GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer
Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.
Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.
Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 "Rumah"
Chapter 7
Matahari buatan di dalam kubah Station 05 memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Di area taman belakang *Home*, angin berembus pelan membawa aroma tanah basah. Shin duduk di bangku kayu sambil memegang sebuah buku catatan tua, sementara Belial bersandar di tiang gazebo dekat dengannya, membiarkan ekor birunya meliuk santai di lantai.
"Shin," panggil Belial memecah keheningan. "Manusia di dalam Station ini... kenapa mereka selalu terlihat terburu-buru? Bahkan saat tidak ada alarm?"
Shin mendongak dari catatannya, tersenyum tipis. "Mungkin karena waktu di sini terasa berbeda, Belial. Di dalam kubah, kita menciptakan siang dan malam kita sendiri. Kebebasan yang diatur membuat orang ingin menyelesaikan segalanya sebelum 'lampu' dipadamkan."
Belial terdiam, menyentuh salah satu tanduk birunya yang berkilau. "Garis depan sangat berbeda. Di sana hanya ada hitam, putih, dan warna darah oranye. Tidak ada waktu untuk memikirkan apakah besok matahari akan terbit atau tidak. Tapi di sini... bersamamu, aku mendapati diriku banyak berpikir."
"Berpikir tentang apa?" tanya Shin lembut.
"Tentang... kenapa detak jantungmu selalu konstan saat bersamaku. Kau tidak takut padaku, padahal aku ini separuh monster," ketus Belial, meski matanya menatap Shin dengan binar yang lebih lembut dari biasanya.
"Sudah kubilang, tanduk dan ekormu itu cantik," jawab Shin jujur tanpa ragu. Wajah Belial seketika memerah. Ia mendengus keras, memalingkan muka untuk menjaga harga dirinya. "Dasar mesum. Kau selalu mengatakan hal-hal aneh dengan wajah datar."
Dari balik jendela dapur *Home*, sepasang mata menatap mereka dengan tajam. Sua berdiri di depan wastafel, meremas kain lap dengan kekuatan yang berlebihan.
"Sua, kalau kau meremas kain itu lebih kencang lagi, airnya bisa berubah jadi magma," goda Lei yang tiba-tiba muncul di sebelah Sua sambil mengunyah apel.
"Aku tidak sedang meremas apa-apa!" ketus Sua, wajahnya cemberut. Matanya kembali melirik ke luar jendela, melihat bagaimana Belial sekarang duduk sedikit lebih dekat ke arah Shin. "Dia... dia baru saja bergabung, tapi kenapa Shin bisa seakrab itu dengannya? Menyebalkan."
Lei terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Itu dinamakan cemburu, Kapten. Tapi tenang saja, Shin tetaplah Shin. Dia hanya terlalu baik pada semua orang."
Di sudut lain Station 05, terdapat fasilitas waduk buatan yang dialiri air hangat dari pembuangan sistem magma bawah tanah. Tempat ini sepi, menjadikannya lokasi sempurna untuk melepas penat.
Di tepi pembatas beton, Lei dan Zhou duduk berdampingan dengan joran pancing di tangan masing-masing.
"Hei, Zhou. Kau yakin ada ikan di air sehangat ini?" tanya Lei, menatap pelampung pancingnya yang tak bergerak sedikit pun.
"Tentu saja ada! Teiben bilang dia kemarin melihat ikan mas mutasi berenang di sini. Kalau aku berhasil menangkapnya, aku akan menyuruh Huah memasak sup ikan paling enak!" seru Zhou penuh ambisi kekanak-kanakan.
"Kalian berdua hanya akan menangkap lumut," cibir Sei yang lewat di belakang mereka dengan seragam militer lengkap, menolak untuk ikut bersantai.
"Ah, Sei! Jangan dingin begitu, ikutlah memancing!" teriak Zhou, namun Sei terus berjalan tanpa menoleh. Lei hanya menghela napas. "Biarkan saja dia. Dia memang selalu begitu sejak di Birdcage."
Sementara itu, di ruang bersantai *Home*, suasana jauh lebih tenang. Huah duduk bersila di lantai, kepalanya bersandar lemas di lutut Mei. Mei dengan penuh kesabaran menyisir rambut kuncir kuda Huah yang agak kusut karena latihan fisik kemarin.
"Mei-jie... rambutku jangan ditarik kuat-kuat," rengek Huah malas.
"Ini karena kau jarang menyisirnya setelah keluar dari kokpit Phoenix, Huah," ucap Mei dengan suara lembut, jemarinya membelai rambut Huah dengan penuh kasih sayang seorang kakak. "Kau harus merawat dirimu. Kita tidak tahu kapan misi berikutnya akan memanggil."
"Hmph, selama ada Zhou yang bisa kujadikan tameng, aku aman-aman saja," gumam Huah sambil memejamkan mata, menikmati pijatan lembut Mei di kulit kepalanya. Elas yang duduk di sofa sebelah mereka hanya melirik dari balik kacamata tebalnya, membalik halaman buku tentang biologi manusia dengan tenang. Ketenangan sore itu pecah berantakan dalam hitungan detik.
Huah yang baru saja bangkit dari pangkuan Mei berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, begitu ia membuka pintu lemari kabinet, sesuatu yang hitam, kecil, berkaki banyak, dan bergerak sangat cepat terbang keluar.
"K-KEOCOAK!!! KECOAK TERBANG!!!" jerit Huah dengan nada melengking yang mampu memecahkan kaca.
"Apa?! Cataclysm?!" Zhou yang baru kembali dari memancing langsung melompat masuk ke ruang tengah sambil memegang joran pancingnya seperti tombak Neo Gear. "Di mana lokasinya?!"
"Di atas kepalamu, bodoh!" teriak Teiben yang langsung melompat ke atas sofa, memeluk bantal dengan wajah pucat pasi.
Wush! Makhluk hitam itu mengepakkan sayapnya kasar, terbang berputar di langit-langit ruang tengah. Seluruh tim langsung panik massal. Elas menjatuhkan bukunya, merangkak di bawah meja demi keselamatan. Mei yang biasanya kalem langsung bersembunyi di balik punggung Lei, menggunakan Lei sebagai perisai manusia.
"Tembak, Sei! Pakai senjatamu!" teriak Lei panik, ikut ketakutan saat kecoak itu menukik ke arahnya.
"Aku tidak membawa senjata api ke ruang makan, bodoh!" sahut Sei yang ikut mundur ke sudut ruangan dengan wajah tegang.
Pintu depan terbuka, Shin dan Sua baru saja masuk setelah menyelesaikan laporan administrasi.
"Ada apa dengan keributan ini—" Kalimat Sua terputus saat kecoak itu terbang lurus ke arah wajahnya.
"GAAAAH!" Kehilangan seluruh wibawa kaptennya dalam sekejap, Sua menjerit refleks. Dengan gerakan instan, ia melompat ke depan dan memeluk Shin dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada Shin. "Shin! Singkirkan makhluk itu! Singkirkan!"
Shin berkedip tenang. Dengan satu gerakan tangan yang cepat, ia menangkap kecoak terbang itu menggunakan kotak tisu kosong yang ada di meja, lalu membuangnya ke luar jendela. "Sudah aman, Sua," ucap Shin datar.
Sua perlahan membuka matanya, menyadari dirinya masih memeluk Shin dengan erat di depan seluruh anggota tim yang kini menatap mereka sambil menahan tawa. Wajah Sua seketika memerah padam dari pipi hingga ke telinga. Ia langsung melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, berusaha merapikan seragamnya dan kembali bersikap tenang.
"Ehem. Bagus. Kerja bagus, Prajurit Shin," ucap Sua dengan suara yang dibuat tegas, meski gemetar karena malu.
"Cieee... Kapten Sua refleknya luar biasa ya," goda Zhou dengan cengiran lebar.
"Iya, romantis sekali ditengah teror monster hitam," timpal Huah sambil menyenggol lengan Lei.
"Kalian semua... LATIHAN FISIK TAMBAHAN SEPULUH PUTARAN SEKARANG!" teriak Sua frustasi demi menutupi rasa malunya.
Di ujung koridor, Belial berdiri bersandar di dinding. Ia menatap pemandangan riuh itu dari kejauhan dengan sorot mata yang sulit diartikan. Detak jantung Shin yang hangat saat dipeluk Sua... entah mengapa membuat dada Belial terasa sedikit sesak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi diam-aman.
Malam harinya, suasana kubah Station berubah menjadi mode malam. Lampu-lampu kota meredup, digantikan oleh proyeksi langit malam yang dipenuhi ribuan bintang buatan yang sangat indah.
Sua berdiri di atap stasiun, angin malam yang dingin memainkan rambutnya. Mendengar langkah kaki di belakangnya, ia menoleh dan mendapati Shin berjalan mendekat. "Kau mengajakku ke sini, Sua?" tanya Shin.
"Ya," jawab Sua, suaranya kini melunak, kehilangan seluruh nada ketegasan militernya. Ia menatap ke langit atas. "Lihat bintang-bintang itu, Shin. Indah, ya? Meskipun kita tahu itu semua hanya proyeksi buatan di bawah kubah pelindung."
Shin berdiri di samping Sua, ikut menatap hamparan cahaya di atas mereka. "Ini mengingatkanku pada masa lalu."
"Masa kecil kita di Birdcage," ucap Sua dengan senyum nostalgia yang tulus. "Kau ingat, Shin? Dulu saat kita masih kecil, aku selalu menyendiri di pojokan kamar. Aku takut pada dunia luar, takut pada takdir kita sebagai pilot. Tapi kau... dengan wajah polosmu, mengulurkan tangan dan mengajakku berkenalan."
"Aku ingat," jawab Shin lembut. "Sua kecil yang sangat cengeng saat itu." "Hei! Aku tidak secengeng itu!" protes Sua sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Shin terkekeh. Sua kemudian menghela napas panjang, menatap jemarinya sendiri. "Lalu kita sering main hujan-hujanan bersama Lei di halaman. Kita berjanji untuk saling melindungi. Di tempat menyeramkan seperti Birdcage, kehadiranmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia, Shin."
Sua membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Shin. Ada kilau air mata yang tertahan di sudut matanya, mencerminkan ribuan bintang di atas mereka. Ia menggenggam tangan Shin dengan kedua tangannya yang hangat.
"Aku tahu... banyak hal yang berubah semenjak Belial datang. Aku tahu kau melihat sesuatu yang berbeda padanya," bisik Sua, suaranya bergetar menahan emosi. "Tapi aku tidak peduli seberapa hancurnya dunia ini besok. Aku tidak peduli dengan perintah The Hawk atau ancaman Cataclysm."
Sua mendekatkan wajahnya, menatap Shin dengan penuh ketulusan yang mendalam. "Aku akan menemanimu... sampai akhir hayat, Shin."
Shin tertegun melihat kesungguhan di wajah gadis yang telah bersamanya sejak kecil itu. Suasana di atap stasiun menjadi begitu hening, menyisakan embusan angin malam yang dingin.
Namun, di kejauhan, di balik bayangan dinding akses tangga atap, sesosok wanita berdiri membeku. Belial telah berdiri di sana sejak tadi, menguping seluruh percakapan mereka. Mendengar kata-kata terakhir Sua, rahang Belial perlahan mengeras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, mencengkeram kain seragamnya hingga berkerut. Matanya berkilat biru tajam di kegelapan, menyiratkan rasa tidak suka, penolakan, dan rasa sakit yang asing di dalam hatinya.
Tanpa membuat suara sedikit pun, Belial berbalik. Ekor birunya menyabet lantai dengan kasar sebelum ia melangkah pergi dengan cepat menembus kegelapan lorong, meninggalkan sepasang saudara masa kecil itu di bawah ribuan bintang tiruan.