NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: KOPI YANG TIDAK PERNAH DIPESAN

Kirana duduk sendirian di sudut kafetaria kampus yang biasanya ramai, memilih meja paling pojok dekat jendela karena ingin sedikit menyendiri setelah kejadian di kelas kemarin. Dia membuka laptopnya, mencoba fokus mengerjakan revisi perhitungan finansial yang diminta Alden, meski konsentrasinya masih belum sepenuhnya pulih.

"Kir, kok sendirian? Mana Tesa?" sapa Bagas yang kebetulan lewat, membawa nampan berisi makan siang.

"Tesa lagi ada kelas tambahan, aku duluan aja ke sini," jawab Kirana, tersenyum kecil meski jelas terlihat sedang tidak dalam mood terbaiknya.

"Kamu masih kepikiran soal kemarin ya?" tanya Bagas, duduk di kursi seberang tanpa diminta.

Kirana terdiam sejenak, tidak yakin harus menjawab jujur atau tidak. "Dikit sih. Kritiknya emang bener, cuma caranya aja yang kerasa beda dari biasanya."

"Iya, aku juga ngerasa gitu pas liat dari bangku belakang," Bagas mengangguk setuju. "Kayaknya Pak Alden lagi mood jelek hari itu, semua orang kena semprot lebih keras dari biasanya, bukan cuma kamu."

Penjelasan itu sedikit melegakan hati Kirana, meski dia sendiri tahu alasan sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar mood jelek biasa.

"Mungkin aja," gumamnya, mencoba terdengar setuju.

Bagas melanjutkan makan siangnya sambil bercerita hal hal ringan lain, dan Kirana mendengarkan sekadarnya, pikirannya masih setengah melayang ke perhitungan finansial yang belum juga selesai dia kerjakan.

Sore harinya, setelah Bagas pamit duluan karena ada janji lain, Kirana masih bertahan di kafetaria, berusaha menyelesaikan revisinya sebelum deadline pengumpulan besok pagi. Kafetaria mulai sepi, hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang sama sama sibuk dengan tugas masing masing.

Dia sedang serius menghitung proyeksi return of investment ketika seseorang meletakkan segelas kopi hangat di sudut mejanya, tepat di sebelah laptopnya.

Kirana mendongak, terkejut melihat Alden berdiri di sana, membawa gelas kopi lain di tangannya sendiri.

"Boleh saya duduk?" tanya Alden, menunjuk kursi kosong di depan Kirana.

"Eh, boleh, Pak. Tapi... ini kopi buat saya?" Kirana menunjuk gelas yang baru diletakkan, sedikit bingung.

"Iya," jawab Alden singkat, duduk di kursi yang ditunjuknya sendiri. "Kelihatan kamu udah lama di sini, mungkin butuh sesuatu buat tetap fokus."

Kirana menatap gelas kopi itu, lalu menatap Alden dengan campuran perasaan yang sulit dia jelaskan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak pesen kopi ini."

"Saya tau," Alden menjawab, sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir membentuk senyum. "Makanya saya yang pesenin."

Momen kecil itu terasa lebih hangat dari yang seharusnya, mengingat situasi canggung yang masih menggantung sejak percakapan mereka beberapa hari lalu. Kirana menyeruput kopinya sedikit, mencoba menyembunyikan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.

"Gimana revisi perhitungan finansialnya?" tanya Alden, melirik layar laptop Kirana yang masih terbuka dengan berbagai angka dan rumus.

"Masih ribet, Pak. Saya masih bingung nentuin asumsi rate of return yang realistis," jawab Kirana jujur, menggeser laptopnya sedikit agar Alden bisa melihat lebih jelas.

Alden mencondongkan badan, memperhatikan angka angka yang tertera di layar. "Coba pake benchmark dari perusahaan sejenis yang udah go public. Data mereka biasanya lebih transparan dan bisa jadi acuan yang lebih akurat."

"Oh, iya, saya belum kepikiran itu," Kirana mencatat cepat, mencoba menerapkan saran itu langsung ke perhitungannya.

Mereka melanjutkan diskusi singkat tentang perhitungan finansial, suasana di antara mereka terasa lebih santai dari yang Kirana kira, mengingat ketegangan yang masih tersisa dari kejadian kemarin di kelas.

"Pak," Kirana akhirnya memberanikan diri bertanya, "soal kemarin di kelas, itu emang bener bagian dari rencana jaga jarak yang Bapak bilang?"

Alden terdiam sejenak, menyeruput kopinya sendiri sebelum menjawab. "Iya. Tapi setelah saya pikir pikir lagi, caranya emang kurang tepat."

"Terus kenapa sekarang malah beliin saya kopi?" Kirana bertanya lagi, sedikit bingung dengan kontradiksi yang terjadi.

"Karena saya sadar," Alden menjawab, nadanya lebih pelan, "menjaga jarak nggak berarti saya harus jadi kejam. Ada cara lain yang lebih... manusiawi, tanpa harus ngorbanin perasaan kamu secara nggak adil."

Jawaban itu membuat dada Kirana terasa hangat, meski dia masih bingung dengan batasan yang sebenarnya sedang coba dijaga Alden. "Jadi, gimana caranya sekarang, Pak?"

"Saya juga masih nyari cara yang tepat," Alden mengaku jujur, menatap kopinya sendiri seolah mencari jawaban di sana. "Tapi setidaknya, saya nggak mau lagi jadi keras berlebihan cuma buat nutupin sesuatu yang sebenarnya nggak perlu ditutupin sekasar itu."

Kirana tersenyum kecil, merasa sedikit lega mendengar pengakuan itu. "Makasih, Pak. Buat kopinya, dan buat kejujurannya."

"Sama sama," Alden membalas senyum itu, meski senyumnya tetap terkontrol, tidak terlalu lebar seperti biasanya dia jaga di tempat umum.

Mereka melanjutkan obrolan ringan sambil sesekali kembali ke topik perhitungan finansial, suasana di antara mereka terasa lebih nyaman dari beberapa hari terakhir, meski keduanya sama sama sadar mereka masih berada di area abu abu yang belum sepenuhnya jelas batasannya.

"Pak," Kirana memulai lagi setelah beberapa saat hening, "boleh saya tanya, kenapa Bapak pilih kafetaria ini buat nyari saya? Kan bisa aja tunggu saya di kelas besok."

Alden terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan jawaban jujur yang ingin dia berikan. "Saya liat kamu keluar kelas kemarin dengan wajah kecewa. Saya nggak bisa berhenti mikirin itu sepanjang hari."

Pengakuan itu membuat jantung Kirana berdebar kencang, campuran antara terkejut dan hangat di saat bersamaan. "Bapak beneran mikirin itu?"

"Lebih dari yang seharusnya," Alden mengakui, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Dan itu yang bikin saya khawatir."

Kirana menatapnya lama, mencoba mencerna semua kejujuran yang baru saja dia dengar. "Khawatir kenapa, Pak?"

"Karena semakin saya coba jaga jarak, semakin susah buat saya beneran ngejaga jarak itu," jawab Alden jujur, matanya menatap Kirana dengan intensitas yang jarang dia tunjukkan.

Momen itu terasa begitu personal, begitu jujur, sampai membuat suasana di sekitar mereka seolah menghilang, hanya menyisakan mereka berdua dan kejujuran yang perlahan lahan mulai terungkap.

"Saya juga ngerasa hal yang sama, Pak," bisik Kirana, suaranya bergetar sedikit mengakui hal itu.

Mereka terdiam sejenak, saling menatap tanpa kata kata, membiarkan kejujuran itu mengambang di udara tanpa perlu diucapkan lebih jauh. Tapi sebelum salah satu dari mereka bisa melanjutkan percakapan, ponsel Alden bergetar di atas meja, memecah momen intim yang baru saja terbentuk.

Alden melirik layar ponselnya, raut wajahnya berubah sedikit tegang melihat nama yang tertera di sana. "Maaf, saya harus jawab ini."

Dia bangkit dari kursinya, berjalan menjauh beberapa langkah untuk menerima panggilan itu. Kirana memperhatikan dari kejauhan, melihat ekspresi Alden yang berubah semakin serius seiring percakapan berlangsung, meski dia tidak bisa mendengar isi pembicaraan itu dengan jelas.

Ketika Alden kembali ke meja, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya, tangannya sedikit gemetar saat kembali duduk.

"Pak, Bapak baik baik aja?" tanya Kirana, khawatir melihat perubahan ekspresi yang begitu drastis.

"Saya... harus pergi sekarang," jawab Alden, suaranya terdengar sedikit terguncang, jauh berbeda dari nada tenangnya yang biasa.

"Ada apa, Pak?" Kirana bertanya lagi, semakin khawatir dengan perubahan sikap Alden yang tiba tiba.

Alden menatap Kirana sejenak, ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti ketakutan lama yang kembali muncul ke permukaan.

"Sarah," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. "Dia... telepon saya."

Kabar itu membuat Kirana terdiam, merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya. Nama yang selama ini hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu, kini tiba tiba menjadi nyata kembali, membawa ketidakpastian baru ke dalam hubungan rumit yang baru saja mulai mereka bangun dengan susah payah.

"Pak," Kirana memanggil pelan, tapi Alden sudah bangkit dari kursinya, merapikan tasnya dengan tergesa gesa.

"Maaf, Kirana, saya harus pergi," katanya, suaranya masih terdengar bergetar. "Kita lanjutin lain kali."

Dia berjalan cepat meninggalkan kafetaria, meninggalkan Kirana yang masih terpaku di kursinya, menatap gelas kopi yang tadi diberikan Alden dengan perasaan campur aduk antara kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam.

"Sarah," gumam Kirana pelan, mengulang nama itu di bibirnya sendiri, menyadari bahwa bayang bayang masa lalu Alden ternyata belum sepenuhnya berakhir seperti yang dia kira sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!