Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi hari di kamp militer, salah satu penjaga gerbang pergi menemui Han Bing yang tengah mengawasi bawahannya yang sedang latihan.
''Tuan Han'' panggil pria itu.
''Ada apa?'' sahut Han Bing.
''Di depan ada wanita yang ingin bertemu Pangeran'' ujar pira itu.
Han Bing langsung menaikkan satu alisnya. ''Siapa?''
''Em,, wanita itu bilang kalau namanya, Gu Nian''
Sontak Han Bing langsung membulatkan matanya.
''Kembalilah, aku akan melapor dulu pada Pangeran'' perintah Han Bing.
''Baik Tuan''
Prajurit itu segera kembali ke depan gerbang, sedangkan Han Bing dia bergegas pergi ke ruang kerja Jendral Rong.
Tok
Tok
Tok
''Masuklah''
Han Bing langsung melangkah masuk ke dalam, karna kebetulan Jendral Rong tidak menutup pintunya.
''Pangeran''
''Ada apa?'' tanya Jendral Rong.
''Di depan gerbang ada Nona Gu, katanya ingin bertemu anda''
Jendral Rong langsung meletakkan buku yang sedang dia baca.
''Antar dia ke sini'' perintah Jendral Rong.
Han Bing menganggukkan kepalanya, dan bergegas pergi untuk melakukan perintah Tuannya.
Di depan gerbang Gu Nian menunggu dengan gelisah, karna Jendral Rong tak kunjung muncul menemuinya.
''Apa dia sangat sibuk'' gumamnya.
''Nona Gu''
Gu Nian langsung menoleh saat ada yang memanggilnya.
''Nona saya pengawal Pangeran Cheng, beliau menunggu anda di ruang kerjanya'' ucap Han Bing.
Senyum Gu Nian seketika merekah. ''Benarkah?''
Han Bing menganggukkan kepalanya. ''Mari anda saya antar ke ruang kerja Pangeran'' ucapnya.
''Iya''
Gu Nian mengikuti langkah Han Bing dengan perasaan gugup, pasalnya sudah ber tahun tahun dirinya tidak bertemu dengan Jendral Rong, jadi Gu Nian tidak tahu seperti apakah rupa Jendral Rong saat ini.
"Apakah Kak Cheng masih tampan seperti saat kecil dulu?, atau mungkin lebih tampan" batin Gu Nian.
Para bawahan Han Bing yang sedang latihan langsung berhenti, saat melihat ada wanita yang mengikuti Tuan mereka di belakangnya.
''Siapa wanita itu?'' tanya Prajurit A.
''Aku juga tidak tahu'' sahut Prajurit B.
Setelah melewati tempat para Prajurit latihan, kini Han Bing dan Gu Nian sudah sampai di depan ruang kerja Jendral Rong.
Karna pintu ruang kerja Jendral Rong tetap dalam keadaan terbuka, jadi tanpa mengetuk pintu dulu Han Bing langsung membawa masuk Gu Nian ke dalam ruang kerja Jendral Rong.
''Pangeran, Nona Gu ada di sini'' ucap Han Bing.
Jatung Gu Nian semakin berdebar tidak karuan, saat melihat pria tinggi dengan bahu yang sangat lebar, tengah berdiri membelakangi mereka.
''Ka,, Kakak Cheng'' panggil Gu Nian sedikit gugup.
Dan saat Jendral Rong membalikkan badannya, Gu Nian langsung di buat terpaku dengan ketampanan Jendral Rong yang seperti dewa, bahkan Pangeran Duan masih kalah jauh pikirnya.
Sedangkan Han Bing langsung berpamitan keluar, karna tidak ingin menganggu Tuannya dan cinta masa kecilnya
''Pangeran, kalau begitu hamba pamit dulu, karna ada yang harus hamba kerjakan'' pamit Han Bing.
''Hem, pergilah'' sahut Jendral Rong.
Setelah kepergian Han Bing, kini di ruangan itu hanya tinggal Jendral Rong dan Gu Nian saja.
Gu Nian sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Jendral Rong.
''Gu Nian duduklah'' ucap Jendral Rong, membuat Gu Nian tersadar dan wajahnya memerah malu, karna dari tadi terus menatap Jendral Rong.
''Ah, iya''
Gu Nian langsung duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja Jendral Rong, begitu juga dengan Jendral Rong dia juga ikut duduk di kursinya, kini keduanya duduk saling berhadapan namun di pisahkan dengan meja kerja Jendral Rong.
Jendral Rong mencoba fokus menatap Gu Nian, namun entah kenapa dirinya sama sekali tidak merasakan apapun lagi di hatinya terhadap Gu Nian.
"Benarkah aku sudah tidak memiliki perasaan pada Gu Nian?" batin Jendral Rong.
''Kaka Cheng, bagaimana kabar Kaka?'' tanya Gu Nian sembari tersenyum.
''Baik'' jawab Jendral Rong.
''Nian dengar Kakak sudah menikah?'' tanya Gu Nian yang di angguki oleh Jendral Rong.
''Em,, benarkah istri Kaka meninggal karna terjatuh di jurang?'' tanya Gu Nian.
Lagi lagi Jendral Rong hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
''Nian turut berduka cita'' ucap Gu Nian.
''Hem, terimakasih'' timpal Jendral Rong.
Kini keduanya sama sama saling diam, hingga beberapa menit kemudian Jendral Rong membuka suaranya.
''Gu Nian, bagaimana caranya kamu bisa kembali ke sini?'' tanya Jendral Rong penasaran.
Gu Nian meremas tangannya, dia bingung mau menjawab apa.
''Em,, itu, Nian mencoba lari melewati hutan larangan, dan ternyata Nina berhasil lolos dari kejaran para Prajurit'' ungkapnya sedikit berbohong. Gu Nian tidak mau mengatakan kalau ada yang membantunya lari dari kerajaan timur.
Jendral Rong menganggukkan kepalanya mencoba untuk percaya, walaupun di hatinya yang paling dalam ada perasaan menolak untuk percaya.
''Lalu, bagaimana kehidupanmu selama ini di kerajaan timur?'' tanya Jendral Rong.
''Em,, itu,,''
Gu Nian belum sempat melanjutkan ucapannya, Jendral Rong sudah lebih dulu memotongnya.
''Tapi melihat keadaanmu sekarang, sepertinya mereka memperlakukanmu dengan baik, dan kalau aku tidak salah dengar, Pangeran Duan katanya menyukaimu'' ucap Jendral Rong.
Gu Nian seketika panik, dia tidak menyangka kalau Jendral Rong akan mendengar kabar itu, siapa yang memberitahu Jendral Rong pikirnya.
Jendral Rong tersenyum devil melihat kepanikan yang terlihat jelas di wajah Gu Nian.
''Ka,, Kak Cheng dengar kabar itu dari siapa?'' tanya Gu Nian.
''Kabar itu bukan hanya aku yang mendengarnya, mungkin seluruh penduduk negara Yan'' alih alih menjawab pertanyaan Gu Nian, Jendral Rong malah mengalihkannya.
''Apa!!'' pekik Gu Nian terkejut.
''Apa kamu juga menyukai Pangeran Duan?'' tanya Jendral Rong asal.
Gu Nian buru buru menggelengkan kepalanya. ''Tentu tidak, Nian sama sekali tidak menyukai pria yang sudah menculik Nian'' ucapnya tanpa di sadari kalau sudah membuka sedikit rahasia.
Dari perkataan Gu Nian, seketika Jendral Rong menyadari sesuatu, Jendral Rong menebak kalau sebenarnya Gu Nian di culik karna Pangeran Duan menyukainya, bukan untuk di jadikan umpan.
''Kenapa kamu tidak menyukainya?'' tanya Jendral Rong. '' Dia putra mahkota, dan sudah pasti akan menjadi Raja selanjutnya'' imbuhnya sembari membuka buku yang tadi ia baca.
''Em, karna sebenarnya selama ini Nian menyukai Kak Cheng'' ungkap Gu Nian dengan kepala tertunduk.
Prak
Jendral Rong langsung menutup buku yang di genggamnya lalu bangkit.
''Nian, kalau tidak hal penting lainnya, sebaiknya kamu pulang, aku harus pergi mengawasi para prajurit yang sedang berlatih'' ucap Jendral Rong dan melangkah keluar dari ruang kerjanya begitu saja.
Sedangkan Gu Nian dia merasa kebingungan, melihat perubahan sikap Jendral Rong yang tiba tiba.
''Kenapa Kek Cheng tiba tiba pergi, mungkinkah dia terlalu terkejut mendengar pengakuanku?, tidak tidak, sepertinya Kak Cheng terlalu senang, karna akhirnya aku membalas perasaannya selama ini'' gumam Gu Nian sembari tersenyum, lalu berjalan keluar dari ruang kerja Jendral Rong dan pulang.
Sedangkan di kerajaan timur, setelah sekian lama kini Qin Lu baru teringat untuk memberi kabar pada Ayah dan Pelayan setianya melalui burung merpati yang di tangkapnya beberapa minggu yang lalu, Qin Lu menulis dua surat sekaligus, untuk Ayahnya dan juga pelayan setianya di kekasiran, lalu dia letakkan di badan merpati miliknya.
''Merpati cantik, ingat ya, surat ini harus sampai di tangan orang yang tepat, jangan sampai meleset'' ucap Qin Lu, seperti faham dengan apa yang di ucapkan oleh Qin Lu, merpati itu langsung mengibaskan sayapnya.
''Lu Lu, apa kamu sudah selesai bersiap?!'' seru Qin Yu dari depan pintu kamarnya.
''Iya Kak, tunggu sebentar!!'' sahut Qin Lu.
''Sudah, sana terbanglah ke kediaman keluarga Lu di kekaisaran'' perintah Qin Lu, dan burung merpati itu langsung terbang tinggi ke awan.
Setelah itu Qin Lu langsung meraih buntalan bajunya yang ia letakkan di atas ranjang, lalu dia berjalan keluar.
''Sudah siap?'' tanya Qin Yu.
''Sudah, ayo berangkat'' jawab Qin Lu.
Hari ini Qin Lu akan pergi ke sekolah kerajaan, setelah Qin Yu memastikan jika luka di perutnya sudah benar benar sembuh.
suka mengejek lelaki giliran disindir telak langsung erosii
dulu saja sering nyindir nyindir karna merasa dekat dgn JendrAl rong
sekarang tau kan udah kena imbasnya
selain jendral rong
pengawal hanbin dan Xiao Fei harus bisa main senjata pintol juga🤔🤔