NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Riak di Alam Abadi

Beberapa hari yang lalu...

Sesaat setelah Keluarga Han dimusnahkan.

Alam Abadi.

Sebuah dunia yang berada jauh di atas Alam Fana.

Di tempat ini...

Energi spiritual berubah menjadi kabut abadi.

Gunung-gunung suci menjulang hingga menembus langit.

Istana-istana megah melayang di antara lautan awan.

Para kultivator yang mampu mencapai tempat ini...

Masing-masing adalah penguasa pada zamannya.

Selama puluhan ribu tahun...

Tak pernah ada sesuatu dari Alam Fana yang mampu menarik perhatian mereka.

Namun...

Hari itu berbeda.

BOOOOOOM!!

Penghalang yang memisahkan Alam Fana dan Alam Abadi tiba-tiba beriak hebat.

Bukan karena retak.

Bukan pula karena diserang dari luar.

Melainkan...

Karena menerima satu hantaman yang luar biasa dari arah bawah.

Riaknya menyebar ke seluruh penjuru Alam Abadi.

Burung-burung roh berhamburan.

Kabut abadi bergolak.

Bahkan lautan awan pun ikut bergetar.

Di sebuah istana kuno.

Seorang pria berjubah emas perlahan membuka matanya.

Sudah lebih dari seratus tahun...

Ia tidak pernah menghentikan kultivasinya.

Namun kali ini...

Ia terpaksa membuka mata.

Tatapannya langsung mengarah ke langit.

"Hm?"

Dengan satu langkah...

Tubuhnya telah muncul di luar istana.

Ia menatap penghalang dunia yang masih beriak.

Riak itu...

Perlahan memudar.

Namun...

Bekas sebuah kepalan tangan masih terlihat samar.

Pria itu mengernyit.

"Satu pukulan?"

Ia mengangkat tangan kanannya.

Sebuah cermin kuno berwarna perak muncul di hadapannya.

Permukaannya memantulkan cahaya jutaan bintang.

Ia mencoba melihat asal hantaman itu.

Namun...

Yang tampak hanyalah kekacauan ruang.

Seolah-olah...

Pelaku sengaja menghapus seluruh keberadaannya.

Pria berjubah emas terdiam.

Sudah sangat lama...

Ia tidak pernah menemui kejadian seperti ini.

Tak jauh dari sana...

Seorang wanita berjubah putih yang sedang menyiram bunga roh ikut menghentikan kegiatannya.

Ia mengangkat wajah.

Tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Penghalang dunia..."

"...beriak?"

Di sebuah gunung lain...

Seorang lelaki tua yang sedang memancing di lautan awan juga membuka mata.

Umpan di tangannya masih diam.

Namun...

Perhatiannya sudah tertuju ke langit.

"Hanya satu hantaman..."

"Tetapi..."

"Riaknya mampu mencapai Alam Abadi."

Ia menggeleng pelan.

"Mustahil."

Berita itu tidak membutuhkan siapa pun untuk menyebarkannya.

Karena...

Seluruh ahli yang telah mencapai puncak Alam Abadi...

Merasakan riak yang sama.

Satu demi satu...

Mereka keluar dari tempat pengasingan.

Tatapan mereka...

Mengarah ke langit.

Lalu...

Ke arah dunia yang selama ini mereka anggap kecil.

Alam Fana.

Di Istana Kaisar Abadi.

Pria berjubah emas masih berdiri memandang cermin kunonya.

Beberapa saat kemudian...

Seorang tetua berambut putih muncul di belakangnya.

"Yang Mulia."

"Kau juga merasakannya?"

Tetua itu mengangguk.

"Ya."

"Hamba telah memeriksa seluruh penghalang dunia."

"Tak ada kerusakan."

"Tak ada retakan."

"Hanya..."

Ia berhenti sejenak.

"Hanya bekas satu kepalan tangan."

Ruangan kembali sunyi.

Pria berjubah emas menutup cermin kunonya.

Lalu berkata perlahan.

"Selidiki."

"Cari tahu..."

"...siapa yang meninggalkan bekas itu."

Tetua tersebut sedikit ragu.

"Yang Mulia..."

"Kalau benar berasal dari Alam Fana..."

"Apakah itu mungkin?"

Pria berjubah emas menatap langit.

Beberapa saat kemudian...

Ia menggeleng.

"Aku juga berharap..."

"...itu tidak mungkin."

Namun...

Entah mengapa...

Hatinya mengatakan sebaliknya.

Suasana di aula utama begitu hening.

Pria berjubah emas masih berdiri memandangi penghalang dunia yang kini telah kembali tenang.

Namun...

Semakin tenang permukaannya...

Semakin gelisah hati para penguasa Alam Abadi.

Tak lama kemudian...

Satu demi satu sosok mulai berdatangan.

Masing-masing melangkah menembus ruang.

Langit dan bumi sendiri menyambut kedatangan mereka.

Orang pertama adalah seorang lelaki tua berjanggut putih yang membawa tongkat giok.

Berikutnya...

Seorang wanita cantik berjubah biru dengan mata sedingin es.

Kemudian...

Seorang pria bertubuh kekar membawa kapak raksasa di punggungnya.

Dan terakhir...

Seorang pemuda berjubah hitam dengan aura tajam seperti pedang.

Keempatnya adalah penguasa wilayah yang berdiri sejajar dengan Kaisar Abadi.

Mereka jarang bertemu.

Namun hari ini...

Mereka berkumpul karena satu hal.

Satu pukulan.

Wanita berjubah biru membuka suara lebih dulu.

"Aku mendengar penghalang dunia bergetar."

Pria berjubah emas mengangguk.

"Benar."

Lelaki tua mengusap janggutnya.

"Apakah ada makhluk dari dunia luar menyerang?"

"Tidak."

"Apakah ada retakan?"

"Tidak."

"Apakah ada perang antarpenguasa?"

"Tidak."

Mereka saling berpandangan.

Kalau begitu...

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pria berjubah emas melambaikan tangan.

Bayangan dari Harta Abadi kembali muncul.

Di hadapan semua orang...

Terlihat jelas riak pada penghalang dunia.

Lalu...

Bekas sebuah kepalan tangan.

Walaupun hanya berlangsung sesaat...

Seluruh aula kembali sunyi.

Pria bertubuh kekar langsung mengernyit.

"Itu..."

"...jelas bekas tinju."

Pemuda berjubah hitam mengangguk.

"Dan..."

"Arah datangnya..."

"...dari Alam Fana."

Begitu kalimat itu keluar...

Semua orang langsung menggeleng hampir bersamaan.

"Mustahil."

"Itu tidak masuk akal."

"Alam Fana bahkan tidak memiliki energi spiritual yang cukup."

"Bagaimana mungkin ada orang yang mampu menyentuh penghalang dunia?"

Mereka terus berdebat.

Ada yang menduga harta kuno.

Ada yang menduga ilusi.

Ada pula yang menganggap itu hanya fenomena alam.

Namun...

Tak satu pun penjelasan mampu menjelaskan bekas kepalan tangan tersebut.

Pria bertubuh kekar tiba-tiba berdiri.

"Aku punya usul."

Semua orang memandangnya.

"Kita turun."

"Cari pelakunya."

Belum sempat yang lain menjawab...

Wanita berjubah biru langsung menolak.

"Kau gila?"

"Penghalang dunia tidak mengizinkan kita turun begitu saja."

"Kalau memaksakan diri..."

"...kultivasi kita akan ditekan."

Pria kekar mendengus.

"Lalu kita diam saja?"

Pria berjubah emas akhirnya berbicara.

"Tidak."

"Kita menunggu."

Semua orang menoleh.

"Menunggu?"

Ia mengangguk perlahan.

"Kalau benar ada orang yang mampu melakukan ini..."

"...maka cepat atau lambat..."

"...ia akan kembali membuat keributan."

Mendengar itu...

Semua terdiam.

Entah mengapa...

Kalimat tersebut terasa masuk akal.

Orang yang mampu meninggalkan bekas pada penghalang dunia...

Mustahil bisa hidup tenang selamanya.

Namun...

Tidak ada seorang pun di aula itu yang mengetahui kenyataan sebenarnya.

Orang yang mereka cari...

Bahkan tidak sadar bahwa satu pukulannya telah mengguncang seluruh Alam Abadi.

Saat ini...

Ia mungkin sedang...

Tidur.

Atau...

Memikirkan makanan.

Atau bahkan...

Mengeluh karena harus berjalan terlalu jauh.

Beberapa saat setelah pertemuan selesai.

Para penguasa mulai meninggalkan aula.

Namun...

Sebelum pergi...

Pria bertubuh kekar menoleh kepada Kaisar Abadi.

"Kalau suatu hari nanti..."

"...aku menemukan orang itu."

"Aku akan menantangnya bertarung."

Wanita berjubah biru langsung memutar matanya.

"Kau hanya memikirkan bertarung."

Pria kekar tertawa keras.

"Tentu."

"Orang yang mampu meninggalkan bekas seperti itu..."

"Pasti lawan yang menyenangkan."

Pemuda berjubah hitam berkata datar.

"Kalau kau masih hidup setelah menantangnya."

"..."

Pria kekar terdiam beberapa saat.

Lalu menggaruk kepalanya.

"Itu juga benar."

Semua orang akhirnya tertawa kecil.

Ketegangan di aula pun sedikit berkurang.

Namun...

Tidak ada yang menyadari.

Jauh di dalam hati mereka...

Telah tumbuh rasa penasaran.

Siapa sebenarnya pemilik kepalan tangan itu?

Sementara itu...

Di Alam Fana.

Seorang pemuda bernama Chu Xuan sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah menjadi bahan pembicaraan seluruh penguasa Alam Abadi.

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!