Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Saat Dami terbangun dari tidurnya, kepalanya pening sekali. Seluruh badannya terasa letih dan capek luar biasa. Terutama di bagian selangkangannya. Matanya mengerjap-ngerjap sebelum terbuka lebar saat ia mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar itu selain dirinya. Entah Bima pergi ke mana sekarang. Ketika ia menatap jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mungkin pria itu sudah pergi ke kliniknya.
Dami langsung bangun, mengubah posisinya menjadi duduk. Tubuhnya masih telanjang bulat di dalam selimut. Semalam ia ingat setelah minum air, tubuhnya panas sekali hingga tak tertahankan. Lalu ia menyerang Bima, dan ...
Ya Tuhan.
Kesucian yang dia jaga selama ini dan ingin ia berikan pada laki-laki yang dia cintai, telah di renggut oleh laki-laki lain. Yang berstatus sebagai suaminya, tapi perasaan itu tidak ada. Dami mengusap wajahnya kasar. Matanya berkaca-kaca, rasanya dia ingin menangis. Tapi...
Dia sangat tahu persis kalau semua itu bukan salah Bima. Dia yang memulai dan sebagai laki-laki, jelas Bima tidak bisa menahan diri. Tapi tetap saja. Perasaan malu terhadap Bima dan rasa bersalahnya kepada Jeremy bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Bima, maupun Jeremy sekarang.
Maafkan aku ... Jeremy. Maaf ...
Ia terus berucap dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar. Yang paling dia benci adalah... Bisa-bisanya dia sempat menikmati sentuhan Bima.
Yang paling membuatnya malu dan benci pada dirinya sendiri adalah ingatan tentang rasa nikmat itu. Ingatan tentang bagaimana tubuhnya merespons setiap sentuhan Bima, bagaimana ia melengkingkan nama suaminya itu di puncak kenikmatan, dan bagaimana untuk sesaat, nama serta wajah Jeremy benar-benar hilang dari pikirannya, digantikan sepenuhnya oleh sosok Bima. Rasanya ia adalah wanita paling jahat dan tidak setia di dunia ini. Bagaimana mungkin ia bisa menikmati sentuhan pria lain? Bagaimana mungkin tubuhnya mengkhianati hatinya sendiri?
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Dami tersentak kaget, ia buru-buru menarik selimut lebih rapat menutupi dadanya. Bima berdiri di sana, mengenakan kemeja rapi dengan nampan berisi sarapan dan segelas air di tangannya. Wajahnya tidak tampak seperti orang yang menyesal, melainkan lembut, tenang, namun terselip sorot kepemilikan yang jelas terlihat saat matanya bertemu dengan mata Dami.
"Kau sudah bangun?" sapanya pelan, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur, berjarak cukup aman dari Dami yang tampak tegang dan waspada.
Dami membuang muka, menatap lantai dengan bibir gemetar. Ia tak sanggup menatap mata itu. Ia takut jika ia menatapnya, ingatan tentang semalam akan kembali menyeruak, dan rasa malu itu akan membakar dirinya habis-habisan.
Bima menghela napas panjang, tangannya terulur perlahan ingin menyentuh pipi wanita itu, namun Dami menarik wajahnya menjauh. Hati Bima sedikit perih, tapi ia mengerti kekacauan yang sedang dirasakan istrinya saat ini.
"Maafkan aku, Dami," ucap Bima lembut, namun tegas.
"Aku tidak menyesali apa yang terjadi semalam, karena aku adalah suamimu yang sah. Tubuhmu adalah hakku, sama seperti tubuhku milikmu. Tapi aku minta maaf jika caranya membuatmu kaget atau sakit. Aku tahu kau bingung, aku tahu kau merasa bersalah..." Bima berhenti sejenak, menatap dalam ke arah wanita itu.
Dami balas menatap pria itu, antara malu dan marah.
"Tapi kita sudah sepakat, pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak di antara kita."
"Aku tahu, tapi aku juga ingin berita satu hal padamu. Dari awal kita menikah, aku tidak pernah menganggap kalau pernikahan ini hanya sebatas pernikahan kontrak. Kita menikah secara sah, dan kau... Adalah istriku yang sah. Aku sudah jatuh cinta padamu, sejak lama. Kau pikir aku adalah sosok laki-laki yang akan main-main dengan pernikahanku sendiri? Kau tahu sudah berapa lama aku selalu menahan hasratku dengan tidak menyentuhmu? Semalam... Itu memang salah mama, tapi... Aku juga tidak dapat menahan diriku sendiri untung menyentuhmu."
Dami kaget. Ia menatap Bima lama.
"Ja-jatuh cinta?"
Bima menghembuskan nafas panjang.
"Ya, delapan tahun lalu. Saat aku mengobatimu, menjagamu, melihatmu begitu terpuruk, aku mulai merasakan perih luar biasa dalam hatiku, aku ..."
"Itu bukan cinta! Itu belas kasihan yang kak Bima anggap cinta!"
"Aku tahu mana cinta dan belas kasihan Dami! Aku bisa membedakan keduanya jelas!"
Keduanya saling membahas dengan suara keras. Emosi keduanya sama-sama bangkit.
"Itu sama saja! Kak Bima hanya kasihan melihat aku yang saat itu sedang hancur karena karena kehilangan keluarga dan orang yang kucintai tidak pernah mencariku!" seru Dami dengan suara bergetar, air matanya makin deras mengalir.
"Kak Bima tidak tahu apa itu cinta sungguhan! Cinta itu setia, kak! Cinta itu tidak merenggut kesucian orang lain di luar kehendaknya!"
Kalimat itu menohok dada Bima keras, membuat rahangnya mengeras seketika. Ia bangkit berdiri, menatap Dami dengan tatapan campuran antara sakit hati dan tekad yang membara.
"Merenggut di luar kehendak? Kau pikir semalam aku paksa kau diam saja? Kau sendiri yang melingkarkan tangan dan kakimu padaku, Dami! Kau sendiri yang memohon-mohon namaku di puncak kenikmatan itu!" suara Bima meninggi, namun ia segera menunduk, berusaha meredam emosinya.
"Tapi aku dalam pengaruh obat yang diberikan oleh ibumu! Kau tidak bisa memaksa seseorang mencintaimu seperti itu!" Hardik Dami penuh amarah, air matanya keluar, tak bisa ia tahan lagi.
Bima terdiam. Lama sekali. Rasanya hatinya seperti hancur berkeping-keping mendapatkan penolakan seperti itu oleh wanita yang dia cintai.
"Jadi, kau ingin aku minta maaf atas apa yang terjadi semalam? Karena aku telah merenggut kesucianmu dengan paksa?"
Dami membuang muka. Menghapus air matanya yang masih berjatuhan. Bima menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah, kalau itu yang kau mau. Aku minta maaf atas semuanya. Kalau bisa memakiku, berteriak, memukuli dan membenciku sesuka hatimu. Tapi satu hal yang pasti, aku akan terus mencintaimu. Hatimu adalah milikmu, begitu juga dengan aku. Perasaanku adalah milikku."
Dami tidak mengatakan apapun. Tidak mampu menatap Bima juga. Malu, marah, dan benci semuanya bercampur menjadi satu. Entah bagaimana caranya dia menghadapi pria ini. Apalagi karena di hari yang sama, dia di sentuh oleh kedua pria sekaligus.
Siang hari, Jeremy menyentuh tubuhnya habis-habisan meski tidak sampai merenggut kesuciannya. Malamnya, dia memberikan dirinya di sentuh oleh laki-laki yang tidak dia cintai tapi hormati. Yang mungkin hari ini hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.
"Aku membuatkan sarapan untukmu. Makanlah. Tubuhmu pasti lelah sekali. Istirahatlah seharian ini, jangan ke mana-mana. Aku akan ke klinik. Kalau ada apa-apa, telpon aku."
Setelah mengatakan itu, Bima keluar. Perasaannya campur aduk karena penolakan Dami terhadapnya sangat jelas.
kita lihat reaksi bima sama-sama 😀
dikira dami perempuan lemah mudah dihina dan tindas, gak tahu aja para musuh dami mafia kelas kakap...
bima hanya kecewa dan marah dami karena ketahuan tidur sama jeremy, tapi perasaan cinta bima ke dami sangat tulus...
dami sampai hamil nanti tidak tahu anak siapa bima/jeremy, tapi filling akuh mungkin anaknya bima kali ya, soalnya bima duluan yg unboxing dami....
pengen tahu anak siapa gampang nanti tinggal test dna nanti ketahuan hasilnya...
seiring waktu berjalan kemungkinan benih-benih cinta akan tumbuh dihati dami, dami bisa aja jatuh cinta sama bima dami merindukan sifat bima sabar hangat dan lembut...
bima sekarang bersikap dingin dan datar kerena marah dan kecewa sama dami, jeremy masih terus berusaha mendekati dami pantang menyerah karena terobsesi, ingin memiliki dami, karma buat jeremy juga gantian mengejar dami🤭
dami hamil anak nya jeremy?
klau hamil anak Bima jelas ga bakal ada konflik lagi cerita ini jelas suaminya
klau anak jeremy bkal panjang cerita nya
baik nya damian ungsikan lagi dami ke tempat yg jauh, yg ga bakal di temui bima atau jeremy