Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Tok. Tok. Tok.
Serra mengetuk pintu. Ketukannya lambat dan teratur. "Tari? Tio? Wulan, Bu mimi, Kalian di dalam?"
Krek.
Perlahan pintu terbuka.Tari dan Tio berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Mata Tari tampak sembab seperti habis menangis, sementara Tio memegang gitarnya dengan jemari yang gemetar.
"Kalian dari mana?" tanya Tio dengan suara parau. "Dari tadi kami dengar suara langkah kaki mondar-mandir di koridor. Kami kira itu kalian."
"Kami baru pulang kerja. Terus, Wulan mana?" tanya Anya cemas.
Tari menggeleng lemah. "Dari sore dia sama sekali nggak keliatan. Begitu juga Bu mimi gak ada di kos-an."
Tanpa banyak bicara, kelimanya langsung memutuskan untuk ke ruang tamu. Pintu kamar dikunci rapat. Mereka duduk melingkar di atas lantai, saling berdekatan di bawah temaramnya lampu kuning. Tirai jendela tertutup rapat. Pintu depan diperiksa hingga dua kali untuk memastikan semuanya aman.
Hujan di luar, kini telah sepenuhnya reda. Yang tersisa hanyalah suara tetesan air yang jatuh dari talang.
Teeesss... teeesss...
Keheningan yang pekat menyelimuti mereka, sampai akhirnya Tio menjadi orang pertama. Memecah kesunyian. "Lehermu, Nya..."
Seketika, semua mata langsung tertuju pada leher Anya. Anya melepaskan pegangan pada kerah kemejanya. Di sana, lima bekas cetakan jari berwarna ungu kehitaman terlihat begitu jelas, dengan bekas ibu jari di bagian tengah yang tampak paling dalam. Wulan belum kembali, begitu jga Bu Mimi belum kelihatan batang hidungnya. Di luar rumah, tak terdengar suara motor ataupun langkah orang. Sepi menakutkan.
Tiba-tiba...
Klekkk.
Suara gerendel pintu berbunyi nyaring. Seseorang sedang mencoba membuka pintu itu dari luar. Kelimanya langsung menahan napas dalam-dalam, spontan saling menggenggam tangan dengan erat.
Klek. Klek.
Mereka masih saling menggenggam tangan. Mata semua orang tertuju pada bayangan tinggi di balik tirai. Lalu... Kringgg. Suara kunci diputar dari luar. Pintu terbuka.
"Masuk Bu, hati-hati becek," suara Wulan terdengar ceria. Seperti biasa.
Bu Mimi masuk duluan membawa dua kantong plastik penuh sayur dan ikan. Rambutnya diikat asal, ia mengenakan daster batik dan sandal jepit. Di belakangnya, Wulan mengekor sambil menenteng plastik jajanan dengan muka sumringah.
"Lho? Kok gelap-gelapan? Lagi main petak umpet?" tanya Bu Mimi sambil menaruh belanjaan di meja.
Lampu ruang tamu langsung dinyalakan. Terang. Bayangan di balik tirai pun seketika hilang. Serra menghela napas panjang, rasanya hampir pingsan. Tari langsung memeluk Tio, sementara Anya masih duduk kaku di lantai.
Wulan menatap mereka satu per satu. Alisnya bertaut. "Kalian kenapa? Mukanya pucat semua. Kayak habis ketemu setan."
Tio terbatuk kecil. "Enggak...! Tadi mati lampu sebentar. Jadi kaget."
Bu Mimi melirik ke arah Serra. "Lho, ada Serra. Menginap lagi?" Matanya kemudian tak sengaja tertuju ke arah leher Anya. "Nya, lehermu kenapa? Itu memar?"
Anya refleks langsung menutup kerahnya kembali. "Bu... 'Dia' muncul lagi."
"Dia muncul lagi?" ulang Wulan. Senyumnya langsung lenyap. Plastik jajanan di tangannya jatuh ke lantai. Kresek.
Bu Mimi yang tadinya hendak ke dapur langsung tertegun. Kantong sayurnya masih digenggam erat. "Bagaimana mungkin? Dia kan sudah dipagar dari luar?" suaranya pelan, namun terdengar tegas.
Anya mendongak dengan mata yang mulai memerah. Tangannya gemetar saat membuka kembali kerah kemejanya. Lima bekas jari ungu kehitaman itu terlihat begitu jelas di bawah sorotan lampu. Bekas di bagian tengah tampak menekan paling dalam.
Serra langsung duduk di samping Anya dan merangkulnya. "Di kantor, Bu. Tadi pas mau pulang. Kita berdua melihatnya..."
Tari dan Tio saling pandang. Wajah mereka kian pucat. Bu Mimi meletakkan belanjaannya perlahan, lalu berjalan menghampiri Anya dan berjongkok di depannya. Tangannya yang kasar menyentuh dagu Anya, memiringkan wajah gadis itu ke kiri dan ke kanan. Alisnya berkerut dalam.
"Ini bekas cekikan," kata Bu Mimi dengan suara berat.
Wulan langsung menutup mulutnya. "Astaga, Nya..."
Bu Mimi berdiri. Matanya menatap tajam ke arah pintu, jendela, dan setiap sudut ruang tamu. Ia kemudian berjalan ke arah saklar. Klek. Semua lampu dinyalakan, bahkan lampu teras depan.
"Sudah. Malam ini tidak ada yang tidur terpisah," kata Bu Mimi tegas. "Kalian semua kumpul di ruang tamu. Kunci pintu, jendela tutup rapat."
Tio langsung menyalakan lantunan murottal Al-Qur'an dari ponselnya, meski tangannya masih gemetar hebat. Tari duduk paling dekat dengan Bu Mimi, seolah mencari perlindungan.
Wulan berbisik lirih kepada Anya, "Nya... 'dia' yang kamu maksud... sudah lama ada di kantor itu?"
Anya menggeleng pelan dengan tenggorokan yang terasa tercekat. "Tidak tahu..."
Di luar, angin kembali bertiup kencang membuat genteng berderit bising. Dan dari arah dapur, terdengar suara air keran yang tadi sempat dibuka oleh Bu Mimi... tetes... tetes... Padahal, keran itu jelas-jelas sudah ditutup rapat.
Kelima pasang mata langsung menengok ke arah dapur yang gelap. Bu Mimi menarik napas panjang. "Wulan, ambilkan senter di laci. Tio, ambil tasbih dari kamar."
Malam ini tampaknya akan berjalan sangat panjang. Wulan langsung berlari ke laci, tangannya gemetar sampai senter itu terjatuh dua kali. Tio pun buru-buru ke kamar dan kembali membawa tasbih kayu yang langsung digenggamnya erat-erat.
Suara tetes... tetes... dari dapur masih terdengar konstan. Padahal mereka semua tahu betul keran itu sudah dimatikan.
"Semua diam," bisik Bu Mimi. Suaranya rendah namun sanggup membuat bulu kuduk berdiri.
Bu Mimi berjalan paling depan. Senter di tangan Wulan dinyalakan, memancarkan cahaya yang bergoyang-goyang. Ruang tamu memang terang, namun lorong menuju dapur tampak gelap dan panjang.
Tak. Tak. Tak. Langkah Bu Mimi terdengar pelan. Di belakangnya, Anya, Serra, Wulan, Tari, dan Tio mengekor sambil saling berpegangan erat satu sama lain. Begitu sampai di ambang pintu dapur, Bu Mimi berhenti.
Cahaya senter disorot ke dalam. Meja makan kosong, kompor pun mati. Keran wastafel memang sudah tertutup rapat, tetapi di atas lantai keramik terdapat genangan air yang membentuk garis memanjang.
Bentuknya menyerupai jejak kaki basah. Jejak itu bermula dari dekat wastafel, lalu berjalan ke arah pintu belakang yang tembus ke pekarangan. Dan pintu itu... tampak sedikit terbuka. Cek. Padahal sore tadi Bu Mimi sendiri yang menguncinya rapat-rapat.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?