NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Rahasia di Balik Lukisan

"Apakah Anda sadar bahwa ada dua puluh lima buah bantal bersulam huruf L di ruangan ini, Nona?"

​Suara Odette terdengar sangat jengkel dari sudut kamar tidur yang luas itu. Pelayan wanita tersebut berdiri sambil memeluk tumpukan bantal beludru berwarna merah menyala. Di setiap bantal itu, terjahit inisial huruf L berukuran sangat besar menggunakan benang emas yang mengilap.

​Geneviève yang sedang duduk bersila di atas karpet Persia menoleh perlahan. Ia baru saja selesai memilah sekotak penuh pita rambut yang harganya mungkin bisa memberi makan satu desa selama sebulan. Kepalanya seketika berdenyut melihat tumpukan bantal di pelukan pelayannya.

​"Dua puluh lima," ulang Geneviève dengan nada datar. Pandangannya kosong menatap bantal-bantal mencolok tersebut. "Apakah wanita bodoh yang mendiami tubuhku sebelumnya berencana membuka penginapan khusus untuk pria bernama Lucien?"

​Odette mendengus keras. Ia melemparkan bantal-bantal itu ke atas ranjang tanpa rasa hormat sedikit pun. "Penginapan mungkin masih bisa menghasilkan uang sewa, Nona. Tetapi bantal-bantal ini murni menyayat dompet keluarga Anda. Satu bantal menggunakan benang emas asli dari benua timur. Saya ingat tagihannya. Harganya lima ratus koin emas per buah."

​Geneviève memejamkan mata rapat-rapat. Otak rasionalnya otomatis melakukan perhitungan matematis dalam hitungan detik. Dua puluh lima bantal dikalikan lima ratus koin emas. Dua belas ribu lima ratus koin emas menguap begitu saja hanya untuk bantal tidur yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Lucien.

​Rasa frustrasi yang luar biasa hebat kembali mencekik dada Geneviève.

​Di kehidupan sebelumnya, ia harus bekerja lembur sampai pagi, menahan kantuk dan makian atasan hanya demi mendapatkan bonus tahunan yang tidak seberapa. Ia selalu makan siang dengan roti lapis murahan agar bisa membayar sewa apartemen. Dan sekarang, ia harus menerima kenyataan bahwa tubuh yang ia tempati ini telah membuang dua belas ribu lima ratus koin emas untuk bantal huruf L?

​Ini bukan lagi sekadar kebodohan. Ini adalah kejahatan finansial yang patut dihukum mati.

​"Lepas semua benang emasnya, Odette," perintah Geneviève dengan rahang mengeras. Matanya terbuka, memancarkan kilat penuh perhitungan. "Gunting dengan hati-hati. Kita akan meleburnya kembali menjadi koin murni. Lalu jual kain beludru merahnya ke penjahit baju pertunjukan teater di pinggiran kota. Mereka sangat menyukai warna norak seperti ini."

​Odette tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya. Matanya berbinar penuh semangat. "Perintah yang sangat cerdas, Nona. Hamba akan memastikan tidak ada satu senti pun benang emas yang terbuang sia-sia. Hamba akan menguliti bantal-bantal ini nanti malam."

​Geneviève mengangguk pelan. Ia menggeser posisinya, beralih pada sebuah peti kayu kecil berukir mawar di dekat kakinya. Peti itu tampak tidak terkunci. Geneviève membuka penutupnya dan seketika ia merasa ingin melemparkan peti itu ke luar jendela.

​"Odette," panggil Geneviève dengan suara bergetar menahan mual.

​"Ada barang menjijikkan apa lagi yang Anda temukan, Nona?" Odette berjalan mendekat sambil menepuk-nepuk debu dari celemek putihnya.

​Geneviève menggunakan ujung pena bulu untuk mengangkat sebuah benda dari dalam peti. Sebuah gumpalan rambut berwarna hitam legam yang diikat dengan pita sutra merah muda. Benda itu terlihat sangat aneh dan tidak pada tempatnya.

​"Tolong katakan padaku bahwa ini bukan potongan rambut manusia," ucap Geneviève dengan wajah pucat. Jika pemilik asli tubuh ini sampai menggunting rambut Lucien diam-diam, Geneviève bersumpah akan melompat ke sungai ibu kota sekarang juga.

​Odette memicingkan matanya, mengamati gumpalan rambut itu dengan saksama. Alis pelayan itu terangkat sebelah dengan ekspresi luar biasa meremehkan.

​"Oh, syukurlah itu bukan rambut manusia, Nona," jawab Odette dengan nada santai. "Itu adalah potongan rambut dari ekor kuda jantan milik Duke Vaudémont. Kuda hitam besar yang sering beliau tunggangi saat parade militer. Anda menyuap penjaga istal dengan seribu koin perak musim semi lalu hanya untuk mendapatkan seikat bulu ekor kuda tersebut."

​Keheningan yang sangat pekat turun menyelimuti kamar tidur itu.

​Geneviève menjatuhkan rambut ekor kuda itu kembali ke dalam peti seolah benda itu baru saja dilumuri racun mematikan. Ia menatap Odette dengan pandangan kosong.

​"Bulu ekor kuda," gumam Geneviève perlahan, suaranya nyaris seperti rintihan. "Aku menyimpan bulu ekor kuda pria itu di dalam peti mawar? Odette, ini bukan lagi masalah cinta bertepuk sebelah tangan. Ini adalah tanda-tanda penyakit kejiwaan tingkat akhir yang tidak bisa disembuhkan."

​"Hamba sangat setuju dengan diagnosis Anda, Nona," sahut Odette sambil mengangguk mantap. "Hamba bahkan sudah berniat memanggil pendeta pengusir iblis dari kuil utara tahun lalu. Sayangnya, dana tabungan darurat kita habis Anda gunakan untuk membeli patung angsa kristal yang Anda kirimkan ke markas ksatria. Patung yang keesokan harinya dilemparkan kembali oleh Ksatria Gaspard ke halaman depan kita."

​Mendengar nama Gaspard disebut, Geneviève kembali teringat pada kejadian di ruang tamu siang tadi. Ksatria bayangan berwajah kaku yang menggendong Lucien layaknya karung beras.

​"Bakar peti ini," perintah Geneviève mutlak. Ia menendang peti kecil itu menjauh dari kakinya. "Bakar peti ini beserta isinya di perapian dapur. Jangan biarkan benda itu berada di kamarku satu detik lebih lama."

​Odette langsung membungkuk dan mengangkat peti tersebut dengan sigap. "Tentu saja, Nona. Hamba akan menggunakannya untuk memanggang daging rusa malam ini. Kita tidak boleh membuang-buang kayu bakar."

​Geneviève menghela napas panjang, berusaha menetralkan denyut nadinya yang memburu. Setelah Lucien dan Putri Mahkota Camille pergi siang tadi, Geneviève segera memerintahkan Odette untuk memulai operasi pembersihan massal. Ia ingin menghapus seluruh jejak obsesi gila di kamar ini. Segala hal yang berwarna merah mencolok, segala benda yang berinisial nama Lucien, dan segala pernak-pernik tidak berguna harus disingkirkan sebelum malam tiba.

​Ia butuh ruang yang bersih untuk mulai merancang perhiasan bagi Le C'eow, bisnis perhiasan yang akan menjadi tambang emas barunya.

​"Apakah Anda sudah memikirkan desain pertama untuk toko perhiasan Anda nanti, Nona?" tanya Odette seraya meletakkan peti ekor kuda itu di dekat pintu. "Pasar ibu kota saat ini didominasi oleh perhiasan berlian dengan potongan besar yang menyilaukan mata. Persis seperti cincin safir yang tadi Anda lemparkan ke wajah Duke yang malang itu."

​"Aku tidak melemparnya ke wajahnya, Odette. Aku meletakkannya dengan sangat beradab di atas meja," ralat Geneviève dengan tenang. Ia berdiri dan menepuk ujung gaun birunya.

​"Desain pasaran ibu kota sangat membosankan," lanjut Geneviève. Ia berjalan mendekati meja kerjanya yang kini bersih dari surat-surat cinta konyol. "Semua wanita bangsawan berlomba-lomba memakai batu permata sebesar mungkin untuk memamerkan kekayaan suami mereka. Itu adalah selera yang sangat primitif."

​Odette melipat tangannya di dada. "Lalu, apa rencana Anda untuk menembus pasar primitif ini?"

​Geneviève tersenyum tipis. Sebuah senyum penuh percaya diri yang sangat jarang dilihat oleh pelayan itu selama tiga tahun terakhir. "Kita akan menjual eksklusivitas, Odette. Aku akan merancang perhiasan dengan detail yang sangat rumit, menonjolkan estetika dongeng klasik. Kita tidak akan menggunakan rubi merah atau zamrud hijau yang sudah pasaran. Kita akan fokus pada batu permata berwarna biru lembut dan ungu muda yang misterius. Batu-batu itu lebih murah di pasar mentah, tetapi jika kita merangkainya dengan emas putih dan ukiran rumit, harganya bisa melambung tinggi."

​Odette bersiul pelan, nada kekaguman yang tidak ditutupi terdengar jelas. "Bangsawan ibu kota memang sangat mudah ditipu jika berurusan dengan tren eksklusif. Jika Anda membatasi jumlah perhiasan yang dijual setiap bulannya, mereka akan saling menginjak leher satu sama lain hanya demi mendapatkan satu kalung ungu buatan Anda. Kita bisa menaikkan harga jual hingga tiga ratus persen dari modal awal."

​"Tepat sekali. Kau memang asisten manajer yang sangat bisa diandalkan, Odette," puji Geneviève. Logika pelayan jelata ini selalu sejalan dengan visi bisnisnya.

​"Hamba hanya menyukai aroma koin emas, Nona," balas Odette seraya membungkukkan badan dengan gaya mengejek.

​Pandangan Geneviève kemudian beralih menyapu seluruh penjuru kamarnya yang kini mulai terlihat lebih luas dan lega. Sebagian besar barang norak telah dipindahkan. Namun, matanya tertuju pada sebuah benda besar yang masih menggantung kokoh di dinding sebelah timur kamarnya.

​Sebuah lukisan berbingkai kayu ek tebal berlapis prada emas yang sangat besar. Lukisan itu menampilkan pemandangan padang rumput musim gugur dengan sekelompok ksatria yang sedang berburu rubah.

​"Kenapa lukisan mengerikan itu masih ada di sana, Odette?" tanya Geneviève sambil menunjuk dinding.

​Odette menoleh dan menghela napas. "Itu adalah lukisan pemandangan Hutan Vaudémont, Nona. Anda membelinya dengan harga tiga ribu koin emas karena Tuan Duke Lucien pernah memenangkan turnamen berburu di hutan tersebut dua tahun lalu. Anda bilang lukisan itu membuat Anda merasa dekat dengan semangat juangnya."

​Geneviève memijat pelipisnya lagi. Ia merasa cadangan kesabarannya benar-benar akan habis hari ini. "Turunkan lukisan itu sekarang juga, Odette. Jual kanvasnya ke pedagang barang bekas, dan bawa bingkai emasnya ke pandai besi. Bingkai sebesar itu pasti mengandung banyak emas murni yang bisa kita lebur."

​Odette mengerang pelan. "Gelar Anda memang bangsawan tertinggi di negeri ini, Nona, tetapi Anda benar-benar mempekerjakan saya seperti kuli angkut di pelabuhan selatan. Lukisan itu lebih berat dari tubuh saya sendiri."

​"Aku akan menaikkan gajimu bulan ini jika bingkai itu berhasil diturunkan sebelum makan malam," tawar Geneviève santai.

​Mendengar kata kenaikan gaji, gerakan lamban Odette seketika berubah menjadi gesit. Pelayan itu mengambil kemoceng bulu angsa panjang dari meja rias dan melangkah penuh semangat menuju dinding timur.

​"Hamba akan menurunkannya bahkan sebelum Anda selesai berkedip, Nona," ucap Odette mantap.

​Odette berdiri berjinjit, berusaha meraih bagian atas bingkai lukisan yang berdebu. Karena bingkai itu terlalu tinggi, ia harus menempelkan sebelah tangannya ke panel kayu dinding yang diukir indah di samping lukisan untuk mencari keseimbangan. Jari-jari pelayan itu meraba ukiran sulur daun di panel tersebut sambil terus membersihkan debu di atas bingkai.

​Geneviève mengawasi dari dekat meja kerjanya, bersiap memanggil pelayan pria jika Odette memang tidak sanggup mengangkatnya.

​"Pinggiran bingkai ini sangat tebal, Nona. Hamba harus meraba bagian belakangnya untuk menemukan kawat penggantungnya," keluh Odette. Jari-jarinya menekan sebuah ukiran bunga lili kecil di panel kayu dinding dengan cukup keras untuk menopang berat badannya.

​Tiba-tiba saja, terdengar suara bunyi klik yang sangat tajam.

​Bunyi itu tidak berasal dari kawat lukisan yang putus, melainkan dari dalam struktur dinding itu sendiri. Suara pergesekan gigi roda besi dan rantai kecil yang berputar beresonansi pelan di balik lapisan kayu.

​Odette membeku di tempatnya. Kemoceng di tangannya berhenti bergerak. "Nona, tolong katakan pada hamba bahwa rumah ini tidak memiliki sistem jebakan mematikan untuk pelayan yang terlalu banyak bicara."

​Sebelum Geneviève sempat menjawab, panel kayu dinding yang terletak tepat di balik lukisan besar itu tiba-tiba bergeser mundur. Bingkai lukisan tersebut berayun perlahan ke arah depan layaknya sebuah pintu rahasia yang baru saja terbuka.

​Debu halus yang telah menumpuk selama bertahun-tahun seketika berjatuhan, membuat Odette terbatuk hebat dan mundur beberapa langkah. Tangan pelayan itu dengan sangat refleks merogoh saku dalam celemeknya. Dalam kedipan mata, sebuah kunci inggris besi berukuran sedang sudah berada di genggaman tangannya, siap memukul kepala siapa pun atau apa pun yang berani keluar dari dinding tersebut.

​Geneviève terkesiap. Ia melangkah maju mendekati dinding yang terbuka itu.

​Di balik lukisan pemandangan berburu tersebut, terdapat sebuah celah gelap berukuran kotak kecil. Sebuah kompartemen rahasia yang tertanam langsung di dalam susunan bata dinding kediaman Montmirail.

​"Apakah ini tempat Anda menyembunyikan mayat musisi jalanan yang suaranya sumbang itu, Nona?" bisik Odette waspada. Kunci inggris di tangannya terangkat setinggi dada.

​"Jangan konyol," jawab Geneviève pelan. Matanya terpaku pada kegelapan di dalam dinding.

​Ia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang kompartemen rahasia ini. Memori tubuh aslinya hanya berisi tentang wajah Lucien, gaun-gaun norak, dan cara-cara memalukan untuk mencari perhatian. Fakta bahwa wanita obsesif itu memiliki sebuah ruang rahasia tersembunyi di kamarnya sendiri benar-benar di luar perhitungan logis Geneviève.

​Rasa penasaran mengalahkan kewaspadaannya. Geneviève melangkah mendekati celah tersebut. Bau apek dari kayu tua dan debu langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan kecil itu sangat gelap. Namun, ketika matanya mulai terbiasa dengan minimnya cahaya, ia melihat sebuah benda diletakkan tepat di tengah kompartemen berlantai beludru hitam tersebut.

​Sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua.

​Ukiran pada kotak itu sangat rumit dan detail, membentuk pola bunga merambat yang anehnya tidak terasa asing bagi Geneviève. Namun, bukan ukiran itu yang membuat napas Geneviève tertahan.

​Dari sela-sela penutup kotak kayu tersebut, memancar sebuah pendaran cahaya yang sangat halus. Cahaya itu tidak terang menyilaukan seperti sihir istana, melainkan berdenyut pelan bagaikan detak jantung. Warna cahaya itu sangat spesifik dan indah. Gradasi warna biru yang sangat lembut, berpadu dengan semburat warna ungu muda yang memikat.

​Persis seperti palet warna estetika dongeng yang baru saja ia bicarakan dengan Odette beberapa menit yang lalu.

​Aura yang dipancarkan kotak itu terasa sangat hangat, damai, dan penuh dengan rasa aman yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Berbeda jauh dengan hawa dingin menusuk yang ia rasakan saat kulitnya bersentuhan dengan Putri Mahkota Camille siang tadi.

​"Apa itu, Nona? Apakah itu batu sihir peledak?" Suara Odette terdengar tegang dari belakang punggungnya.

​Geneviève tidak menjawab. Tanpa bisa dikendalikan oleh otaknya yang rasional, tangan kanannya terulur dengan sendirinya ke dalam kompartemen gelap tersebut. Ujung jari telunjuknya menyentuh permukaan kotak kayu yang berukir rumit.

​Detik itu juga, sebuah sengatan energi magis yang sangat lembut menjalar dari ujung jarinya, mengalir cepat menyusuri lengannya, dan menembus langsung ke dalam pusat dadanya. Rasa hangat yang luar biasa nyaman itu seketika memicu rasa sakit yang teramat perih di pelipis kirinya, seolah ada sebuah pintu terkunci di dalam otaknya yang baru saja didobrak paksa dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!