NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:425.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siap, Kapten!

Keesokan paginya, langit perbatasan terlihat bersih tanpa awan hitam. Sinar matahari pagi yang hangat perlahan-lahan mengeringkan sisa lumpur di lapangan pos komando, menyisakan udara segar khas pegunungan yang menembus dada.

​Tepat pukul tujuh pagi, dua unit mobil dobel kabin dengan roda-roda besar berlapis lumpur sudah terparkir rapi di tengah lapangan dengan mesin yang menderu. Kali ini, mereka sengaja menggunakan mobil karena hampir seluruh tim medis ikut dalam pelayanan kali ini, serta mereka membawa persediaan obat-obatan yang lebih banyak.

Kali ini, desa yang Hazel datangi berbeda dengan desa yang pernah ia datangi. Di mana, desa ini, sempat didatangi oleh tim medis lain.

Di depan mobil pertama, tampak sosok Gavin yang sudah berdiri tegap. Pria itu terlihat sangat gagah mengenakan seragam lapangan lengkap, kacamata hitam bertengger di hidungnya untuk menghalau silau matahari pagi. Di pinggangnya, tersampir senjata laras pendek dalam sarungnya, menunjukkan kesiapan penuh seorang komandan kompi yang akan memimpin pergerakan di wilayah rawan.

​Begitu melihat rombongan tim medis keluar dari barak sambil memanggul kotak-kotak logistik, Gavin langsung memberikan isyarat tangan kepada para prajuritnya.

​"Bantu tim medis naikkan semua barang ke bak belakang mobil kedua, pastikan ikatannya kuat dan dilapisi terpal jip karena jalurnya masih sedikit bergelombang pasca-hujan," perintah Gavin kencang dengan suara baritonnya yang tegas.

​"Siap, laksanakan Kapten!" beberapa prajurit langsung bergerak cekatan, mengambil alih kotak-kotak kontainer berat dari tangan Hazel dan suster lainnya.

​Gavin kemudian berjalan mendekati Dokter Ivan dan Dokter Tyas yang berdiri di dekat pintu mobil kedua. Namun, sebelum ia berbicara dengan mereka, pandangannya sempat bergeser dan terkunci selama beberapa detik ke arah Hazel.

Pagi ini, Hazel tampak sangat segar dengan rambut yang dikucir kuda dengan rapi, ia mengenakan rompi relawan berwarna biru dongker di atas kaus putihnya. Kakinya pun sudah dibalut sepatu trekking yang nyaman, dengan plester luka yang tersembunyi rapi di balik kaus kaki tebalnya.

​Gavin melepaskan kacamata hitamnya sebentar dan menatap Dokter Ivan, "Dokter Ivan, jalur darat menuju pangkal jembatan gantung sudah aman, tapi di beberapa titik masih ada sisa lumpur tipis. Saya dan Sersan Baim akan berada di mobil depan sebagai pembuka jalan sekaligus pengawal. Mobil kedua yang dinaiki tim medis akan mengikuti di belakang dengan jarak aman dua puluh meter, mengerti?" ucap Gavin.

​"Mengerti, Kapten. Kami siap mengikuti arahan," jawab Dokter Ivan selaku koordinator dari tim medis.

​Gavin mengangguk lalu tatapannya beralih menatap Hazel yang berdiri tepat di sebelah Dokter Tyas, ada binar kehangatan yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik mata elangnya yang tajam.

"Tim medis sudah siap semua? Tidak ada peralatan darurat atau obat yang tertinggal?" tanya Gavin, meskipun nadanya terdengar datar untuk semua orang, Hazel tahu betul pertanyaan itu juga bermakna ganda untuk menanyakan keadaannya.

​Hazel membalas tatapan itu dengan senyum ramah yang profesional, mencoba menyembunyikan debaran halus di dadanya yang selalu muncul setiap kali pria itu berada dekat dengannya.

"Sudah siap semua, Kapten. Logistik dan seluruh personel lengkap," jawab Hazel mantap.

​"Bagus, semuanya masuk ke mobil masing-masing. Kita berangkat sekarang," komando Gavin.

Pria itu berbalik dengan gerakan tegas, memakai kembali kacamata hitamnya, lalu melompat naik ke kursi kemudi mobil pertama di depan.

​Mobil-mobil militer itu pun mulai bergerak perlahan, melewati gerbang utama pos komando dan mulai membelah jalanan tanah berbatu yang dikelilingi oleh lebatnya hutan perbatasan.

Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan di dalam mobil dobel kabin, Hazel terus menatap keluar jendela dan melihat bagaimana pohon-pohon pinus yang tinggi bergoyang pelan ditiup angin pagi yang sejuk, rasa gugup dan antusias kini bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

Iring-iringan mobil akhirnya melambat dan berhenti di sebuah area tanah lapang yang berbatasan langsung dengan tepi tebing tinggi. Begitu Hazel membuka pintu mobil dan turun, matanya langsung disuguhi oleh pemandangan alam yang luar biasa menakjubkan sekaligus mendebarkan di depannya.

Lembah hijau yang sangat luas membentang, dengan sebuah sungai berbatu yang lebar mengalir deras di bawah sana. Air sungai yang dua hari lalu berwarna cokelat keruh akibat banjir bandang, kini sudah mulai jernih meski arusnya masih terlihat bergolak kuat menghantam batu-batu kali yang besar.

​Dan di sana, membentang gagah menghubungkan dua sisi tebing yang terpisahkan oleh lembah, adalah jembatan gantung yang menjadi urat nadi warga desa seberang. Jembatan itu kini terlihat jauh lebih kokoh dari sebelumnya, papan-papan kayu penahan kakinya yang baru diganti berwarna cokelat terang, terlihat sangat kontras dengan sisa papan kayu lama yang sudah menghitam dan berlumut. Tali baja besar di kedua sisi jembatan tampak tegang sempurna, mencengkeram tiang pancang beton di tepi tebing dengan sangat kuat.

​Gavin sudah turun lebih dulu dari mobil depan, ia berjalan perlahan ke arah pangkal jembatan lalu menghentakkan kaki bot militernya beberapa kali di atas papan kayu pertama untuk memastikan sendiri kestabilan bangunan tersebut. Sersan Baim dan beberapa prajurit bersenjata lengkap langsung mengambil posisi siaga di sekitar area tebing, memantau situasi sekeliling demi memastikan keamanan penuh dari ancaman yang tidak terduga.

​Gavin membalikkan tubuhnya, lalu melambaikan tangannya ke arah tim medis yang baru berkumpul. "Jembatan sudah sepenuhnya aman dan layak dilalui, tapi karena ini tipe jembatan gantung, guncangan akan tetap ada jika dilewati secara berkelompok dalam jumlah banyak. Jadi, kita akan menyeberang secara bertahap, para prajurit akan menyeberang duluan sambil memanggul kotak logistik obat, kemudian diikuti oleh tim medis," jelas Gavin panjang lebar saat Dokter Ivan dan yang lainnya berjalan mendekat.

"Siap, Kapten!" jawab para prajurit kompak.

Dengan gerakan yang sangat cekatan, mereka memanggul kotak-kotak kontainer obat di bahu mereka dan mulai melangkah menyeberangi jembatan satu per satu, mereka berjalan dengan langkah yang diatur ritmenya agar jembatan tidak bergoyang terlalu ekstrem ke kanan dan ke kiri.

Kini, giliran tim medis yang bersiap untuk menyeberang. Dokter Ivan, Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla mulai melangkah masuk ke atas jembatan gantung. Jembatan itu memang bergoyang pelan seiring langkah mereka, memicu sedikit pekikan kaget dari Suster Kinan yang ketakutan, namun berkat pegangan erat pada tali baja di sisi kanan dan kiri, mereka berhasil berjalan dengan stabil menuju seberang.

​Disisi lain, Hazel yang masih dibelakang pun dibuat terkejut saat kakinya menginjak tiga papan kayu pertama, embusan angin lembah yang cukup kencang tiba-tiba datang menyergap dari arah bawah tebing, tiupan angin itu seketika membuat jembatan gantung bergoyang dan berayun dengan ritme yang agak cepat.

​Hazel seketika mematung di tempat, cengkeraman tangannya pada tali baja langsung mengencang kuat hingga buku-buku jarinya memutih, membuat kepalanya seketika terasa sedikit pusing dan perutnya mual. Hazel refleks menundukkan kepalanya, melihat celah-celah di antara papan kayu yang langsung memperlihatkan dalamnya jurang tebing dan aliran sungai deras di bawah sana, tubuhnya mendadak kaku karena diserang rasa panik.

.

.

.

Bersambung.....

1
Naufal hanifah
👍👍👍
Nurwana
hazel... kau itu terlalu bego, sudah tau ibumu kejam, tidak mau kau punya inisiatif sendiri, pintar dikit kenapa,punya uangkan, gunakan uangmu untuk merekrut orang orang yang jago bela diri untuk menjagamu dan cari orang yang bertalenta dibadangnya, misal jago IT. kau juga belajar bela diri diam diam. jadi kalau memiliki orang orang tersebut gampang aja untuk kabur dan berdikari. masa selama 15 tahun kau hanya jadi diam ditempat Tanpa usaha.
Evy
Sakitnya yang luar biasa pas kontraksi datang.. tapi ada rasa lega pas bayinya sudah keluar...
Evy
Awal tugas bukannya hanya 6 bulan saja.kok sekarang bisa jadi 2 thn..
Evy
Kepo aja nih Suster..
Evy
2 th lagi usia Bu Dokter sudah 33thn dong...gak papa deh .demi Pak Kapten ...
Evy
Keras banget Ibunya Ya..apa Ibu kandung??? Suami saja tidak berkutik dibuatnya...semua bisa tenang kalo Ibunya itu sudah terkena stroke...ha ...ha...canda aja ya ...
Evy
Pak Jaksa ini sombong dengan jabatan nya... walaupun mereka jadi menikah gak bakalan cocok.
Senja Malam
demi kebahagiaan anak laki-laki nya.. keren bu anggita
⋆.˚Khaira🦋
sukka bgt sama ceritanya.. ada tegangnya ada sedihnya, ada senengnya , ada senyum² sendiri juga... aaah sukkaaa laah pokoknya di setiap bab nya... sukses selalu yaa thor 🤗❤️❤️❤️
⋆.˚Khaira🦋
happy ending 💐
⋆.˚Khaira🦋
yeyyyy... congrated akhirnyaaaa kawiiiiiinnn 💐
⋆.˚Khaira🦋
hahaha... di buat mingkem mama vivian... mamam tuh, makanya jd ortu jgn egois😄
⋆.˚Khaira🦋
bentar..bentar...gimana?? katanya di awal bilang bulan thor, kok jd 2 thn..klu 2 thn berrti dah gak pake nunggu gavin lagi donk... mereka sama² udah kelar masa tugasnya🤔
⋆.˚Khaira🦋
cieeee... gercep yee pak komandan 🤭
tenang...tenang... pasti di acc kok sama emaknya hazel, wong tujuan hazel di kirim ke perbatasan kan emang buat di jodohin sama kamuuu pak komandan 😄
⋆.˚Khaira🦋
"genggam lengan ku sayang, dekap lah aku, peluk diriku" 🎤🎶
uhuuuyyy 🤭😄
⋆.˚Khaira🦋
masih tetep usaha yaa komandan gavin biar bu dokter gak salah paham 🤭😆
⋆.˚Khaira🦋
aku ikutan sediiiihhh iiih gavin... kasian hazel tauuu 🥲💔
⋆.˚Khaira🦋
hati aku ikutan periiiihhh iiih 🥲
⋆.˚Khaira🦋
hazel sini menepi sebentar biar aku peluuuukk kamuu 🤗🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!