NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Pasti Ada Jalan

Pagi itu, suasana pasar terasa lebih ramai dari biasanya. Namun, bukan karena pembeli, melainkan karena bisikan-bisikan yang kembali terdengar dan, itu tentang Mela.

"Dia itu, lho."

"Yang janda itu?"

"Iya, yang katanya sekarang jualan ke kota."

Tatapan-tatapan kembali mengarah pada satu orang, Mela. Namun kali ini, ia tidak menghindar atau menunduk. Ia justru berjalan seperti biasa, membawa keranjang hasil panennya.

Langkahnya tenang, namun, wajahnya datar.

"Mel!"

Mela menoleh saat salah satu pedagang memanggilnya. Dia adalah wanita yang kemarin menyindirnya, dan kini berdiri dengan tangan di pinggang.

"Aku dengar, kamu sekarang nggak terlalu jual ke sini lagi?"

Mela tersenyum tipis. "Iya, sebagian memang langsung ke pelanggan tetap," jawab Mela.

"Pelanggan tetap?" ulangnya dengan nada rendah. "Jadi, sekarang kamu pilih-pilih, ya?"

Sunyi sejenak.

Beberapa orang mulai memperhatikan. Namun, Mela tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil beberapa sayuran dari keranjangnya dan menaruhnya di meja.

"Ini untuk ibu."

Wanita itu mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Yang ibu bilang sebelumnya, kalau sayurku segar... Itu benar." Mela menatapnya langsung. "Dan karena itu, aku tetap bawa ke sini. Jadi, kalau ibu mau ambil, silakan," lanjutnya.

"Kalau tidak, juga tidak apa-apa." Nada suara Mela tidak berubah. Tidak meninggi, apalagi menantang. Tapi, ia tidak memberi ruang untuk diremehkan.

Wanita itu terdiam, tidak menyangka Mela akan berani membalasnya. Sampai-sampai, membuat beberapa orang di sekitar mulai saling pandang, lalu beralih padanya.

Mela mengambil keranjangnya kembali sambil tersenyum tipis. "Permisi," ucapnya singkat, lalu berjalan pergi.

Tidak ada amarah. Tidak ada pembelaan panjang. Namun entah kenapa, ia merasa sedikit lega.

Namun, semua itu tidak mengakhiri segalanya, karena masalah mulai muncul.

"Mel!" Yati datang dengan napas sedikit terengah.

Mela berhenti dan langsung menoleh. "Ada apa?"

"Pesanan dari kota... " Yati menggantung ucapannya, mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Kenapa, mbak? Ada apa sebenarnya?" tanya Mela.

Yati menelan ludah. "I-itu, pesanan dari kota, dibatalkan."

DEG!

Jantung Mela berdetak kencang. "Dibatalkan?" ulang Mela pelan.

Yati mengangguk. "Katanya, ada pemasok lain yang kasih harga lebih murah."

Darmi yang baru saja datang, langsung menambahkan, "Dan, aku dengar itu dari orang desa sebelah."

Mela terdiam. Tangannya perlahan mengepal namun, wajahnya tetap tenang.

"Siapa?" tanyanya.

"Kami belum tahu, siapa," jawab Darmi. "Tapi, ada yang bilang mereka sudah mulai kirim ke kota juga."

Mela terdiam sejenak, lalu beralih pada Darmi dan Yati.

"Kita bahas ini nanti saja di rumahku, mbak," ucapnya sambil melirik sekeliling.

Darmi mengangguk paham. Dia dan Yati membantu Mela menjual sayuran di pasar. Dan, setelah semua habis, mereka pulang bersama.

Darmi juga sudah menghubungi Asih dan Surti untuk segera datang ke rumah Mela.

Begitu sampai di rumah, Mela segera menyimpan kembali tas nya dan membuat minum untuk sahabatnya.

Mereka duduk di teras dan mulai membahas tentang penjualan sayur di kota.

"Jadi, kita harus bagaimana, Mel?" tanya Yati, memulai pembicaraan.

Mela terdiam. Tatapannya lurus ke arah lahannya. "Sepertinya, mereka memainkan harga untuk mendapatkan pelanggan."

Yati mengangguk. "Kalau kita ikut turunin harga, kita bisa rugi."

Mela menggeleng pelan. "Bukan hanya itu. Tapi, kalau kita ikut turunin harga, kita cuma ikut permainan mereka." Ia menoleh. "Kita jaga kualitas dan cari pembeli lain."

Semua diam saling pandang.

"Kalau satu pintu ditutup, kita buka pintu lainnya," lanjut Mela. "Aku yakin, kita bisa."

***

Malam harinya, Mela duduk dengan buku catatannya. Namun kali ini, bukan hanya mencatat dan menghitung tetapi, ia juga berpikir keras, mencari cara mendapatkan pembeli lain.

Di luar, angin berhembus lebih kencang, seolah membawa perubahan. Lalu, Mela menutup bukunya. Matanya tidak lagi ragu, dan yakin, ia bisa melakukannya.

Pagi itu, Mela tidak pergi ke lahannya seperti biasa. Ia berdiri di depan rumah, membawa tas kain berisi beberapa contoh hasil panennya.

Ada cabai, Sayuran hijau dan beberapa buah yang mulai matang.

"Kamu yakin mau ke kota?" tanya Darmi.

Mela mengangguk. "Aku harus mencobanya."

Darmi mengangguk. "Tapi, kamu harus hati-hati. Dan, untuk lahan, kamu tidak usah khawatir. Biar aku dan yang lain yang ke sana."

Mela hanya mengangguk, lalu melangkah pergi. Perjalanan ke kota tidak terlalu jauh. Namun, cukup membuatnya tegang. Ia terus memikirkan tentang usaha, tentang masa depan. Dan, tentang langkah berikutnya.

Sesampainya di pasar kota, suasananya jauh berbeda. Di sana lebih ramai, cepat dan keras.

"Maaf, Pak. Kalau untuk pasokan baru, kami sudah ada langganan."

"Coba lain waktu, ya."

"Kalau jumlahnya belum stabil, susah."

Penolakan demi penolakan mulai terdengar. Tidak kasar, namun cukup jelas di telinga Mela. Ia berdiri di pinggir jalan pasar, menghela napas pelan. Tatapannya turun pada sayuran yang ia bawa.

"Banyak yang di tolak. Punyaku pasti juga," gumamnya. "Berarti, rejeki ku bukan di sini."

Ia berjalan tanpa arah pasti, melewati beberapa toko, warung makan dan gudang kecil. Hingga langkahnya terhenti di sebuah tempat sederhana. Tidak terlalu besar namun, terlihat sibuk.

Beberapa orang sedang menurunkan sayuran dari mobil pick-up.

Mela memperhatikan sejenak lalu, mendekat. "Permisi!"

Seorang pria yang sedang mengangkat karung menoleh. "Ya?"

"Apa di sini menerima pemasok baru?"

Pria itu belum sempat menjawab namun, suara lain terdengar dari belakang.

"Biasanya tidak."

Mela menoleh, melihat seorang pria berdiri beberapa langkah darinya dengan kemeja sederhana dan lengan yang digulung sampai batas siku.

Tatapan mereka bertemu. Dan untuk sesaat, waktu terasa melambat.

"Kalau kualitasnya biasa saja," lanjut pria itu santai.

Mela mengernyit tipis. "Dan, kalau tidak biasa?"

Pria itu tersenyum kecil. "Baru kita lihat."

Mela membuka tasnya, mengeluarkan beberapa contoh sayur. Lalu, menaruhnya di meja kayu.

Pria itu mendekat, mengambil satu dan memeriksa. "Semua ini kamu tanam sendiri?" tanyanya.

"Iya," jawab Mela.

"Berapa lama?"

"Baru mulai beberapa bulan."

Pria itu mengangguk pelan. Lalu, mengambil cabai, memutarnya di tangan. "Tidak buruk," gumamnya.

Mela menahan napas tanpa sadar.

"Kalau aku ambil, kamu sanggup kirim rutin?" tanyanya.

Mela langsung menjawab dengan tenang. "Aku tidak bisa janji dalam jumlah besar. Tapi, aku janji akan stabil," lanjut Mela tenang.

Sunyi sejenak.

Lalu, pria itu tersenyum. "Jawaban yang bagus." Ia menaruh kembali sayuran itu kemudian, menatap Mela. "Besok bawa lebih banyak."

Mela sedikit terkejut. "J-jadi, anda menerimanya?"

Pria itu mengangkat bahu. "Dicoba dulu."

Mela mengangguk, tidak banyak bicara. Namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya.

Ia mengemasi kembali barangnya, lalu sedikit menunduk. "Terima kasih. Besok, aku akan membawa lebih banyak lagi."

Mela berbalik, siap pergi. Namun, pria itu tiba-tiba memanggilnya. "Mela!"

Langkah Mela terhenti. Tubuhnya mendadak kaku. Lalu, perlahan ia menoleh. "A-anda... Tahu namaku?"

Pria itu tersenyum tipis. "Jadi, itu benar kamu, ya. Lama tidak berjumpa, Mela."

Mela mengeryit bingung. Ia kembali mendekat, kali ini menatap intens wajah pria itu. "Kamu... "

"Iya, ini aku. Dino."

1
LENY
DINO ORANG YG DI KOTA CEO KAYAKNYA🙏
Yuli Yuliawati
Pelakor nggak di kasih balasan tor
Yuli Yuliawati
enak jadi pelakor menang banyak
nggak adil dong buat istri sah 😭😭😭😭😭😭
Yuli Yuliawati
enak jadi pelakor dan suami durjana kalau malah makin sukses
buat balasan yang settir
LENY
KASIHAN KAMU MELA PEKERJA KERAS ULET BAIK HATI TAPI ADA AJA MANUSIA BUSUK HATI YG IRI 😥😥😡😡
Yuli Yuliawati
alur nya yang runtut tor
biar yang baca nggak bosan
LENY
JANGAN2 MANTAN SUAMI DARMI IBLIS BEJO😡😡
LENY
PASTI ADA YG JAHAT IRI HATI DIMANAPUN🙈
Yuli Yuliawati
Belum berakhir penderitaan Mela
pelakor dan suami durhaka nya dapet balasan setimpal dong
Marina Tarigan
semoga hati yg dulu bertaut kembali ya mel dan juga sbgzi teman join kalian semua
LENY
LINA ANAK DURHAKA 😡😡
LENY
ANAKNYA LINA KITA LIHAT AKAN JADI APA HASIL DIDIKAN CAMILA 😡😡🙈
Marina Tarigan
semova dia tertolong oleh kenalan lamanya
Marina Tarigan
wanita yg terjolimi akan bisa merangkak kembali dgn pelan
Marina Tarigan
mela lahanmu selama imi tfk ditanami jadi tanah itu keras tentu tumnuhanmu juga berpengarjh pd tanah kerad tapi kalau sdh timnuh tanah terus divemburi disiram dan pupuk akhinya jd subur kgm patah semangat mel anak desamu sdh siap membantumu anak desa memang difatnya godip acuh kalau sfh dekag pasto kalian berjuang bersams
LENY
SIIP MELA KEREN TUH TUKANG GOSIF JD MALU SENDIRI MBAK DARMI🙈🙈
LENY
TETANGGA JULID MAIN TUDUH FITNAH AJA DUH MELA SMG KAMU SABAR GAK ADA YG TULUS KAYAKNYA. SEMUA TUKANG GOSIP DAN TOXID😥😥🙈
LENY
DYAH DAN CAMILA WANITA IBLIS TUNGGULAH KARMA KALIAN. RAHMAN JG SUAMI BIADAB. KASIHAN KAMU MELA DI ZOLIMI BERTAHUN TAHUN 😥😥🙈😡😡😡
LENY
BARU INI.BACA KARYAMU THOR BAGUS 👍❤
mooociii
emg rahmad umur berpa kok jaul lebih dewasa soale di pikiran q rahmad udah tua, scara menikah udah slama 20 thn, org nikah biasanya umur 25 brati kan umure udah 45 lebih, dr awal gak ada keteranganya umur mereka berapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!