Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Ksatria Putih
Ancaman perang finansial terbuka yang dideklarasikan oleh Aji Naim bertiup bagai angin kutub yang membekukan atmosfer di lantai 42 Gedung Kalumperri Corp.
Sebuah hostile tender offer, penawaran pembelian saham publik secara paksa bukanlah mainan siber yang bisa diselesaikan hanya dengan mengetik baris kode darurat di server Sentul.
Ini adalah pertarungan likuiditas, pengaruh, dan kepercayaan para pemegang saham minoritas.
Jika Aji Naim berhasil menguasai lebih dari 51% saham beredar, maka takhta kepemimpinan Khatyr Ali Fatih akan runtuh dalam sekejap pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) luar biasa berikutnya.
Aulia Putri menatap papan tulis kaca di ruang rapat internal dengan mata yang sedikit sayu namun penuh tekad. Di atas kaca bening itu, ia telah menggambar bagan kepemilikan saham Kalumperri Corp yang rumit menggunakan spidol hitam dan merah.
"Keluarga Fatih memegang 42% saham pengendali secara langsung," jelas Aulia, mengetuk kaca tersebut dengan ujung spidolnya.
"Sebesar 15% dikuasai oleh konsorsium institusi lokal yang selama ini setia pada mendiang ayahmu. Namun, sisa 43% sahamnya tersebar luas di pasar publik global dan pialang independen. Itulah target utama Aji Naim."
Khatyr tidak duduk di kursinya. CEO yang biasanya hobi merebahkan kepala di atas meja kerja itu kini tengah berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah cakrawala Jakarta yang mulai diselimuti senja. Tangannya tenggelam di dalam saku celana bahan hitamnya.
"Jika Aji Naim menawarkan harga pembelian saham publik sebesar 25% hingga 30% di atas harga pasar saat ini, para investor minoritas dan pialang independen itu akan langsung melepas saham mereka tanpa berpikir dua kali," gumam Khatyr datar.
"Bagi mereka, keuntungan instan jauh lebih menarik daripada loyalitas jangka panjang terhadap nama besar Fatih."
"Tepat sekali," sahut Aulia serius.
"Dan dengan sisa dana dari konsorsium Swiss yang dipimpinnya, Aji Naim memiliki likuiditas yang lebih dari cukup untuk melakukan itu. Kita harus segera mengaktifkan pertahanan finansial. Ada dua opsi klasik dalam hukum korporasi: Poison Pill atau mencari White Knight."
Khatyr berbalik, menatap Aulia dengan senyum tipis yang sarat akan ironi.
"Poison Pill, mengeluarkan hak beli saham murah kepada pemegang saham yang ada untuk mengencerkan kepemilikan penyerang akan merusak struktur modal kita sendiri dalam jangka panjang. Itu taktik bunuh diri yang lambat. Dewan direksi yang dipimpin Pak Haryo pasti akan menentangnya habis-habisan karena takut nilai dividen mereka merosot."
"Kalau begitu, pilihan kita satu-satunya adalah mencari White Knight," ujar Aulia mantap.
"Seorang ksatria putih, investor institusi besar yang ramah, yang bersedia membeli saham publik kita dengan harga tinggi sebelum Aji Naim sempat menyentuhnya, lalu berkomitmen untuk tetap menyerahkan hak suara operasionalnya kepada kita."
Khatyr menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati Aulia. Jarak di antara mereka kini begitu dekat hingga Aulia bisa mencium aroma samar parfum kayu cendana bercampur kopi hitam yang khas dari tubuh bosnya.
"Mencari ksatria putih yang tulus di dunia bisnis itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami, Aulia," ucap Khatyr lembut, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata sekretarisnya.
"Semua orang ingin sepotong kue dari Kalumperri. Siapa yang cukup gila untuk mempertaruhkan triliunan rupiah demi membantuku mempertahankan posisi sebagai CEO pemalas?"
Aulia tidak mundur selangkah pun. Ia justru membalas tatapan itu dengan binar keyakinan yang tidak tergoyahkan.
"Seseorang yang percaya pada masa depan teknologi logistik Anda, Khatyr. Seseorang yang tahu bahwa di balik sikap malas Anda, terdapat visi jenius yang akan mengubah peta transportasi Asia Tenggara," jawab Aulia dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan tulus.
"Jika Anda sendiri tidak mempercayai diri Anda, maka biarkan saya yang menjadi orang pertama yang mempercayainya untuk Anda."
Mendengar kata-kata itu, pertahanan dingin di wajah Khatyr runtuh seketika. Sorot matanya melembut, dipenuhi rasa haru dan kasih sayang yang mendalam.
Ia mengangkat tangannya perlahan, menyelipkan beberapa helai rambut Aulia yang sedikit berantakan ke belakang daun telinga wanita itu.
"Kamu selalu tahu cara membuatku tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab, Nona Sekretaris," bisik Khatyr jenaka, meski matanya memancarkan keseriusan yang mutlak.
"Baiklah. Mari kita cari ksatria putih kita."
Rencana pencarian sekutu dimulai malam itu juga.
Alih-alih pulang ke apartemen masing-masing, ruang kerja CEO disulap menjadi ruang riset rahasia. Berkas-berkas profil konglomerat multinasional dan laporan keuangan konsorsium investasi global berserakan di atas karpet tebal.
Khatyr, yang biasanya akan merengek minta pulang setelah jam lima sore, malam ini tampak bekerja keras tanpa mengeluh sedikit pun. Di bawah panduan taktis Aulia, ia menganalisis satu per satu calon investor yang memiliki rekam jejak bersih dari pengaruh Aji Naim.
"Bagaimana dengan Nakamura Group dari Jepang?" tanya Aulia, menyodorkan sebuah map biru. "Mereka memiliki divisi logistik maritim yang sangat besar dan sedang mencari pintu masuk ke pasar Indonesia."
Khatyr membaca dokumen tersebut dengan cepat sebelum menggelengkan kepala.
"Terlalu konservatif. Proses pengambilan keputusan mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan melalui jalur birokrasi internal yang rumit. Kita hanya punya waktu satu minggu sebelum Aji Naim mendarat di Jakarta."
"Lalu bagaimana dengan Sovereign Wealth Fund dari Timur Tengah?" usul Aulia lagi.
"Mereka memiliki dana yang melimpah, tapi mereka selalu menuntut kursi mayoritas di dewan komisaris," bantah Khatyr lagi.
"Aku tidak mau membebaskan diri dari terkaman serigala Aji Naim hanya untuk menyerahkan leherku pada singa yang lain."
Waktu terus bergulir hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Kelelahan mulai menggerogoti konsentrasi mereka.
Aulia, yang sejak pagi belum beristirahat, merasakan matanya kian memberat. Ia sedang membaca laporan keuangan dari sebuah firma investasi berbasis di Singapura ketika kepalanya perlahan-lahan terkulai lemas ke arah samping.
Sebelum kepala Aulia membentur tepi meja yang keras, sebuah tangan yang hangat dan kokoh dengan sigap menahannya.
Khatyr tersenyum lembut menatap sekretarisnya yang telah tertidur pulas karena kelelahan ekstrem.
Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya, Khatyr memindahkan tubuh ramping Aulia ke atas sofa kulit panjang yang nyaman di sudut ruangan.
Ia menyelimuti tubuh wanita itu dengan jas hitam mahalnya, lalu menyelipkan bantal kecil di bawah kepalanya.
Khatyr berlutut di samping sofa, menatap wajah polos Aulia saat tertidur tanpa beban. Kerutan ketegangan yang biasanya menghiasi dahi wanita itu kini telah sirna, digantikan oleh raut wajah tenang yang sangat manis.
"Kamu telah bekerja terlalu keras untuk menyelamatkan pria tidak berguna sepertiku, Aulia," bisik Khatyr sangat lirih, jemarinya mengusap lembut pipi hangat Aulia.
"Sekarang, giliran aku yang akan melindungimu!!"
Khatyr bangkit berdiri, matanya tidak lagi menunjukkan rasa kantuk sedikit pun.
Ia kembali ke meja kerjanya, membuka kembali laptop terenkripsinya, dan mulai menghubungi sebuah kontak rahasia di Swiss, seorang mantan sekutu lama ayahnya yang selama ini hidup dalam pengasingan finansial setelah dikhianati oleh Aji Naim puluhan tahun lalu.
Dia adalah Albert Sterling, pemilik Sterling Capital, sebuah firma investasi raksasa yang kini memiliki dendam pribadi yang sama besarnya terhadap Aji Naim.
Keesokan paginya, sinar matahari pertama menembus celah gorden ruang kerja CEO, membangunkan Aulia dari tidur nyenyaknya.
Aulia mengerjapkan mata, sesaat bingung mendapati dirinya tertidur di sofa dengan jas hitam Khatyr menyelimuti tubuhnya. Ia segera terduduk tegak, merasakan debaran hangat di dadanya saat menyadari perhatian kecil dari bosnya.
Namun, pemandangan di meja kerja CEO membuatnya terkejut.
Khatyr masih duduk di sana, di hadapan laptopnya yang masih menyala. Di sampingnya, terdapat dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis.
Meskipun lingkaran hitam tipis menghiasi bawah matanya, wajah Khatyr tampak sangat segar dan penuh kemenangan.
"Selamat pagi, Gembalaku," sapa Khatyr dengan senyum lebar yang sangat menawan. "Tidurmu nyenyak?"
Aulia segera merapikan pakaian dan rambutnya dengan canggung. "Khatyr... maafkan saya. Saya malah tertidur di saat kita sedang menghadapi krisis."
"Tidak perlu meminta maaf. Justru saat kamu tertidur, keajaiban malam hari bekerja," ujar Khatyr bangkit berdiri dan berjalan mendekati Aulia dengan membawa sebuah dokumen baru yang masih hangat dari mesin pencetak. "Perkenalkan... Ksatria Putih kita."
Aulia menerima dokumen tersebut dan langsung membaca baris pertamanya dengan mata membelalak lebar.
"Sterling Capital... berkomitmen untuk menyerap seluruh 20% saham publik Kalumperri Corp di pasar modal global dengan harga 35% di atas harga penawaran awal Valkyrie Capital! Dan mereka menyetujui klausul rahasia untuk menyerahkan seluruh hak suara operasionalnya kepada aliansi kita selama lima tahun ke depan?"
Aulia menatap Khatyr dengan pandangan tidak percaya. "Bagaimana mungkin? Bagaimana Anda bisa meyakinkan Albert Sterling dalam waktu satu malam?"
Khatyr tersenyum misterius, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sederhana. Albert Sterling adalah orang yang dikhianati dan dihancurkan reputasinya oleh Aji Naim di Zurich dua puluh tahun lalu. Ayahku dulu pernah membantunya menyembunyikan sisa asetnya dari kejaran hukum Swiss. Aku hanya mengingatkannya pada utang budi lama... dan memberinya kesempatan emas untuk membalas dendam secara elegan di tanah Jakarta."
Aulia merasakan gelombang kelegaan dan kekaguman yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi; dengan spontan, ia langsung memeluk tubuh tegap Khatyr dengan sangat erat.
"Anda benar-benar luar biasa, Khatyr! Kita berhasil menghalangi langkah pertamanya!" seru Aulia bahagia.
Khatyr sempat tertegun sesaat menerima pelukan hangat yang begitu tiba-tiba itu. Perlahan, kedua tangan kokohnya melingkar di pinggang ramping Aulia, memeluk sekretaris galaknya itu dengan kehangatan yang protektif dan penuh kasih sayang.
"Kita belum menang sepenuhnya, Aulia," bisik Khatyr di dekat telinga wanita itu, menikmati aroma harum rambutnya.
"Aji Naim akan mendarat di Jakarta dalam tiga hari ke depan untuk menghadiri RUPS darurat. Dia pasti akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa benteng finansial kita kini telah dijaga oleh seorang Ksatria Putih bernama Albert Sterling."
Di dalam pelukan hangat itu, kedua insan tersebut tahu bahwa badai yang sesungguhnya di ruang rapat RUPS telah menanti mereka. Namun untuk saat ini, di bawah sinar mentari pagi Jakarta, mereka siap menghadapi dunia bersama-sama.