NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekacauan Publik dan Taktik Sang Ratu

Hanya dalam kurun waktu empat puluh delapan jam, ibu kota berubah menjadi lautan kekacauan.

Berita hilangnya Hakim Ketua Aluna Larasati setelah insiden berdarah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat meledak bak bom waktu. Wajah Aluna menghiasi layar kaca setiap stasiun televisi nasional, halaman depan surat kabar, hingga menjadi *trending topic* tak tertandingi di seluruh platform media sosial. Demonstrasi besar-besaran meletus di depan gedung kepolisian, menuntut Inspektur Arya Larasati dan jajarannya segera menemukan sang "Palu Es" yang dianggap sebagai martir keadilan.

Situasi yang sudah panas itu mendadak tersiram bensin. Dua pria hidung belang yang dihajar oleh Aluna dan Arjuna di bar apartemen lantai 15, rupanya sempat merekam video pengakuan amatir sesaat sebelum anak buah Arjuna membuang mereka. Video yang terlanjur bocor ke dunia maya itu menyatakan bahwa Hakim Aluna masih hidup, berada di sebuah apartemen mewah, dan terlihat "bekerja sama" dengan buronan nomor satu, Baskara.

Publik gempar. Namun, sebelum kepolisian sempat menginterogasi mereka lebih lanjut, Sang Raja Mafia—ayah Arjuna—bertindak lebih dulu dengan cara yang paling brutal. Keesokan paginya, jasad kedua pria itu ditemukan mengambang di sungai utara dengan luka tembak di kepala.

Pembunuhan saksi mata ini memicu reaksi berantai yang fatal. Kepolisian memperketat penjagaan di seluruh penjuru kota. Pelabuhan ditutup sementara, dan patroli militer diturunkan. Dampaknya, roda bisnis ilegal sindikat Baskara lumpuh total. Penyelundupan senjata dan pencucian uang triliunan rupiah terhenti, membuat para investor gelap dan pejabat korup yang menyokong sindikat itu mulai panik.

**Di Ruang Kerja Sang Raja**

Arjuna berdiri kaku di tengah perpustakaan megah milik ayahnya. Suasana ruangan itu begitu pekat oleh aura membunuh. Sang Raja menatap putranya dengan kilatan amarah yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Karena wanita itu, seluruh kerajaan kita lumpuh!" bentak Sang Raja, menggebrak meja kayu ek solidnya. "Para jenderal dan menteri di kantong kita mulai ketakutan karena media terus menggali informasi. Aku sudah memperingatkanmu, Arjuna!"

"Aku bisa mengendalikan situasinya, Ayah," jawab Arjuna dingin, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Aku hanya butuh waktu untuk membuka jalur logistik baru."

"Waktumu sudah habis!" potong Sang Raja dengan suara menggelegar. Pria tua itu menunjuk tepat ke wajah Arjuna. "Aku memberimu dua pilihan malam ini. Kembalikan hakim itu ke kepolisian dalam keadaan tak bernyawa agar tidak ada kesaksian apa pun, atau bunuh dia dengan tanganmu sendiri dan bawa kepalanya ke hadapanku. Jika tidak, aku sendiri yang akan menghancurkan kalian berdua!"

Arjuna tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Tanpa memberikan penghormatan, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Instingnya berteriak bahwa ayahnya tidak pernah memberikan "pilihan". Pria tua itu pasti sudah bergerak lebih dulu.

Arjuna memacu mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan ibu kota yang diguyur hujan. Ia tiba di apartemennya hanya dalam waktu lima belas menit.

**"Aluna!"** teriak Arjuna saat ia mendobrak pintu *penthouse*-nya.

Ruangan itu kosong. Sepi dan gelap.

Namun, bukan sekadar kosong—kamar itu berantakan. Kaca meja ruang tamu pecah berserakan, dan ada bercak darah segar di atas karpet putih. Di sudut ruangan, tergeletak tiga tubuh pembunuh bayaran elit milik ayahnya dalam keadaan tak sadarkan diri, terikat kuat dengan kabel lampu.

Arjuna memucat. Ayahnya benar-benar telah mengirim pasukan pembunuh bayaran untuk menghabisi Aluna saat ia sedang disidang di markas. Namun, yang membuat napas Arjuna tertahan adalah kenyataan bahwa Aluna tidak ada di sana.

Panik mulai merayapi akal sehat Arjuna. Ia merogoh ponselnya, mencoba melacak, namun ia ingat Aluna sudah membuang semua alat komunikasinya. Di tengah keputusasaan itu, mata kelam Arjuna menangkap sebuah buku tebal undang-undang hukum pidana yang sengaja diletakkan terbuka di atas meja dapur. Halaman itu ditandai dengan sebuah lipatan kecil pada pasal tentang *kejahatan siber dan penyiaran publik*.

Sebuah senyum tipis, perpaduan antara lega dan takjub, terukir di wajah Arjuna. *Gadisnya terlalu cerdik untuk dibunuh semudah itu.*

Arjuna langsung tahu ke mana Aluna pergi.

**Taktik Sang Ratu**

Di sebuah menara pemancar radio terbengkalai di pinggiran kota—tempat yang dulu sering digunakan Arjuna remaja untuk bersembunyi dari ayahnya—Aluna berdiri menatap deretan layar monitor yang menyala terang. Jaket kulit hitamnya sedikit robek di bagian lengan, dan ada goresan luka kecil di pipinya, bukti dari pertarungannya melawan para pembunuh bayaran elit di apartemen tadi.

Suara langkah kaki yang berat dan tergesa terdengar dari arah tangga besi. Aluna tidak berbalik, ia sudah hafal derap langkah itu.

Arjuna muncul dari balik bayangan, napasnya tersengal. Pria itu langsung menerjang maju, merengkuh tubuh Aluna ke dalam pelukan yang begitu erat hingga nyaris meremukkan tulang rusuk wanita itu. Arjuna membenamkan wajahnya di leher Aluna, menghirup dalam-dalam aroma wanita itu seolah memastikan bahwa Aluna benar-benar nyata dan masih hidup.

"Kau membuatku gila, Na. Kau membuatku nyaris mati jantungan," bisik Arjuna parau, mencium puncak kepala Aluna berkali-kali.

Aluna membalas pelukan itu tak kalah erat, menepuk punggung Arjuna menenangkan. "Aku putri Inspektur Arya, Juna. Kau pikir aku akan membiarkan pembunuh bayaran ayahmu menyentuhku setelah aku berjanji akan pergi bersamamu?"

Arjuna melonggarkan pelukannya, menatap wajah Aluna dengan kekaguman yang membara. "Bagaimana kau bisa melumpuhkan tiga anjing pembunuh ayahku sekaligus?"

"Mereka meremehkanku karena mengira aku hanya hakim yang berlindung di balik meja," jawab Aluna santai, menyeka sedikit darah dari pipinya. "Dan aku menggunakan jebakan gas air mata sisa dari tas taktis milikmu. Sekarang, kita punya masalah yang lebih besar. Seluruh negara sedang mencari kita."

Arjuna menatap deretan monitor di hadapan Aluna. Layar itu menampilkan kode-kode peretasan, siaran berita nasional, dan ribuan dokumen digital.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Na?" tanya Arjuna bingung.

Aluna menoleh, menatap Arjuna dengan senyum yang memancarkan dominasi mutlak. Sang Hakim telah membuang palu kayunya, kini ia bermain di papan catur para mafia.

"Aku sedang menyelamatkan nyawamu, nyawaku, dan membersihkan jalan agar kita bisa benar-benar keluar dari negeri ini," ucap Aluna tenang.

Gadis itu mengetuk layar monitor. "Kekacauan ini terjadi karena kepolisian dan media mendesak sindikatmu. Ayahku menggunakan seluruh kekuatannya karena ia mengira kau menculikku. Tapi... bagaimana jika publik percaya bahwa Baskara bukanlah penculik, melainkan pahlawan?"

Arjuna mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Aku telah meretas akses *database* utama Pengadilan Negeri dan jaringan media nasional," jelas Aluna, matanya berkilat cerdas. "Dalam sepuluh menit, aku akan menyiarkan sebuah pesan anonim ke seluruh stasiun televisi dan platform berita. Aku akan memutarbalikkan narasinya."

Aluna menekan beberapa tombol pada *keyboard*. "Aku akan merilis dokumen rahasia yang berisi daftar politisi dan pesaing mafia ayahmu yang korup—semua musuh Baskara. Aku akan membingkai ceritanya bahwa insiden di Pengadilan Negeri kemarin adalah upaya Baskara untuk menyelamatkanku dari pembunuhan berencana yang didalangi oleh para politisi busuk itu."

Napas Arjuna tercekat. "Kau... kau akan membuat media percaya bahwa sindikatku melindungimu?"

"Tepat," Aluna mengangguk. "Media mencintai kisah konspirasi. Publik mencintai *vigilante* yang melawan pemerintah korup. Dengan menyiarkan dokumen ini, fokus kepolisian dan amarah publik akan bergeser sepenuhnya kepada para pejabat yang namanya ada di daftar ini. Kepolisian akan sibuk menyelidiki skandal terbesar abad ini, tekanan pada pelabuhan akan mengendur, bisnis ayahmu akan kembali bernapas, dan..."

Aluna melangkah maju, merapikan kerah kemeja Arjuna dengan lembut. "...ayahmu tidak akan punya alasan lagi untuk membunuhku, karena aku baru saja menyelamatkan kerajaannya dari kejatuhan. Dan ayahku... dia akan sedikit lebih tenang mengetahui bahwa aku tidak disekap oleh monster, melainkan disembunyikan agar selamat."

Arjuna menatap wanita di hadapannya dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Aluna Larasati tidak hanya cantik dan mematikan dalam pertarungan fisik, namun kecerdasannya mampu mengendalikan sebuah negara dari balik bayangan.

Tanpa aba-aba, Arjuna kembali menarik pinggang Aluna, mencium bibir wanita itu dengan gairah dan rasa syukur yang meluap-luap.

"Kau benar-benar ratuku," geram Arjuna di sela-sela ciuman mereka. "Dunia ini tidak akan pernah siap menghadapi wanita sepertimu."

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!