NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:270.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Laporan Rahasia Bik Nini

Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden ruang dapur rumah mewah milik Satria. Suasana di dalam rumah itu terasa jauh lebih hidup sejak kedatangan Ayah Isa dan Bu Reni dari Yogyakarta dua hari lalu. Meskipun Rafka, cucu tunggal mereka, saat ini faktanya masih menetap di rumah keluarga Farrel bersama Keisha, hal itu tidak mengurangi antusiasme para wanita di rumah ini untuk menyusun strategi tak kasat mata.

Sejak pukul enam subuh, kepulan asap beraroma wangi bawang goreng dan tumisan bumbu sudah membubung tinggi dari atas kompor gas. Bu Reni berdiri mendampingi Ingrid yang pagi ini tampak sangat telaten mengenakan celemek kain bermotif bunga-boba. Gadis berparas ayu itu mendengarkan dengan saksama setiap instruksi yang keluar dari mulut budenya, sembari tangannya bergerak luwes mengaduk sayur lodeh dan menggoreng empal daging sapi.

"Nah, Ingrid ... kalau mengulek bumbu untuk empal kesukaan Satria itu jangan terlalu halus, biarkan serat ketumbarnya masih terasa sedikit," petunjuk Bu Reni dengan senyuman keibuannya yang hangat, sesekali membetulkan posisi spatula di tangan keponakannya. "Satria itu tipe laki-laki yang seleranya sangat tradisional kalau soal lidah. Sejak dulu, dia paling tidak suka makanan cepat saji atau hidangan yang terlalu modern."

Ingrid mengangguk patuh dengan wajah berseri-seri. "Iya, Bude. Ingrid catat baik-baik. Masakan ibu di kampung juga mirip-mirip seperti ini, jadi Ingrid tidak terlalu kesulitan."

Bu Reni menepuk-nepuk pundak Ingrid dengan lembut, memberikan pandangan penuh arti yang sarat akan nasihat turun-temurun dari para sesepuh. "Ingrid, kamu harus ingat satu hal penting dalam menghadapi laki-laki kaku seperti Satria. Dari masakan yang enak dan telaten disiapkan, kita bisa membuat hati seorang pria jatuh hati dan bertekuk lutut tanpa perlu banyak bicara. Perempuan yang pintar berdandan itu banyak di Jakarta, tapi perempuan yang bisa menguasai dapur dengan kelembutan dan tahu persis selera suaminya? Itu yang langka. Itulah spek istri idaman sejati yang dicari perwira."

Mendengar petuah dari Bu Reni, binar ambisi di mata indah Ingrid kian menyala pekat. Ia tersenyum teramat manis, membayangkan wajah tegas Satria saat mencicipi hidangannya nanti. "Iya, Bude. Ingrid akan berusaha sebaik mungkin agar bisa menyajikan hidangan terbaik untuk Mas Satria setiap hari."

Selesai memasak, dengan kelakuan layaknya seorang istri yang penuh pengabdian, Ingrid mengambil sebuah kotak bekal makan siang berwarna hijau tentara dari dalam lemari. Ia menyusun nasi putih, sayur lodeh yang kuahnya dipisah, serta dua potong empal daging dengan sangat rapi dan estetik ke dalam kotak tersebut. Bekal itu sengaja ia siapkan khusus untuk Satria bawa ke markas dinas hari ini.

Tidak berhenti sampai di situ, Ingrid menatap Bu Reni dengan pandangan penuh harap. "Bude, setelah mengantarkan bekal ini untuk Mas Satria nanti sebelum dia berangkat latihan, bagaimana kalau siang nanti Ingrid saja yang menawarkan diri untuk menjemput Dek Rafka dari sekolah TK-nya? Hitung-hitung biar Ingrid bisa lebih dekat dan mengakrabkan diri lagi dengan Dek Rafka."

Bu Reni tersenyum puas. "Ide bagus itu, Ingrid. Nanti biar Bude yang bicara pada Satria agar kamu diberi izin."

***

Di sudut ruang cuci yang berbatasan langsung dengan sekat dapur belakang, Bik Nini berdiri sembari memegang sepotong kain lap. Sejak subuh tadi, asisten rumah tangga senior itu diam-diam menyimak seluruh pembicaraan, bisik-bisik strategi, hingga kelakuan rajin Ingrid yang terkesan sangat dipaksakan di depan matanya.

Bik Nini yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah itu dan teramat menyayangi almarhumah Vania serta Keisha, mendadak merasa hatinya tidak tenang. Sifat protektifnya terhadap posisi Keisha langsung bergejolak. Ia merasa ada konspirasi senyap yang sedang dibangun untuk menggeser posisi nona bungsunya.

Begitu Satria berangkat ke markas dengan membawa kotak bekal dari Ingrid—meski ekspresi wajah sang Mayor tetap sedingin es batu saat menerimanya—dan Bu Reni masuk ke dalam kamar atas untuk beristirahat bersama Ayah Isa, Bik Nini segera mengambil tindakan taktis.

Ia berjalan cepat menuju ruang belakang yang sepi, merogoh kantong dasternya, lalu mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gerakan terburu-buru. Jemari tuanya dengan cepat mencari kontak "Ibu Dania" dan langsung menekan tombol panggil.

Drrrt ... Drrrt ...

Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum panggilan tersebut diangkat di seberang sana.

"Halo, Assalamualaikum, Bik Nini? Ada apa sepagi ini telepon?" suara teduh Ibu Dania menyapa hangat dari seberang saluran.

"Waalaikumsalam, Ibu Dania," bisik Bik Nini dengan volume suara yang sangat rendah, sesekali matanya melirik gelisah ke arah koridor dapur, takut jika Ingrid tiba-tiba muncul. "Aduh, Ibu ... maaf sekali kalau saya iseng telepon jam segini. Tapi ini saya beneran sudah tidak tahan ingin memberikan laporan penting dari dalam rumah Den Satria."

Di rumah keluarga Ayah Farrel, Ibu Dania yang sedang melipat pakaian di ruang tengah langsung mengerutkan keningnya heran. Kebetulan, Keisha yang baru saja selesai mandi dan bersiap ke kampus sedang duduk di karpet dekat ibunya sembari memakai kaus kaki. Pendengaran tajam si gadis barbar langsung menangkap nama "Den Satria" disebut dari ponsel ibunya, membuat gerakannya mendadak terhenti dan telinganya langsung dipasang mode radar tingkat tinggi.

"Laporan apa, Bik? Kok suaranya berbisik-bisik begitu seperti agen rahasia?" tanya Ibu Dania heran.

"Ini loh, Bu ... soal tamu baru yang dibawa sama Ibu Reni dari kampung, namanya Mbak Ingrid itu," lapor Bik Nini berapi-api namun tetap dengan suara tertahan. "Aduh, Bu Dania, kelakuannya di sini itu sudah persis seperti nyonya rumah baru! Sejak subuh tadi dapur Nini sudah dikuasai total. Ibu Reni sengaja mengajarkan Mbak Ingrid masak masakan kesukaan Den Satria, katanya biar Den Satria bisa jatuh hati lewat makanan!"

Mendengar kalimat 'biar Den Satria bisa jatuh hati lewat makanan', Keisha yang duduk di lantai langsung menegakkan punggungnya dengan kaku. Dadanya mendadak berdesir panas, dan ada rasa jengkel yang luar biasa besar yang tiba-tiba melesat naik ke ubun-ubunnya tanpa izin.

"Terus, tadi saya juga dengar sendiri, Mbak Ingrid itu manis-manis manja menawarkan diri mau menjemput Dek Rafka siang nanti dari sekolah!" lanjut Bik Nini menggebu-gebu. "Saya beneran tidak rela, Bu, kalau posisi Den Satria dan Dek Rafka diisi sama orang baru yang bermuka dua begitu. Mbak Keisha harus bertindak ini, Bu! Jangan sampai lusa nanti posisinya malah direbut!"

Bersambung...

1
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
Wiek Soen
🤣🤣🤣🤣🤣 calon pelakor langsung pucat ... mommy kira2 Ingrid kerja apa ya kok sdh bawa mobil
Sugiharti Rusli
semoga Keisha dan bu Reni semakin harmonis yah, apalagi saat sekarang Satria sedang tugas jauh,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Ingrid masih berharap sang bude tetap mengharapkan dirinya buat jadi menantunya, padahal sudah menyadari kekeliruannya pada Keisha sekarang,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya bu Reni juga menyadari kalo si Ingrid masih saja terus berharap bisa jadi istri Satria yang jelas" sudah sangat mencintai Keisha,,,
Sugiharti Rusli
usia Keisha boleh muda dan dianggap bau kencur, tapi perhatian Keisha terhadap putra sambung dan mertuanya ga kaleng" yah,,,
Sugiharti Rusli
waduh mom ga konsen yah, bude apa tante tuh🤭🤭✌
Mommy Ghina: bude 😭😭
total 1 replies
Wiek Soen
betul juga ke-i ,dinas di perbatasan itu berat ,mental fisik harus kuat semua
Sugiharti Rusli
semoga saja Satria tidak mengalami masalah saat bertugas yah, apalagi buat cari sinyal saja sangat susah medannya itu
Sugiharti Rusli
yah begitulah bocil kalo tidak dikondisikan sedari awal, dia mah polos saja bilang ke ayahnya apa yang dia lihat tadi kan😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!