NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan

Arya tidak langsung pulang malam itu. Ia duduk sendirian di atas motor Supra Fit-nya yang terparkir di ujung gang, jauh dari sorotan lampu merkuri, menatap kegelapan yang menyelimuti rumah Pak Slamet dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Kata-kata sistem masih terngiang di kepalanya—pengkhianatan yang lahir dari keputusasaan berbeda dengan pengkhianatan yang lahir dari niat jahat murni—namun kalimat itu tidak serta-merta meredakan amarah yang membakar dadanya.

"Pak Slamet itu tetangga gua sejak kecil," batin Arya, matanya masih terpaku pada jendela rumah petak yang gelap gulita. "Waktu Bapak sakit tiga tahun lalu, dia yang bantuin jagain rumah pas Ibu nungguin di rumah sakit. Kenapa sekarang dia malah jual informasi ke orang-orang yang mau ngancurin kampung kita sendiri?"

Ia menghela napas panjang, mencoba mengingat kembali detail tentang Pak Slamet yang selama ini luput dari perhatiannya. Pria tua itu memang jarang bergabung dalam kegiatan komunitas sejak istrinya, Bu Painah, meninggal karena kanker dua tahun lalu. Biaya pengobatan yang menumpuk sebelum kepergian sang istri konon menyisakan utang yang cukup besar—sesuatu yang jarang dibicarakan terbuka, namun sering menjadi bisik-bisik di antara ibu-ibu warkop.

"Utang," pikir Arya, matanya menyipit. "Jangan-jangan itu alasannya."

God-Phone di sakunya bergetar pelan, seolah membaca arah pikirannya.

TING-TONG!

[NOTIFIKASI SISTEM: ANALISIS LATAR BELAKANG TERBATAS.]

[Catatan: Sistem tidak memiliki akses untuk membaca kondisi finansial pribadi warga secara detail tanpa kontak langsung. Namun, berdasarkan pola perilaku sosial yang teramati—penarikan diri dari komunitas, penurunan kunjungan ke warkop, serta perubahan gaya hidup yang lebih hemat sejak dua tahun lalu—sistem memperkirakan kemungkinan tinggi adanya tekanan ekonomi berat yang dialami individu tersebut.]

[Saran: Pendekatan dengan empati akan jauh lebih efektif daripada konfrontasi langsung. Ingat pesan Bapak Surya—orang yang kepepet bukan orang jahat, hanya orang yang ketakutan.]

Arya menatap layar itu lama, merasakan sesuatu di dadanya perlahan melunak. Ia menghidupkan kembali motornya, namun alih-alih pulang ke rumah, ia justru memutar arah menuju rumah Pak Surya dan Bu Aminah—ia butuh nasihat sebelum mengambil langkah apa pun.

"Bapak masih inget Pak Slamet dulu waktu Bapak sakit?" tanya Arya begitu ia duduk di ruang tamu sempit rumahnya, menatap ayahnya yang sedang membersihkan sangkar burung perkututnya dengan gerakan pelan seperti biasa.

Pak Surya menghentikan gerakannya, menatap anaknya dengan alis berkerut. "Slamet? Iya, inget. Dia yang jagain rumah kita pas Bapak dirawat, nemenin Bapak ronda malem meskipun badannya udah nggak sekuat dulu. Kenapa tiba-tiba nanya soal dia, Le?"

Arya menceritakan apa yang baru saja ia saksikan—suara bisikan di balik tembok, motor yang terhubung dengan jaringan Reynald Pratama, dan kecurigaan sistem tentang kebocoran informasi yang mengarah pada rumah Pak Slamet. Bu Aminah, yang sejak tadi mendengarkan sambil melipat kain di sudut ruangan, menghentikan gerakannya dengan wajah yang mendadak pucat.

"Ya Allah," bisik Bu Aminah, tangannya bergetar sedikit. "Pak Slamet itu... Ibu tau dia masih nyicil utang rumah sakit almarhumah Bu Painah. Ibu pernah denger dari Mbak Sri, katanya dia sampai jual sepeda motor lamanya buat bayar cicilan bulan lalu. Kalau dia sampai kepepet gitu, mungkin... mungkin dia nggak punya pilihan lain, Le."

Pak Surya menghela napas panjang, meletakkan kain lap yang biasa ia pakai membersihkan sangkar burung. "Le, Bapak udah bilang sebelumnya. Orang yang kepepet itu bukan orang jahat. Tapi itu bukan berarti kita diem aja ngeliat dia bocorin informasi kita ke musuh. Kamu harus ngomong langsung sama dia. Bukan buat nyalahin, tapi buat ngerti apa yang sebenernya terjadi."

"Tapi gimana caranya, Pak? Kalau saya langsung nuduh dia, dia bisa aja malah makin takut dan lari, atau malah bocorin lebih banyak lagi demi ngelindungin dirinya sendiri," Arya menggeleng, mencoba mencari jalan yang paling bijaksana.

Bu Aminah menatap anaknya dengan mata yang penuh kelembutan. "Arya, kamu itu selalu bisa bikin orang percaya sama kamu, bukan karena kamu maksa, tapi karena kamu tulus dengerin. Coba samperin dia besok pagi-pagi, pas dia lagi sendirian. Jangan bawa Bang Jay atau Dedi, biar dia nggak ngerasa dikeroyok. Ajak ngobrol dari hati ke hati."

Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya meninggi, Arya berdiri di depan pintu rumah petak Pak Slamet yang catnya sudah mengelupas parah, jauh lebih lapuk dibanding rumah-rumah lain di gang itu. Ia mengetuk pintu dengan pelan, jantungnya berdegup kencang menanti reaksi apa yang akan ia dapatkan.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Pak Slamet yang tampak jauh lebih kurus dan letih dari yang Arya ingat. Mata pria tua itu langsung membelalak begitu melihat siapa yang berdiri di depannya, wajahnya seketika berubah pucat pasi.

"A-Arya? Ada apa, Le? Pagi-pagi begini..." suara Pak Slamet bergetar, tangannya mencengkeram gagang pintu erat-erat seolah bersiap untuk menutupnya kembali.

"Pak Slamet," Arya menatap pria itu dengan sorot mata yang berusaha setenang mungkin, tanpa amarah yang bisa membuat situasi semakin buruk. "Boleh saya masuk sebentar? Saya cuma mau ngobrol."

Pak Slamet ragu sejenak, matanya menyapu sekeliling gang seolah memastikan tidak ada yang memperhatikan, sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar dengan tangan yang masih gemetar. "Masuk, Le. Tapi... maaf rumahnya berantakan."

Di dalam rumah yang jauh lebih kosong dan sunyi dibanding yang Arya bayangkan, hanya ada sebuah dipan kayu tua, meja kecil dengan beberapa foto usang Bu Painah yang sudah menguning, dan setumpuk surat tagihan yang tergeletak berantakan di sudut ruangan. Arya duduk di kursi kayu yang ditawarkan, menatap sekeliling dengan hati yang mendadak terasa berat.

"Pak Slamet," Arya memulai pelan, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Saya tau soal utang rumah sakit almarhumah Bu Painah. Saya juga tau, mungkin Bapak lagi ada dalam tekanan yang berat banget belakangan ini."

Wajah Pak Slamet seketika berubah, matanya berkaca-kaca, tangannya yang keriput mulai gemetar hebat di atas pangkuannya. "Kamu... kamu udah tau, Le?"

"Saya lihat Bapak semalem, ketemu sama orang yang naik motor operasional Pratama," ujar Arya lembut, tidak ingin terdengar menghakimi meski dadanya masih menyimpan sedikit sakit hati. "Saya nggak ke sini buat marah, Pak. Saya cuma pengen denger langsung dari Bapak, apa yang sebenernya terjadi."

Pak Slamet menutup wajahnya dengan kedua tangan, isak tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah begitu saja. "Maafin Bapak, Arya. Maafin Bapak," ucapnya berulang kali, suaranya bergetar hebat. "Bapak nggak ada niat jahat ke kalian semua. Tapi Bapak udah kepepet banget. Utang rumah sakit almarhumah istri Bapak udah numpuk sampai dua ratus juta. Bapak udah jual motor, jual perhiasan almarhumah, tapi masih kurang jauh. Bulan lalu, orang-orang yang nagih utang itu datang, ngancem mau lapor ke pengadilan, mau sita rumah ini juga."

Arya terdiam, mendengarkan dengan seksama, membiarkan Pak Slamet melanjutkan ceritanya tanpa interupsi.

"Terus, dua minggu lalu, ada orang dateng ke sini," lanjut Pak Slamet, suaranya semakin lirih. "Dia bilang, kalau Bapak mau kasih informasi soal apa aja yang lagi terjadi di komunitas—siapa yang lagi ngumpulin bukti, kapan pertemuan sama pengacara, apa aja strategi yang lagi disusun—dia bakal bayarin utang Bapak. Bapak tau ini salah, Le. Bapak tau ini ngkhianatin kalian semua. Tapi Bapak udah nggak tau harus gimana lagi. Bapak takut kalau rumah ini disita, Bapak bakal tidur di jalanan di usia setua ini."

Kalimat itu menghantam Arya dengan bobot yang jauh lebih berat daripada amarah yang sempat ia rasakan semalam. Ia menatap pria tua di depannya—bukan lagi sosok pengkhianat yang ia bayangkan, melainkan seorang manusia yang terjebak di antara dua ketakutan: kehilangan rumah karena utang, atau kehilangan kehormatan karena mengkhianati tetangga sendiri.

"Pak Slamet," ujar Arya akhirnya, suaranya lembut namun penuh ketegasan. "Saya ngerti Bapak lagi susah banget. Tapi Bapak harus tau, orang-orang yang bayar Bapak buat bocorin informasi itu, mereka bukan cuma mau ngancurin komunitas kita. Mereka juga bakal make Bapak sampai abis, terus buang Bapak kalau udah nggak berguna lagi. Mereka nggak bakal beneran bayarin utang Bapak seutuhnya—kalau pun bayar, itu cuma jadi jebakan biar Bapak makin terikat sama mereka."

Pak Slamet menatap Arya dengan mata yang penuh keputusasaan. "Terus Bapak harus gimana, Le? Bapak udah kepalang basah. Kalau Bapak berhenti ngasih informasi sekarang, mereka bisa aja ngancem Bapak, bilang bakal buka ke semua orang kalau Bapak yang bocorin selama ini."

Arya terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat. Ia teringat nasihat Pak Surya semalam—bukan menyalahkan, melainkan mengerti dan mencari jalan keluar bersama.

"Pak Slamet, saya bakal bantu Bapak," ujar Arya akhirnya, tekad baru terbentuk di dalam dadanya. "Bukan cuma karena saya kasihan, tapi karena Bapak juga bagian dari Tambora, bagian dari keluarga besar kita. Saya bakal ngomong sama Nona Citra soal masalah utang Bapak—dia punya tim legal yang bisa bantu negosiasi ulang sama pihak rumah sakit atau bank, mungkin ada jalan buat keringanan. Tapi Bapak juga harus janji, mulai sekarang, Bapak nggak bakal ngasih informasi apa pun lagi ke mereka. Kalau mereka dateng lagi ngancem, langsung kabarin saya atau Bang Jay. Kita hadapin bareng-bareng."

Pak Slamet menatap Arya dengan mata yang berkaca-kaca, campuran antara rasa bersalah, syok, dan harapan yang tidak ia duga akan muncul di tengah keputusasaannya. "Kamu... kamu beneran mau bantu Bapak? Padahal Bapak udah ngkhianatin kalian?"

"Bapak nggak ngkhianatin karena mau, Pak. Bapak ngkhianatin karena kepepet," jawab Arya, mengulang kata-kata yang beberapa hari lalu juga ia gunakan untuk Bu Marni. "Dan itu beda banget sama orang yang emang niat jahat dari awal. Yang penting sekarang, Bapak berhenti, dan biarkan kita bantu Bapak keluar dari masalah ini bareng-bareng."

Pak Slamet menangis lebih keras, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena kelegaan yang teramat besar. Ia meraih tangan Arya dengan kedua tangannya yang gemetar, menggenggamnya erat-erat seolah tangan itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa baginya.

"Makasih, Arya," bisiknya berulang kali. "Makasih udah nggak nganggep Bapak sebagai musuh."

Siang harinya, Arya menghubungi Citra untuk menjelaskan situasi Pak Slamet, memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak terdengar seperti sedang meminta belas kasihan, melainkan sebuah permintaan bantuan yang tulus untuk seorang warga yang terjebak dalam keputusasaan.

"Aku ngerti, Arya," jawab Citra di ujung telepon, suaranya penuh pertimbangan profesional. "Aku akan minta tim legal untuk menghubungi rumah sakit dan pihak penagih utang, coba negosiasi keringanan atau cicilan yang lebih manusiawi. Tapi Arya, kamu harus siap—informasi yang sudah bocor ke pihak Pratama tidak bisa ditarik kembali. Mereka mungkin sudah tahu lebih banyak strategi kita daripada yang kita duga."

Kata-kata itu menghantam Arya dengan kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Ia menyadari, kelegaan karena berhasil menghentikan kebocoran tidak serta-merta menghilangkan kerusakan yang sudah terjadi. Pihak Pratama mungkin sudah tahu tentang rencana permohonan penundaan eksekusi, sudah tahu tentang kejanggalan nomor registrasi notaris yang sedang diverifikasi, sudah tahu tentang setiap langkah yang selama ini mereka susun dengan susah payah.

"Kalau mereka udah tau semuanya," batin Arya, kekhawatiran baru mulai merayap di dadanya, "jangan-jangan mereka udah nyiapin langkah balasan yang lebih licik lagi buat ngelawan strategi kita."

God-Phone di sakunya bergetar pelan, seolah menjawab kekhawatirannya dengan cara yang paling tidak menenangkan.

TING-TONG!

[PERINGATAN SISTEM: ANALISIS RISIKO PASCA-KEBOCORAN.]

[Catatan: Dengan terhentinya sumber kebocoran informasi, pihak Pratama Land Development kemungkinan besar akan menyadari bahwa jalur intelijen mereka telah terputus. Sistem memperkirakan mereka akan mempercepat rencana eksekusi hukum atau meningkatkan tekanan melalui jalur lain yang lebih agresif, mengingat waktu yang tersisa hanya tiga hari lagi sebelum batas akhir yang mereka tetapkan.]

[Peringatan Tambahan: Sistem mendeteksi adanya pergerakan baru dari kantor pusat Pratama Logistics Group—sebuah rapat darurat dijadwalkan sore ini, dihadiri langsung oleh Hendarto Pratama. Sistem tidak dapat mengakses isi rapat tersebut, namun pola pergerakan finansial menunjukkan adanya persiapan dana besar yang dialokasikan dalam waktu dekat.]

Arya menatap notifikasi itu dengan rahang mengeras, menyadari bahwa menyelesaikan satu masalah hanya membuka jalan bagi ancaman baru yang lebih besar. Ia berdiri dari kursi terasnya, memandang ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta yang berkilau samar di kejauhan, tempat Hendarto Pratama—sosok yang belum pernah ia temui langsung namun sudah cukup untuk mengguncang seluruh kehidupan komunitasnya—sedang menyusun langkah berikutnya.

"Tiga hari lagi," batin Arya, menghela napas panjang yang sarat akan beban yang semakin menumpuk di pundaknya. "Dan sekarang dia tau kita udah motong jalur informasinya. Ini bakal bikin dia makin nekat, bukan makin mundur."

Ia memasukkan God-Phone ke dalam saku jaketnya, menatap ke arah rumah Pak Slamet yang kini terlihat sedikit lebih terang, seolah beban yang selama ini menggantung di sana mulai terangkat perlahan. Namun di balik kelegaan kecil itu, Arya tahu betul, pertempuran yang sesungguhnya baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya—babak di mana seorang konglomerat yang tidak pernah mengenal kata menyerah akan segera menunjukkan seberapa jauh ia bersedia melangkah demi mempertahankan kekuasaannya, dan seberapa besar harga yang harus dibayar oleh sebuah komunitas kecil yang hanya ingin mempertahankan tanah yang telah menjadi rumah mereka selama tiga generasi.

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!