Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemburuan Pertama di Lereng Gunung
Luo Chen itu segera meninggalkan area luar pasar selatan, bergerak
lurus menyusuri jalan setapak berbatu yang menanjak menuju lereng hutan Gunung
Tiga Jari. Rimbunnya pepohonan liar mulai menutupi pandangan dari arah kota,
digantikan oleh jajaran pohon bambu tua dan semak belukar berduri yang lebat di
sepanjang lereng gunung.
"Herba Daun Perak tingkat satu ini... daunnya berwarna keperakan dengan urat
putih halus," bisik Luo Chen berjongkok di bawah naungan batu besar untuk
mencabut beberapa batang tanaman obat, berbicara langsung pada dirinya
di tengah sunyinya hutan. "Menurut Kitab Maha Tahu, herba ini memancarkan aroma
khas yang sangat disukai oleh binatang spiritual berelemen angin seperti
Serigala Taring Angin. Aku bisa menggunakannya sebagai umpan pengalih perhatian
nanti."
Dari arah semak belukar yang berjarak sekitar sepuluh meter di sebelah kanannya,
suara gesekan dedaunan kering mendadak terdengar kasar dan cepat, memicu deteksi
bahaya di kepalanya. Sesosok serigala berbulu abu-abu dengan taring panjang yang
melengkung keluar dari rahangnya melompat lambat, menatap lurus ke arah tanaman
obat di tangan pemuda tersebut dengan mata yang memancarkan cahaya hijau redup.
"Serigala Taring Angin tahap ketiga... kecepatannya sangat tinggi berkat energi
angin di sekitar cakarnya," bisik Luo Chen meletakkan ember kayunya
perlahan, berbicara pelan untuk menyusun strategi
pertarungan. "Kelemahannya berada di bagian lambung bawah yang lunak. Jika aku
menyerangnya dari depan secara langsung, kecepatannya akan dengan mudah
menghindari pukulanku. Aku harus mengalihkan perhatiannya menggunakan tanaman
ini."
Dengan satu ayunan tangan yang cepat, Luo Chen melempar seikat Herba Daun Perak
ke arah semak di sebelah kiri serigala tersebut. Begitu perhatian binatang buas
itu teralih selama sepersekian detik oleh aroma tanaman obat di udara, ia
langsung melesat maju menggunakan kekuatan fisik penuh dari "Tinju Dasar klan
Luo" tahap ketiga.
Satu sabetan cakar angin dari serigala tersebut meluncur cepat memotong arah
gerakannya, meninggalkan tiga garis angin transparan yang tajam di udara.
Meskipun Luo Chen sempat memiringkan kepalanya dengan cepat, ujung cakar angin
tersebut tetap berhasil menggores pipi kirinya hingga mengeluarkan garis darah
tipis.
"Tahan ini!" seru Luo Chen mencabut pisau besi berkarat peninggalan Ye
Feng dari pinggang jubahnya untuk menahan gigitan rahang serigala yang mengarah
ke tenggorokannya, menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan penahan.
Hantaman telak fisik dari kepalan tangan kanannya yang telah diperkuat energi
tahap ketiga mendarat lurus ke arah lambung bawah serigala yang lunak. Suara
retakan tulang rusuk terdengar nyaring dari tubuh binatang buas tersebut,
membuatnya terlempar sejauh dua meter ke atas tanah dengan erangan rasa sakit
yang keras, namun tubuhnya masih terus berusaha menggeliat untuk bangkit
kembali.
Langkah kaki kasar yang mendadak terdengar dari arah semak belukar bagian atas
memotong jalannya pertarungan. Seorang pemburu liar paruh baya bertubuh tegap
dengan parang panjang di tangan kanannya melangkah keluar dari balik pohon,
menatap bangkai serigala dan tanaman obat milik Luo Chen dengan pandangan mata
yang serakah.
"Bocah, tinggalkan serigala itu dan semua herba di kantong jubahmu jika kau
masih ingin pulang ke desa dengan tubuh utuh!" teriak A-Biao mengayunkan
parang panjangnya dengan gerakan memutar di udara, memancarkan energi Qi
berwarna kuning tanah yang tipis di sepanjang mata pisaunya.
"Aku berburu dengan kekuatanku sendiri, dan herba ini adalah milikku," jawab Luo
Chen berdiri tegak menghadap pemburu tersebut, suaranya terdengar sangat
datar dan tenang tanpa ada keraguan sedikit pun. "Menyingkirlah dari jalanku
jika kau tidak ingin merasakan akibatnya."
Sambil mendengus kasar dengan tawa mengejek, pemburu liar itu mengalirkan
seluruh sisa energi Qi miliknya untuk mengaktifkan "Jurus Tebasan Palu Bumi".
"Kau hanya bocah fana tanpa aliran Qi di dantian! Mati kau!" teriaknya
menerjang maju dengan ayunan parang yang mengarah lurus ke dada pemuda tersebut.
Satu sapuan parang berlapis energi kuning tanah membelah udara dengan suara
dengungan yang berat, menekan permukaan tanah di bawah mereka hingga menyebarkan
kepulan debu tipis.
Dengan kelincahan tubuh fisiknya yang telah ditempa secara ekstrem, Luo Chen
memiringkan tubuhnya ke samping dalam jarak beberapa sentimeter dari lintasan
parang tajam tersebut. Di saat yang sama, ia meluncurkan pukulan siku kanannya
dengan kecepatan tinggi, menghantam sendi pergelangan tangan kanan pemburu itu
dengan kekuatan penuh tahap ketiga.
"Aaaaakh! Sendi tanganku hancur!" jerit A-Biao seketika melepaskan
pegangan parang panjangnya yang langsung terjatuh ke atas tanah berlumpur,
tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah dengan wajah yang memucat padam
menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sambil memegangi pergelangan tangannya yang membengkok aneh, pemburu liar itu
menatap Luo Chen dengan pandangan mata yang penuh ketakutan yang mendalam.
"Kau... monster macam apa kau ini? Kulitmu sekeras baja!" teriaknya sebelum
segera berbalik arah dan berlari melarikan diri ke dalam rimbunnya hutan dengan
panik.
"Parang peninggalan pemburu ini jauh lebih tajam dan berguna daripada pisau
berkarat Feng'er," bisik Luo Chen memungut parang panjang milik A-Biao
dari atas tanah, berbicara langsung kepada dirinya sendiri seraya melangkah
mendekati tubuh serigala yang masih sekarat di atas tanah.
Dengan satu tebasan cepat yang bersih ke arah leher belakang Serigala Taring
Angin, ia mengakhiri pertarungan tersebut seketika tanpa membuang banyak tenaga.
Menurut panduan dari "Kitab Maha Tahu" di kepalanya, Luo Chen membelah bagian
dada serigala tersebut untuk mencari letak "Inti Api" berunsur angin yang
tersimpan di dalam nadinya. Ujung jarinya menyentuh sebiji kristal kecil
berwarna hijau pucat yang memancarkan hawa hangat yang sangat tipis namun padat
di dalam bangkai binatang buas tersebut.
Satu sensasi hangat merambat cepat dari ujung jarinya saat ia perlahan menyerap
energi Inti Api tersebut masuk menyatu ke dalam jalur meridian tangannya,
menyimpannya di dalam ulu hati sebagai modal awal bagi metode alkimia kunonya.
"Penyerapan Inti Api berunsur angin berhasil... ini adalah dasar yang bagus
untuk mulai memurnikan pil pertamaku nanti," bisik Luo Chen menatap
telapak tangannya yang sempat memancarkan kilatan cahaya hijau tipis sebelum
kembali meredup.
Ketika membelah bagian perut serigala tersebut untuk mengambil taring dan
cakarnya yang berharga, ujung belatinya membentur sebutir kristal bulat berwarna
biru jernih seukuran biji kelereng yang memancarkan energi murni tingkat tinggi.
"Inti Jiwa binatang spiritual tingkat satu... ini adalah bonus yang sangat
berharga dan langka di lereng luar gunung," bisik Luo Chen mengangkat
kristal biru tersebut di bawah naungan cahaya hutan, berbicara pelan pada
dirinya sendiri dengan senyum tipis di bibirnya. "Terima kasih atas hasil buruan
yang melimpah hari ini. Sekarang aku memiliki cukup modal untuk membeli bahan
alkimia dasar di kota esok hari."