Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di halaman keluarga Mu berubah mencekam. Guru Besar Liu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya retak. Aura seorang master menyelimuti seluruh halaman.
Bahkan beberapa warga yang hanya menonton mulai kesulitan bernapas.
"Tekanan yang mengerikan..."
"Seperti inikah kekuatan Guru Besar Perguruan Pedang Awan?"
Mu Xueyi menatap Shen Yu. Di matanya pertarungan ini sudah memiliki hasil. Tidak mungkin Shen Yu menang.
Guru Besar Liu memandang Shen Yu dengan wajah datar.
"Anak muda. Aku memberimu kesempatan terakhir. Cepat batalkan pertunangan ini."
Shen Yu menguap kecil.
"Kalau aku tidak mau?"
Guru Besar Liu menggeleng pelan.
"Kalau begitu jangan salahkan orang tua ini."
Boom!
Aura spiritualnya meledak. Belasan ubin batu di halaman langsung hancur berkeping-keping.
Yan Luo hendak melangkah. Namun Shen Yu mengangkat tangan.
"Pak Tua. Urusan ini biar aku saja!."
Yan Luo berhenti.
"Hamba mengerti."
Ucapan singkat itu membuat semua orang tercengang. Mu Zheng membelalakkan mata.
"Jangan bilang, dia ingin bertarung sendiri?"
Qin Feng tertawa keras.
"Hahaha! Shen Yu!, Apa kau sudah bosan hidup? Bahkan guruku bisa membunuhmu hanya dengan satu jari."
Shen Yu menutup kipasnya. Senyumnya perlahan menghilang.
"Nenek pernah berkata Kalau ada anjing menggonggong biarkan saja, Tapi kalau anjing itu menggigit patahkan taringnya."
Kalimat itu membuat wajah Qin Feng langsung berubah. Guru Besar Liu mendengus dingin.
"Kurang ajar."
Tanpa peringatan tubuhnya menghilang. Dalam sekejap ia sudah muncul di depan Shen Yu.
Telapak tangannya menghantam lurus ke dada.
"Waspada!"
teriak beberapa warga. Namun...
Shen Yu tidak bergerak. Ia hanya mengangkat satu tangan.
Duum!
Gelombang energi meledak. Debu memenuhi halaman. Seluruh orang menahan napas. Saat debu mulai menghilang...
Mata semua orang langsung membelalak. Shen Yu masih berdiri di tempatnya. Tidak bergeser sedikit pun. Sedangkan telapak Guru Besar Liu...
Berhenti tepat di depan telapak tangan Shen Yu.
"Apa...?"
Guru Besar Liu membeku.
"Itu tidak mungkin..."
Shen Yu tersenyum tipis.
"Sudah selesai?"
Guru Besar Liu meraung marah.
Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tanah di bawah kaki mereka terus retak. Namun...
Tubuh Shen Yu tetap tidak bergerak sedikit pun. Shen Yu menggeleng pelan.
"Kalau hanya seperti ini kau bahkan tidak pantas membuat nenekku menghunus pedangnya."
Begitu kalimat itu selesai...
Shen Yu menggenggam pergelangan tangan Guru Besar Liu.
Krek!
Suara tulang patah terdengar jelas.
"Arghhh!"
Guru Besar Liu menjerit.
Belum sempat ia mundur...
Shen Yu sudah muncul di depannya. Kecepatannya membuat semua orang kehilangan jejak.
Shen Yu mengangkat telapak tangan.
"Jurus Nenek..."
"Langit Runtuh — Tian Beng Zhang!"
Boom!
Satu telapak menghantam dada Guru Besar Liu.
Tubuh lelaki tua itu melesat seperti anak panah, menghancurkan dinding keluarga Mu sebelum akhirnya menghantam bukit kecil di kejauhan.
Ledakan besar mengguncang seluruh Kota Qinghe.
Semua orang menoleh ke arah bukit itu.
Asap perlahan menghilang.
Tubuh Guru Besar Liu tergeletak tak bergerak. Darah terus mengalir dari sudut mulutnya. Ia mencoba mengangkat kepala. Namun gagal.
Napasnya berhenti. Guru Besar Liu...
Telah tewas.
Keheningan menyelimuti seluruh halaman. Tak seorang pun berani bersuara. Qin Feng yang sedari tadi penuh percaya diri kini berdiri gemetar.
Mu Xueyi memandang Shen Yu dengan wajah pucat.
Ia baru menyadari satu hal. Selama ini...
Yang benar-benar mereka remehkan bukanlah keluarga Shen. Melainkan Shen Yu sendiri.
Keheningan menyelimuti seluruh halaman. Tak seorang pun berani bersuara. Qin Feng menatap ke arah bukit tempat tubuh gurunya terlempar.
Wajahnya pucat. Matanya dipenuhi ketidakpercayaan.
"G-Guru..."
Ia berlari beberapa langkah, namun lututnya tiba-tiba lemas. Tubuhnya jatuh berlutut.
"Mustahil...Guru tidak mungkin kalah...Guru tidak mungkin mati..."
Ia terus menggelengkan kepala, seolah menolak kenyataan yang ada di depan matanya.
Guru Besar Liu...
Orang yang selama ini dianggap tak terkalahkan olehnya. Kini tewas hanya karena satu telapak tangan.
Shen Yu bahkan tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri tenang sambil membuka kembali kipas lipatnya.
"Apa masih ada yang ingin menghentikan ku?"
Tak ada jawaban.
Semua pengawal keluarga Mu tanpa sadar menundukkan kepala. Mereka bahkan tidak berani menatap mata Shen Yu.
Mu Zheng menarik napas panjang. Tatapannya kepada Shen Yu kini benar-benar berbeda. Bukan lagi memandang seorang tuan muda manja...
Melainkan seorang ahli yang kekuatannya jauh melampaui dirinya.
Ia melangkah maju.bLalu menggenggam kedua tangannya memberi hormat.
"Tuan Muda Shen...Hari ini keluarga Mu mengakui kehebatan tuan hehe."
Para tetua keluarga Mu saling berpandangan. Sesaat kemudian, Mereka juga ikut memberi hormat.
"Keluarga Mu mengakui kekalahan."
Mu Zheng menoleh ke arah belasan peti mahar yang masih berjajar rapi. Emas, Ramuan berharga, Batu roh, Sutra terbaik dan pedang-pedang berkualitas tinggi.
Semuanya adalah harta yang bahkan sulit dikumpulkan keluarga Mu selama bertahun-tahun.
Ia tersenyum pahit.
"Perjanjian pertunangan memang telah dibuat sejak lama. Kami tidak memiliki alasan lagi untuk menolaknya. Mulai hari ini keluarga Mu menerima mahar dari keluarga Shen."
Begitu kalimat itu diucapkan seluruh keluarga Mu menundukkan kepala. Tak seorang pun membantah.
Mereka tahu...
Melanjutkan perlawanan hanya akan membawa kehancuran.
Di sisi lain...
Qin Feng perlahan berdiri. Tatapannya dipenuhi kebencian. Ia mengepalkan kedua tinjunya hingga darah menetes dari telapak tangannya sendiri.
Namun...
Ia tidak berani melangkah. Bayangan satu telapak tangan Shen Yu yang membunuh gurunya terus terulang di kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia merasakan ketakutan. Shen Yu hanya meliriknya sekilas.
"Lain kali kalau ingin merebut tunangan orang. Datanglah lebih cepat. Kau terlalu terlambat."
Wajah Qin Feng semakin pucat. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Namun tetap tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Shen Yu lalu berbalik menghadap Mu Xueyi.
"Nona Mu. Sudah selesai?, Ayo pulang!!."
Mu Xueyi menatap Shen Yu cukup lama. Tatapan dinginnya kini telah bercampur dengan kebingungan.
Pria yang selama ini ia anggap sebagai tuan muda bodoh...
Ternyata menyembunyikan kekuatan yang bahkan mampu membunuh seorang guru besar. Ia menundukkan kepalanya perlahan.
"...Baik."
Jawabannya terdengar pelan.
Shen Yu tersenyum lalu ia mengulurkan tangan. Mu Xueyi terdiam beberapa saat.
Lalu, dengan berat hati, ia meletakkan tangannya di atas tangan Shen Yu. Shen Yu menggenggamnya dengan santai.
"Mulai hari ini Kau ikut denganku."
Mu Zheng memejamkan mata sesaat kemudian ia berkata dengan suara berat,
"Xueyi, mulai hari ini, kau adalah menantu keluarga Shen. Jaga dirimu baik-baik."
Mu Xueyi menggigit bibirnya. Air matanya hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia membungkuk kepada ayahnya untuk terakhir kali. Shen Yu kemudian menoleh kepada para kusir.
"Berangkat."
"Baik, Tuan Muda!"
Belasan kereta yang membawa mahar mulai bergerak memasuki halaman keluarga Mu untuk diserahkan, sementara kereta utama telah disiapkan untuk membawa Shen Yu dan Mu Xueyi kembali ke kediaman keluarga Shen.
Di bawah tatapan hormat seluruh keluarga Mu dan warga Kota Qinghe...
Shen Yu menaiki kereta dengan tenang. Di sampingnya, Mu Xueyi duduk dalam diam. Tak seorang pun lagi berani menghalangi rombongan keluarga Shen meninggalkan kediaman keluarga Mu.