NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara
Popularitas:323.5k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina

     Nayra mulai sadar, ia mengigau. Ardana yang sejak tadi duduk di samping ranjang, sontak menoleh dan bermaksud mengangkat tubuh Nayra seperti yang dititahkan Bu Karina tadi.

     "Mas Arda...sampai kapan Mas Arda bisa mencintai Nay? Nay, merasa hampa. Nay sudah bertahan selama tiga tahun dan berbakti, Mas." Igauan itu menyentak ulu hati Ardana, terlebih saat mengigau air mata Nayra jatuh deras membasahi pipi.

     Ardana meraih tisu dan menyeka air mata itu. Matanya tidak lepas menatap wajah Nayra yang sangat sedih. Wajah yang selama ini hanya dia tatap ketika ia menyalurkan hasratnya.

     "Hhhhhh." Ardana menarik napas dalam, ia tidak bisa mengatakan kalau ia tidak mencintai atau mencintai. Ia seakan ada dalam persimpangan hati yang galau. Tidak bisa memutuskan hatinya akan menetap di mana.

     "Aku tidak tahu apakah aku ini mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa katakan kalau aku tidak mencintaimu," gumamnya.

     "Mas...Nay tahu Mas Arda masih mencinta mantan Mas itu...."

     Ternyata Nayra masih melanjutkan igauannya. Membuat Ardana risau kalau sang mama keburu masuk ke kamar dalam keadaan Nayra masih mengigau. Ardana was-was kalau Nayra sampai menyebut nama Tiana.

     "Nay, bangun, ya. Aku bantu kamu untuk bangun. Tadi Mama buatkan kamu minuman teh jahe, sekarang sudah hangat. Kamu harus meminumnya," bujuk Ardana sembari mendekat dan meraih pinggang Nayra untuk membantunya bangkit.

     Krietttt.

     Suara pintu kamar terdengar diiringi langkah kaki. Bu Karina masuk sambil membawa nasi tim yang wangi di atas nampan.

     Ardana sangat terkejut, jantungnya seketika berdegup sangat kencang. Ia takut Nayra masih ngigau disaat sang mama sudah di dalam kamar.

     "Arda, istrimu sudah sadar, kan? Coba bantu bangunkan dan atur posisi duduknya supaya enak. Jangan lupa punggungnya ganjal dengan bantal," titah Bu Karina seraya meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping ranjang.

     "Iya, Ma. Ini sedang Arda bantu untuk duduk," sahut Arda. Hatinya berdoa semoga Nayra tidak lagi mengigau.

     "Mas...apakah Mas Arda masih mencintai mantan Mas itu....?

     Jleb, dada Ardana seketika sesak dan panas. Oksigen di dalam dadanya seakan hilang. Ia tersentak dengan tubuh nyaris mendongak ke belakang, karena terkejut.

     Bu Karina yang baru selesai meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang, sontak berdiri mematung, dengan mata fokus ke arah Nayra.

     "Apa dia mengigau? Nay...kamu mengigau?" Akhirnya Bu Karina bersuara, ia mendekati Nayra dan menyentuh dahinya.

     "Masih panas, pantas saja dia mengigau. Tapi, kenapa dia mengigau seperti itu? Apa selama ini kamu memang sedang bermain-main di belakangnya, Arda?" Sorot mata Bu Karina kini beralih pada Ardana dan menatapnya tajam.

     Ardana menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari sang mama. Wajahnya pucat seketika. Ia terlihat sangat gelisah.

     "Katakan Arda?" desak Bu Karina kesal.

     "Ya ampun, Mama. Tidak dong, Ma. Arda tidak sedang bermain-main di belakang Nayra. Itu hanya pikiran dia saja. Saat ini dia, kan sedang sakit demam, kalau orang ngigau saat demam itu biasa, Ma," kilah Ardana berusaha menghalau perasaan curiga sang mama.

     "Lalu apa yang dia katakan barusan? Jangan sampai kamu ada main di belakangnya Arda. Kalau kamu berani main-main, maka kamu akan tahu akibatnya," ancam Bu Kirana sengit.

     Ardana tersentak, sudah dua kali kalimat ancaman itu didengarnya. Kali ini dari sang mama, dan kemarin dari sang papa. Kedua orang tuanya itu benar-benar singa baginya yang siap menerkam kapan saja apabila ia berani-berani bermain-main di belakang Nayra.

     "Arda tahu, Ma. Arda tidak begitu," sangkalnya lagi mencoba meredam emosi sang mama.

     "Mama tahu kamu masih belum mencintai Nayra. Sikap kamu, tatapan kamu pada istrimu belum tulus dan lepas. Mama hanya minta satu permohonan sama kamu seumur hidup Mama, Mama ingin bisa melihat kamu benar-benar mencintai Nayra. Itu saja, sudah cukup dan merupakan kebahagiaan yang tidak terkira untuk Mama," tekannya penuh harap.

     Ardana tidak menjawab, ia terdiam seribu bahasa. Seandainya bisa mengulang waktu, ia tidak ingin perjodohan ini terjadi. Sebab, akibat perjodohan itu ternyata banyak orang-orang yang tersakiti olehnya. Dan kini, Tiana datang kembali, meminta pertanggung jawaban darinya, bahwa sakitnya adalah akibat dirinya yang menerima perjodohan itu. Kini, Ardana dihantui rasa bersalah terhadap Tiana.

     "Hhhhhh." Ardana menarik napas dalam. Ia merasa saat ini berada di titik nadir, titik yang paling bawah. Di mana ia tidak bisa memutuskan apa-apa.

     "Ah...ya sudahlah. Tapi, ingat...camkan apa yang Mama barusan katakan. Mama tidak pernah main-main dengan omongan Mama," pungkas Bu Karina memperingatkan Ardana untuk terakhir kalinya dengan sangat pedas.

     Bu Karina kini beralih pada menantunya. Ia duduk di samping ranjang, lalu meraih mangkok yang berisi nasi tim yang di atasnya ditaburi suwir ayam dan kuah sop bening yang wangi.

     "Nayra Sayang, sadar Nak, ini Mama bawakan kamu nasi tim suwir ayam. Kamu pasti lapar, kan? Ayo makanlah dulu, setelah itu minum obat," bujuk Bu Karina sangat lembut dan penuh kasih sayang.

     Untuk beberapa saat belum ada respon, tapi perlahan mata Nayra yang tadi terpejam, kini mulai terbuka.

     "Ma~ma." Nayra bicara merespon Bu Karina dan memanggilnya mama, beberapa saat kemudian.

     Bu Karina senang bukan main, wajahnya berbinar. Kini ia bersiap untuk mencoba membujuk Nayra makan dan membuka mulut.

     Ardana yang berada tidak jauh dari Bu Karina, tersentak. Ia ikut lega melihat Nayra mulai merespon sang mama.

     "Sekarang kamu makan, ya." Bu Karina masih membujuk. Tapi, Nayra langsung menggeleng lemah.

     "Tidak boleh menolak, kamu sudah tidak makan sejak kemarin kata Arda. Ayo, sekarang dengar mama. Demi Mama dan kesehatanmu, kamu harus mau makan nasi tim yang enak dan wangi ini. Setelah itu, lanjut minum obat."

     Nayra kembali menggeleng, air matanya justru semakin deras mengucur di pipinya.

     Bu Karina tersentak, ia menoleh ke arah Ardana yang masih berdiri mematung menatap ke arah Nayra. Bu Karina memberi kode agar Ardana berperan menyeka air mata Nayra.

     Ardana mendekat, meraih tisu dan menyeka pelan air mata di pipi Nayra.

     "Sekarang, kamu mau makan, ya. Dengar, Mama akan marah kalau kamu tidak mau makan," ancam Bu Karina sebagai cara terakhir membujuk Nayra agar mau makan.

     Nayra menatap lemah Bu Karina, di sana senyum dan kasih sayang tulus terpancar jelas. Bukan hanya senyum dan kasih sayang yang tulus yang terpancar dari wajah mertuanya itu, kesedihan juga terpancar jelas, sedih melihat dirinya yang saat ini sakit.

     Nayra terenyuh, bagaimana mungkin ia bisa melihat wanita itu bersedih. Wanita yang penuh kasih sayang, bahkan menganggapnya seperti anak sendiri, bukan menantu.

     "Makan, ya, Sayang." Untuk ke sekian kalinya Bu Karina membujuk Nayra makan. Dan kali ini bujukan itu diangguki pelan oleh Nayra.

     Bu Karina senang bukan main, begitu juga Ardana. Meskipun ia tidak berhasil membujuk Nayra.

     Nayra mulai mengunyah nasi tim buatan Bu Karina, meskipun sesekali ia menggeleng dan mengeluh kalau bubur itu rasanya pahit.

1
Ita rahmawati
kalo mau bahagia jgn diungkit LG nay tp sesekali GKpp sih buat candaan SM suami 🤣🤣
Lina Zascia Amandia: Wkwkwkkw.... perempuan gak di nyata gak di halu, sama2 suka ngungkit Kak...
total 1 replies
Rina
Semoga kalian selalu hidup dengan bahagia ya Arda dan Nayra 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Lina Zascia Amandia: Aamiin...
total 1 replies
Patrick Khan
apa q aja yg ngerasa baca nya dikit doang🤔🤔🤣
Lina Zascia Amandia: Iya, emang dikit Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Nar Sih
bnr kta suami mu nay,jadikan msa lalu buat pelajaran menuju hri dpn yg lebih baik ,dan semoga bnr sbntr lgi adik anara sgra hadir stlh 4hari bln madu yaa☺️
Nar Sih
wah...bnr,,bulan madu yg tertundaa☺️
Aditya hp/ bunda Lia
bahagia terus jangan sampe ada pelakor lagi
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я
bahagia selalu untuk Nayra dan Ardana 🥰🥰🥰
rose lilian
banyakin part tiana dong plis
Lina Zascia Amandia: Baik. Nanti dipikirkan ya.
total 3 replies
Ayudya
nah kan mulai deh iya iya nya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ita rahmawati
walaupun udh lama nikah dn terpisah lama Tpkan mereka emang baru merasakan cinta yg menggebu gebu jd wajar kalo seperti pengantin baru 😂
Lina Zascia Amandia: Betul sekali... 🤭🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Rapel karena 2 tahun diabaikan dan 5 tahun berjauhan
Lina Zascia Amandia: 3 tahun diabaikan, tiga tahun berjauhan.... 😄😄
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
berasa jadi pengantin baru ... 🤭
padahal mah udah kadaluarsa 😂
Lina Zascia Amandia: Wkwkwk.....
total 1 replies
Patrick Khan
kupas dan kuliti sampai tuntas biar gk gila trs tiana🤣🤣🤣
Patrick Khan
ow begitu
Ita rahmawati
udh terlalu sakit ya ti
Ita rahmawati
ya emang udh seharusnya GK sih Thor krna Tiana kn bagian dari kisah ini 🤭
Ita rahmawati
lah ya udh sampe gila gila dn ternyata ditipu kena karma nih berarti Tiana krna udh khianati si Arda 🤣
Endang Sulistia
pintar
Endang Sulistia
kek si Ardana yg sakit jiwa..😤😤
Piyah
kawal Tiana sm seryadi sampe ke pelaminan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!