Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 29
SEDIKIT TERBUKA
Keheningan kembali memenuhi kamar setelah kata terakhir Silas menggantung di udara. Hujan di luar memang telah reda, tetapi dinginnya masih merayap masuk melalui celah jendela.
Myra tidak bergerak. Ia masih berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuh. Marah. Kecewa. Tapi di balik itu ada takut yang tidak ingin ia akui.
“Membersihkan sampai ke akar,” ulang Myra pelan, suaranya datar. “Kalimat yang mudah diucapkan.”
Silas berbalik, menyandarkan punggungnya ke meja minibar. Bathrobe abu-abu itu masih setengah terbuka, memperlihatkan bekas luka di dadanya. Ia tidak menutupnya. Seolah ingin Myra melihat semua yang ia sembunyikan.
“Bukan kalimat. Itu janji,” jawab Silas. Suaranya rendah, tidak meninggi sama sekali.
“Janji dari pria yang bahkan tidak bisa jujur pada istrinya sendiri?”
Kata "istri" itu keluar dengan nada sinis. Myra menekankannya sengaja.
Silas menatapnya. Tidak ada bantahan. Tidak ada senyum. Hanya tatapan lelah.
“Aku tidak berbohong padamu,” kata Silas. “Aku hanya tidak menceritakan semuanya.”
“Perbedaannya tipis.” Myra melangkah mundur satu langkah, menjaga jarak. “Lynda Wolfe membesarkanmu. Dia yang menyuruhmu membunuh Cassian. Dan Bianco... keluarga yang ingin kursi itu. Hebat. Sekarang aku tahu kenapa rumah ini tidak pernah terasa aman.”
“Karena memang tidak aman,” potong Silas. “Dan itu sebabnya aku tidak ingin kau ikut campur.”
“Aku sudah ikut campur sejak hari pertama kau menyeretku ke pernikahan ini.”
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jam dinding.
Silas akhirnya menghela napas. Ia menuang air putih, bukan wiski. Ia meminumnya dalam diam, lalu meletakkan gelasnya dengan hati-hati.
“Kau berhak marah,” kata Silas. “Teriaklah. Lempar sesuatu. Tapi jangan pergi.”
Myra mengangkat alis. “Mengancam?”
“Memohon,” jawab Silas, jujur.
Kata itu membuat Myra terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengarnya dari mulut Silas. Pria yang selalu mengendalikan segalanya.
“Aku tidak akan pergi,” kata Myra akhirnya. “Bukan karena aku memaafkanmu. Tapi karena Elina dan Markie ada di sini. Dan karena...”
Ia berhenti. Menelan ludah, menatap mencari celah.
“Karena apa?” tanya Silas pelan.
“Karena aku belum selesai menuntut jawaban darimu,” jawab Myra, cepat. Ia memalingkan wajah, tidak ingin Silas melihat keraguan di matanya.
Silas mengangguk pelan. Ia mengerti. Dan ia tidak memaksa.
“Aku berangkat dua hari lagi,” kata Silas, mengalihkan topik. “Urusan bisnis.”
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Aku ikut, Silas,” tegas Myra. “Aku bosan menunggu di rumah sambil membayangkan hal terburuk. Kalau kau akan menghadapi mereka, maka aku berhak tahu apa yang terjadi.”
“Ini bukan tempat untukmu.”
“Dan ini pernikahan kita. Kau tidak bisa terus memutuskan semuanya sendirian.”
Perdebatan itu berlangsung beberapa detik. Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada yang mengalah. Sampai akhirnya Silas memejamkan mata dan mengangguk singkat.
“Baik. Tapi dengan satu syarat. Kau menuruti semua perintahku. Tanpa bertanya. Tanpa ragu.”
“Itu tidak adil. Tapi... Sepakat.”
Suasana kembali dingin. Tidak canggung, tapi juga tidak hangat. Hanya dua orang yang terluka, mencoba menemukan jalan tengah.
Silas berjalan ke jendela dan membuka tirai sedikit. Kota tampak gelap.
“Lynda mengajariku untuk tidak percaya pada siapa pun,” kata Silas tiba-tiba. “Termasuk pada diriku sendiri.”
Myra tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, berhenti dua langkah di belakang Silas. Tidak menyentuh. Tidak mendekat lebih jauh.
“Kalau begitu belajarlah percaya pada satu orang,” kata Myra pelan. “Padaku.”
Silas tidak menoleh. Tapi bahunya sedikit mengendur. “Itu akan sulit. Aku kucoba.”
Itu saja. Tidak ada pelukan ataupun ciuman yang sama. Hanya pengakuan kecil yang berat.
“Jam sudah lewat satu,” kata Silas kemudian. “Kau harus tidur. Besok kita bicara dengan Markie dan Elina.”
“Markie akan marah besar.”
“Biarkan dia marah padaku. Bukan padamu.”
Myra mengangguk. Ia berjalan ke sisi ranjangnya sendiri. Ia duduk di pinggirnya, meremas ujung selimut.
Silas memperhatikannya dari kejauhan. Ia ingin mendekat. Ingin mengatakan sesuatu yang lebih lembut. Tapi ia menahan diri. Ia tahu Myra belum siap. Dan ia juga belum pantas.
“Matikan lampunya jika sudah mau tidur,” kata Silas pelan sebelum berbalik ke ranjangnya.
Myra tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Silas sampai pria itu berbaring dan memejamkan mata.
Kamar kembali sunyi. Dingin. Tapi tidak se kosong sebelumnya.
Myra menarik selimut hingga ke dada. Meski masih kesal. Masih sakit. Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tidak merasa sendirian menanggungnya.
Di sisi lain kamar, Silas juga belum tidur. Ia menatap langit-langit, satu tangannya mengepal di atas dada.
-‘Jaga dia,’ pikirnya. -‘Meskipun dia membencimu untuk itu.’
Dan malam itu berakhir tanpa kata "maaf", tanpa kata "cinta". Hanya dengan dua orang yang memilih untuk tetap tinggal, meskipun sama-sama ragu.
Myra terbangun sehingga kedua mata Silas ikut terbuka saat wanita itu terdiam dan berkata. “Aku tidak bisa tidur.”
Sesekali Myra melirik ke suaminya yang hanya diam dan ia pikir Silas sudah tertidur.
“Kalau begitu turuti keinginan mu agar kau bisa tidur malam ini.” kata Silas yang membuat Myra berpikir sejenak.
Lalu dia kembali menoleh ke Silas. Ia bangkit dan mulai berjalan ke arah ruang ganti yang membuat pria itu berkerut alis menatap istrinya dengan dada telanjang.
“Kau mau apa?”
Langkah Myra terhenti dan menoleh ke arahnya. “Keluar, jalan-jalan sejenak melihat kota-kota.”
Tentu saja Silas tak tinggal diam. Dia juga akan ikut serta. Dan ketika Myra sudah mengenakan pakaian santai dengan mantel panjang warna hitam. Ia terkejut saat melihat Silas juga sudah mengenakan kaos hitam polos dan mantel panjang.
“Kau mau pergi lagi?”
“Ya. Menemani mu.”
Myra menatap heran. “Aku tidak butuh teman. Istirahat saja, kau baru pulang kan.”
Sat berjalan melewatinya. Silas menarik lengan kanan Myra hingga begitu dekat dan menatapnya lekat. “Aku... Ikut.”
Ucapan itu sudah cukup membuat Myra tertegun hingga membiarkannya ikut.