NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mbok Lia tanpa pikir panjang langsung merengkuh Alya ke dalam pelukannya yang hangat. Tangannya bergetar saat mengusap punggung gadis itu pelan.

“Ya Allah… Alya.” suaranya lirih penuh getaran. “Kenapa hidupmu harus seberat ini, nduk? Kenapa kamu harus menanggung semua ini sendirian?”

Air mata Alya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ia membenamkan wajahnya ke dada Mbok Lia, seolah-olah menemukan tempat paling aman setelah sekian lama tersesat dalam luka.

Pelukan wanita tua itu terasa hangat dan menenangkan, erat namun lembut, seperti pelukan seorang ibu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi. Di sana, untuk sesaat, dunia yang keras seakan berhenti menekan bahunya.

Suara Alya terdengar lirih, hampir pecah saat ia masih berada dalam pelukan Mbok Lia.

“Terima kasih, Mbok…” ucapnya pelan, menahan sesak di dada. “Sudah baik sama aku… satu-satunya orang yang peduli sama aku selama ini. Maaf… aku nggak bisa lama-lama di sini. Aku takut mereka datang lagi… dan malah bikin Mbok ikut kena masalah.”

Tangannya mencengkeram sedikit baju Mbok Lia, seolah berat untuk melepaskan rasa aman yang baru saja ia temukan.

#

Mbok Lia mengusap kepala Alya dengan lembut, suaranya pelan tapi tegas, penuh ketulusan.

"Mbok nggak pernah ngerasa kamu nyusahin, Al,” ucapnya sambil menahan haru. “Justru kamu itu sudah Mbok anggap seperti anak sendiri.”

Alya mengangguk pelan, senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya meski matanya masih basah.

Dengan tangan gemetar, ia menggenggam tangan Mbok Lia lalu menciumnya lama sekali, seolah sedang mengukir rasa terima kasih dan perpisahan dalam satu gerakan yang sama. Tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan perasaan yang menyesak di dadanya saat itu.

#Mbok Lia menggenggam tangan Alya lebih erat, suaranya terdengar berat menahan perasaan yang campur aduk.

“Nduk, nanti kalau kamu sudah sampai di tempat yang baru… dan kalau kamu butuh apa-apa,” ucapnya pelan, “cari cara untuk hubungi Mbok, ya?”

Ia berhenti sejenak, menatap wajah Alya dengan penuh harap.

“Mbok selalu doakan kamu. Semoga Allah selalu jaga kamu di mana pun kamu berada.”

Alya mengangguk pelan, menahan napas yang terasa berat di dadanya.

“Iya, Mbok…” suaranya nyaris berbisik. “Terima kasih… untuk semuanya.”

Setelah pelukan terakhir yang terasa begitu berat itu, Alya perlahan melepaskan genggaman tangannya.

Alya terus melangkah tanpa menoleh lagi. Dadanya terasa sesak, namun kakinya tetap bergerak dengan pasti, seolah memaksa dirinya untuk kuat meski hatinya hancur perlahan.

Di belakangnya, Mbok Lia berdiri lama di ambang pintu. Tatapannya tak lepas dari sosok gadis itu yang kian menjauh, hingga akhirnya hanya menjadi bayangan samar yang larut di balik derasnya rinai hujan, sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.

Dengan sebuah karung lusuh di tangan dan tas kecil yang tergantung di punggungnya, Alya terus melangkah di bawah langit yang masih meneteskan hujan tipis.

Langkahnya membawa dirinya menjauh dari tempat yang selama ini ia anggap rumat tempat singkat yang penuh kehangatan di tengah kerasnya hidup menuju jalan yang kembali tak pasti, dengan hati yang berat namun tekad yang tak sepenuhnya goyah.

#

Hujan semakin deras mengguyur jalanan, namun Alya tetap berjalan tanpa menghiraukannya.

Air yang jatuh membasahi tubuhnya seakan tak lagi berarti, karena yang lebih berat bukanlah dinginnya hujan, melainkan beban di dalam dadanya yang tak terlihat.

Langkah Alya terus menyusuri sisa senja yang mulai meredup, membawanya menjauh dari masa lalu yang menempel seperti bayangan.

Ia mencari tempat baru, entah di mana, dengan harapan yang masih samar namun terus ia genggam erat. Meski tak tahu akan berakhir di mana, satu hal kini tertanam dalam dirinya ia ingin hidup, benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan dari hari ke hari.

*****

Sore itu langit berubah jingga keemasan ketika Rayan kembali ke apartemennya. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana sunyi langsung menyelimuti ruangan modern minimalis itu.

Hanya terdengar detik jam dinding yang pelan dan hembusan stabil dari pendingin ruangan. Ia melangkah masuk, lalu menjatuhkan diri ke sofa panjang di ruang tengah dengan napas berat.

Sesaat kemudian, ia mendongak, menatap langit-langit seakan mencari sesuatu di tengah kosongnya pikirannya.

Pikirannya terasa melayang, tidak benar-benar berada di satu tempat. Ada banyak hal yang berputar di kepalanya, bercampur menjadi satu tanpa bentuk yang jelas, membuatnya terdiam dalam keheningan yang panjang.

Gadis itu si pemulung yang tak sengaja menabraknya di depan kafe masih terlintas jelas di benaknya.

Sekilas wajahnya terlihat, namun cukup untuk meninggalkan kesan yang aneh, seperti ada sesuatu yang mengusik tanpa ia tahu alasannya.

Rayan memejamkan mata sejenak, berusaha mengulang kembali bayangan wajah itu dalam ingatannya.

Sepasang mata besar yang tampak dipenuhi ketakutan, rambut yang kusut tak terurus, serta tubuh kurus yang memeluk erat karung usang di pelukannya. Namun di balik kesederhanaan dan kesan lusuh itu, ada sesuatu yang membuatnya terdiam sebuah sorot mata yang terasa akrab, seperti pernah ia temui di masa lalu, meski ia tak bisa memastikan di mana.

Ia membuka matanya perlahan, seolah masih mencoba menahan bayangan yang baru saja lewat di kepalanya.

“Siapa sebenarnya dia?” gumam Rayan pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara sunyi ruangan.

Tangan Rayan bergerak refleks meraih ponselnya, seakan terdorong oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan. Ia ingin mencari tahu tentang gadis itu, meski kenyataannya ia bahkan belum mengenal siapa dirinya hanya sebuah bayangan samar yang singgah sesaat.

Namun entah mengapa, bayangan itu cukup kuat untuk membuat pikirannya terus terusik dan hatinya terasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

“Kenapa aku merasa… seperti pernah bertemu sebelumnya?” bisik Rayan pelan, kali ini dengan nada lebih serius dan dalam.

Ia menatap kosong ke depan, mencoba merangkai potongan ingatan yang terasa begitu dekat, namun tetap tak bisa ia gapai.

Ia bangkit dari sofa, lalu melangkah menuju jendela besar apartemennya yang menghadap langsung ke Kota Semarang yang mulai berpendar oleh lampu-lampu malam.

Dengan tangan terlipat di dada, Rayan berdiri diam cukup lama. Pikirannya kembali pada pertemuan singkat itu bukan karena insiden kecilnya di depan kafe, bukan pula soal tabrakan yang terjadi, melainkan perasaan ganjil yang menyusup setelahnya.

Ada sesuatu yang tertinggal di dadanya, semacam rasa bersalah yang tak jelas asalnya, atau mungkin seperti kehilangan yang tak ia mengerti apa yang sebenarnya hilang.

Dan perasaan itu justru semakin membuatnya tidak tenang. Ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya, menolak untuk diabaikan, seolah memaksa Rayan untuk mencari jawaban yang belum ia ketahui bentuknya.

*****

Hujan baru saja berhenti, menyisakan aroma tanah basah yang kuat dan menusuk di udara. Alya berdiri di depan sebuah gubuk kayu tua yang baru ia temukan tiga hari lalu terlalu jauh dari pusat kota, hingga sinyal ponsel pun hampir tak pernah sampai ke sana.

Namun justru karena itulah ia memilih tempat ini. Terpencil, tersembunyi, dan sunyi. Ia berharap di sini tidak ada satu pun orang yang akan mencarinya sejauh ini. Ia benar-benar berharap demikian.

Ia menghela napas pelan sebelum melangkah masuk. Lantai gubuk itu terbuat dari papan kasar yang sudah mulai rapuh dimakan waktu, berderit pelan setiap kali diinjak.

Di beberapa sudut, atapnya bocor, sementara jendela hanya ditutup kain lusuh yang bergoyang saat angin masuk. Namun Alya tidak memedulikan semua itu. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan dan perlakuan keras di rumah Pak Wira dan Bu Sopia, tempat sederhana ini justru terasa lebih manusiawi.

Meski tanpa ranjang yang layak atau makanan hangat, di sini ia merasa sedikit lebih bebas, sedikit lebih seperti manusia.

Ia menemukan tempat itu sendirian, tanpa bantuan siapa pun, setelah pelarian panjang yang melelahkan. Alya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya sampai di sebuah desa tua di pinggiran kota.

Malam itu ia bahkan tidur di bawah kolong jembatan, menggigil dalam sunyi yang dingin. Hingga keesokan paginya, seorang pria tua pemilik kebun melihatnya. Lelaki itu tidak banyak bertanya, tidak menghakimi.

Ia hanya menunjuk sebuah gubuk kosong di belakang ladangnya, lalu berkata singkat.

“Kalau kau butuh tempat berteduh, gubuk di sana sudah lama kosong sejak istri saya meninggal,” ujar pria tua itu datar namun lembut. “Ambil saja kuncinya di bawah pot, pakai kalau memang perlu.”

#Alya sempat ragu sejenak, berdiri terpaku memandang gubuk itu dari kejauhan. Namun saat malam mulai turun dan udara perlahan berubah dingin menggigit, ia sadar tidak banyak pilihan yang bisa ia ambil.

Dengan langkah pelan dan hati yang masih bimbang, ia akhirnya melangkah mendekat.

Kini Alya duduk di sudut gubuk dengan napas yang panjang dan berat. Sejak pagi ia belum makan apa pun, namun rasa lapar bukan lagi hal yang paling mengganggunya.

Yang terus membayang justru ketakutan bayangan tentang kemungkinan mereka menemukan dirinya lagi, seolah masa lalu masih bisa mengejarnya kapan saja, meski ia sudah bersembunyi sejauh ini.

“Tidak mungkin mereka tahu aku di sini…” bisik Alya pelan, lebih seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam, menatap dinding gubuk yang gelap. “Tempat ini terlalu jauh… mereka tidak akan bisa menemukan aku di sini.”

Namun di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap tidak bisa reda. Ia tahu Aris bukan orang yang mudah menyerah, terlalu keras kepala untuk berhenti hanya karena satu kali kegagalan.

Dan jika Pak Wira benar-benar berniat menyeretnya pulang demi kembali dijadikan

“tulang punggung” keluarga, maka ia sadar mereka tidak akan berhenti mencari. Tidak sekarang, dan mungkin tidak untuk waktu yang lama.

Di tengah ketegangan yang menggantung dan pikiran yang tak henti berputar, Alya tidak menyadari sesuatu...

Langkah kakinya perlahan membawanya menuju sesuatu yang lebih besar dari sekadar pelarian yang selama ini ia lakukan. Ada arah yang belum ia pahami sepenuhnya, namun seolah hidup sendiri sedang menuntunnya ke sebuah titik yang tak bisa ia hindari.

*****

Beberapa hari telah berlalu sejak Alya

menempati gubuk tua itu. Meski serba terbatas, perlahan ia mulai terbiasa dengan ritme hidupnya yang baru atau setidaknya, itulah yang ia anggap sebagai “normal” versi dirinya sendiri.

Setiap pagi ia berjalan menyusuri jalan-jalan kecil desa, memungut botol plastik dan kardus dari warung-warung yang baru saja buka. Saat siang, ia berteduh di bawah pohon besar di tepi pematang sawah, menunggu panas mereda. Kadang ia membantu menyapu halaman orang-orang, hanya demi imbalan sederhana sekantong nasi sisa untuk bertahan hari itu.

Ia mulai mengenali satu per satu wajah penduduk sekitar yang untungnya lebih banyak memilih diam daripada banyak bertanya. Kehadirannya tidak dianggap ganjil, tidak pula dipermasalahkan.

Tidak ada tatapan curiga yang menusuk, dan tidak ada satu pun yang mencoba mengusirnya.

Malam itu, seperti hari-hari sebelumnya, Alya kembali ke gubuknya dengan langkah pelan. Di tangannya tergantung kantong plastik kecil berisi tiga potong tempe dan sebutir telur yang sedikit retakpemberian dari seorang penjual sayur yang berbaik hati padanya.

Bekal sederhana itu terasa cukup untuk bertahan malam ini, meski tidak pernah benar-benar menghapus rasa lelah yang ia bawa pulang setiap hari.

Namun saat ia hendak menyalakan api kecil di tungku tanah liat, perut Alya tiba-tiba terasa melilit hebat. Bukan sekadar nyeri biasa, tapi juga disertai rasa mual yang naik perlahan ke tenggorokan, membuatnya terhenti dan memegang perutnya erat.

Alya mengernyit pelan, tubuhnya sedikit membungkuk saat tangannya secara refleks menekan perutnya yang terasa tidak nyaman. Rasa itu datang tiba-tiba, membuatnya terdiam beberapa saat sambil mencoba mengatur napas.

“Aneh…” gumam Alya pelan, nyaris tanpa suara, sambil tetap menahan rasa tidak nyaman yang menjalar di perutnya.

Ia perlahan duduk, menyingkirkan kayu bakar seadanya ke samping tungku. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya, meski udara malam terasa cukup sejuk.

Kepalanya mulai berdenyut ringan, disertai rasa pusing yang semakin jelas. Sementara itu, mual yang tadi hanya samar kini berubah menjadi semakin kuat dan sulit diabaikan.

“Kenapa, ya…” gumam Alya pelan, suaranya terdengar lemah sambil memegang kepalanya yang mulai terasa berat.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri dan mengatur napas yang terasa tidak stabil. Hari ini ia bahkan tidak makan sesuatu yang basi, dan air minumnya pun hanya sedikit itu pun sudah ia hemat sebaik mungkin.

Bukan karena tidak ada, melainkan karena ia terlalu berhati-hati agar tidak jatuh sakit di tempat asing ini, sendirian tanpa siapa pun yang bisa diandalkan.

Namun perasaan aneh itu tidak kunjung mereda, justru semakin terasa nyata dan mengganggu, seolah terus menekan dari dalam tanpa memberi ruang untuk diabaikan.

#Alya berusaha tidak langsung berpikir yang buruk, menahan dirinya agar tetap tenang. Namun malam itu, saat ia merebahkan tubuhnya di atas tikar anyaman yang sudah lusuh, pikirannya perlahan mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuatnya resah.

Satu per satu bayangan buruk itu muncul tanpa bisa ia hentikan, menggerogoti ketenangan yang baru saja ia coba bangun.

“Mungkin cuma masuk angin… atau sekadar kelelahan.” pikir Alya mencoba menenangkan diri.

Bayangan dari satu malam kelam yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam tiba-tiba kembali muncul di benaknya, seolah sengaja menyeruak di saat ia paling rapuh.

Dan untuk pertama kalinya, Alya menggigit bibirnya erat-erat, menahan diri sekuat tenaga agar rasa takut yang menyelinap itu tidak berubah menjadi tangis yang pecah di tengah kesunyian malam.

*****

Di sisi lain kota, kehidupan terus berjalan dengan ritme yang berbeda lebih terang, lebih ramai, dan seolah tak pernah bersentuhan dengan sunyi yang sedang Alya jalani.

Rayan akhirnya menutup laptopnya setelah hampir lima jam berturut-turut mengikuti rapat bersama para petinggi dan investor. Ruang kerjanya di lantai atas gedung Wirajaya Corp tampak rapi dan berkelas seperti biasa, dengan suasana yang tenang dan tertata.

Namun, berbeda dari biasanya, ada sesuatu yang hilang dari wajahnya. Semangat yang sering ia tunjukkan seolah meredup, tergantikan oleh kelelahan yang tak sepenuhnya ia sembunyikan.

Ia bersandar perlahan pada sandaran kursinya, membiarkan tubuhnya sedikit rileks sambil memandang ke arah jendela kaca besar di belakangnya. Dari sana, cahaya kota mulai bermunculan satu per satu, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Kendaraan di jalan tampak kecil dan bergerak cepat, mirip semut yang tak pernah berhenti bekerja. Sementara itu, langit di luar semakin meredup, perlahan ditelan gelap malam yang datang tanpa suara.

Namun, yang sesungguhnya paling pekat bukanlah langit di luar sana, melainkan pikirannya sendiri yang perlahan tenggelam dalam bayang-bayang yang tak terlihat.

“Kenapa akhir-akhir ini aku jadi gampang kehilangan fokus?” gumamnya pelan, nada suaranya terdengar jengkel pada dirinya sendiri, seolah pikirannya sendiri tak lagi mau bekerja sama.

Dia bukan tipe pria yang mudah terdistraksi. Rayan dikenal sebagai sosok yang dingin, rasional, dan selalu fokus pada apa pun yang ia kerjakan. Namun entah mengapa, beberapa malam terakhir ini tidurnya tidak pernah benar-benar tenang.

Di sela-sela lelapnya, selalu saja muncul bayangan samar yang mengganggu pikirannya seorang perempuan berambut panjang, dengan tubuh yang tampak bergetar dan sepasang mata bening yang menyimpan luka mendalam. Bayangan itu datang tanpa diundang, lalu menghilang begitu saja, meninggalkan rasa ganjil yang sulit ia jelaskan.

#Dia tidak pernah mampu mengingat siapa perempuan itu dengan jelas wajahnya selalu samar, seperti tertutup kabut dalam setiap mimpinya. Namun setiap kali ia terbangun, ada sesuatu yang berubah dadanya terasa sesak, dan detak jantung Rayan berdegup lebih cepat dari biasanya.

#Seakan-akan tubuhnya menyimpan sebuah ingatan yang hilang, sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh logika maupun pikirannya sendiri.

“Rayan,” suara Zahra terdengar tegas saat ia masuk, langkah sepatu hak tingginya menggema ringan di lantai. Tanpa ragu, ia langsung duduk di sofa, menyandarkan tubuh dengan percaya diri dan menyilangkan kakinya.

#Ia menatap Rayan lurus, lalu berkata, “Kamu nggak lupa, kan besok dinner bareng ayahku?”

Rayan mengangguk pelan, hampir tanpa perhatian, seolah jawabannya hanya formalitas. Namun tatapannya kosong, masih jauh melayang ke arah pikirannya sendiri yang entah berada di mana.

“Bisa kita batalkan?” ucapnya tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun tegas, memecah suasana tanpa peringatan.

Zahra menatapnya lekat, jelas terkejut dengan ucapan itu. “Lho, ada masalah?” tanyanya cepat, alisnya sedikit mengernyit, berusaha menangkap perubahan sikap Rayan.

Rayan terdiam cukup lama, tak ada jawaban yang bisa ia berikan bahkan untuk dirinya sendiri. Ia hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres atau mungkin belum pada tempatnya. Perasaan itu semakin sering muncul, perlahan mengganggu ketenangannya, dan ia mulai menyadarinya tumbuh sedikit demi sedikit setiap hari.

“Enggak, cuma lagi nggak mood ketemu banyak orang.” jawab Rayan singkat, nadanya datar tanpa emosi, seolah ingin menutup pembicaraan lebih cepat.

Zahra terlihat jelas menyimpan kekecewaan, namun Rayan tidak memberi ruang untuk itu. Begitu wanita itu pergi, ia kembali menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Malam ini ia berencana tidur lebih cepat dari biasanya entah mengapa, ada dorongan aneh yang membuatnya berharap perempuan dalam mimpinya itu akan muncul lagi.

Dan kali ini, mungkin ia bisa melihat wajah itu dengan lebih jelas tidak lagi sekadar bayangan buram yang selalu menghilang sebelum sempat dikenali.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!