Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasanganku
Li Yunru masih memelototi Bai Muzhi. Pipinya memerah saat mengingat kejadian tadi. Sementara Bai Muzhi duduk tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Siapa yang tahu?" balas Li Yunru ketus sambil mengangkat dagunya dengan sikap menantang.
"Heh! Sungguh berani. Raja ini justru khawatir kamu tidak akan mampu menahan serangan gairah ras kami saat memasuki musim kawin. Tahukah kamu?"
"Mana aku tahu? Aku tidak mau tahu. Bukan urusanku."
Li Yunru mendecih pelan. Mencari pasangan? Musim kawin? Baginya, itu jauh tidak lebih menarik daripada memasak dan mencoba resep baru. Siapa yang peduli dengan pria narsistik di hadapannya?
Namun saat mengingat kata-kata naga putih raksasa bernama Bai Shenzhen, rasa kesal kembali muncul. Jangan bilang pria yang harus ia jaga adalah pria di depannya ini?
Mengapa dia harus menjaganya? Pria itu terlihat sehat, kuat bahkan terlalu percaya diri. Jelas tidak membutuhkan perawatan apa pun!
Ruu tiba-tiba melompat ke pelukan Li Yunru dengan lincah. Tubuhnya yang kecil dan gemuk langsung menempel erat.
"Tuan, syukurlah kamu sudah bangun. Mengapa kamu tiba-tiba pingsan?"
Li Yunru refleks mengelus tubuh kelinci itu. Bulu lembutnya terasa hangat dan menenangkan, sedikit meredakan ketegangan di hatinya. Ia tiba-tiba teringat bayangan seekor kelinci putih di permukaan kolam tadi.
Sedikit mirip ... pikirnya.
"... Tidak apa-apa. Rahasia."
Li Yunru jelas tidak bisa menceritakan ruang spiritual yang tiba-tiba muncul di dalam cincin naga perak yang dikenakannya. Bahkan ia sendiri belum sepenuhnya memahami tempat itu. Pandangannya lalu menyapu ruangan yang dipenuhi perabot kayu mahal dan tirai sutra mewah.
"Di mana ini?" tanyanya.
Sebelum Ruu dan Bai Muzhi sempat menjawab, elang hitam jelmaan Hei Sanfeng sudah lebih dulu menyela dengan nada bangga.
"Manusia, kamu berada di istanaku. Ini salah satu kamar tamu paling luas di istanaku."
Li Yunru berkedip lalu menatapnya bingung. "... Bukankah seharusnya kamarmu yang paling luas?"
Hei Sanfeng tampak tersedak oleh pertanyaan sederhana itu. Sayapnya sedikit mengepak, seolah mencari jawaban.
"Itu ... tentu saja kamar raja ini yang paling luas!" jawabnya agak tersinggung. "Namun kamar ini yang terbaik untuk tamu terhormat!"
Hei Sanfeng ingin berkata lebih banyak, bahkan paruhnya sudah terbuka. Namun Ruu lebih dulu menyela. Karena masih kesal pada elang hitam itu, ia sama sekali tidak berbaik hati.
"Tuan, semua hewan itu sama saja! Elang hitam itu jelas punya sarangnya sendiri di atas pohon. Kamar kecil di istananya ini hanyalah hiasan. Tidak ada yang namanya kamar terluas bagi raja manusia setengah binatang elang hitam—yang ada hanya sarang terluas seekor elang sehitam arang!"
"Fitnah! Dasar kelinci gendut!" Hei Sanfeng langsung meledak. Sayapnya mengepak keras, sementara matanya menyala penuh amarah.
Keduanya kembali beradu mulut. Suara mereka saling tumpang tindih tanpa ada yang mau mengalah. Seperti yang sudah bisa diduga, dalam sekejap seekor kelinci gemuk dan seekor elang yang setengah babak belur kembali berguling di lantai, saling tarik, cakar dan dorong dalam pertarungan yang benar-benar tidak elegan.
Melihat Ruu dan Hei Sanfeng saling memanggil hewan, Li Yunru mendadak penasaran. Ia menatap Bai Muzhi yang sejak tadi selalu berekspresi datar dan membosankan.
"Kalau elang memiliki sarang di pohon, apakah naga memiliki sarang di dalam gua?"
"Tidak." Bai Muzhi menjawab tanpa sadar, nadanya tetap tenang. "Raja ini tidak suka tempat kotor seperti gua."
Li Yunru mengangkat alis. "Bukankah naga suka menyimpan emas dan benda berkilau di dalam gua?"
Bai Muzhi menunjukkan ekspresi jijik yang sangat jelas, bahkan sedikit mengernyit. "Raja ini jelas bukan naga bumi."
"Oh ..." Li Yunru mengangguk pelan, meski sebenarnya tidak terlalu tertarik pada urusan sarang binatang.
Perhatiannya kemudian tertuju pada cincin naga perak di jarinya. Permukaannya berkilau lembut, seolah menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
"Ngomong-ngomong, cincin ini ..." Ia ragu sejenak sebelum menatap Bai Muzhi. "Apakah kamu ingin melepasnya?"
Bai Muzhi menatap cincin perak di jari gadis itu beberapa saat, lalu langsung menggeleng tanpa banyak berpikir. "Tidak perlu. Kamu sudah menjadi pasanganku."
"Apa?" Li Yunru menatapnya tak percaya. Matanya membesar. "Bagaimana mungkin?"
"Siapa yang memintamu mencium raja ini sebelumnya?" ejek Bai Muzhi sambil mendengus pelan.
Gadis itu langsung tersinggung. "Sudah kubilang, aku tidak sengaja!"
Alisnya berkerut. Apa hanya karena ciuman tak sengaja itu, dia langsung terikat sebagai pasangan pria ini? Tidak masuk akal! Li Yunru menghela napas, berusaha menenangkan diri meski dadanya masih naik turun karena emosi.
"Kalau kamu keberatan dan merasa terbebani, akhiri saja. Bukankah tidak apa-apa?"
Tanpa diduga, Bai Muzhi justru menatapnya tajam. Mata merahnya menyipit, sementara aura dingin perlahan menyebar dari tubuhnya hingga suhu ruangan seolah ikut turun.
"Manusia, apakah kamu mencoba mencampakkan raja inj?" Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.
"...."
Li Yunru terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Tadi nada bicara Bai Muzhi terdengar enggan, seolah tidak ingin terikat dengannya. Namun sekarang, setelah diberi pilihan, ia justru dituduh ingin mencampakkannya?
Li Yunru mengerutkan kening, lalu memutuskan mengganti topik. "Jadi, namamu Bai Muzhi?" tanyanya.
"Ya," jawab Bai Muzhi singkat dan tanpa emosi.
"Siapa Bai Shenzhen bagimu?"
Pria bermata merah itu menatapnya lebih dalam, seolah ingin menembus pikirannya. "Bagaimana kamu tahu tentang leluhur suku naga putih dari klan Bai?"
Li Yunru tertegun. Kata leluhur membuatnya sedikit linglung. "Leluhur?" gumamnya pelan.
"Itu kakekku. Dari mana kamu tahu?" Bai Muzhi bertanya lagi, kali ini nadanya lebih dingin. "Manusia, lebih baik kamu jujur sebelum aku mengira kamu mata-mata musuh."
"Jangan mengada-ada!" Li Yunru langsung tersinggung. Alisnya terangkat tinggi, jelas menunjukkan ketidakpuasan.
"Aku hanya bertemu dengannya di toko hewan peliharaan saat membeli Ruu. Lalu dia berubah menjadi naga putih dan memintaku menjagamu? Sungguh tidak masuk akal!" ucap Li Yunru cepat, seolah ia sendiri masih kesal dengan kejadian itu.
Ruangan sempat hening. Beberapa saat kemudian, Bai Muzhi justru menunjukkan senyum tipis. Namun ada getaran halus di balik tatapannya.
"Lelaki tua itu benar-benar ...," gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada diri sendiri.
"Apa katamu?" Li Yunru mengernyit. Ia tidak mendengarnya dengan jelas.
Dalam sekejap, ekspresi Bai Muzhi kembali datar, seolah senyum tadi tidak pernah ada. "Bukan apa-apa. Jadi, siapa namamu? Wajar jika raja ini ingin tahu nama pasangannya sendiri."
"Pasangan apa ..." Li Yunru langsung membalas, jelas tidak setuju. Namun setelah jeda singkat, ia tetap memperkenalkan diri. "Namaku Li Yunru."
"Marga Li?" Bai Muzhi sedikit mengangkat sebelah alis. Ia tampak berpikir sejenak.
Tidak ada keluarga bermarga Li di ras peri hutan. Bai Muzhi kembali mengingat dugaannya tentang garis keturunan Li Yunru berdasarkan perkataan Hei Sanfeng. Kemungkinan besar salah satu orang tua gadis itu memiliki darah peri. Namun ia tidak menanyakannya lebih jauh. Ini bukan waktu yang tepat.
Li Yunru tidak menyadari apa yang dipikirkan Bai Muzhi. Ia justru menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi pelan. Rasa lapar itu datang mendadak, mungkin akibat terlalu lama berada di ruang spiritual. Seketika ia teringat kemampuan yang disebutkan Bai Shenzhen—koki spiritual.
Rasa penasarannya pun muncul. Jika itu benar, kemampuan tersebut benar-benar luar biasa. Dan tampaknya tidak buruk juga untuk tinggal di dunia terbelakang ini.
"Sudah lama sekali aku tidak makan bakso sapi. Tapi memasaknya butuh waktu lama," ujarnya, lebih kepada diri sendiri.
Tiba-tiba Ruu dan elang hitam jelmaan Hei Sanfeng berhenti bertengkar. Hal itu justru membuat Li Yunru canggung.
"Mengapa kalian menatapku seperti itu?" tanyanya ragu.
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂