NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam belum berganti pagi ketika Jangkrik akhirnya bisa menyeret tubuhnya kembali ke dekat robekan dinding bambu. Napasnya masih satu-satu, meninggalkan rasa anyir darah di tenggorokan. Di dalam gubuk, Sang Warok sudah duduk di depan perapian yang mulai meredup, kembali sibuk mengasah belati kecilnya.

"Masih hidup kau, Jangkrik?" tanya Sang Warok tanpa menoleh, suara gesekan bilah besi dan batu asah terdengar ngilu di keheningan malam.

Jangkrik bersandar pada tiang bambu yang patah, memegangi perutnya. "Kau sengaja membiarkanku hidup hanya untuk menyiksaku seperti ini, Warok?"

Sang Warok menghentikan asahannya. Ia mendongak, menatap Jangkrik dengan seringai tipis. "Siksaan? Ini namanya pelajaran gratis, bocah. Kau pikir suara ratusan jangkrik itu bisa menutupi niat membunuhmu? Kau bodoh."

"Apanya yang bodoh?!" sentak Jangkrik, suaranya serak menahan perih. "Aku sudah melangkah tanpa suara! Jangkrik-jangkrik itu juga berisik!"

"Langkah kakimu memang mati, tapi detak jantungmu seperti bedug bertalu-talu!" Sang Warok bangkit, berjalan mendekati Jangkrik lalu berjongkok di hadapannya. "Begitu kau mendekati pembaringanku dengan pisau terangkat, hawa membunuhmu itu mendidih, Jangkrik. Udara di sekitarku mendadak panas. Kau pikir indra seorang Warok serendah itu?"

Jangkrik memalingkan wajah, mengepalkan tangan kirinya yang tidak terluka. "Sialan..."

"Makanya, kubilang apa?" Sang Warok mencengkeram dagu Jangkrik, memaksa bocah itu menatap wajah angkernya. "Belajar! Serap ilmuku! Jangan cuma tahu cara memegang pisau dapur. Kau mau tahu kenapa cambukku bisa meledak seperti petir dan melempar macan?"

Jangkrik terdiam sesaat. Rasa penasarannya mulai mengalahkan rasa sakit di perutnya. "Kenapa?"

"Karena aku menggunakan Ilmu Komboran," bisik Sang Warok, matanya berkilat penuh kebanggaan. "Tenaga yang disalurkan bukan dari otot lengan, tapi dari pusaran hawa di ulu hati. Disalurkan lewat urat, dialirkan ke ujung cambuk. Mengerti kau?"

Jangkrik menepis tangan gurunya dengan kasar. "Lalu kenapa tidak kau ajarkan saja ilmu itu sekarang? Kenapa aku harus memukul pohon jati sampai tanganku hancur?!"

Sang Warok tertawa renyah, tawa yang membuat bulu kuduk meremang. "Hahaha! Kau mau belajar ilmu tingkat tinggi sementara tulang tanganmu saja masih selembek bubur? Begitu kau menyalurkan Tenaga Komboran ke tanganmu yang lemah itu, tanganmu sendiri yang akan meledak hancur!"

Pria itu berdiri kembali, melipat tangannya di dada.

"Tidur di situ. Besok subuh, ujianmu naik tingkat. Kau tidak hanya memukul kayu jati itu lagi."

Jangkrik mendongak, matanya menyipit penuh selidik. "Apalagi yang kau inginkan, Iblis?"

"Panggil aku Warok, Jangkrik!" koreksi Sang Warok dengan nada menekan. "Besok, selagi kau memukul jati dengan tangan kirimu, aku akan berdiri di belakangmu. Setiap tiga hitungan, aku akan menyabetkan ujung pecutku ke punggungmu."

Jangkrik terkesiap. Wajahnya yang pucat kian memias. "Kau mau membunuhku?"

"Kalau kau tidak bisa bertahan dari sabetan pecutku, kau tidak akan pernah bisa mencicipi ilmu kebal," jawab Sang Warok dingin, berbalik menuju pembaringannya. "Gunakan rasa sakit di punggungmu untuk memicu amarah, tapi simpan amarah itu di ulu hati agar pukulan tanganmu makin keras menghantam jati. Kita lihat, besok punggungmu yang robek, atau jati itu yang tumbang."

Jangkrik menatap punggung tegap gurunya yang mulai menjauh. Rasa sakit di perut dan tangannya masih berdenyut gila, namun kata-kata tentang 'ilmu kebal' dan 'ilmu komboran' tadi menancap kuat di otaknya.

"Warok!" seru Jangkrik sebelum gurunya kembali merebahkan diri.

"Apa lagi?"

"Jangan mati kena penyumbatan darah sebelum besok subuh," desis Jangkrik dengan senyum kelam yang mulai terbentuk di bibirnya. "Karena aku tidak sabar melihat pecutmu itu patah."

Sang Warok tidak membalas dengan kata-kata, hanya suara tawa baritonnya yang kembali menggema, menemani derik ratusan jangkrik yang perlahan mulai menyusut ditelan fajar yang kian dekat.

Pagi pun tiba, menyisakan kabut tipis yang menusuk tulang. Jangkrik sudah berdiri di halaman samping gubuk. Tangan kanannya yang hancur malam tadi kini terbebat kain lusuh berlumuran getah obat, sementara tangan kirinya sudah bersiap di depan batang jati yang bernoda darah.

Di belakangnya, Sang Warok berdiri dengan santai. Di tangan kanannya, pecut Samandiman yang legam menjuntai di tanah, sesekali bergerak seperti ekor ular yang siap mematuk.

"Sudah siap, Jangkrik?" tanya Sang Warok, suaranya berat membelah keheningan pagi.

Jangkrik tidak menoleh. Ia menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke tanah. "Lakukan saja, Warok. Jangan banyak bicara."

"Bagus. Ingat aturan mainnya. Fokuskan pikiranmu pada jati di depanmu. Salurkan getaran dari ulu hatimu ke tangan kirimu. Satu... dua..."

Bugh!

Tangan kiri Jangkrik menghantam kulit jati yang keras. Rasa sakit yang familiar langsung menjalar ke lengannya. Tepat pada hitungan ketiga—

Pletarrr!

"Ughhh!" Jangkrik memekik, tubuhnya tersentak ke depan.

Ujung pecut Sang Warok menyabet tepat di punggungnya. Pakaiannya langsung robek, menyisakan garis merah membara yang seketika mengeluarkan darah segar. Rasanya seperti ditempel besi panas.

"Jangan berhenti, Jangkrik! Pukul lagi!" bentak Sang Warok. "Gunakan rasa panas di punggungmu untuk mendorong tanganmu!"

Jangkrik menggeram, matanya memerah menahan perih yang luar biasa. Sambil menahan napas, ia kembali mengayunkan tangan kirinya.

Bugh!

Pletarrr!

"Sialan!" umpat Jangkrik. Hantaman kedua di punggungnya membuat pandangannya sempat mengabur. Ia terhuyung, namun buru-buru menyeimbangkan badannya.

"Kenapa? Baru dua sabetan nyalimu sudah ciut?!" ejek Sang Warok, pecutnya kembali ditarik ke belakang. "Ingat dendammu, bocah! Apa hanya segini kemampuan anak sodagar yang keluarganya dibantai?!"

Kata-kata Sang Warok seperti menyiramkan minyak ke dalam api yang ada di dada Jangkrik. Rasa sakit di punggungnya mendadak mati rasa, digantikan oleh gelombang amarah yang luar biasa dingin. Ia mengingat rahasia kata-kata gurunya semalam: *Salurkan getaran dari ulu hati.*

Jangkrik memejamkan mata sesaat. Ia membiarkan rasa panas di punggungnya turun dan berkumpul di ulu hatinya, lalu dengan satu hentakan napas yang dilepas, ia memukulkan tangan kirinya sekuat tenaga.

Brakkk!

Suara benturannya kini berbeda. Ada bunyi retakan kecil dari dalam batang jati. Jangkrik terbelalak melihat kulit pohon jati itu sedikit terkelupas.

Di belakangnya, gerakan pecut Sang Warok tertahan di udara. Sang Warok tersenyum lebar, matanya berkilat puas.

"Hahaha! Nah, begitu! Kau mulai merasakannya, kan? Getaran itu!" Sang Warok menurunkan pecutnya sesaat. "Bagaimana rasanya, Jangkrik? Mengubah rasa sakit menjadi tenaga?"

Jangkrik mengatur napasnya yang memburu, keringat bercampur darah menetes dari pelipisnya. Ia menatap telapak tangan kirinya yang kini mulai memar.

"Rasanya..." Jangkrik berbalik perlahan, menatap langsung ke mata Sang Warok dengan tatapan sedingin es. "...aku seperti baru saja menemukan cara untuk menghancurkan dadamu, Warok."

Sang Warok tidak marah, ia justru tertawa terbahak-bahak hingga dadanya yang bidang naik-turun. "Bagus! Simpan niat itu! Tapi latihan pagi ini belum selesai. Baru tiga sabetan. Kita masih punya waktu sampai matahari tepat di atas kepala. Bersiaplah!"

Jangkrik berbalik kembali menghadap pohon jati, memperkokoh kudanya. "Sabet sekeras yang kau bisa, Warok. Kulitku mungkin robek hari ini, tapi besok-besok, pecutmu itu tidak akan mempan lagi di tubuhku!"

Pletarrrr!

Suara ledakan cambuk kembali bersahut-sahutan dengan bunyi hantaman tangan ke kayu jati, menggema di sepanjang tebing Pegunungan Sewu yang menjadi saksi bisu lahirnya seorang monster baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!