NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##20

Kamar utama Penthouse kembali diselimuti oleh kehangatan yang begitu menenangkan. Pendar matahari pagi Los Angeles membiaskan cahaya keemasan di atas sprei abu-abu yang sedikit berantakan. Aroma croissant cokelat hangat dan jus stroberi segar memenuhi udara, bersanding sempurna dengan atmosfer asmara yang menyelimuti sepasang pengantin baru tersebut.

Braxton duduk bersandar di kepala tempat tidur, menopang tubuhnya yang bertelanjang dada. Di dalam pelukan hangatnya, Lux menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Braxton. Jemari lentik Lux bergerak santai, mengusap garis otot perut suaminya yang kokoh, sementara tangan kekar Braxton melingkar protektif di pinggang mulus istrinya.

Di tengah keheningan yang sarat akan rasa nyaman itu, Braxton teringat akan pesan singkat yang tak sengaja dibacanya di layar ponsel Lux tadi malam—pesan dari seseorang bernama Rachel yang mengeluhkan tentang pria pengecut dan tidak bertanggung jawab.

Braxton menundukkan kepalanya, mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Lux yang harum wangi vanila.

"Lux..." panggil Braxton pelan, suaranya terdengar berat dan seksi di dekat telinga istrinya.

"Hmm?" sahut Lux tanpa menghentikan usapan lembut jemarinya di dada Braxton.

"Temanmu yang bernama Rachel..." Braxton jeda sejenak, menaikkan sebelah alisnya seraya membelai rambut panjang Lux. "...apa dia sedang hamil?"

Gerakan tangan Lux mendadak terhenti. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan suaminya dari bawah dengan kening berkerut bingung.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Lux penasaran.

Braxton menyunggingkan senyum tipisnya yang amat menawan. "Tadi malam, saat kau sedang bersiap di kamar mandi, ponselmu berdering. Aku tidak sengaja melihat pesan masuk dari nama Rachel. Isinya... dia bilang pria itu lari dari tanggung jawab dan tidak mencintainya. Dari bahasanya, aku menyimpulkan mungkin dia sedang hamil dan kekasihnya melarikan diri."

Lux menghembuskan napas panjang, tatapannya mendadak berubah prihatin saat mengingat nasib sahabatnya. Ia merapatkan tubuhnya kembali pada dada Braxton, menyembunyikan wajahnya di sana.

"Ceritanya memang sangat rumit, Braxton," bisik Lux prihatin. "Rachel bilang pria itu sangat jahat. Pria itu menyuruhnya menggugurkan kandungan, mencampakkannya demi wanita lain, bahkan membuat Rachel nekat melakukan percobaan bunuh diri hingga koma."

Braxton tertawa kecil tanpa prasangka sedikit pun. Sebagai seorang pria yang bergerak di dunia analisis bisnis yang rasional, cerita dramatis seperti itu terasa sangat klise.

"Pria itu benar-benar bajingan pengecut," komentar Braxton santai, mengusap paha mulus Lux. Namun kemudian, raut wajah tampannya melunak. Braxton menunduk, mengunci tatapan mata abu-abu Lux dengan binar kehangatan yang luar biasa pekat. "Tapi... bicara soal kehamilan..."

"Apa?" tanya Lux polos.

Braxton merendahkan kepalanya, menempelkan dahinya di dahi Lux seraya menyunggingkan senyum bahagianya yang paling tulus.

"Aku berharap kau juga segera hamil, Lux," bisik Braxton dengan nada suara yang begitu lembut dan sarat akan harapan mendalam. "Aku ingin melihat perut ini membesar karena mengandung anak kita. Buah cinta dari pernikahan kita."

Deg!

Kata-kata tulus dari Braxton seketika membuat dada Lux bergemuruh hebat. Rona merah membara kembali merebak manis di kedua pipinya. Bayangan tentang hadirnya seorang anak—perpaduan antara dirinya dan pria yang teramat dicintainya ini—membuat bibir Lux terangkat membentuk senyuman haru.

"Kau... kau sangat tidak sabaran, Tuan Desmon," bisik Lux malu-malu, menepuk pelan dada Braxton. "Malam pertama kita baru saja selesai beberapa jam yang lalu."

"Memangnya kenapa?" goda Braxton dengan nada tengilnya, mengecup bibir merona Lux berulang kali. "Pria Desmon tidak pernah main-main dalam urusan memberikan keturunan. Jadi bersiaplah, Nyonya Desmon."

Lux terkekeh merdu, membalas ciuman suaminya sebelum akhirnya teringat kembali pada pertanyaan awal Braxton. Lux mengubah posisi duduknya, menatap Braxton secara penuh.

"Ngomong-ngomong... Rachel itu siapa?" tanya Braxton ingin tahu, kembali mengusap punggung mulus istrinya. "Apa dia teman satu kelasmu di Fakultas Seni?"

Lux menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan. Dia bukan dari kampus kita. Aku pertama kali bertemu dengannya dua tahun lalu di sebuah pameran seni independen di pusat kota. Kami tidak sengaja mengagumi lukisan yang sama, lalu mengobrol di kedai kopi. Di hari pertama kami bertemu, kami merasa sangat cocok satu sama lain."

Lux tersenyum hangat mengingat awal mula persahabatannya dengan Rachel—atau yang sebenarnya adalah Amelia Giger.

"Sejak hari itu, kami menjadi sahabat yang sangat dekat," lanjut Lux jujur, tatapannya dipenuhi kehangatan. "Aku sangat menyayanginya, Braxton. Dua tahun terakhir ini... di saat aku merasa sendirian, ketakutan akan trauma masa laluku, dan belum mengenalmu dengan baik, hanya Rachel tempatku berkeluh kesah. Dia selalu ada untuk mendengarkan cerita-ceritaku."

Mendengar betapa berartinya sosok Rachel dalam hidup istrinya, rasa simpati dan hormat tumbuh di dalam dada Braxton. Pria narsis yang biasanya dingin pada orang asing itu mendadak merasa berutang budi pada wanita bernama Rachel tersebut karena telah menemani dan menjaga Lux di masa-masa sulitnya.

"Begitu, ya?" ujar Braxton tulus, menyapu rambut halus dari wajah Lux. Pria itu menatap istrinya dengan pandangan protektif dan penuh kasih. "Suatu hari nanti... aku ingin bertemu dengannya, Sayang."

Lux menaikkan alisnya. "Kau ingin bertemu dengan Rachel?"

"Ya," Pungkas Braxton tegas dengan senyuman hangatnya. "Aku ingin bertemu dengannya secara langsung dan mengucapkan terima kasih secara pribadi. Terima kasih karena dia telah menjadi sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk istriku tercinta selama ini."

Lux tersenyum sangat manis mendengarkan penuturan suaminya. Hatinya merasa begitu hangat melihat betapa Braxton sangat menghargai orang-orang yang ada di sekitarnya.

"Baiklah," angguk Lux antusias. "Nanti kalau keadaannya sudah membaik, aku akan mengaturnya. Dia pasti senang bertemu dengan suami tampanku ini."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Satu jam kemudian, saat Braxton sedang mandi di kamar mandi utama, Lux yang sudah merasa lebih segar meraih ponselnya di atas nakas. Perasaan bersalah karena telah mengucapkan kata-kata kasar dan ekstrem saat telepon tadi pagi membuat Lux memutuskan untuk menghubungi Rachel kembali.

Lux menekan nomor kontak Rachel.

Hanya dalam dua kali dering, panggilan langsung terhubung.

"Rachel?" panggil Lux lembut, suaranya dipenuhi rasa penyesalan. "Maafkan aku soal ucapanku tadi pagi... Aku terlalu emosi mendengar cerita tentang kekasihmu itu. Aku tidak bermaksud menyuruhmu melakukan hal nekat."

Di seberang sana—di dalam kamar VIP rumah sakit—Amelia Giger sedang berdiri di depan cermin besar. Jemari tangannya mengusap bibirnya yang tersenyum dingin.

"Tidak apa-apa, Samantha..." balas Amelia dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lembut, manis, dan menyedihkan. "Aku tahu kau mengatakan itu karena kau menyayangiku dan peduli padaku."

Lux menghembuskan napas lega. "Syukurlah... Ngomong-ngomong, Rachel, suamiku baru saja membicarakanmu."

Gerakan tangan Amelia di depan cermin mendadak terhenti. Mata bahagianya berkilat penuh bahaya. "Suamimu?"

"Ehm, iya aku sudah menikah," ujar Lux dengan nada bahagia yang meluap-luap, tidak sanggup menyembunyikan rona bahagianya sebagai seorang istri. "Dia bilang dia sangat ingin bertemu denganmu jika keadaanmu sudah pulih. Dia ingin mengucapkan terima kasih padamu secara langsung karena kau sudah menjadi sahabat yang baik untukku selama dua tahun ini."

Di seberang telepon, rahang Amelia mengeras hebat. Giginya saling bertaut menahan gejolak kegilaan dan rasa cemburu yang membakar dadanya sampai ke tulang.

Suaminya ingin bertemu denganku? batin Amelia menjerit histeris. "Mengucapkan terima kasih padaku atau kalian mengejek ku?!

Namun, dengan kemampuan bersandiwara yang sangat rapi, Amelia meredam gejolak amarahnya. Ia menyunggingkan senyum racunnya dan membalas dengan nada suara yang amat manis dan menyentuh.

"Benarkah?" bisik Amelia berpura-pura terharu. "Suamimu terdengar sangat baik dan penyayang, Sam..."

"Dia memang sangat baik, Rachel," sahut Lux tulus, membayangkan wajah Braxton. "Dia pria terbaik dalam hidupku."

"Aku sangat bahagia mendengar kebahagiaanmu, Sam..." racun Amelia meluncur mulus dari bibirnya, diiringi doa manis yang bertolak belakang dengan isi otaknya yang busuk. "Aku selalu mendoakan agar pernikahan kalian berdua selalu langgeng, penuh cinta, dan segera dikaruniai anak-anak yang tampan dan cantik... persis seperti kalian berdua."

Lux tersenyum sangat lebar, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru. "Terima kasih banyak, Rachel! Doamu sangat berarti bagiku. Aku juga berdoa agar kau segera menemukan kebahagiaanmu sendiri."

"Pasti, Sam... Kebahagiaanku akan segera datang," balas Amelia dengan nada misterius yang penuh makna ganda. "Sampai jumpa lagi, Samantha."

"Sampai jumpa, Rachel."

Lux mematikan sambungan telepon dengan perasaan lega dan bahagia yang membuncah. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas tempat tidur, lalu menyandarkan tubuhnya seraya menantikan Braxton selesai mandi.

Alur kehidupan rumah tangganya terasa begitu sempurna dan dipenuhi oleh cinta yang berlimpah.

Namun, kedamaian indah itu hanya bertahan selama tiga menit.

Dering nyaring dari ponsel yang terletak di meja nakas sebelah kiri memecah keheningan kamar. Lux menoleh. Itu bukan ponsel miliknya, melainkan ponsel pribadi milik Braxton.

Lux tersenyum tipis. Bagi Lux dan Braxton yang telah meleburkan seluruh jiwa dan komitmen mereka, tidak ada lagi batasan privasi yang sempit di antara mereka sebagai sepasang suami istri. Tanpa keraguan sedikit pun, Lux mengulurkan tangannya dan menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.

"Halo?" sapa Lux santai.

Di seberang telepon, seorang pria dengan nada suara formal dan terburu-buru langsung berbicara cepat, bahkan sebelum mendengarkan siapa yang menjawab panggilan itu.

"Tuan Braxton! Ini laporan pengamatan terbaru!" seru suara pria di seberang sana dengan napas terengah. "Setelah keluar dan melarikan diri dari Rumah Sakit Saint Jude lima menit yang lalu, wanita itu langsung mengarahkan mobilnya menuju Penthouse lama Anda, Tuan! Kecepatannya sangat tinggi!"

Lux seketika mematung di atas tempat tidur. Keningnya berkerut rapat mendengarkan kalimat panik yang meluncur mulus dari ponsel suaminya.

"Tunggu..." sahut Lux polos dan bingung. "Siapa yang Anda maksud? Braxton sedang berada di kamar mandi."

Suara pria di seberang telepon seketika terhenti total. Keheningan yang canggung dan menegangkan mendadak menyelimuti sambungan tersebut.

"O-Oh... Maafkan saya, Nyonya," gagap pria itu dengan nada suara yang mendadak berubah sangat gugup dan panik saat menyadari kesalahannya. "Saya pikir... saya tadi sedang berbicara langsung dengan Tuan Braxton..."

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!