapa, pria itu tampak sangat terbiasa menangani luka akibat perkelahian.
Seolah ini bukan pertama kalinya ia menghadapi situasi seperti malam ini.
"Terima kasih..."
ucap Rangga pelan.
"Kalau tidak ada Anda..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Pria misterius itu hanya menutup botol kecil tersebut sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku.
"Syukuri saja kamu masih diberi kesempatan pulang."
Jawabannya singkat.
Nyaris tanpa emosi.
Rangga terdiam beberapa saat.
Lalu rasa penasarannya akhirnya mengalahkan rasa sakit.
"Mereka bilang aku salah sasaran."
Ia menatap pria di depannya.
"Sebenarnya... siapa yang mereka cari?"
Pria misterius itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru mengarah ke jalan yang sudah kembali sepi.
Seolah memastikan rombongan minibus tadi benar-benar telah pergi.
Beberapa saat kemudian, ia baru membuka suara.
"Di kota sebesar Jakarta..."
"...banyak orang hidup sambil membawa bayangan masa lalunya."
Nada bicaranya tetap datar.
"Kadang bayangan itu datang menagih dengan cara yang tidak pernah kita duga."
Rangga mengernyit.
"Maksudnya?"
Pria itu menoleh sekilas.
"Semakin sedikit yang kamu tahu tentang urusan mereka..."
"...semakin panjang umurmu."
Kalimat itu membuat Rangga semakin bingung.
Ia ingin bertanya lagi.
Tentang siapa pria itu.
Tentang siapa target sebenarnya.
Tentang mengapa orang-orang bertopeng tadi tampak begitu berhati-hati saat melihatnya.
Namun semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya.
Pria misterius tersebut telah berdiri.
Ia menarik tudung jaketnya hingga menutupi sebagian wajah.
"Rawat lukamu."
"Lalu lanjutkan hidupmu."
"Itu lebih penting."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, pria itu berbalik.
Langkahnya tenang.
Perlahan memasuki gang sempit yang gelap, hingga akhirnya sosoknya benar-benar lenyap ditelan malam.
Rangga masih berdiri terpaku.
Matanya terus menatap ke arah gang itu.
Untuk pertama kalinya sejak merantau ke Jakarta...
Ia merasa bahwa kota ini menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang pernah ia bayangkan.