"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Nama Mantan Suami: Lin dari Perusahaan Medis
Malam yang penuh dengan pembuktian cinta dan legalitas hukum itu perlahan bergeser menuju fajar.
Di jari manis Viona, cincin berlian solitaire berkilau lembut memantulkan cahaya biru keunguan dari ufuk timur.
Bagi Viona, tidur malam itu adalah tidur paling damai yang pernah ia rasakan dalam empat tahun terakhir.
Tidak ada mimpi buruk tentang ruang bawah tanah keluarga Lin, tidak ada suara makian Adrian yang menggema di kepalanya.
Hanya ada kehangatan dada bidang Oliver yang menjadi pelindungnya sepanjang malam.
Namun, bagi Oliver, fajar ini adalah awal dari eksekusi akhir.
Pukul enam pagi, ketika kabut tipis masih menyelimuti taman mansion, Oliver sudah berdiri di balkon kamar dengan jubah tidur sutra hitamnya.
Ia memegang secangkir espresso pekat di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang ponsel yang terhubung langsung dengan Rendra, kepala tim investigasi khususnya.
"Bagaimana perkembangan di lapangan?" tanya Oliver, suaranya sangat rendah, sedingin embun pagi yang menempel di dedaunan.
"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan Besar," lapor Rendra dari ujung telepon.
"Kami telah mengamankan seluruh dokumen transaksi dari Klinik Medika Selatan. Dan seperti dugaan Anda, manipulasi medis ini tidak hanya melibatkan dr. Sasmita secara pribadi, tetapi juga melibatkan entitas bisnis utama milik mantan suami Nyonya Viona: Adrian Lin, direktur utama Lin Medical Supplies."
Oliver menyipitkan matanya.
Nama itu—Lin—dan embel-embel perusahaan medisnya kini menjadi target yang harus dihapuskan dari peta bisnis kota ini.
Selama ini, publik hanya mengetahui bahwa Adrian Lin adalah seorang pengusaha muda dari keluarga terpandang yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan.
Perusahaannya, Lin Medical Supplies, merupakan pilar finansial utama yang menyokong gaya hidup mewah keluarga Lin dan membiayai segala kesombongan Widya Lin di kalangan sosialita.
Namun, di balik jubah bisnis medis yang tampak mulia itu, tersimpan kebusukan yang teramat pekat.
Satu jam kemudian, di ruang sarapan yang hangat, Viona turun dengan mengenakan salah satu terusan rajut berwarna krem dari lemari barunya.
Wajahnya tampak jauh lebih segar, meski rona merah tipis langsung menjalar di pipinya saat melihat Oliver menatapnya dengan pandangan yang begitu intens dan penuh kepemilikan dari meja makan.
Yoyo sudah lebih dulu duduk di sana, sibuk memotong panekuk pisang dengan garpu kecilnya.
"Bibi Viona! Lihat, Ayah memotong buah apelnya menjadi bentuk kelinci untukku!" seru Yoyo riang, menunjukkan piring kecilnya.
Viona tersenyum hangat, melangkah mendekat dan mengecup pipi Yoyo, sebelum duduk di samping Oliver.
Oliver secara alami mengulurkan tangan, menggenggam jemari manis Viona yang kini dihiasi cincin pernikahan sejati mereka, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Apakah kau tidur nyenyak, Nyonya Oliver?"
tanya Oliver, nada suaranya melembut berkali-kali lipat dibandingkan saat ia berbicara dengan Rendra satu jam lalu.
"Sangat nyenyak, Oliver. Terima kasih,"
jawab Viona tulus. "Tapi... aku melihatmu sudah sibuk sejak pagi sekali. Apakah ini masih tentang... mereka?"
Oliver melepaskan genggaman tangannya sejenak untuk menuangkan teh hangat untuk Viona.
Ekspresi wajahnya tetap tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan di matanya.
"Aku hanya sedang memastikan bahwa nama 'Lin' dan seluruh bisnis medis mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bangkit lagi, Viona. Selama ini, Adrian Lin menggunakan kedok perusahaan medisnya untuk membangun reputasi palsu, sementara di balik layar, dia menggunakan kekuasaannya untuk memalsukan dokumen medismu dan menindasmu."
Oliver menatap Viona dengan saksama.
"Hari ini, aku akan menunjukkan padanya apa arti dari kehancuran yang sesungguhnya. Aku ingin kau ikut bersamaku ke kantor pusat Oliver Group siang ini."
Viona tertegun sejenak, namun melihat keyakinan yang begitu besar di mata suaminya, ia perlahan mengangguk.
Ia bukan lagi Viona yang rapuh dan bersembunyi.
Jika Oliver bersedia menjadi pedangnya, maka ia harus berani berdiri di samping pria itu untuk menyaksikan akhir dari penderitaan masa lalunya.
Pukul sebelas siang, Rolls-Royce hitam milik Oliver berhenti di depan lobi utama gedung pencakar langit Oliver Group di pusat distrik bisnis.
Puluhan awak media telah berkumpul di luar pembatas keamanan, mencoba mendapatkan informasi tentang rumor kejatuhan mendadak Lin Medical Supplies yang sejak pagi tadi menjadi topik hangat di bursa saham.
Oliver turun terlebih dahulu, lalu dengan sangat ksatria mengulurkan tangannya untuk membantu Viona turun.
Viona tampil sangat anggun dengan gaun formal berwarna biru navy yang dipadukan dengan mantel wol tipis berwarna putih gading—pilihan langsung dari Oliver.
Cincin berlian di jarinya berkilau di bawah lampu kilat kamera wartawan yang terus berkedip.
Oliver merangkul pinggang ramping Viona dengan protektif, menuntunnya melewati kerumunan tanpa memberikan pernyataan sedikit pun, langsung menuju lift pribadi yang membawa mereka ke lantai teratas gedung.
Di dalam ruang rapat utama yang luas dan berdinding kaca besar, suasana terasa sangat menegangkan.
Di ujung meja rapat panjang, duduk dua orang yang tampak sangat berantakan dan pucat pasi dengan tangan gemetar.
Mereka adalah Adrian Lin dan ibunya, Widya Lin.
Di belakang mereka berdiri dua orang petugas kepolisian yang mengawasi dengan ketat.
Sejak ditangkap di perbatasan distrik luar kota semalam atas tuduhan penipuan medis dan konspirasi pemalsuan dokumen, mereka tidak diberikan kesempatan untuk mandi atau mengganti pakaian.
Keangkuhan yang biasa mereka tunjukkan kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa.
Saat pintu ruang rapat terbuka dan menampilkan sosok Oliver yang menggandeng erat tangan Viona, Adrian Lin seketika mendongak.
Matanya membelalak lebar melihat penampilan Viona yang kini tampak begitu berkilau, anggun, dan memancarkan aura kelas atas yang jauh melampaui masa-masa saat ia masih menjadi menantu di rumahnya.
Dan ketika pandangan Adrian jatuh pada cincin berlian solitaire yang melingkar indah di jari manis tangan kiri Viona, dadanya terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar.
"V-Viona..." bisik Adrian, suaranya serak dan gemetar.
"Kau... bagaimana bisa kau..."
"Tutup mulutmu, Adrian,"
sela Oliver, suaranya sangat dingin dan tajam bagaikan belati yang langsung memutus keberanian mantan suami Viona itu.
Oliver menuntun Viona untuk duduk di kursi kebesaran di ujung meja lainnya, sementara ia sendiri berdiri di sampingnya, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Viona—sebuah gestur dominasi yang menunjukkan bahwa ia adalah pelindung mutlak wanita itu.
Sekretaris Ryan melangkah maju, melempar sebuah map dokumen tebal di depan Adrian dan Widya.
"Adrian Lin, Direktur Utama Lin Medical Supplies,"
ucap Ryan dengan nada formal yang dingin.
"Sesuai dengan perintah Tuan Besar Oliver, mulai pukul sepuluh pagi ini, Oliver Group telah mengakuisisi secara paksa delapan puluh persen saham beredar milik Lin Medical Supplies melalui skema pelunasan utang macet yang kalian miliki di bank-bank afiliasi kami."
"Apa?!"
Widya Lin memekik histeris, wajahnya yang penuh kerutan tampak sangat menyedihkan.
"Kalian tidak bisa melakukan ini! Itu adalah perusahaan keluarga kami! Itu adalah peninggalan mendiang suamiku!"
"Perusahaan keluarga?"
Oliver terkekeh rendah—sebuah suara tanpa nada hangat yang membuat bulu kuduk merinding.
"Perusahaan yang kalian bangun di atas penderitaan istriku? Perusahaan medis yang bahkan tidak memiliki moralitas dasar untuk tidak memalsukan hasil tes laboratorium demi menutupi cacat biologis putramu?"
Mendengar kata-kata "cacat biologis" dan
"pemalsuan hasil tes", wajah Adrian seketika memutih bagaikan mayat.
Rahasianya yang paling kelam, aib terbesar yang ia sembunyikan bahkan dari kerabat terdekatnya, kini telah dikuliti habis-habisan di depan umum oleh Oliver.
"Viona... tolong..."
Adrian menatap Viona dengan pandangan memohon yang sangat menyedihkan, air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya.
"Kita pernah bersama selama tiga tahun... tolong katakan pada Tuan Oliver untuk melepaskan perusahaan kami... Aku bersumpah aku tidak tahu tentang pemalsuan itu! Itu semua adalah rencana ibuku dan dr. Sasmita! Aku tidak tahu apa-apa!"
Mendengar kepengecutan Adrian yang dengan mudah melemparkan kesalahan kepada ibunya sendiri demi menyelamatkan kulitnya, Viona hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang dipenuhi rasa muak yang mendalam.
"Tiga tahun, Adrian,"
ucap Viona, suaranya begitu tenang, jernih, namun memiliki kekuatan yang membuat Adrian tersedak oleh kata-katanya sendiri.
"Selama tiga tahun, kau melihatku menangis setiap malam karena merasa bersalah tidak bisa memberikan keturunan untukmu. Kau membiarkan ibumu memukulku, memakiku sebagai wanita tidak berguna, dan memperlakukanku seperti pelayan. Dan sekarang, kau berdiri di sini, berpura-pura menjadi korban dan memohon belas kasihan?"
Viona menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata Adrian yang gemetar.
"Hari ini, aku berdiri di sini bukan untuk membalas dendam dengan caramu yang kotor. Aku di sini untuk menyaksikan hukum keadilan bekerja. Nama 'Lin' dari perusahaan medismu akan dihapuskan, dan kau... kau akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel, merenungkan setiap air mata yang kau paksa keluar dari mataku."
Oliver menatap Viona dengan binar kebanggaan yang tak terhingga di matanya. Wanita yang dicintainya kini telah benar-benar terlahir kembali sebagai sosok yang kuat dan tidak bisa dihancurkan.
Oliver beralih menatap petugas kepolisian di sudut ruangan.
"Bawa mereka pergi," perintah Oliver dingin.
"Pastikan seluruh bukti malpraktik medis dan penipuan terencana ini diserahkan kepada hakim ketua. Aku tidak ingin mendengar ada keringanan hukuman seharipun untuk mereka berdua."
"Baik, Tuan Besar!" sahut petugas dengan sigap.
Saat Adrian dan Widya diseret keluar dari ruang rapat sambil menangis dan memohon dengan sangat menyedihkan, keheningan yang damai kembali merayap di ruangan tersebut.
Oliver berlutut di samping kursi Viona, menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Semuanya sudah berakhir, Viona,"
bisik Oliver lembut, mengecup jemari manis Viona yang dihiasi cincin pernikahan mereka.
"Nama Lin dari perusahaan medis itu kini hanya tinggal sejarah yang membusuk. Mulai hari ini, hanya ada namaku yang akan melekat di belakang namamu: Viona Alexander."
Viona tersenyum manis, air mata kelegaan yang murni mengalir di pipinya saat ia memeluk leher kokoh Oliver.
Di bawah langit siang yang cerah di atas gedung pencakar langit itu, masa lalu Viona telah resmi dikubur sedalam-dalamnya, digantikan oleh masa depan yang berkilau cerah bersama sang tirani dingin yang telah menjelma menjadi pelindung abadi jiwanya.