Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kehadiran Bocah Menggemaskan
"Ini kamar anda, Nona. Silakan masuk. Saya pastikan nona Clara tidak akan pernah kemari dan mengganggu anda. Setidaknya untuk sekarang," ucap Marco seraya membuka pintu berwarna coklat itu.
Keyla tidak langsung melangkah masuk. Ia terpaku di ambang pintu, bahunya merosot lemas saat ia membuang napas panjang yang terdengar sangat berat.
Matanya nampak kosong, menatap lantai yang berkilau seolah bisa memantulkan seluruh kemalangan hidupnya.
"Nona? Anda kenapa? Apakah ada yang sakit karena perlakuan nona Clara tadi? Wajah anda merah sekali." Marco bertanya dengan nada cemas, ia memperhatikan bekas tamparan yang kini mulai membiru di pipi mulus Keyla. "Baiklah, saya akan mengambil kotak obat dan membantu mengobati anda."
Baru saja Marco hendak berbalik, ucapan lirih Keyla menghentikan langkahnya.
"Aku memang tak masalah jika harus menjadi istri kedua, Marco. Aku sudah pasrah. Aku yakin pertemuanku dengan tuan Dom adalah takdir pahit yang sudah digariskan untukku," gumam gadis itu. "Tapi, kenapa harus kak Clara? Kenapa harus suami kakakku sendiri?"
Marco terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Sungguh, aku merasa sangat bersalah. Haruskah aku mundur dan memilih pergi saja dari sini? Aku tidak ingin membuat keributan lebih jauh, Marco. Aku tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang," lanjut Keyla.
"Nona, anda tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Tuan Dom sendiri yang sudah memilih, beliau bukan pria yang bisa dipaksa—"
"Andai aku tahu suami kak Clara adalah tuan Dom, aku pasti sudah menolak menikah dengannya sejak awal!" potong Keyla sebelum Marco sempat melanjutkan kalimatnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Waktu kak Clara menikah dulu, aku bahkan tidak diizinkan keluar kamar. Aku dikurung hanya karena aku adalah anak tiri. Ibu selalu bilang aku pembawa si-al. Mereka menyalahkan aku atas semua kemalangan yang terjadi pada keluarga mereka."
Tiba-tiba saja, satu tetes air mata jatuh mengenai punggung tangan Keyla saat ia menunduk. Isakannya mulai terdengar pecah.
"Aku takut... aku takut jika aku masuk ke keluarga tuan Dom, mereka juga akan tertimpa sial karena keberadaanku. Aku ini pembawa petaka, bukan?"
Keyla teringat memori pahit saat pertama kali ayahnya membawanya masuk ke rumah keluarga Siska.
Sejak hari itu, Keyla diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia mencuci, memasak, dan membersihkan rumah, sementara Clara hidup seperti putri.
Keyla tidak pernah protes, karena ia sadar posisinya hanya putri dari hubungan gelap ayahnya. Ia merasa dirinya adalah aib yang harus disembunyikan.
Marco menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya tampak sangat bingung. "Aduh, kenapa jadi melow begini? Bagaimana caranya menenangkan wanita yang sedang menangis sesenggukan?" batinnya frustrasi. Ia lebih ahli menghadapi todongan pistol daripada menghadapi air mata wanita.
"Em... Nona, soal pembawa si-al... saya rasa itu hanya mitos. Buktinya tuan Dom menang proyek besar tadi siang setelah bertemu anda," Marco mencoba melucu dengan kikuk, namun Keyla tidak merespons.
"Sudahlah, kau tak perlu khawatir padaku. Aku baik-baik saja," ucap Keyla tiba-tiba sembari menghapus air matanya dengan kasar. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat dipaksakan ke arah Marco. "Terima kasih sudah mengantarku kemari."
"Cepat sekali moodnya berubah? Tadi menangis meraung, sekarang tersenyum? Wanita benar-benar makhluk paling misterius di bumi," batin Marco heran.
Setelah Keyla masuk, Marco menutup pintu dan menguncinya dari luar.
"Saya kunci ya, Nona! Demi keamanan anda dari serangan nona model itu!" teriaknya dari luar sebelum melangkah pergi dengan perasaan campur aduk.
Di dalam kamar yang sangat luas dan mewah itu, Keyla berjalan lunglai menuju cermin rias.
Keyla menyentuh pipinya yang masih terasa kebas. Bayangan masa lalunya kembali berputar seperti kaset rusak, membuatnya kembali terisak pelan.
"Hei! Kau ciapa?!"
Sebuah suara cempreng anak kecil mengejutkan Keyla. Ia tersentak dan menoleh ke belakang.
Di sana, berdiri seorang bocah perempuan berusia sekitar lima tahun dengan pipi tembem yang memerah. Rambutnya dikepang dua dengan pita merah muda yang lucu.
Bocah itu berdiri berkacak pinggang dengan wajah yang berusaha dibuat segarang mungkin.
"Ini kamal Pamanku! Ndak ada yang boleh macuk kecini kecuali Zoey!" seru bocah itu dengan cadel yang menggemaskan.
Keyla mengerjap, menghapus sisa air matanya dengan cepat. Ia terpaku menatap sosok mungil yang sangat cantik itu.
"Zoey?" lirihnya.
"Iya! Aku Zoey! Kenapa kau menangis? Apa kau beltemu hantu?" tanya Zoey, kini langkah kaki mungilnya mendekat ke arah Keyla. Matanya yang bulat menatap pipi Keyla yang merah. "Wah! Pipimu melah! Apa kau habis dicium naga?"
Keyla tak kuasa menahan senyum kecil melihat tingkah polos bocah itu. Rasa sedihnya seolah menguap oleh kehadiran Zoey yang tiba-tiba.
"Namaku Keyla. Pamanmu yang menyuruhku masuk ke sini," jawab Keyla lembut sembari berjongkok agar sejajar dengan Zoey.
Zoey memiringkan kepalanya, jemari kecilnya menyentuh pipi Keyla yang memar. "Paman Dom jahat ya? Dia buat Kakak cantik menangis? Nanti Zoey pukul paman pakai boneka kalau dia nakal lagi!"
Keyla tertawa kecil di tengah sisa isakannya. Ternyata, di rumah yang penuh dengan kemarahan Clara dan kedinginan Dominic, ada satu malaikat kecil yang menyambutnya dengan cara yang tak terduga.
*
*
"Dom, jangan begini kumohon! Jangan abaikan aku. Aku minta maaf, apa pun akan kulakukan agar kau memaafkanku dan menceraikan ja-lang itu!" seru Clara sembari merengek, jemarinya mencengkeram erat lengan Dominic.
Dominic menghentikan langkahnya tepat di kaki tangga. Ia menoleh perlahan, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa pun?"
Clara mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca. "Iya, apa pun!"
"Termasuk meninggalkan karier modeling-mu dan fokus menjadi istri yang memberikan aku pewaris?" tanya Dominic tajam.
Seketika Clara terdiam. Ia menelan ludah dengan susah payah. Meninggalkan panggung catwalk dan sampul majalah internasional yang telah membesarkan namanya? Itu tidak mungkin, karena itu adalah dunianya.
Meski ada sokongan nama besar keluarga Dominic, Clara tetap ingin dipuja karena kecantikannya dan usahanya sendiri.
"Kau tidak bisa, bukan?" Dominic mendengus kasar, menepis tangan Clara hingga terlepas. "Jadi jangan pernah berharap aku menceraikan adikmu. Dia akan tetap menjadi istri keduaku, dengan atau tanpa izinmu!"
Dominic melangkah naik menuju kamar, meninggalkan Clara yang mematung dengan napas memburu karena amarah.
Marco, yang baru saja berpapasan dengan Dominic, hanya menggeleng pelan melihat pemandangan itu. "Kasihan sekali nasib nona model. Dicampakkan begitu saja karena terlalu egois," gumamnya lirih.
"Apa kau lihat-lihat?!" maki Clara menyadari tatapan asisten suaminya itu.
"Ampun, Nona! Saya cuma lewat!" sahut Marco yang langsung ngacir sebelum vas bunga di dekatnya melayang.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃