The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan ke Barat
Marlow memimpin perjalanan kami melewati hutan Gisa. Jalan setapak itu dimulai tidak jauh dari kanal, di balik rumpun semak berduri dan pohon-pohon berbatang pucat yang tumbuh renggang. Tanahnya lembap, tetapi tidak terlalu lunak. Bekas sepatu, tapak kuda, dan roda gerobak kecil masih terlihat di beberapa bagian, saling menimpa sampai bentuknya tidak lagi jelas. Jalan ini sering digunakan. Oleh pemburu, pedagang yang tidak mampu menyewa perahu, peziarah, atau siapa pun yang ingin keluar dari Gisa tanpa melewati gerbang utama.
Hutan itu berbeda dari hutan elm yang kulewati semalam.
Di sana, pepohonan tumbuh rapat dan tinggi, cabang-cabangnya menutup langit sampai malam terasa lebih hitam. Hutan Gisa lebih terbuka. Sebagian batang pohon sudah diberi tanda kapak. Semak-semak dipangkas di sekitar jalan. Ada tunggul tua, parit kecil untuk mengalirkan air hujan, dan sisa api unggun yang ditutup tanah. Tangan manusia pernah menyentuh hampir setiap bagian yang bisa kulihat.
Tetap saja, hutan menyimpan hawa dinginnya sendiri.
Tanah mengeluarkan bau daun busuk dan akar basah. Serangga berderik di antara rumput. Sesekali terdengar kepakan burung dari atas, lalu suara ranting yang kembali diam. Cahaya senja sudah hampir habis, menyisakan warna kelabu kebiruan di sela-sela dahan.
Marlow berjalan beberapa langkah di depanku.
Tas kulitnya tergantung berat di punggung, tetapi langkahnya tidak berubah. Ia tidak berjalan cepat, hanya tidak pernah benar-benar melambat. Sepatunya menginjak bagian tanah yang lebih keras, menghindari lumpur dan akar tanpa perlu melihat ke bawah terlalu lama.
Aku berusaha mengikuti bekas langkahnya.
Beban tasku mulai terasa setelah kami meninggalkan kanal. Talinya menggesek bahu melalui kain. Setiap beberapa puluh langkah, bagian pinggangku berdenyut kecil. Paha kananku masih kaku akibat perjalanan semalam, dan luka di pipiku terasa tertarik setiap kali udara dingin menyentuhnya.
Aku tidak mengeluh.
Napas Marlow hampir tidak terdengar. Napasku sendiri mulai terlalu jelas di telinga.
Kami berjalan cukup lama sebelum melihat cahaya redup di antara pepohonan.
Bukan lentera. Api kecil.
Sebuah pondok pemburu berdiri dekat jalan setapak, dibangun dari batang kayu yang disusun kasar dan ditutup tanah liat di sela-selanya. Atapnya rendah, terbuat dari papan dan ranting kering yang ditindih batu. Asap tipis keluar dari lubang di bagian atas, membawa bau daging, lemak panas, dan kulit mentah.
Marlow berhenti sebelum kami mencapai tempat itu.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan jubah gelap, lalu menyerahkannya kepadaku.
“Pakai.”
Aku mengenakannya tanpa bertanya. Kainnya tebal dan agak kaku. Bau asap pondok Marlow masih melekat kuat di sana. Setelah pengaitnya terpasang di leher, ia memberi isyarat kecil ke kepalaku.
Aku menarik tudung sampai menutupi rambut dan sebagian wajah.
Bayangan kain jatuh di atas mataku. Pandanganku menyempit, tetapi luka di pipi dan warna rambutku tidak lagi mudah terlihat.
Marlow melanjutkan langkah.
Aku mengikutinya.
Dua orang berada di depan pondok.
Seorang pria berdiri dekat meja rendah yang dibuat dari papan kasar. Seekor rusa tergantung terbalik di sampingnya, kedua kaki belakangnya diikat pada palang kayu. Perut binatang itu sudah terbuka. Darah menetes perlahan ke tanah dan membentuk genangan hitam di antara daun.
Pria itu sedang memotong daging dari bagian rusuk. Pisau panjang di tangannya bergerak dengan bunyi lembut, memisahkan daging dari tulang. Lengan bajunya digulung sampai siku. Darah mengering di jari-jari dan bagian bawah lengannya.
Beberapa langkah darinya, seorang perempuan duduk di bangku pendek. Kulit binatang dibentangkan di atas kayu miring di depannya. Dengan alat lengkung, ia mengikis bagian dalamnya sedikit demi sedikit. Bunyi gesekan kasar terdengar setiap kali logam melewati permukaan kulit.
Aku tidak bisa memastikan kulit apa itu.
Warnanya cokelat muda dengan bulu yang masih menempel di bagian tepi. Mungkin rusa lain. Mungkin binatang yang lebih kecil. Bau kulit basah bercampur garam dan lemak menusuk hidungku ketika kami mendekat.
Pria itu mengangkat wajah.
Matanya berpindah dari Marlow kepadaku, berhenti sebentar pada tudungku, lalu kembali kepada Marlow.
Ia mengangkat satu tangan.
Marlow membalas dengan gerakan singkat tanpa berhenti.
Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan.
Pemburu itu pun kembali menunduk pada daging rusa, seolah dua orang dengan tas perjalanan dan senjata di pinggang bukan sesuatu yang pantas ditahan.
Aku menjaga wajahku tetap menghadap jalan.
Mungkin mereka mengenal Marlow. Mungkin mereka hanya terbiasa melihatnya keluar masuk hutan. Bisa jadi keduanya berasal dari Gisa dan tahu lebih banyak tentang penghuni pulau kecil itu daripada para penjaga di gerbang.
Aku tidak bertanya.
Suara pisau memotong daging terus terdengar sampai pondok itu tertutup pepohonan di belakang kami.
Hutan menjadi lebih sepi setelahnya.
Jalan setapak sedikit menanjak, lalu turun lagi melewati aliran air dangkal. Marlow menyeberang melalui beberapa batu yang menonjol di atas permukaan. Aku mengikuti, tetapi sol sepatuku sempat tergelincir pada lumut. Tubuhku condong ke samping sebelum berhasil menahan keseimbangan.
Air membasahi ujung sepatu kiriku.
Dinginnya langsung menembus kulit.
Marlow menoleh sebentar, memastikan aku masih berdiri, lalu kembali berjalan.
Aku menggigit bagian dalam pipiku dan terus mengikutinya.
Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara lonceng kecil.
Bukan lonceng kuil-kuil Jessiah. Lebih ringan. Bunyi logam yang bergoyang mengikuti langkah. Sekelompok peziarah muncul dari tikungan jalan, berjalan dari arah berlawanan.
Ada tujuh atau delapan orang. Sebagian mengenakan jubah abu-abu panjang yang kotor di bagian bawah. Tongkat kayu berada di tangan mereka. Tas kain kecil tergantung di punggung. Beberapa memakai rangkaian manik-manik pucat di leher, sementara seorang perempuan tua membawa lonceng kecil yang terikat di ujung tongkatnya.
Wajah mereka tampak lelah dan terbakar matahari. Sepatu mereka dilapisi debu putih yang berbeda dari tanah basah hutan Gisa. Salah seorang pria berjalan pincang, tetapi tidak ada yang berhenti untuk menunggunya. Mereka bergerak lambat dalam barisan longgar, dengan mata yang sebagian besar tertunduk.
Ketika berpapasan, Marlow bergeser ke sisi jalan. Aku mengikuti.
Salah satu peziarah mengangkat dua jari ke dahinya. Marlow membalas sekilas. Aku hanya menundukkan kepala, membiarkan tudung menutup wajahku lebih dalam.
Mereka lewat dengan bau keringat lama, wol basah, minyak doa, dan debu perjalanan. Lonceng kecil di tongkat perempuan tua itu berbunyi beberapa kali, kemudian perlahan menjauh di belakang kami.
Marlow menunggu sampai suara mereka hampir hilang.
“Mereka baru kembali dari kuil besar Jessiah di High Mountain,” katanya sambil terus berjalan.
Aku melihat ke belakang sebentar. Bayangan para peziarah sudah terpotong pepohonan.
“Mata Asterra.”
“Ya.”
Aku pernah melihat gambar High Mountain di buku-buku istana. Gunung itu menjulang jauh di atas pegunungan lain di benua kami, puncaknya tertutup salju hampir sepanjang tahun. Dari dataran rendah, bentuknya tampak seperti dinding pucat yang menopang langit.
Orang-orang menyebutnya Mata Asterra karena dari puncaknya, menurut para pendaki dan pendeta yang pernah sampai di sana, dataran benua bisa terlihat membentang ke segala arah. Hutan, kota, sungai, dan pegunungan lain menjadi garis-garis kecil di bawah awan.
Sulit membayangkan tempat setinggi itu dari dalam hutan yang lembap dan gelap.
“Apa kita akan ke sana?” tanyaku.
“Tidak.”
Marlow mengangkat satu cabang rendah agar tidak mengenai wajahnya, lalu melepaskannya setelah aku lewat.
“Kalau istana sudah jatuh ke tangan Dann, kuil besar juga berada di bawah kekuasaannya.”
Aku mengangguk.
Kuil Jessiah bukan sekadar tempat peziarah datang untuk berdoa. Para pendeta di sana menerima utusan kerajaan, menyimpan surat-surat lama, dan menjaga jalur yang menghubungkan wilayah tinggi dengan kota-kota di bawahnya. Jika Dann menguasai Izengard, namanya akan sampai ke sana lebih cepat daripada kami.
Kami terus berjalan.
Langit semakin gelap. Warna oranye sudah hilang sepenuhnya, digantikan biru tua yang tersangkut di antara ranting. Udara turun beberapa derajat. Napasku mulai membentuk uap tipis setiap kali keluar dari mulut.
Marlow berjalan lebih dekat ke sisi kanan jalan ketika tanah mulai menurun.
“Kita akan melewati Mitenn Highroad,” katanya. “Lalu memotong lembah menuju Dark Mountain.”
Aku menatap jalan di depan. Jalur sempit itu menghilang di antara pepohonan, berkelok ke dalam gelap. Tidak ada penunjuk arah. Tidak ada batu jarak. Hanya bekas tapak orang-orang yang telah lewat sebelum kami.
Aku menarik tudung lebih rapat di sekitar wajah.
Bahu kiriku mulai kebas oleh tali tas. Kakiku yang basah terasa dingin setiap kali menginjak tanah. Bau rusa mati dari pondok pemburu masih seperti tertinggal di belakang hidung, bercampur bau lumut dan asap yang melekat pada jubahku.
Marlow terus berjalan.
Aku mengikuti beberapa langkah di belakangnya, menjaga kakiku tetap berada di jalan setapak.
Malam turun sebelum kami keluar dari hutan.
Cahaya terakhir menghilang dari sela pepohonan, menyisakan jalan setapak sebagai garis pucat di antara semak. Udara menjadi lebih dingin. Kabut tipis mulai naik dari tanah, membawa bau lumut, daun basah, dan akar yang membusuk.
Langkahku semakin berat.
Tali tas menggesek bahu sampai terasa panas. Sepatu kiriku masih lembap sejak melewati aliran air tadi, membuat jari-jari kakiku dingin dan kaku. Aku terus mengikuti Marlow, meski jarak di antara kami perlahan melebar.
Ia akhirnya berhenti di dekat pohon tua yang tumbuh beberapa langkah dari jalan.
Tempat itu sedikit lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya. Semak-semak rapat menutupinya dari jalur, sementara akar besar yang mencuat memberi cukup ruang untuk berlindung dari angin.
“Kita berhenti di sini,” katanya.
Aku menurunkan tas tanpa membantah. Begitu beban terlepas dari bahu, rasa nyeri yang tadi tertahan langsung menyebar sampai ke leher. Aku duduk sebentar di atas akar, menunduk sambil mengatur napas.
Marlow sudah membuka tasnya.
Ia mengeluarkan gulungan kain tebal, tali rami, beberapa pasak pendek, dan dua batang kayu yang diikat menjadi satu. Setelah memilih dua pohon yang jaraknya cukup dekat, ia membentangkan tali di antara keduanya, lalu membuka kain itu menjadi atap rendah.
Aku bangkit dan membantunya menarik salah satu sisinya.
Tali rami terasa kasar di telapak tanganku. Marlow mengikat simpul dengan cepat, lalu menancapkan pasak ke tanah menggunakan batu datar. Kain tebal itu segera membentuk tempat berlindung kecil, rendah, cukup untuk melindungi kami dari angin dan embun malam.
Ia menghamparkan kain minyak di bawahnya.
Tenda itu sempit dan sederhana, tapi tanah di dalamnya lebih kering daripada sekeliling. Tas kami diletakkan dekat bagian depan, mudah dijangkau jika kami harus pergi terburu-buru.
Setelah itu Marlow mengumpulkan ranting kering dari bawah pohon.
Aku ikut mencari kayu kecil di sekitar tempat kami berhenti. Sebagian ranting masih lembap, tetapi di bawah akar dan batu ada beberapa yang cukup kering untuk dibakar. Bau tanah menempel di jari-jariku. Daun mati berdesis setiap kali kakiku menginjaknya.
Marlow menyusun batu rendah membentuk lingkaran kecil, jauh dari kain tenda. Serabut kering diletakkan di tengah, disusul ranting-ranting paling tipis. Batu api bergesekan beberapa kali sampai percikan jatuh ke serabut.
Asap tipis muncul lebih dulu.
Lalu api kecil tumbuh, merah dan goyah, menjilat kayu dengan bunyi patah yang pelan.
Panasnya belum cukup kuat, tetapi cahaya itu membuat hutan di sekitar kami terasa sedikit lebih dekat. Batang-batang pohon muncul dari gelap. Uap tipis naik dari tanah. Bayangan Marlow bergerak di antara api dan tenda.
Ia mengisi panci kecil dengan air dari kantong, lalu menggantungnya di atas api. Daging kering dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Beberapa biji-bijian dituangkan dari kantong kain, disusul bawang kering dan sejumput garam.
Aku duduk dekat api, mengulurkan kedua tangan ke arah panas.
Jari-jariku perlahan kembali terasa. Awalnya perih, kemudian hangat. Bau daging dan bawang mulai keluar dari panci saat air mendidih, bercampur dengan asap kayu dan udara hutan yang basah.
Marlow mengaduknya menggunakan sendok kayu.
Tidak ada yang bicara.
Kami hanya mendengarkan air mendidih, kayu yang retak di dalam api, dan suara malam yang mulai hidup di antara pepohonan.