NovelToon NovelToon
MY MAFIA HUSBAND

MY MAFIA HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:140.3k
Nilai: 5
Nama Author: zarin.violetta

Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.

Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.

Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.

Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.

Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.

Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.

Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.

Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?

Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.

Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang

Jam di dinding menunjukkan pukul 02.47 ketika Ophelia Martin terbangun. Bukan karena suara, melainkan karena kesunyian yang justru membangunkannya.

Rumah di kawasan elite itu biasanya sunyi di jam begini, tapi malam ini ada suara seperti sesuatu yang pecah dan rapuh, seperti kaca yang retak perlahan.

Ophelia menggeser selimutnya, kakinya menyentuh lantai kayu yang terasa dingin. Dari lorong gelap menuju kamar tidur utama, terdengar isak tangis.

Tapi Ophelia mengenal suara itu. Itu adalah tangisan ibunya, Miranda. Tangisan yang pernah dia dengar enam tahun lalu ketika ayah kandungnya meninggal dalam kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dia berjalan tanpa suara, membiarkan jari-jarinya menelusuri dinding koridor. Pintu kamar ibunya terbuka sedikit, dan dari celah itu Ophelia melihat pemandangan yang akan terukir dalam ingatannya selamanya.

Miranda terlihat duduk di tepi ranjang, tubuhnya membungkuk, tanda lelah dan pasrah.

Di depannya, Giorgio—suami yang baru dinikahinya dua tahun lalu—berdiri dengan kemeja bermerek yang kini kusut dan wajah pucat seperti mayat.

Sesuatu tergeletak di lantai. Ophelia menyipitkan matanya. Amplop coklat.

"Hutang ini sudah jatuh tempo, Miranda," suara Giorgio serak dan berbisik. "Mereka tidak main-main. Mereka akan membunuhku. Mereka akan membunuh kita semua."

Tangis ibunya semakin keras, tetapi masih tertahan, seolah takut didengar oleh penghuni lainnya.

"Aku tidak tahu kau berutang pada mafia, Giorgio! Kau bilang itu investasi properti! Kau bilang kita akan kaya! Aku sudah menyerahkan semua harta mendiang suamiku dan bahkan uang perwalian Ophelia padamu!”

DEG!

Dada Ophelia berdebar keras mendengar itu. Dia menekan dadanya sendiri, tubuhnya masih terpaku di balik pintu.

"Kita akan kaya, Sayanh. Tapi ... aku meminjam dari orang yang salah. Bunganya ... bunganya membunuhku. Aku sudah menjual semua saham, rumah ini pun sudah kugadaikan, tapi masih kurang. Mereka menginginkan segalanya."

Ophelia mundur selangkah. Rumah ini, satu-satunya yang tersisa dari ayah kandungnya—sudah digadai?

Semua kenangan, semua rasa aman yang dia bangun kembali setelah kepergian ayahnya, kini terancam hancur dalam sekejap.

Dia ingin masuk, ingin menampar Giorgio, ingin memarahi ibunya karena percaya pada pria itu. Tapi kakinya terpaku di lantai, tak bisa bergerak. Di sudut gelap koridor, dia hanyalah penonton dalam tragedi hidup yang tak dia pilih.

"Apa yang mereka inginkan sekarang?" tanya Miranda, suaranya bergetar.

Giorgio menunduk. "Dua miliar. Jatuh tempo tiga hari lagi. Kalau tidak ..."

"Kita tidak punya dua miliar, Giorgio! Kau sudah menghabiskan semuanya!"

Tiba-tiba, ponsel Giorgio berdering. Wajah Giorgio langsung pucat pasi. Dia menjawab dengan tangan gemetar.

"Ya ... Ya, Tuan Salvatore ... Tidak, aku belum ... Tiga hari lagi, kan? Ya, aku janji ... Tapi keluargaku ..."

Tapi kemudian Giorgio jatuh berlutut. Matanya berkaca-kaca, bukan karena emosi, melainkan karena ketakutan.

"Tidak! Jangan sentuh mereka! Aku akan bayar! Aku janji!"

Telepon ditutup. Giorgio menatap kosong ke dinding.

"Mereka akan datang besok," bisiknya. "Mereka ingin memastikan kita tidak kabur."

Miranda jatuh di samping suaminya. Keduanya tampak pasrah sekaligus takut.

Ophelia tidak tahan lagi. Dia berlari kembali ke kamarnya, membanting pintu, lalu menempelkan punggungnya pada kayu yang dingin. Napasnya tersengal. Air mata mengalir tanpa suara.

Dia tidak menangis karena Giorgio. Dia menangis karena rumah ini bisa saja hilang dan dia akan terusir dari sana.

*

*

Ophelia tidak tidur malam itu. Matanya terjaga sampai sinar pertama matahari masuk ke kamarnya.

Dia mendengar langkah kaki di luar kamarnya.

Dia memutuskan untuk bertingkah normal. Tidak ada yang tahu bahwa dia mendengar percakapan semalam.

Di meja makan, Miranda duduk dengan senyum yang terlalu dipaksakan. Giorgio sudah berpakaian rapi, jasnya yang mahal menyembunyikan keringat dingin yang terus mengalir di pelipisnya.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Miranda. "Kau tidur nyenyak?"

Ophelia mengangguk. "Ya. Aku lelah semalam.”

Dia mengambil roti panggang, tapi perutnya menolak. Di bawah meja, tangannya gemetar.

“Di mana Chloe?” tanya Giorgio pada Ophelia. Chloe adalah kakak tirinya yang merupakan anak kandung Giorgio.

“Aku tidak tahu.”

“Pasti dia tak pulang lagi semalam.” Giorgio tampak geram.

*

"Kuliahmu mulai jam delapan, kan?" tanya Giorgio, mengalihkan pembicaraan, berusaha terdengar santai. "Aku akan antar."

"Tidak usah. Aku bisa naik taksi," jawab Ophelia cepat. "Kau pasti sibuk dengan pekerjaan."

Giorgio menatapnya tajam. Giorgio tahu bahwa Ophelia tak pernah menyukainya, mungkin karena merasa harta ayahnya dinikmati olehnya, mantan karyawan ayah Ophelia.

"Giorgio," potong Miranda, "Biarkan dia berangkat sendiri.”

Mereka melanjutkan sarapan dalam suasana hening yang tegang. Ophelia melihat setengah amplop coklat di saku jas Giorgio.

Ophelia berpura-pura mengambil buku dari meja ruang tamu, tapi matanya menangkap dua kata di ujung kertas itu. "Chloe Brown."

Nama kakak tirinya itu tercetak di daftar "jaminan". Giorgio telah menjaminkan putrinya sendiri sebagai agunan.

(JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE DI SETIAP BAB YA)

1
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
happy oktavia
break dulu deh Phelia.. biar Bleiz mikir
happy oktavia
terima ksh sdh up d sini kak zarin 😍
happy oktavia
segitunya kamu ya Bleiz
Neli
lanjuuuuttt😭😭😭😭😭😭😭🔥🔥🔥
happy oktavia
Bleiz.. jujurlah dgn perasaanmu
happy oktavia
Bs jd Bleiz spt ini krn dia takut ophelia jd sasaran pamannya lg
Anonim
Wes tinggal bae tinggal yang jauh phel, keras banget bleiz jadi laki
diah nursanti
ya betul pergi saja dr bleiz Ophelia,,, sekarang yg km pentingkan janin yg ada di perutmu saja
Nurminah
lanjutkan
ElHi
salah apa sih Ophel sama kamu Bleizz???? gada kann?? cuma karena kamu gak ingat apa2 bukan brarti kamu anggep.dia musuh dan membencinya!!!! itu namanya dungu!!!
ElHi
good Ophelll...just leave him!!!! biar tau rasa😤😤😤
Nonie Hlm
naaahhhh kaaannn hamiiiilll..... Bleiz ayooo renungkan sblm menyesal luar biasa....emang sihh loe gak salah lupa ingatan tp setidaknya ada rasa kasih sayang dan sedikit perasaan 😕
V_eRiL
malang sekali nasibmu Phelia 😓😓 pergilah yang jauh biar hatimu tenang dan janinmu sehat sampai nanti melahirkan 😊😊
V_eRiL
tega sekali ya kau Bleiz mengatakan hal itu 😤😤 amnesia bukan hanya menghilangkan memorimu tp juga hatimu 😠😠 selama ini Ophelia selalu sabar menghadapimu ketika sakit tak punya arti apa² bagimu ya 😓😓 sungguh keterlaluan sekali kau Bleiz 😠😠
ElHi
najisss kau Bleizz...😤😤😤
V_eRiL
bagus Ophelia, pergi saja yg jauh lagian kalian sudah ttd surat perceraian jadi tak perlu pikirkan Bleiz lagi..sekarang prioritasmu adalah kesehatanmu dan janinmu 😊😊 kalau Bleiz minta maaf dan ngajak balikan jangan mudah luluh ya, biar dia kapok 🤪🤪
Yuyun Irmawati
pergi ophel aku mendukung mu,yang jauh biarin si burung bliez blingsatan nyari kamu/Smug/
MamDeyh
Sabar yaaa Ophe... Pergilah,tata hati dan hidup mu lagi. Suatu hari kalo itu lakik datang ke km. Jgn mudah memaafkannyaa.. 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!