Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kelompok Baru dan Taring Babi Hutan
Kota Gada adalah tempat yang bising, kontras dengan kesunyian hutan yang baru saja ditinggalkan Askara. Dinding kotanya kokoh terbuat dari batu hitam, dijaga oleh para prajurit dengan tombak berpendar sihir. Di sepanjang jalan, aroma masakan kedai bercampur dengan kepulan asap dari bengkel pandai besi yang sibuk menempa senjata.
Tujuan utama Askara ke kota ini adalah mengumpulkan informasi tentang hutan sihir yang lebih dalam. Tanpa pengetahuan yang cukup, kemampuannya menyerap sihir justru bisa menjadi bumerang jika dia salah mengukur kapasitas staminanya.
Langkah kakinya membawa Askara ke sebuah papan pengumuman besar di dekat alun-alun kota. Di sanalah para petualang biasanya berkumpul. Di sudut kerumunan, perhatian Askara tersita oleh adegan perdebatan sekelompok orang yang mengenakan zirah ringan.
"Sialan! Kenapa si bodoh itu bisa salah merapalkan mantra sampai kakinya sendiri meledak?" kutuk seorang pemuda berambut cepak dengan kapak besar di punggungnya. "Besok kita harus berangkat ke dungeon baru itu, dan sekarang kita kekurangan satu orang!"
"Tenang, Jaka. Berteriak tidak akan menyembuhkan kakinya," seru seorang pria paruh baya dengan bekas luka segaris di pipinya. Pria itu tampak tenang, mengenakan jubah kulit bersimbol kepala babi hutan—lambang Guild Wild Boar.
Mendengar kata "dungeon baru", mata Askara berbinar. Ini adalah kesempatan emas untuk menguji kekuatannya dan mendapatkan uang. Tanpa ragu, Askara melangkah mendekati kelompok tersebut.
"Permisi," potong Askara dengan suara tegas. "Aku mendengar kalian kekurangan anggota. Jika kalian tidak keberatan, aku menawarkan diri untuk bergabung."
Kelompok itu seketika menoleh. Jaka, pemuda berkapak tadi, menatap Askara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengendus udara di sekitar Askara, mencoba merasakan aliran mana atau energi sihir di tubuh pemuda tujuh belas tahun
itu. Detik berikutnya, tawa remeh keluar dari mulutnya.
"Kau? Bergabung dengan kami?" Jaka mendengus. "Hei, Bocah. Tubuhmu memang tegap, tapi aku sama sekali tidak merasakan aliran mana di dalam dirimu. Kau seorang Nirmala—manusia tanpa sihir, kan? Jangan bercanda! Masuk ke dungeon bersama orang cacat sepertimu sama saja dengan bunuh diri!"
Askara tetap tenang, tidak terpancing. Tatapan meremehkan seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari sejak kecil.
Namun, sebelum Askara membalas, pria paruh baya yang tampaknya adalah pemimpin kelompok itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan Jaka untuk diam. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata Askara yang dingin dan penuh percaya diri.
"Jaka benar tentang satu hal, kau tidak punya mana," ucap sang pemimpin dengan suara berat. "Tapi aku melihat sesuatu yang lain. Gerakanmu efisien, kapalan di tanganmu adalah kapalan seorang pekerja keras, dan tatapanmu bukan tatapan orang lemah. Siapa namamu?"
"Askara," jawabnya singkat.
"Aku Guntur, ketua kelompok ini," pria itu mengulurkan tangannya yang besar. "Kebetulan kami memang sangat mendesak membutuhkan satu anggota lagi untuk menjelajahi dungeon yang baru ditemukan di dekat kota ini. Aturan komisi mengharuskan tim kami penuh. Aku setuju kau bergabung."
"Ketua! Kau gila?!" protes Jaka meradang. "Dia bisa mati dalam sekali kayuh oleh monster dungeon!"
"Kalau dia mati, itu urusannya. Tapi jika dia bisa bertahan, dia bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus dengan fisik tegapnya itu," jawab Guntur dingin, namun ada kilat kalkulasi di matanya. Guntur kemudian kembali menatap Askara. "Tapi sebelum kita berangkat besok pagi, ada satu syarat. Kau harus mendaftarkan dirimu secara resmi sebagai anggota kelompok kami di bawah bendera Guild Wild Boar hari ini. Jika tidak, pihak serikat kota tidak akan mencairkan bayaranmu setelah misi selesai."
Askara mengangguk setuju. "Adil bagiku."
Satu jam kemudian, Askara sudah berdiri di dalam kantor cabang Guild Wild Boar yang bernuansa kayu tua. Berbeda jauh dengan kemegahan Guild Golden Eagle tempat Rose diterima, Wild Boar terasa lebih membumi, penuh dengan aroma bir, keringat, dan tawa kasar para petualang kelas menengah ke bawah.
Di depan meja resepsionis, Askara menempelkan telapak tangannya pada sebuah batu kristal pendaftaran. Kristal itu tidak memancarkan warna elemen apa pun—menegaskan kembali statusnya sebagai manusia tanpa sihir dasar di mata petugas guild yang hanya bisa menggelengkan kepala heran.
Meski begitu, proses administrasi tetap berjalan. Sebuah lencana besi bergambar taring babi hutan diserahkan kepada Askara.
"Selamat datang di Wild Boar, Askara," ucap Guntur sambil menepuk pundak Askara hingga berdentum. "Istirahatlah malam ini. Simpan tenagamu baik-baik. Besok pagi, kita akan melihat apakah modal fisikmu itu cukup untuk membuatmu tetap bernapas di dalam dungeon."
Askara menggenggam lencana besinya erat-erat. Jauh di dalam dadanya, sisa-sisa energi sihir yang ia serap di perjalanan sebelumnya bergolak pelan, seolah ikut tidak sabar. Dungeon baru menantinya besok, dan Askara tahu, tempat berbahaya itu akan menjadi panggung yang sempurna untuk menguji batas kemampuan "pemangsa" miliknya.