Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab²³
Pagi berikutnya, Gentala Group kembali disibukkan dengan agenda rapat direksi. Para petinggi perusahaan telah duduk di ruang rapat utama ketika Erwin memasuki ruangan. Biasanya pria itu selalu menjadi orang pertama yang membuka pembahasan, tetapi hari ini ia justru terlihat beberapa kali kehilangan fokus.
"Pak Erwin?"
Suara salah seorang direktur membuyarkan lamunannya.
"Maaf, bisa diulangi?"
Beberapa orang saling berpandangan. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Erwin, hampir tidak pernah mereka melihat pemimpinnya tampak melamun saat rapat berlangsung.
Direktur keuangan kembali menjelaskan laporan penjualan kuartal terakhir, tetapi perhatian Erwin tetap tidak sepenuhnya berada di sana. Tanpa sadar, matanya tertuju pada kursi kosong di sisi kanan meja rapat.
Kursi itu... dulu selalu ditempati Naura ketika diminta hadir untuk memberikan masukan mengenai strategi pemasaran. Meski hanya datang sebagai pendamping, beberapa ide sederhana yang keluar dari mulut istrinya sering kali mampu menyelesaikan perdebatan panjang di ruang rapat.
Saat itu Erwin menganggap semuanya biasa. Baru sekarang ia menyadari, hampir semua keputusan besar yang membawa Gentala Group berkembang berasal dari usulan Naura.
"Pak Erwin?"
Untuk kedua kalinya ia dipanggil.
Erwin mengusap pelipisnya pelan. "Lanjutkan rapat."
Tak lama kemudian, rapat selesai. Para direksi mulai meninggalkan ruangan, tetapi Fajar, direktur senior yang telah lama bekerja bersamanya masih tetap duduk.
"Ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Erwin.
Fajar tampak ragu beberapa saat. "Pak... saya ingin bertanya sesuatu."
"Silakan."
"Selama ini... apakah benar banyak strategi perusahaan berasal dari Bu Naura?"
Erwin terdiam.
Ia teringat malam-malam ketika Naura masih menjadi istrinya. Wanita itu sering duduk di ruang kerja sambil membaca laporan perusahaan yang ia bawa pulang. Awalnya Erwin hanya menganggap Naura penasaran dengan pekerjaannya.
Namun tanpa diminta, Naura mulai memberi beberapa masukan.
"Kalau proyek ini digabung dengan divisi logistik, biaya distribusinya bisa ditekan."
"Klien ini jangan dilepas. Mereka memang untungnya kecil sekarang, tapi lima tahun lagi pasarnya besar."
Saat itu Erwin hanya mengangguk dan menyampaikan ide tersebut pada direksi seolah hasil pemikirannya sendiri. Dan hampir semuanya berhasil.
"Iya." Erwin mengembuskan napas panjang.
"Saya baru mengerti sekarang," gumam Fajar pelan.
"Apa maksudmu?"
"Beberapa minggu terakhir... sejak Bu Naura tidak ada, arah strategi perusahaan terasa berbeda."
Erwin mengepalkan tangannya di bawah meja, akhirnya ia benar-benar merasakan kehilangan sosok yang selama ini selalu mendukung di belakangnya.
...*****...
Di Ardynata Group, suasana jauh lebih hidup. Naura sedang memimpin rapat strategi bersama jajaran direksi. Berbeda dengan dulu yang selalu berbicara dengan nada ragu, kini setiap kalimatnya terdengar mantap.
"Laporan divisi logistik sudah saya pelajari. Kalau kita tetap memakai pola distribusi lama, biaya operasional akan terus naik."
Ia menampilkan grafik di layar. "Saya mengusulkan pembangunan pusat distribusi baru di wilayah timur."
Beberapa direktur langsung mencatat.
Bastian yang dulu sempat meragukan kemampuannya, kini justru menjadi orang pertama yang mengangguk. "Usulan Bu Naura masuk akal."
Kakek Guntur yang duduk di ujung meja hanya tersenyum bangga.
Selesai rapat, para direksi satu per satu menghampiri Naura.
"Selamat, Bu Direktur."
"Presentasinya sangat jelas."
"Keputusan tadi akan sangat menguntungkan perusahaan."
Naura hanya membalas dengan senyum ramah.
Saat semua orang mulai keluar, Alaska muncul di depan pintu ruang rapat sambil membawa dua gelas kopi.
"Direktur hebat ternyata juga bisa terlihat lelah."
Naura menerima salah satu gelas itu, lalu menatapnya dengan penuh curiga.
"Apa ini? Jangan bilang... kamu benar-benar membelikanku kopi?"
Alaska membuka tutup gelas itu sedikit agar Naura bisa melihat isinya. "Americano, no sugar."
"Sudah kuduga." Naura mengembuskan napas panjang.
"Apa?"
"Kalau kau yang membelikan minuman, pasti tetap ada unsur kesehatan."
"Kau mulai memahamiku." Alaska tertawa kecil.
Naura mengaduk kopinya pelan. "Aku cuma mulai menerima kenyataan tentang kesehatan ala dokter Alaska."
"Perkembangan yang bagus."
Naura melirik Alaska dengan pandangan jahil. "Kalau suatu hari nanti aku sembuh total, apa kau bakal kehilangan pasien favorit-mu?"
Alaska pura-pura berpikir. "Mungkin saja..."
"Mungkin akan sedih?" goda Naura.
"Bukan itu, tapi mungkin pemasukanku akan berkurang." Alaska tersenyum menyeringai.
Naura spontan memukul pelan lengan pria itu dengan map yang masih dipegangnya. "Dasar materialistis."
"Hei! Dokter juga harus makan."
"Padahal tadi aku hampir terharu."
"Jangan terlalu sering terharu, nanti kamu gampang tersentuh oleh sikapku." Alaska tersenyum tipis.
Naura menggeleng geli. "Aku baru sadar... humormu ternyata garing."
"Tapi bisa membuatmu tertawa, kan?“ Alaska mengangkat sebelah alisnya.
Keduanya pun sama-sama tertawa pelan.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi sepasang mata licik sedang memperhatikan. Tania menyipitkan matanya saat melihat kedekatan Naura dan Alaska.
Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya, Ia memang belum berhasil menjatuhkan Naura. Namun mungkin ia bisa menghancurkan kebahagiaan yang mulai dibangun wanita itu sedikit demi sedikit. Dan di benaknya, sebuah rencana baru mulai terbentuk.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂