NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

teman baru

Aku menoleh ke arahnya. Gadis itu memiliki wajah yang lembut, kulitnya bersih dan segar, matanya berwarna cokelat jernih dan terlihat tulus, sementara rambut panjangnya yang berombak alami jatuh bebas dengan rapi — ia terlihat sopan, ramah, namun tetap terlihat memiliki martabat yang baik.

“Aku… ya benar, aku murid baru. Sedikit bingung mencari di mana letak kelasku sebenarnya,” jawabku sambil tersenyum malu-malu.

Gadis itu tertawa pelan, lalu menjawab dengan nada yang sangat bersahabat: “Jangan khawatir begitu ya. Ternyata kita masuk ke kelas yang sama kok. Ayo saja ikut aku, aku akan menuntunmu ke sana.” Tanpa ragu sedikit pun, ia menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut, lalu mengajakku berjalan menyusuri lorong sekolah itu.

Ruangan kelas itu luas sekali, tertata rapi, dan terasa sangat nyaman saat aku melangkah masuk. Kursinya empuk berwarna biru lembut, mejanya terbuat dari kayu yang kokoh dan halus, cahaya terang merata menyinari setiap sudut ruangan tanpa ada yang terasa gelap sedikit pun. Rasanya ini sungguh-sungguh sekolah paling indah dan baik yang pernah kulihat seumur hidupku.

Sarah langsung menuntunku duduk di barisan paling depan sambil tersenyum ramah sekali. “Namaku Sarah, salam kenal ya, Zara.”

Di sebelah tempat dudukku ada gadis lain yang segera menyodorkan tangannya dengan senyum tulus. “Aku Liora. Kamu cantik sekali lho, Zara.” Wajahnya terlihat lembut sekali, kulitnya putih bersih dengan pipi yang merona alami, rambutnya berwarna cokelat keemasan yang berombak halus dan berkilau cantik saat terkena cahaya matahari.

Tak lama kemudian gadis yang duduk di sebelah Liora ikut menyapa dengan nada yang sopan. “Dan aku Diana. Senang sekali rasanya bisa berkenalan denganmu.” Ia juga memiliki wajah yang sangat cantik dan menenangkan, tatapannya terlihat tenang namun dalam, rambutnya disisir rapi dan jatuh lembut membingkai wajahnya dengan anggun.

Tak lama setelah itu pelajaran pun dimulai dengan tertib dan penuh ketenangan. Semua murid mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan aku pun merasa hati ini tenang serta penuh semangat untuk belajar.

Saat bunyi bel istirahat akhirnya terdengar nyaring, ketiga teman baruku itu langsung mengajakku berkeliling melihat seluruh bagian sekolah. Semuanya terawat dengan sangat baik: lorongnya bersih dan lantainya mengilap, jendela-jendelanya besar-besar sehingga cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa dan membuat suasana selalu terasa terang. Segala fasilitas yang ada di sini terasa sangat lengkap: ada perpustakaan yang luas dan sepi tenang, kantin yang bersih serta udaranya segar, ruang untuk berkarya seni, ruang musik, ruang laboratorium, hingga gedung olahraga dan lapangan yang luas—semuanya terlihat megah namun tetap terasa asri dan nyaman dipandang.

Di halaman sekolah yang luas itu terbentang lapangan rumput yang warnanya hijau cerah dan terlihat sangat rapi serta rata. Di sekelilingnya ada jalur lari berwarna merah bata yang halus dan terawat baik. Di tengah lapangan berdiri kokoh gawang bola berwarna putih, sementara ratusan siswa berbaris rapi berjejer membentuk barisan yang teratur, seragam mereka berwarna biru dan putih terlihat sangat serasi jika dilihat dari kejauhan. Di kejauhan terlihat pagar tinggi yang dibatasi oleh pepohonan rindang, dan di baliknya tampak bangunan-bangunan tinggi yang menjulang bersanding dengan langit yang cerah. Udara di sini terasa segar, dan suasana tertib namun tetap terasa hidup sekali.

Ketika teman-temanku pergi sejenak untuk membeli makanan ringan, aku pun duduk sendirian di bangku tribun yang menghadap ke lapangan. Belum lama aku duduk diam menikmati suasana, tiba-tiba ada seorang siswa laki-laki datang menghampiriku sambil tersenyum dengan penuh percaya diri. “Hai, aku Rafael. Aku rasa namamu pasti Zara, kan?” Ia terlihat sangat tampan, rambutnya berwarna cokelat keemasan yang sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat semakin menarik, dan ada daya tarik yang kuat terpancar dari dirinya.

Di belakangnya berdiri dua orang temannya: ada Elio yang memiliki garis wajah tegas namun tatapannya terlihat lembut, dan ada Damian yang terlihat tenang, pandai, dan memancarkan kesan berwibawa sejak pertama kali dilihat.

Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab sapaan itu, Sarah dan yang lain sudah kembali ke tempatku berdiri dan langsung menegurnya dengan nada halus namun tegas. “Ayo kalian pergi saja, jangan ganggu dia.” Rafael hanya tertawa kecil mendengar itu, melambaikan tangannya dengan santai seolah tidak merasa bersalah sedikit pun, lalu berjalan pergi meninggalkan kami.

Setelah mereka menjauh, Diana segera berbicara padaku dengan nada penuh perhatian. “Kamu harus berhati-hati ya, Zara. Dia dikenal sering bersikap sembarangan kepada banyak orang, jadi jangan terlalu cepat percaya pada apa yang dia katakan nanti.”

Aku hanya mengangguk tanda mengerti sambil tersenyum tipis. Saat itulah lewat seorang gadis lain di dekat kami: tubuhnya tingginya pas sekali, kulitnya bersih dan sehat, rambutnya dikuncir rapi hingga terlihat berkilau halus—ia memakai kacamata bingkai tipis, tampak sederhana dan polos, seolah belum menyadari bahwa sebenarnya ia juga memiliki keindahan dan pesona yang tersendiri.

Liora dan Diana tiba-tiba melangkah maju lalu berdiri menghalangi jalan gadis itu dengan sikap yang tegas. “Hei, Clara! Apa yang kau pegang itu? Berikan kemari, aku ingin melihatnya!” seru Liora, lalu tanpa menunggu izin ia merebut buku itu dari genggaman tangan Clara.

Clara berusaha menahannya sekuat tenaga, suaranya terdengar lirih dan penuh rasa takut. “Jangan diambil! Itu adalah buku pinjaman perpustakaan yang harus aku kembalikan tepat waktu. Tolong kembalikan padaku!”

Namun Liora yang sudah berhasil memegang buku itu hanya tersenyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, sebaiknya buku ini hancur saja, agar tidak bisa kau gunakan lagi!” Tanpa ragu sedikit pun, ia merobek halaman demi halaman hingga buku itu terbelah dua dan akhirnya menjadi tumpukan kertas yang hancur tak beraturan.

Melihat kejadian itu, aku tertegun kaget dan bingung. Hatiku terasa tidak tenang melihatnya diperlakukan demikian. Aku hendak berdiri untuk membela Clara, namun sekilas mataku tertuju pada Sarah yang hanya diam saja seolah tidak melihat apa-apa. Mengapa ia membiarkan hal sekejam ini terjadi? gumamku dalam hati. Tanpa ragu lagi, aku segera melangkah maju dan berbicara dengan nada yang tegas namun tenang: “Cukup! Hentikan hal ini sekarang. Mengapa kalian harus menyakiti dia tanpa alasan yang jelas?”

Mendengar suaraku, Liora dan Diana pun berhenti seketika, lalu menoleh memandangku dengan tatapan yang tajam. Sementara itu, Clara menatapku dengan pandangan yang bercampur antara harap dan rasa terima kasih yang tulus.

Liora menjawab dengan nada yang penuh sindiran: “Zara, sepertinya kau belum mengetahui kebenarannya. Ayahnya adalah seseorang yang kini mendekam di penjara karena kesalahannya sendiri, sedangkan ibunya telah melakukan hal yang memalukan. Masih berani ia menginjakkan kaki di sekolah yang sebaik ini—sungguh hal yang sangat memalukan!”

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!